126 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 127 penandatangan PJBL antara pengembang dengan
PT PLN (Persero) akan dilakukan.
Sesuai dengan ketentuan regulasi, setelah penandatangan PJBL dilakukan, calon pengembang—selanjutnya disebut sebagai pengembang—harus melaporkan kemajuan pelaksanaan pembangunan pembangkit listrik kepada Menteri ESDM setiap tiga (3) bulan.
Pelaporan ini terhitung mulai tanggal penandatanganan PJBL hingga Commercial Operation Date (COD), dengan tembusan kepada Dirjen EBTKE, Dirjen Ketenagalistrikan, dan Direksi PT PLN (Persero). Pelaporan dapat dilakukan menggunakan sistem aplikasi online, namun apabila belum tersedia maka pelaporan disampaikan secara tertulis.
PJBL PLTBio berlaku paling lama 30 tahun sesuai dengan umur ekonomis pembangkit, terhitung sejak COD. Setelah penandatanganan PJBL, pengembang harus melakukan pemenuhan biaya (financial close). Dalam hal pelaksanaan PJBL untuk proyek PLTBio, terdapat beberapat tantangan yang umum dihadapi pengembang sebagaimana disajikan pada Tabel 31.
Matriks prosedur untuk Tahap 7, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 24, menyajikan rangkaian kegiatan di dalamnya termasuk key actors dan kerangka waktu di setiap kegiatan.
Dapat dilihat pada matriks tersebut bahwa Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) merupakan key actors pada tahap ini.
Tabel 28: Regulasi yang mengatur PJBL
Peraturan Tentang
Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018
Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan
Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 jis.
Peraturan Menteri ESDM Nomor 53 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2020
Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik
Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2017 jis. Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2017 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2018
Pokok-Pokok dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik
Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020
Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan
Tabel 29: Ketentuan harga pembelian tenaga listrik dari proyek percepatan pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota
Kapasitas PLTSa Harga Pembelian Tenaga Listrik Keterangan
≤ 20 MW USD 13,35 cent/kWh Terinterkoneksi pada jaringan tegangan
tinggi, menengah, atau rendah
> 20 MW
Harga Pembelian (USD cent/kWh) = 14,54 – (0,076 x besaran kapasitas PLTSa yang dijual ke PT PLN (Persero))
Terinterkoneksi pada jaringan tegangan tinggi atau menengah
Sumber: Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018
128 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I Tabel 30: Jaminan Pelaksanaan
Jaminan Pelaksanaan
1) Jaminan Pelaksanaan harus dicantumkan di dalam Perjanjian dengan dengan nilai sebagai berikut:
(i) minimal sejumlah 10% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak penandatanganan PJBL sampai dengan Financing Date;
(ii) minimal sejumlah 5% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak Financing Date sampai commissioned date;
(iii) minimal sejumlah 2,5% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak commissioned date sampai dengan Commercial Operation Date (COD).
2) Pelaksanaan penyampaian Jaminan Pelaksanaan oleh pengembang sebagaimana dimaksud pada poin (1) di atas, disampaikan sekaligus sebelum PJBL ditandatangani atau pada saat penandatanganan PJBL dengan ketentuan sebagai berikut:
(i) Jaminan Pelaksanaan I minimal sebesar 5% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak penandatanganan PJBL sampai Financing Date dan dikembalikan dengan tercapainya Financing Date; (ii) Jaminan Pelaksanaan II minimal sebesar 2.5% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak
penandatanganan PJBL sampai commissioned date dan dikembalikan dengan tercapainya commissioned date; dan
(iii) Jaminan Pelaksanaan III minimal sebesar 2.5% dari perkiraan nilai total biaya proyek berlaku sejak penandatanganan PJBL sampai Commercial Operation Date (COD) dan dikembalikan dengan tercapainya COD.
3) Masa berlaku untuk:
(i) Jaminan Pelaksanaan I sejak tanggal penandatanganan PJBL sampai dengan sekurang-kurangnya 30 hari kalender sejak Financing Date.
(ii) Jaminan Pelaksanaan II sejak tanggal penandatanganan PJBL sampai dengan sekurang-kurangnya 180 hari kalender sejak commisioned date (COD Unit 1).
(iii) Jaminan Pelaksanaan III sejak tanggal penandatanganan PJBL sampai dengan sekurang-kurangnya 180 hari kalender sejak COD.
4) Ketentuan Jaminan Pelaksanaan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
(i) Diterbitkan oleh Bank Umum (tidak termasuk Bank Perkreditan Rakyat) atau Bank Asing yang beroperasi di Indonesia atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia kecuali diatur dalam Peraturan Direksi PLN yang mengatur tentang Jaminan Pelaksanaan.
(ii) Format Jaminan Pelaksanaan sesuai dengan format yang ditetapkan oleh PT PLN (Persero).
(iii) Pembayaran atas klaim atau tuntutan pencairan adalah mutlak dan tanpa syarat (unconditional) meskipun ada tuntutan permintaan atau keberatan dari terjamin atau pihak manapun.
(iv) Masa berlaku Jaminan Pelaksanaan tidak kurang dari jangka waktu yang ditetapkan dalam Dokumen Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS).
(v) Besarnya nilai Jaminan Pelaksanaan dicantumkan dalam angka dan huruf.
(vi) Tercantum nama Pengguna yang menerima Jaminan Pelaksanaan.
(vii) Jaminan Pelaksanaan harus diserahkan ke Pejabat Pelaksana Pengadaan PT PLN (Persero) sebelum penandatanganan PJBL, dalam hal calon pengembang tidak bersedia menyerahkan Jaminan Pelaksanaan sebelum penandatanganan PJBL maka calon pengembang dianggap mengundurkan diri dan Jaminan Penawaran (Subtahap 1a-1 atau 1b-1) dicairkan serta menjadi milik PT PLN (Persero).
5) Persyaratan klaim Jaminan Pengadaan, sesuai dengan yang tercantum di dalam surat jaminan.
Sumber: Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 129 Tabel 31: Deskripsi tantangan pada Tahap 7 (PJBL)
Tantangan Deskripsi Rekomendasi
Kurang menariknya harga beli listrik bagi pengembang
Ketentuan harga beli listrik yang kurang menarik bagi pengembang dikarenakan lebih rendahnya harga berli listrik dari pembangkit energi terbarukan dibandingkan harga beli listrik dari pembangkit listrik konvensional (bukan energi baru terbarukan)
Matriks Prosedur Tahap 7
Gambar 24: Matriks prosedur Tahap 7 (Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik)
Sumber: (i) Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2017 jis. Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2017 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2018;
(ii) Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020.
Kegiatan Badan Usaha PT PLN (Persero)
DJEBTKE-KESDM
Kerangka Waktu
Penerbitan Surat Persetujuan Harga Jual Beli Tenaga Listrik
Pembahasan Draf PJBL
Verifikasi kelengkapan persyaratan
Penandata-nganan PJBL
[7] Persiapan Surat Permohonan Persetujuan Harga
Pembelian Tenaga Listrik
[7] Penerbitan Surat Persetujuan
Harga Jual Beli Tenaga Listrik
[7] Pembahasan Draf PJBL
Apakah dokumen sesuai dengan
persyaratan?
[7] Verifikasi dokumen persyaratan [7] Pemenuhan
persyaratan PJBL
[7] Penandatanganan PJBL
[7] Pelaporan kemajuan pelaksanaan pembangunan
PLTBio setiap 3 bulan Tidak
Ya [1a-3]/[1b-3]
Penandatanganan Surat Penunjukan Pemenang
(Letter of Intent, LoI)
130 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I
6.5 Fase Pembangunan
Fase Pembangunan dimulai setelah pengembang melakukan Pemenuhan Biaya (Financial Close)—
yaitu pengembang telah menandatangani perjanjian/kredit dan telah mendapatkan pencairan dana untuk pembiayaan proyek pembangkit listrik.
Fase Pembangunan proyek PLTBio terdiri dari enam tahap, yang secara berurutan terdiri dari:
(8) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL);
(9) Engineering, Procurement, and Construction (EPC); (4) pengajuan fasilitas; (5) administrasi dan perizinan; serta (10) penyambungan jaringan listrik dan commissioning. Gantt chart dan diagram alir untuk Fase Pengembangan disajikan pada Gambar 25 dan Gambar 26 secara berurutan, dengan uraian singkat masing-masing tahap akan dirinci dalam subbab ini.
Tahap 8 (Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, IUPTL). Pengembang wajib memiliki IUPTL untuk melakukan usaha penyediaan tenaga listrik di Indonesia—dalam hal ini berbasis bioenergi (PLTBio). Setelah adanya kesepakatan harga jual beli listrik, pengembang harus mengajukan permohonan IUPTL dan melampirkan dokumen persyaratan, salah satunya adalah hasil Studi Kelayakan yang telah disetujui oleh Menteri ESDM.
Permohonan IUPTL dilakukan melalui sistem OSS dengan pemenuhan komitmen (verifikasi persyaratan teknis) melalui Kementerian ESDM.
Tahap 9 (Engineering, Procurement, and Construction). Setelah memperoleh IUPTL, pengembang dapat melaksanakan kegiatan Detailed Engineering Design (DED), pembelian dan pengadaan peralatan, serta kegiatan pembangunan fisik pembangkit dan instalasi peralatan.
Tahap 4b (Pengajuan Fasilitas – Fase Pembangunan). Fasilitas (insentif) yang dapat diajukan oleh pengembang pada Fase Pembangunan, yaitu: Pembebasan Bea Masuk atas impor barang untuk kegiatan konstruksi PLTBio.
Tahap 5 (Administrasi dan Perizinan – Fase Pembangunan). Pengembang wajib memenuhi dokumen persyaratan administrasi dan perizinan yang dibagi menjadi dua, yaitu sebelum dilakukan konstruksi PLTBio dan setelah konstruksi PLTBio selesai. Administrasi dan perizinan sebelum dilakukan konstruksi PLTBio (Tahap 5b) mencakup: (i) Persetujuan Bangunan Gedung; dan (ii) izin lainnya, terdiri atas Izin Gangguan dan Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air.
Adapun administrasi dan perizinan setelah konstruksi PLTBio selesai (Tahap 5c) mencakup:
(i) Sertifikat Laik Fungsi (SLF); dan Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Tahap 10 (Penyambungan Jaringan Listrik dan Commissioning). Pengembang harus mengorganisasikan pelaksanaan penyambungan jaringan listrik dan commissioning. Pertama, penyambungan jaringan listrik dilakukan dan dilanjutkan dengan commissioning, untuk memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO).
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 131 Gambar 25: Gantt Chart Fase Pembangunan
Gambar 26: Diagram alir Fase Pembangunan
132 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I