Bagan 1.1 Alur kerangka konsep penelitian
2.1 Etnografi Batak Karo
2.1.6 Agama dan Sistem Religi
Suku Batak pada umumnya menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam Sunni. Tetapi sebagian kecil dari mereka menganut kepercayaan tadisional41 ... walaupun kini jumlah penganut ajaran ini sudah semakin berkurang
41 Sinuraya (1987a: 26-28) mencatat 12 nama kegiatan yang berkenaan dengan upacara kepercayaan:
(i) ndilo tendi/ raleng tendi, (ii) ngarkari, (iii) ngulak, (iv) persilihi, (v) muncang/ngeluncang, (vi)
(lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak 23/04/2015 atau repositoy.usu.
ac.id/bitstream/123456789/3821/1/Guru.pdf 1/1/2017). Sinuraya (1987a : 4-5) memperkirakan Injil [Kristen Protestan] masuk42 ke Tanah Karo pada 18 April 1890 dan melukiskan bagaimana kondisi Tanah Karo pada pra-Kristen sebagai berikut:
“Masyarakat Karo hidup mengatur dirinya sendiri dalam kegiatan sehari-hari berdasarkan adat istiadat Karo. Lima belas tahun kemudian tepatnya pada tahun 1905, daerah pemukiman msyarakat Karo telah dijajah oleh Pemerintah Belanda. Daerah ini dibagi-bagi sesuai dengan kebutuhan siasat politik penjajah.”
Kendati orang Karo menerima Kristen Protestan atau Kristen Katolik, Reid (2011:16) berdalih bahwa “Gereja Simalungun dan gereja Karo menyelenggarakan ibadah agama masing-masing dalam lingkup keberagaman ....” walaupun Reid berdalih bahwa menurut sejarah “Orang Karo ... menolak agama Kristen dan pendidikan modern sampai tahun 1940-an ....”
Koentjaraningrat (19: 193-194) menyatakan bahwa “Bangsa Indonesia, berdasarkan ideologi Pancasila, mengakui lima agama ... Ilmu yang mempelajari agama yang murni adalah ilmu agama, sementara ... etnografi mempelajari dan mendeskripsikan bagian religinya.” Bilamana seseorang tidak dapat menjalankan agamnya dengan baik dan benar maka bagian yang ia jalankan tersebut disebut religi, atau terkadang kepercayaan, misalnya, dikotomi antara Islam Santri dan Islam Abangan di kalangan masyarakat Jawa. Praktik pertama merupakan agama karena mengikuti dengan ketat Al Quran dan Hadis; sementara praktik kedua
upacara mere sembahen, (vii) erpangir ku lau, (viii) perumah begu, (ix) negget, (x) ndilo wari udan, (xi) njunjungi beras piher, dan (xii) upaca memberi kahul.
42 Sinuraya (1987a: 48-170) membagi kedatangan Injil ke Tanah Karo ke dalam beberapa dekade:
dekade perintisan (189-1900), dekade pembenahan (1900-1910), dekade perluasan dan pengembangan, dekade pembinaan, dekade kebangkitan pemuda (1930-1940), dan dekade kemandirian dan penderitaan.
cenderung dikelompokkan sebagai religi karena disusupi oleh berbagai kepercayaan.
Wiradnyana (2011:101) pernah meneliti religi yang hidup di Sumatra Utara.
Ia mengatakan bahwa “... religi yang berkembang pada masa Mesolitik di pesisir pantai timur Pulau Sumatra lebih sederhana dari masa-masa sesudahnya.” Ini bermakna bahwa sistem religi sederhana berkembang lebih awal sebelum akhirnya religi itu mendapatkan bentuknya yang kompleks di kawasan ini. Namun ketika melakukan penelitian tentang praktik religi pada masyarakat Karo, Wiradnyana memasukkannya sebagai peninggalan dari masa Megalitik. Argumentasinya didukung oleh beberapa bukti, misalnya bukti penguburan, sebagai berikut:
“Masyarakat Karo pada masa lalu juga mengenal prosesi kematian dengan cara pembakaran mayat. Selain itu penguburan di dalam tanah juga dilakukan, setelah beberapa lama kuburannya dibongkar untuk dipindahkan ke kuburan yang lebih baik, atau dimasukkan ke dalam geriten. Untuk masyarakat dengan tingkat sosial yang rendah maka setelah tulang-tulang diangkat dan dibersihkan, lalu dikuburkan kembali ke dalam tanah.” (Wiradnyana, 2011: 161-162)
Dengan demikian, tradisi Megalitik mengenal dua model penguburan:
penguburan pertama (primer) dan penguburan kedua (sekunder). Penguburan pertama dikerjakan dengan cara memasukkan mayat langsung ke tanah dimana mayat tersebut boleh saja diletakkan di dalam wadah atau tanpa wadah. Beberapa tahun setelah penguburan pertama, kuburan dibongkar dan seluruh tulang-belulang diangkat, dibersihkan, dimasukkan ke dalam wadah kubur (misalnya, wadah sarkofagus, tempayan batu, dan lainnya) dan dipindahkan pada kuburan baru.
Peristiwa ini disebut dengan penguburan kedua (Wiradnyana menenmukan istilah nurun-nurun). Wiradnayana (2011: 173) mencatat bahwa dua makna dari penguburan kedua ini yakni “memberikan tempat yang layak bagi si mati dan
wujud dari perhatian yang mendalam bagi sanak keluarga yang ditinggalkan.”
Selain itu, ciri lainnya tradisi Megalitik Karo adalah panghulubalang43 (arca batu) dan kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal tetap hidup di dunia lain (Wiradnayana, 2011: 174)
Sebelum mereka memeluk agama resmi yang ditetapkan pemerintah, masyarakat Karo tempo dulu memiliki tatanan religi yang juga menarik. Mereka telah mengenal dunia nyata dan dunia tidak nyata dimana kedua dunia ini diciptakan oleh Debata.44
“Debata bagi masyarakat Karo terbagi atas Debata yang kelihatan dan Debata yang tidak kelihatan. Debata yang kelihatan terdiri atas tiga, yang merupakan sanak famili, sedangkan Debata yang tidak kelihatan sering disebut Debata Kaci-kaci atau Dibata si Telu yang menguasai tiga dunia: Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah....Mereka juga memercayai unsur kekuatan Sinarmataniari (matahari) dan Si Beru Dayang (bulan)...memercayai dunia lain setelah orang meninggal.” (Wiradanyana, 2011: 170)
Wiradnyana tidak memberikan catatan jelas tentang siapa yang dimaksud dengan
“tiga Debata yang kelihatan” namun dugaan muncul bahwa ketiganya dapat merujuk kepada konsep “rakut sitelu atau sangkep sitelu” yang terdiri diri atas (i) sukut (sembuyak – senina), (ii) kalimbubu, dan (iii) anak beru (Ginting, 2005: 9).
Bila alur pemikiran ini diikuti maka dapat disimpulkan bahwa dunia nyata ini harus diperintah dan dikendalikan oleh rakut sitelu.
43 Sinuraya (1987a: 24) tidak menggunakan istilah ini tetapi memakai nama keramat yang ia bagi atas tiga: buah huta-huta (kayu besar), galoh (pagar), dan silaan. Yang terakhir inilah sama dengan istilah pangulubalang (batu-batu besar).
44 Sinuraya (1987a: 20) menggunakan istilah Dibata, yakni penguasa angkasa Dibata i datas (Batara Guru), penguasa dunia Dibata i tengah (Tuhan Padukah Ni Aji), dan penguasa alam bawah Dibata i teruh (Tuhan Banua Koling); bandingkan istilah Debata si Telu dari Wiradnyana.
Dalam cakupan dunia nyata yang kecil (yaitu keluarga) konsep ini memang dilaksanakan maka, dengan demikian, pemerintahan dalam keluarga Karo memang teridiri atas ketiganya. Terkait dengan dunianya orang meninggal, Wiradnyana mencatat nama-nama seperti begu jabu (roh di dalam rumah yang merupakan roh leluhur dari pihak patrilineal) dan panghulubalang (media fisik berupa arca batu).
Kepercayaan terhadap begu jabu dan penghulubalang telah mengalami perubahan drastis dimana keduanya hanya dijadikan sebagai mitos atau lambang saja.
Berbeda dengan Wiradnyana, Sinuraya (1987a: 21-24) secara lebih luas membagi begu (roh gaib) atas tujuh bagian: (1) Begu Jabu45 (terdiri dari Begu Batara Guru, Begu Bicara Guru, Begu Simate Sada Wari, dan Begu Tungkup), (2) Begi Biasa (roh orang lanjut usia), (3) Begu Mentas (roh gentayangan), (4) Begu Menggep (begu yang menempati muka atau bawah tangga pintu masuk), (5) Begu Sidangbela (roh wanita melahirkan), (6) Begu Ganjang (roh besar), dan (7) Begu Naga Lumayang (roh yang menetap di pinggir jalan, di pintu gerbang, di tepian sungai, di tengah halaman, dan lain-lain.).
Catatan lain tentang tradisi Megalitik Karo adalah penggunaan hiasan cecak di dalam bangunan-bangunan tradisionalnya. Binatang ini merupakan lambang
“kejujuran” dan atau “kebenaran” (Wiradnyana, 2011: 182). Praktik religi Karo lainnya yang masih berkenaan dengan binatang adalah “hiasan kepala kerbau.”
Wiradnyana (2011: 209) menulis bahwa “... rumah adat dan bangunan adat ... pada bagian bubungnya dihiasi dengan hiasan kepala kerbau ... berfungsi sebagai penolak bala.” Beberapa pengalaman empiris dari Wiradnyana menunjukkan
45 Begu Batara Guru adalah roh bayi yang meninggal di dalam kandungan, Begu Bicara Guru = roh bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, Begu Simate Sada Wari = roh orang yang mati tiba-tiba , dan Begu Tungkup = roh wanita belum menikah.
bahwa kerbau jantan saat itu, setelah disembelih, hanya digunakan sebagai bahan makanan pada saat sebuah pesta adat berlangsung namun pengalaman empiris peneliti meliputi hal yang sedikit berbeda. Pada saat penelitian tentang upacara kematian cawir metua, peneliti melihat bahwa binatang yang disembelih adalah lembu.
Catatan menarik tentang orang Karo telah dibuat oleh Anthony Reid pada periode 1540 dan 1630 dengan melakukan banyak penelitian dari sudut sejarah;
catatannya menunjukkan bagaimana Aceh telah berupaya keras untuk meng-Islam-kan Batak Karo walaupun usaha-usaha Aceh ini akhirnya gagal. Reid (2011:6) yang memiliki kepakaran dalam bidang sejarah menulis:
“Pada periode 1540 dan 1630, Aceh melancarkan sejumlah serangan atas penduduk pedalaman yang dinamainya Batak, dengan tujuan utama menanamkan agama Islam. Di Sumatra utara terbentuk garis yang tegas antara mereka yang menerima kekuasaan Aceh, Islam, dan huruf Arab, dan mereka yang memilih mengundurkan diri ke pegunungan, menerima nama yang diberikan pada mereka—Batak, tetap makan daging babi, tetap menggunakan huruf India Purba yang telah mereka gunakan selama ini, dan tetap menganut kepercayaan memuja leluhur. Orang Gayo di sekitar danau Tawar . . . termasuk kelompok yang pertama, dan orang Toba dan orang Karo termasuk kelompok yang kedua ....”
Catatan Reid tersebut memberikan informasi yang jelas bahwa kepercayaan
“memuja leluhur” di kalangan masyarakat Karo hingga saat ini pun masih juga terlihat, misalnya, adanya pembongkaran kuburan leluhur yang dimaksudkan untuk melakukan “penguburan kedua”. Dalam istilah Karo, pembongkaran kuburan ini disebut “ngangkat tulan-tulan.” (mengangkat tulang-belulang) dan setelah diangkat, tulang-tulang dari leluhur dikuburkan untuk kedua kali. Catatan Reid juga menjelaskan bahwa religi Batak Karo secara tradisional adalah memuja leluhur
yang sering disebut oleh masyarakat lokal sebagai agama (dan bukan kepercayaan)
“pemena”.
Sikap orang Karo terhadap Aceh hampir tidak pernah sirna dan hal ini ditunjukkan dengan membunuh semua utusan Aceh yang menginginkan dukungan orang Karo untuk memerangi Belanda, seperti apa yang dapat dibaca dari keterangan Reid (2011:28) yang menjelaskan sebagai berikut:
“Pucuk pimpinan Aceh menulis surat kepada pucuk pimpinan Minangkabau dan Batak meminta dukungan pada 1873, tetapi karena surat-surat mereka dipercayakan kepada seorang mata-mata Belanda tidak ada kemungkinan surat-surat itu sampai ke alamatnya. Utusan-utusan Aceh lebih berhasil di antara penduduk yang bertetangga, yakni penduduk Gayo dan penduduk Karo, meski para utusan yang dikirim ke Karo pada akhirnya dibunuh di situ pada 1874, barangkali karena rasa tidak percaya mendarah daging orang Karo atas niat orang Aceh ....”
Kutipan ini memiliki konteks yang menarik yang apabila diterjemahkan secara eksplisit bermakna bahwa sikap orang Karo tersebut dimaksudkan sebagai tindakan balas dendam atas penyerangan Aceh pada periode 1540 dan 1630 terhadap orang Batak sebelumnya kendati kedua peristiwa tersebut berjarak 333 tahun bila dihitung antara 1540-1873 atau 243 tahun bila dihitung dari 1630-1873.
Atau makna lainnya adalah bahwa pada masa itu orang Karo masih ingin bertahan dengan agama atau religi yang mereka telah kenal sebelumnya.