• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagan 1.1 Alur kerangka konsep penelitian

2.1 Etnografi Batak Karo

2.1.3 Asal-mula dan Sejarah

Karangan J.H. Neumann berjudul “Bijdrage tot de Geschiedenis van de Karo-Batakstammen”33 dimuat dalam majalah Bijdragen tot de Taal-Land- en Volkenkunde (LXXXII, 1926: 1-36 dan LXXXIII, 1927:162-180) dan karya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sedjarah Batak-Karo:

Sebuah Sumbangan”34 oleh J. Siahaan~Nababan (1972) yang penterjemahannya langsung diawasi oleh Koentjaraningrat yang, dalam kata pengantar terjemahan itu, mengungkapkan bahwa Neumann ‘mentjoba menerangkan asal-mula dan arah2

33 Karya Neumann ini dapat diakses dengan hanya mengetik “Brill online” pada laman Google dan kemudian pilih jurnal Bijdragen tot de taal-, land-, en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. Volume 134, Issue 1.

34 Terjemahan tersebut ditemukan ketika peneliti mengikuti program sandwich-like ke KITLV Leiden dengan kode arsip Bibliotheek KITLV 01740495 pada Oktober-Desember 2011 dan program ini didanai oleh BPPS DIKTI.

penjebaran dari kelima marga Batak Karo ... dengan tjara menganalisa dongeng2 folklore orang Karo sendiri’ (Koentjaraningrat (Ed.), 1972:5).

Tentang asal-usul BK Neumann sendiri telah mencatat anggapan dari pihak BK tentang “5 suku (marga) Marga Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin.... Suatu hikajat mentjeritakan kepada kita bahwa nama2 tersebut adalah nama2 dari lima anak laki2 bersaudara, semuanja adalah putera2 dari seorang ajah, jang bernama Nini Karo” (Neumann dalam Siahaan~Nababan, 1972:8).

Dengan demikian, menurut cerita lisan yang dikumpulkan oleh Neumann, Batak Karo berawal dari seorang lelaki bernama Nini Karo yang mempunyai lima anak laki-laki dengan urutan yang peneliti sebut dengan nama inisial KGTSP (K=Karo-karo, G=Ginting, T=Tarigan, S=Sembiring, P=Perangin-angin).

P. Tambun, dalam Sinuraya (1987a:12), tidak sependapat dengan nama Nini Karo sebagai nenek moyang orang Karo; ia berpendapat bahwa nama Meherga35 justru menjadi nenek moyang Batak Karo. Sehingga, terdapat perselisihan tentang urutan36 kelima anak lelaki tersebut; perselisihan ini menyebabkan kesulitan untuk menetapkan dengan pasti siapa anak tertua hingga anak terbungsu walaupun

35 P. Tambun (dalam Sinuraya, 1987:12) berpendapat bahwa meherga bermakna ‘berdaulat atau berwibawa’ yang lambat laun berubah menjadi merga. Meherga mempunyai lima orang anak, yaitu KGTSP yang kemudian dijuluki sebagai meherga silima (atau sering disebut merga silima) yang bermakna ‘lima orang anak dari si Meherga.’ Kemudian, anak cucu Meherga ini terus berkembang dan membuat kampung-kampung yang baru (kuta) yang kemudian kampung-kampung tersebut dijuluki sebagai kuta pantekan merga silima, kuta kemulihen, atau tanah Karo simalem yang semuanya bermakna ‘kampung-kampung dari anak cucu si Meherga.’

36 P. Sinuraya (1987:12) menyandarkan urutan pada P. Tambun, yaitu KGTSP (lihat Neumann);

urutan-urutan dalam versi Darwan Prints (2004:28-) ketika membahas “sejarah merga-merga Karo”

adalah GKPST; Ginting (2005:1) sepakat tentang urutan-urutan yang dibuat oleh Darwan Prints;

Darwin Prints (2010:306) memberi urutan: KGSPT; Pajung Bangun memiliki data yang sedikit berbeda, yaitu: MGSPT (M=Makaro-karo) (lihat Koentjaraningrat (Ed), 2010:108);

urutan ini dianggap tidak begitu penting bagi sebagian orang Karo. Peneliti lebih setuju dengan apa yang disampaikan oleh Neumann dan Tambun dengan alasan bahwa Neumann, misalnya, mendapatkan datanya dari tradisi lisan yang digalinya jauh sebelum Indonesia merdeka sehingga datanya dapat dianggap lebih akurat.

Ada catatan menarik yang dibuat oleh Neumann tentang Karo Sekali dan Karo-karo yang disandarkan atas sumber folklor, seperti tertulis dalam kutipan berikut:

“Pertama2 adalah, bahwa orang mengadakan perbedaan antara Karo-Sekali, Karo jang murni dan Karo-karo. Karo jang murni, jang dengan bangga menamakan dirinja Karo-Sekali dan tidak merupakan bagian dan tjampuran suku2 Karo jang lain, masih terdapat hanja didalam sebuah kampung, malahan hanja dalam sebuah daerah dari kampung itu, ja’ni daerah Siberaja. Mereka itu adalah Karo jang murni, jang lain adalah Karo-karo, ja’ni jang berdiam dengan orang Karo atau mirip sebagai orang Karo”. (Neumann dalam Koentjaraningrat, 1972:9)

Neumann sebenarnya setuju dengan tradisi lisan ini bahwa Karo-karo bukanlah anak sulung namun ia menghentikan penyelidikannya karena ia gagal mendapatkan lebih banyak tradisi lisan tentang Karo Sekali dan akhirnya ia memilih Karo-karo sebagai anak sulung.37

Dari sisi sejarah pada abad ke-6, para pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara.

37 Neumann (dalam Koentjaraningrat, 1972) membahas latar belakang Karo-karo pada bagian V-VII (hal. 14-20) dan khususnya tentang Karo-karo Sitepu dan Karo-karo Barus; membahas Ginting pada bagian VIII (hal. 21-24) dengan fokus pada Ginting si ni Suka, Ginting Manik, dan Ginting Munte; membahas Sembiring pada bagian IX (hal. 25-38) dengan perhatian pada Sembiring Kembaren, Sembiring Simombak, dan Sembiring Maleala; membahas Perangin-angin pada bagian X (hal. 38-40) dengan fokus pada Sibajang, Suka tendel, Kutabuluh, dan Perangin-angin si nu urat;

membahas Tarigan pada bagian XI (hal. 40-43) dengan tanpa catatan tentang pembagian-pembagiannya.

Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman.

Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari

Barus, Sorkam, hingga Natal. (http://bpp

mamre.or.id/index.php?option=com_content&view= article&id= 80&Itemid=95 25/04/2015).

Reid (2011:55) mengatakan bahwa perpindahan orang Karo dari dataran tinggi tempat mereka dilahirkan ke dataran rendah, misalnya, Medan, terjadi pada abad ke-20. Penyebab perpindahan ini adalah revolusi 1945-1949 dan keinginan diantara mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan modern, seperti terlihat dalam kutipan di bawah ini:

“Meski orang Batak Karo dari dataran tinggi Karo ... paling dekat dengan daerah Medan dan mungkin pernah mendominasi di situ, turun gunung pada abad ke-20 ke dataran rendah adalah paling mutakhir dari semua arus turun gunung. Baru setelah pengalaman revolusi 1945-9 maka orang Karo secara besar-besaran menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern, dan turut serta bersama orang Toba menduduki tanah-tanah bekas perkebunan dekat Medan. Pada 1981 ada 52.000 orang Karo di Medan – jauh lebih sedikit daripada jumlah total orang Toba (183.000), orang Mandailing atau orang Minangkabau, tetapi bagian yang lebih besar (sekitar 10 persen) dari seluruh orang Batak Karo.”

2.1.4 Bahasa

Dengan jumlah penduduk 248.818.000 (berdasarkan UNDESA 2013) Indonesia dikenal memiliki 719 bahasa perorangan (individual languages) dan 706 diantaranya masih hidup namun 13 dinyatakan lenyap (extinct). Dari sejumlah bahasa yang masih hidup, 19 dinyatakan sebagai bahasa institutional, 86 sedang berkembang, 260 masuk kategori kuat, 266 berada dalam kesulitan, dan 75 dinyatakan mati (http://www.ethnologue.com/country/ID). Berungtungnya, bahasa Batak Karo menjadi salah satu dari 86 bahasa yang sedang berkembang tersebut sehingga bahasa ini, untuk jangka waktu sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, masih boleh dianggap sebagai bahasa yang terhindar dari kepunahan.

Dalam laman “The World Atlas of Language Structures (WALS) Online”38 nama bahasa “Batak” dapat merujuk pada tiga bahasa (lihat Tabel 2.9); ketiga bahasa ini hampir tidak memiliki perbedaan, kecuali pada kode WALS dan Genus.

Bahasa batak Filipina memiliki kode WALS “bat” yang merupakan inisial dari

“batak” sedangkan dari sisi Genusnya bahasa ini masuk dalam kategori “Greater Central Philippine” yang meliputi 20 percabangan bahasa: Agta (Filipina Tengah), Agta (Dupaningan), Aklanon, Batak, Bikol, Binukid, Cebuano, Gorontalo (Indonesia), Hanunoo, Hiligaynon, Kulamanen, Mangindanao, Mamanwa, Manobo, Maranao, Mongondow (Indonesia), Tagalog, Tagbanwa, Tausuk, dan Waray-waray. Sementara kode “bkr” dan “bto” masing masing merujuk pada

38Laman ini yang dapat dijangkau pada http://wals.info/languoid atau http://wals.info/ memberikan banyak informasi tentang 2.679 entri bahasa di seluruh dunia. Laman pertama menampilkan fitur

“bahasa” yang dilengkapi dengan berbagai fitur tambahan seperti: Nama, kode WALS, ISO 639-3, Genus, Rumpun, Wilayah makro, Latitude, Longitude, dan Negara. Cari saja nama bahasa yang disusun secara alfabetis. Laman kedua mencatat enam fitur utama dan salah satunya adalah fitur

“bahasa.” Sumber tertulis tentang ensiklopedi nama-nama suku bangsa di Indonesia dapat juga dilihat pada Ensiklopedi Kebudayaan Suku Bangsa di Indonesia (1955) karya J. Melalatoa dan Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia karya Zulyani Hidayah (lihat selengkapnya pada Koentajaraningrat, 2005: 6)

“Batak Karo” dan “Batak Toba.” Genus “Northwest Sumatera-Barrier Islands”

secara lengkap mencakup delapan sub-rumpun bahasa, yaitu, Alas, Batak Karo, Batak Toba, Gayo, Mentawai, Nias, Sikule, dan Simeulue.

Sementara dalam laman daring “Ethnologue: Languages of the World”39 bahasa-bahasa dalam kelompok Batak disusun berdekatan, yakni, Batak Alas-Kluet (kode: btz), Batak Angkola (akb), Batak Dairi (btd), Batak Karo (btx), Batak Mandailing (btm), Batak Simalungun (bts), dan Batak Toba (bbc). Laman ini menetapkan btx memiliki dua nama, yaitu Batak Karo dan Karo Batak dengan status 5 (berkembang) dan btx hanya mempunyai satu dialek, yaitu Singkil; namun, ketika membahas btz, dari tiga dialek btz: Alas, Kluet, Singkil (Kade-Kade), Ethnologue hanya menetapkan dialek Alas lebih mirip dengan Karo Batak (btx), yaitu 81% kognat (laman ini mengambil sumber dari Soravia 2002; lihat juga http://www.ethnologue.com/country/ID/languages 02/-5/2015). Ethnologue juga menetapkan btx dengan klasifikasi: Austronesia, Malayo-Polynesia, Northwest Sumatra-Barrier Islands, Batak, Utara (https://www.ethnologue.com/language/btx 30/4/2015). Bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam kelompok utara, selain Batak Karo, adalah btz dan btd (lihat Tabel 2.10 untuk bahasa-bahasa Batak di wilayah utara dan Tabel 2.11 untuk jumlah penutur dan status bahasa).

Dalam kelompok Northwest Sumatra-Barrier Islands Batak Toba menduduki peringkat pertama dengan jumlah penutur L1 2 juta; sedangkan Batak

39 Laman ini dapat dilihat selengkapnya pada http://www.ethnologue.com/world. Di bawah peta dunia tertera “Browse the regions”: Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Pasifik. Untuk menemukan Batak Karo kita dapat meng-klik Asia dan muncul pembagian wilayah regional: Asia Tengah, Tenggara, Selatan, Barat, dan Timur. Klik saja Asia Tenggara dan muncul nama-nama negara di wilayah ini; pilih saja Indonesia dan tersedia 5 kotak, yaitu, country, languages, status, maps, dan feedback. Klik saja kotak nomor 2 dan muncul ratusan bahasa daerah yang tersusun secara alfabetis.

Karo berada pada posisi ke tujuh dengan jumlah penutur L1 berjumlah 600 ribu.

Posisi ini, tampaknya, rentan terhadap pengaruh bahasa-bahasa daerah besar lainnya, misalnya, selain Batak Toba, ada Batak Simalungun, Batak Dairi, dan Batak Mandailing yang jumlah penutur L1 berjumlah di atas satu juta. Potensi besar untuk mempengaruhi eksistensi pemakaian bahasa Batak Karo datang dari nomor urut 1-3; sedangkan nomor urut 4 tidak memiliki potensi mempengaruhi bahasa Batak Karo karena disebabkan oleh letak geografi yang berjauhan. Di dalam kelompok Utara sendiri, ancaman terbesar terhadap bahasa Batak Karo berasal dari Batak Dairi.

Dalam wacana “awan bahasa” (language cloud) Batak Karo berada dalam status 5 atau disebut juga EGIDS 5. Ini berarti bahasa ini “sedang berkembang”

(developing); artinya, penggunaan bahasa ini sedang dalam kondisi digiatkan dengan literatur dalam bentuk standar yang digunakan oleh banyak orang walaupun bahasa ini belum berkembang luas atau sekedar dapat dipertahankan (sustainable) (lihat Gambar 2.2).

Grafik di atas menunjukkan tempat Bahasa Karo di dalam awan. Setiap bahasa dalam Ethnologue direpresentasikan dengan tanda titik kecil (small dot) yang ditempatkan pada grid yang berkaitan dengan populasi dari bahasa tersebut (dalam sumbu vertikal) dan level perkembangan (level of development) atau tingkat kepunahan (level of endangerment) dalam sumbu horizontal dan diikuti dengan bahasa-bahasa terbesar dan terkuat pada sisi kiri atas dan bahasa-bahasa terkecil dan terlemah pada kanan bawah. Skala logaritma menunjukkan jumlah penutur L1 dimana 100 berarti satu orang penutur L1; 102 = 100; 104 = 10.000; 106 = 1.000.000;

dan 108 = 100.000,000.

Batak Karo direpresentasikan dengan titik besar berwarna biru. Keterangan berikut menunjukkan level EGIDS40 yang ditandai dengan titik warna sebagai berikut (https://www.ethnologue.com/cloud/btx) (lihat Gambar 2.2 untuk keterangan). Dengan demikian, berdasarkan model ETHNOLOGUE setiap bahasa di muka bumi diberi warna yang berarti warna tersebut mencerminkan kondisi penggunaan dari bahasa itu. Ethnologue juga mencatat 113 entri dalam bahasa Karo (lihat Ethnologue daring).