Bismillahirrahmaanirrahiim assalamualaikum wr. wb. Selamat sore dan salam sejahtera bagi kita semua. Terima kasih atas kesempatan Majelis Hakim Yang Mulia yang diberikan kepada saya. Pertama-tama saya ingin mempermaklumkan bahwa sehubungan dengan permohonan Pemohon, saya telah memberikan pendapat hukum sebagai … pendapat hukum di bidang ahli hukum pidana dan hukum acara pidana. Jumlahnya 6 halaman dan saya sudah sampaikan ke Pemohon, mudah-mudahan dapat diteruskan kepada Yang Mulia.
Selanjutnya, oleh karena di dalam pendapat hukum yang saya kemukakan ini sudah cukup jelas, namun ada bagian-bagian yang saya merasa penting pula, saya tambahkan dan insya Allah saya tidak akan menggunakan waktu lebih dari tujuh menit.
Baik. Ketika … ketika membaca permohonan Pemohon yang pada pokoknya kemudian terdaftar sebagai Perkara Nomor 20/PUU-XIV/2006 sehubungan dengan pengujian terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan seterusnya.
Setelah saya mempelajari secara cermat dan teliti permohonan Pemohon, maka terdapat hal-hal penting yang perlu untuk dicermati sebelum masuk kepada substansi.
Berkenaan tentang pertanyaan-pertanyaan bahwa apakah sebenarnya Pemohon ini dapat atau memenuhi syarat dapat dinyatakan sebagai Pemohon? Benarkah kiranya ada kerugian konstitusi yang dialami sehubungan dengan pemberlakuan sebuah ketentuan
perundang-undangan yang dijadikan sebagai bahan uji di dalam permohonannya.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, telah saya jawab di dalam pendapat hukum saya. Dan pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa selaku Ahli, saya menilai bahwa permohonan Pemohon telah memenuhi syarat kualifikasi sebagai pihak yang memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011, dan berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu.
Selanjutnya, Yang Mulia, saya ingin menyentuh kepada substansi pokok persoalan. Oleh karena Pemohon dalam permohonannya telah memenuhi syarat kualifikasi sebagai pihak yang memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan, maka menurut pendapat saya adalah tepat jika Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Yang Mulia menyatakan permohonan Pemohon dapat diterima.
Selanjutnya, di dalam permohonan Pemohon, terdapat beberapa hal yang bersifat substansi, yang memerlukan pandangan Ahli. Khususnya yang pertama, apakah penyadapan dan perekaman suatu pembicaraan dapat diartikan sebagai perbuatan yang sama menurut Undang-Undang IT? Perbuatan menyadap menurut Undang-Undang IT adalah kegiatan untuk mendengarkan merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi informatika elektronik yang tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.
Tindakan penyadapan dan perekaman tidaklah sama. Tindakan merekam, jelas berbeda dengan tindakan menyadap. Karena tindakan merekam dilakukan secara langsung terhadap suara atau kejadian, di mana yang direkam ke dalam suatu tape recorder maupun kamera, bukan data elektronik, informasi elektronik, maupun dokumen elektronik. Pada dasarnya, penyadapan atau intersepsi, apalagi merekam secara diam-diam tanpa izin dari pihak yang direkam adalah merupakan perbuatan yang dilarang, sebagaimana diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang IT. Sehingga terhadap pelaku perbuatan, ini dapat diancam dengan sanksi pidana. Kecuali, jikalau penyadapan atau intersepsi dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.
Substansi pertanyaan berikutnya, apakah tindakan melakukan perekaman yang dilakukan tanpa izin dan bukan oleh lembaga yang berwenang merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Hak asasi manusia adalah kumpulan hak yang melekat sejak lahir dalam diri
masing-masing, senantiasa harus selalu dijaga, dijunjung tinggi, dan harus diakui oleh semua orang menurut John Locke. HAM ialah suatu hak yang dihadiahkan Tuhan yang bersifat kodrat, di mana hak asasinya tidak pernah dan tidak dapat dipisahkan hakikatnya, sehingga hak asasi merupakan sesuatu yang suci dan harus dijaga.
Salah satu hak yang harus senantiasa dijaga dan dijunjung tinggi adalah hak kepribadian untuk berkorespondensi. Beberapa ketentuan yang berlaku, yang bersifat universal berkaitan HAM, telah menegaskan hal tersebut. Misalnya, dalam Pasal 12 universal hak asasi manusia, universal declaration of human rights. Tidak seorang jua pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya, dan hubungan surat menyurat dengan sewenang-wenang. Jika tidak diperkenankan melakukan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya, setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum terhadap gangguan pelanggaran tersebut.
Selanjutnya kemudian Pasal 17 Kovenan Internasional hak-hak sipil yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 untuk menyingkat waktu, Yang Mulia, tidak perlu kami bacakan.
Pada akhirnya tindakan melakukan perekaman yang dilakukan tanpa izin, bukan oleh lembaga yang berwenang adalah jelas merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, pelanggaran terhadap right of privacy yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 hal mana sesuai dengan apa yang diputus oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-VIII/2010.
Selanjutnya, sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya. Bahwa tindakan melakukan perekaman yang dilakukan secara diam-diam adalah merupakan pelanggaran HAM, berdasarkan hal tersebut, maka menurut penilaian kami sebagai Ahli, perekaman itu ilegal dan merupakan pelanggaran HAM, maka hasilnya tentu saja tidaklah dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah dalam proses penyidikan maupun persidangan pemeriksaan perkara. Oleh karena segala bentuk tindakan yang termasuk, namun tidak terbatas tindakan perekaman harusnya disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Selanjutnya yang bagian akhir adalah apa akibat gerangan jikalau sekiranya setiap orang bisa melakukan tindakan perekaman dan kemudian hasilnya dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat bukti dalam pemeriksaan perkara pidana. Sebagai Ahli kami berpendapat. Bahwa jikalau hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang, maka perekaman tanpa seizin Pihak Terkait dan hasilnya dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat bukti dalam pemeriksaan perkara pidana, maka akan menimbulkan kegaduhan hukum, menimbulkan ketidaktertiban dalam pelaksanaan hukum acara pidana dan lebih jauh akan merusak sistem peradilan pidana di Indonesia, integrated criminal justice system. Demikian yang kami kemukakan, semoga ada manfaatnya. Assalamualaikum wr. wb.
44. KETUA: ANWAR USMAN
Ya.
45. AHLI DARI PEMOHON PERKARA NOMOR 20/PUU-XIV/2016: MUHAMMAD SAID KARIM
Muhammad Said Karim.
46. KETUA: ANWAR USMAN
Terima kasih, Prof. Sebentar, ya. Karena ini sudah pukul 16.10 WIB.
Karena ini sudah lewat waktu asar, jadi kita skors dulu, ya, untuk salat asar, ya.
Baik. Sidang diskors sekitar 15 menit.
47. KETUA: ANWAR USMAN
Skors dicabut dan sidang dibuka kembali.
Pemohon, silakan. Siapa lagi yang akan diajukan?
48. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 20,21/PUU-XIV/2016: MUHAMMAD AINUL SYAMSU
Terima kasih, Yang Mulia. Yang kemudian adalah Prof. Ed Hiariej kebetulan Beliau memberikan keterangan untuk dua perkara ini. Jadi mungkin nanti sekaligus, Yang Mulia.
49. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, nanti mungkin, ya, poin-poinnya saja karena Majelis ingin mendalami lebih lanjut nanti keterangan Para Ahli. Silakan, Prof.