• Tidak ada hasil yang ditemukan

AHLI DARI PEMOHON PERKARA NOMOR 20,21/PUU-XIV/2016: ANDI HAMZAH

Assalamualaikum wr. wb. Pendapat saya sekitar ketentuan perbuatan jahat khususunya Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pendahuluan, perbuatan jahat samenspanning diatur dalam Pasal 88 KUHP. Istilah asli KUHP yang berbahasa Belanda, ialah samenspanning. Dalam bahasa Inggris disebut conspiracy. Dalam bahasa Indonesia sekali disebut persekongkolan. Pasal 88 KUHP ini disalin sepenuhnya dari Pasal 80 (Ned. Wetboek van Strafrecht) yang berbunyi, “Samenspanning bestaat zoodra twee of weer personen overeengekomen zjin om het zoodra misldrif te plegen.”

Bunyi Pasal 88 KUP persis sama dengan Pasal 80 Ned. WvS itu. Diterapkan oleh Moeljatno dan Roeslan Saleh dalam KUHP terjemahannya dikatakan ada perbuatan jahat, apabila dua orang atau lebih telah sepakat akan melakukan kejahatan. Pasal 88 itu merupakan penafsir autentik yang dapat dipandang sebagai definisi. Tadi Dr. Choirul Huda mengatakan hanya berlaku untuk KUHP, kira-kira begitu, ya, tidak berlaku ini. Tapi, 13 buah Pasal di dalam Undang-Undang Korupsi itu dari KUHP jadi dilungkumi … dilingkupi oleh pengertian Pasal 88 ini.

Oleh karena itu, disalin oleh sepenuhnya Ned. WvS maka dengan sendirinya pendapat hukum pidana Belanda dapat dipakai juga di Indonesia. C.P.M Cleiren, guru besar Hukum pidana di Rotterdam dibantu oleh J.F. Nijboer rektor hukum pidana di Leiden dalam bukunya het Wetboek van Strafrecht komentar KUHP dan komentar. Komentarnya mengenai Pasal 80 itu yang sama Pasal 88 mengatakan bahwa samenspanning, perbuatan jahat, ini bermaksud memberantas kejahatan yang membahayakan negara. Jadi hanya untuk kejahatan sangat serius, yaitu kejahatan terhadap keamanan negara, maka terhadap raja memberontak kepada negara dan menggulingkan pemerintah.

Jadi tidak untuk kejahatan serius yang lain seperti pembunuhan, perampokan, perkosaan, penerimaan suap, dan lain-lain. Kejahatan dimaksud berarti tidak belum terjadi. Oleh karena dikatakan dua orang

atau lebih telah sepakat, berarti tidak mungkin dilakukan oleh seorang diri. Harus dua orang atau lebih dan telah ada kesepakatan Prof. Sulaiman Saleh dalam terjemahan dalam komentar buku 1 KUHP mengatakan adanya perbuatan jahat dapat disimpulkan dari keterangan-keterangan yang orang yang telah bersepakat, persetujuan merupakan suatu tanda yang dapat dilihat mengenai persetujuan kehendak yang merupakan dasar dari adanya permufakatan.

Jadi tidak mungkin dilakukan oleh seorang diri dan juga sudah terjadi persetujuan kehendak antara para pihak yang dapat dilakukan seorang diri adalah perbuatan persiapan. Belanda, voorbereidingshandeling. Inggris, preparation act, yang undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak belum mengancam pidana.

Pada umumnya hukum pidana Indonesia sama hukum pidana Belanda dulu, beda dengan sekarang. Perbuatan persiapan dilakukan … melakukan delik tidak dipidana. Perbuatan persiapan melakukan delik tindak pidana, tidak dipidana, kecuali Pasal 250 KUHP perbuatan persiapan membuat uang palsu sudah dalam cetak, ada tinta, ada klise dalam Pasal 261 KUHP perbuatan persiapan membuat materai, perangko palsu, dan juga Pasal 11 Undang-Undang Terorisme.

Jadi ada 4 delik yang kejatahan yang dituju tidak belum terjadi, yaitu;

1. Sudah disebut tadi. Percobaan, (suara tidak terdengar jelas), attempt ada niat atau pengguna pelaksanaan yang tidak selesai di luar kemauan pelaku.

2. Makar (anslag) yaitu sama dengan percobaan yang unsur ketiga ditiadakan. Artinya walaupun yang dituju tidak terjadi atas kemauan sendiri, tetap dipidana. Berbeda dengan percobaan, (anslag) hanya untuk delik atau (suara tidak terdengar jelas) terhadap keamanan negara, seperti makar terhadap raja, presiden, ini juga diciptakan oleh Belanda dengan Undang-Undang 1920 yang namanya anti revolutie wet. Undang-undang anti revolusi yang sebagai akibat revolusi Rusia yang membunuh Kaisar Tsar Nicholas II dan seluruh keluarganya oleh komunis. Jadi Belanda demam revolusi.

Sepanjang pengetahuan saya, hanya (suara tidak terdengar jelas) Belanda ada ketentuan anslag makar ini yang diikuti oleh (Ahli menggunakan bahasa asing) for Nederland Hindia sejak 1930. Jadi kita di sini 10 tahun kemudian sesudah tahun 1920 baru diterapkan dalam KUHP anslag, makar. Karena sebelumnya itu ada pemberontakan PKI di Semarang, Banten, dan Sumatera Barat. Yang aneh, ada ketentuan anslag makar terhadap raja di Belanda diikuti Indonesia terhadap presiden yang artinya raja, presiden tidak mati. Tapi tidak ada pasal dalam (suara tidak terdengar jelas) Belanda (suara tidak terdengar jelas) Indonesia mengenai pembunuhan raja atau pembunuhan presiden di Indonesia. Mana pasalnya? Jadi Belanda mengatakan, okelah, pasal itu juga yang berlaku. Kalau Indonesia Pasal 104.

Ketiga, perbuatan persiapan. Ini juga belum terjadi apa-apa (suara tidak terdengar jelas) yang sudah saya sebut tadi Pasal 250 KUHP perbuatan peristiwa (suara tidak terdengar jelas) palsu, prangko palsu, 261 dan kemudian Undang-Undang Terorisme sudah mengumpul uang untuk tujuan terorisme.

Keempat, permusyawaratan jahat samenspanning conspiracy yang juga hanya untuk kejahatan terhadap keamanan negara dan Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Bahwa sangat sulit dimengerti jika permusyawaratan jahat akan diterapkan pada delik korupsi yang jenisnya banyak sekali yang asli disusup pembuat undang-undang hanya 2 pasal … 3 pasal, Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 13. Sedangkan 13 jenis korupsi yang lain diambil dari KUHP disalin mentah-mentah dari KUHP. Yang kacau juga di DPR karena ada hari ini KUHP Muliatno yang dipakai. Pemberian (suara tidak terdengar jelas) memberi hadiah atau janji gift, diterbangkan hadiah. Minggu depan DPR tampil lagi KUHP lain yang pakai istilah pemberian, dari satu paket pemberian menerima pemberian atau janji, yang satunya memakai pemberian hadiah atau janji, untuk gift itu. Jadi bingunglah Hakim Tipikor, yang mana ini yang dimaksud? Ada yang mengatakan pemberian hadiah memang lebih berat daripada pemberian. Padahal maksudnya satu, dia pakai KUHP yang berbeda istilahnya.

13 korupsi yang lain, yaitu diambil dari KUHP yaitu Pasal 209. Diambil sepenuhnya dari Pasal 17 KUHP Belanda. Bunyinya sama, Pasal 210 diambil sepenuhnya dari Pasal 178 KUHP Belanda, Pasal 387 diambil dari Pasal 331 KUHP Belanda, Pasal 388 diambil dari Pasal 332 KUHP Belanda, Pasal 415, pegawai negeri menggelapkan uang diambil sepenuhnya dari Pasal 369 … 359 KUHP Belanda, Pasal 416 diambil dari Pasal 300 KUHP Belanda, Pasal 417 diambil dari Pasal 361 KUHP Belanda, Pasal 418 diambil dari Pasal 362 KUHP Belanda yang telah dicabut 1 Januari 2015.

Jadi sekarang ada beberapa orang mengambil doktor di Belanda, ada di (suara tidak terdengar jelas) yang judulnya Kekacauan Perundang-undang Korupsi Indonesia. Jadi Belanda sudah tahu semua kacaunya ini undang-undang. Sampai dia minta supaya saya menjadi salah seorang penguji di sana. Ada lagi di Leiden, ada di Utrecht, ada di Groningen.

Jadi Belanda baca ini semua putusan Mahkamah kita ada di internet, mereka baca, mereka melihat penerapan yang kacau ini hingga akibatnya Pasal 362 KUHP Belanda itu yang ancaman pidananya 3 bulan menjadi (suara tidak terdengar jelas) sekitar 6 bulan menjadi Pasal 5 ayat (2) … Pasal 11 kita, lima tahun telah dicabut di Belanda, 1 Januari 2015 (suara tidak terdengar jelas) baru saya sapat itu, seminggu yang lalu. Pasal 419 dari Pasal 363 KUHP Belanda, Pasal 420 hakim menerima suap dari Pasal 364 KUHP Belanda. Pasal 423 tidak ada (suara tidak terdengar jelas) dalam KUHP Belanda khusus disisipkan untuk pejabat

Inlander yang memeras rakyat, dan Pasal 435 KUHP dari Pasal 376 KUHP Belanda, ancaman pidananya di sana 6 bulan, di sini 9 bulan. Tiba-tiba dalam Undang-Undang Pemberantasan Korupsi kita minimum 4 tahun, maksimum seumur hidup.

Dari 9 bulan KUHP menjadi seumur hidup, yang di Belanda hanya 6 bulan karena ini tindak pidana administratif. Seorang bupati, kepala PU, merangkap pemborong, tidak boleh. Presiden, atau anaknya, atau istrinya menjadi pemborong proyek yang di bawah pemerintah di Indonesia.

Ini salah satu pasal yang menyebabkan saya tidak pernah dapat jabatan di kejaksaan karena saya dalam kuliah tahun 1978, saya mengatakan anak Marcos tidak boleh memborong jalan tol di Manila karena ada Pasal 435 KUHP menjadi korupsi.

Orang tafsirkan yang saya maksud Indonesia. Padahal saya bilang anaknya Marcos, itu. Penulis sudah … karena kacaunya Undang-Undang Pemberantas Korupsi ini, saya sudah menyurati presiden, Komisi III DPR, dan tembusan kepada Mahkamah Konstitusi bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 keliru. Khususnya pegawai negeri, hakimnya menerima suap justru disusun kacau. Begitulah Pasal 435 KUHP yang sukunya delik administratif, yang ancaman pidananya dalam KUHP maksimum 9 bulan, disalin menjadi Pasal 12I dengan ancaman pidana 4 tahun minimum, maksimum seumur hidup.

Terhadap pembahasan Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berbunyi, sudah tadi disebut, “Setiap orang yang melakukan percobaan pembantuan dan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, 3, Pasal 5, sampai dengan Pasal 14.” Jadi seluruhnya.

Sudah dikemukakan di bagian pendahuluan, di muka, bahwa KUHP disusun secara sistematis pasal yang satu berkaitan dengan pasal yang lain. Permufakatan jahat hanya untuk delik yang membahayakan keamanan Negara, yaitu delik terhadap keamanan negara bahkan kepada presiden, wakil presiden, pemberontakan, dan penggulingan pemerintah berlaku ketentuan permufakatan jahat. Hal ini logis karena kejahatan yang dituju tidak terjadi.

Jika dalil-dalil percobaan sudah ada niat, ada pemufakatan pelaksanaan tidak sesuai (suara tidak terdengar jelas) maka dalam pemufakatan jahat hanya ada niat dengan mengadakan pemufakatan jahat sama sekali tidak ada permulaan pelaksanaan.

Dalam KUHP Jerman dikatakan jika para peserta pemufakatan jahat menghentikan niatnya, tidak dipidana. Oleh karena delik korupsi yang dicantum dalam Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi dari Pasal 2 sampai Pasal 3 dan Pasal 5 sampai Pasal 14 praktis termasuk pasal-pasal yang diadopsi dari KUHP yang berlaku definisi sama spaning Pasal 88. Pasal-pasal itu sudah dikemukakan di muka ialah

Pasal 29 menyuap pegawai negeri, 387 pemborong melakukan perbenturan, 388 relevansi tentara melakukan perbuatan curang, 415 pegawai negeri menggelapkan uang, 416 menggelapkan buku, 417 menggelapkan barang bukti, 418 menerima hadiah atau janji berhubungan dengan jabatan yang dia tahu berhubungan dengan jabatannya atau patut menduga. Jadi, tidak melakukan apa-apa. Pasal 419 sudah melalaikan kewajibannya, menerima suap, dan telah melalaikan kewajibannya. Harusnya dia tangkap, dia tidak tangkap. Mestinya dituntut berat, dia tuntut ringan, dan seterusnya.

Itulah yang ada dalam KUHP negara-negara lain. Jadi Pasal 418 itu tidak terdapat dalam KUHP negara lain. Hanya KUHP Belanda 362 diikuti Pasal 418 KUHP menjadi Pasal 11 Undang-Undang Korupsi, yang tadi sudah katakan Belanda sudah sadar, sudah mencabut pasal itu, 1 Januari 2015.

Pasal 423 memeras (suara tidak terdengar jelas) pegawai negeri memeras rakyat. Pasal 425 juga sama (suara tidak terdengar jelas) 4 dan terakhir, 435 pejabat merangkap pemborong, baik anaknya maupun istrinya memborong di tempat yang berada di bawah penguasaannya. Misalnya, Bupati Kebumen memborong sarang burung di Kebumen, Bupati Walikota Makassar memborong penggalian pasir di Makassar. Bupati Bogor merangkap pemborong untuk melelang, untuk satu tahun, pengambilan batu-batu di Bogor. Itu maksudnya, tidak ada kerugian negara sama sekali.

Ini pelanggaran administratif, supaya pejabat itu jangan merangkap pemborong. KUHP menjadi Pasal 387 KUHP menjadi Pasal 7A dan B, Pasal 388 KUHP menjadi Pasal 7C dan D. Pasal 415 menjadi Pasal 8. Pasal 416 menjadi Pasal 9. Pasal 417 menjadi Pasal 10 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 418 menjadi Pasal 11 tadi, Pasal 419 disalin dua kali di DPR menjadi Pasal 5 ayat (2) yang ancaman pidanannya maksimum 5 tahun penjara, yang satu lagi menjadi Pasal 12A, B yang ancaman jauh berbeda, yaitu pidana seumur hidup.

Ini, di sinilah kekeliruan DPR yang satu, delik dua kali disalin. Minggu ini, Pasal 5 ayat (2), minggu depan Pasal 12A, B. Ancaman pidananya berbeda, KUHP yang disalin sama, Pasal 419. dulu Hakim ini main suap, Pasal 420 KUHP disalin minggu ini menjadi Pasal 6 ayat (2), 15 tahun. Minggu depan, 12C seumur hidup.

(suara tidak terdengar jelas). Di sinilah kekeliruan DPR, yang satu delik dua kali disalin dengan ancaman pidana jauh bedanya. Pasal 420 KUHP, Hakim Menerima Suap, menjadi Pasal 6 ayat (2), dengan ancaman pidana penjara 15 tahun. Hakim-hakim kita umumnya dijatuhkan dengan pasal inih 15 tahun. Termasuk Hakim Tipikor. Disalin lagi menjadi Pasal 12C dengan ancaman pidana berbeda jauh, maksimum penjara seumur hidup. Penyalinan Pasal 419 dan Pasal 420 inilah blunder, fooolish mistake oleh DPR, bersama Pemerintah tentu ya, bersama Kumhamtahun 2001.

Saya tahu benar karena saya menyusun rancangan yang diubah itu, atas permintaan Menteri Kehakiman Baharuddin Lopakepada saya. Kemudian dibahas bersama-sama, profesor-profesor, ini, Bapak ini, Profesor Natabaya, Romli, Abdul Gani Abdullah, Indriyanto Senoadji, dan Buyung Nasution. Dan dipimpin sendiri oleh Baharuddin Lopa.

Ini saya sudah kemukakan di DPR bahwa ini sudah disusun oleh 7 Profesor, tapi saya tinggalkan DPR karena salah seorang Anggota DPR, Profesor Sahetapi, tunjuk saya, “Itu si Hamzah sudah pulang.” Begitulah sampai (suara tidak terdengar jelas) Pak. Saya tidak bisa pertahankan, apa yang saya sudah buat karena saya pulang.

Oleh karena menyimpulkan ketidakadilan seperti di muka, saya sudah ... tadi saya sudah katakan, Presiden, masih SBY, Komisi III DPR, dan Mahkamah Konstitusi dua tahun yang lalu. Agar Rancangan Undang-Undang Pemberantasan Korupsi yang sudah disesuaikan oleh United Nations Convention against Corruption yang saya telah serahkan kepada Menteri Andi Matalata tahun 2009 segera dibahas, namun tidak ada tanggapan.

Undang-Undang yang kacau itu tetap diterapkan dengan segala akibatnya yang tidak adil. Hakim pidana sendiri, yaitu Hakim Tipikor dijatuhi pidana beberapa tahun saja, sedangkan hakim nonpidana, hakim Mochtar dijatuhi pidana seumur hidup, satu-satunya hakim yang dipidana seumur hidup sepengatahuan saya. Satu-satunya penghuni … koruptor di Sukamiskin sekarang, seumur hidup, Akil Mochtar.

Berdasarkan Pasal 364 KUHAP Belanda yang menjadi 420 KUHP Indonesia, ancaman pidana untuk hakim pidana maksimum 12 tahun penjara dan hakim nonpidana maksimum 9 tahun penjara. Hakim pidana dipandang lebih berat karena bagaimana penderitaan terpidana yang dijatuhi pidana, sedangkan dia tidak bersalah hanya karena suapan pelapor yang utang piutang menjadi delik penipuan, banyak terjadi di Indonesia.

Di antara delik korupsi tersebut di muka ada di antara pasal-pasal itu yang ringan sekali, yaitu Pasal 418 tadi yang ancamannya tadi yang asli KUHP maksimum 6 bulan penjara yang menjadi Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana 5 tahun. Pasal 418 KUHP yang disalin dari Pasal 362 ... 362 KUHP Belanda bunyinya persis sama. Pasal itu berbunyi, “Pegawai Negeri yang menerima hadiah atau janji…,” ada yang terjemahkan, “…menerima pemberian atau janji, yang diketahui atau patut menduga berhubungan dengan jabatannya.” Jadi orang itu tidak kasih ada kirim kulkas, kirim kursi, kirim televisi ke rumah, “Selamat datang,” tidak bilang apa-apa. Pegawai negeri juga tidak berbuat apa-apa. Ya, maka itu ada kata-kata patut dapat menduga tentu saya dikasih karena ada jabatan saya. Jadi ini delik (suara tidak terdengar jelas) proparte dolus proparte culpa. Separuh sengaja, separuh culpa.

Jadi pegawai negeri ini sama sekali tidak buat sesuatu yang berlawanan kewajibannya, dengan sendirinya penerimaan parsel menjadi ... mendekati lebaran dan hari natal, termasuk pasal ini. Dari zaman kolonial Belanda sampai Indonesia merdeka sudah menjadi kebiasaan pemberian parsel kepada pegawai negeri, pejabat, dan tidak dituntut, dan memang di negara lain tidak ada pasal begitu di dalam KUHP. Bahkan pegawai Belanda yang sangat ketat dalam masalah korupsi menerima pula parsel mendekati hari natal. Jadi, dulu penerimaan parsel dipandang biasa sehingga Pasal 418 KUHP menjadi pasal tidur, sampai terbentuk KPK yang menuntut pula delik seperti ini.

Saya mendapat keterangan dari Dr. Khairul Huda, sebenarnya saya tidak percaya, tapi karena dia teman saya mengatakan begitu, saya menjadi percaya bahwa salah satu dakwaan itu ya ... Suryadharma Ali adalah menerima cover ka’bah dari raja, ya. Menerima cover ka’bah yang memang gambar ... lambang PPP itu ka’bah, itu menjadi gratifikasi, suapan, kalau begitu saja harus dihukum juga toh, pemberi suapan, ya. Ini sudah keterlaluan, tidak masuk akal, apa benar begitu? Dr. Khairul Huda, ada dalam dakwaan? Coba dibayangkan ini.

Sangat tidak logis jika permufakatan jahat untuk menerima parsel yang parsel belum diterima merupakan delik, demikianlah sehingga Pasal 418 menjadi Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi, tadi sudah dikatakan di Belanda sudah dicabut 1 Januari 2015.

Begitu pula penerimaan suap yang tercantum dalam 419 KUHP yang disalin dua kali menjadi Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 12A, B dapat dilakukan dengan motif ringan. Misalnya supir ingin menyediakan uang di dashboard mobilnya Rp50.000,00 dan masuk ke jalur busway atau masuk ke jalan 3 in 1, lalu ditangkap dan menyerahkan uang kepada yang menangkap, maka merupakan penyuapan yang penerima telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kewajibannya karena dia tidak menangkap. Jadi, telah melakukan perbuatan korupsi berdasarkan Pasal 419 KUHP yang menjadi dua pasal itu, Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 12 A, B.

Kasus semacam ini mungkin terjadi 50 kali sehari, saya pernah di atas mobil terjadi begitu. Saya dijemput oleh bea cukai, kantor bea cukai di ... di mana itu? Di mana kantor bea cukai? Di bypass, dari jauh dia masuk jalur busway. Cuma karena … mengatakan kepada supirnya, “Keluar! Keluar! Itu ada polisi lalu lintas dua, kira-kira 2 km lagi di depan.” Dia tidak mau keluar, terus jalan, stop. “Mana STNK?” Buka STNK, dikasih uang Rp50.000,00, itu yang sudah ada di dashboard, sudah disiapkan. Polisi itu mengatakan, “Kamu orang kaya, ya, jalan terus.” Ini apa ini? Korupsi, enggak? Ya. Suap, enggak? Ya. (suara tidak terdengar jelas) bukan. Jadi ada orang menulis di Kompas, waktu saya menyerahkan rancangan Undang-Undang Korupsi yang baru kepada Andi Matalata, ada menulis di Kompas, Prof. Dr. Andi Hamzah tidak boleh menjadi ketua menyusun Undang-Undang Korupsi karena dia

mengatakan korupsi bukan extraordinary crime. Sampai kapan pun saya mengatakan begitu.

Extra ordinary crime ada empat. (suara tidak terdengar jelas), pelanggaran HAM, aggression, war crime (kejahatan perang). Tidak ada veriaring, 70 tahun masih bisa dituntut pengadilan di Denhag. Itulah extraordinary crime. Korupsi ada veriaring-nya 18 dan 12 tahun, jadi di Indonesia. Jadi orang ini menulis tidak bisa mengerti extraordinary crime dan serious crime, lain. Serious crime dan extraordinary crime ada yang very, very extraordinary crime ... eh, very, very serious crime.

Ketua perlindungan anak, saya lihat di televisi mengatakan pedofilia itu adalah extraordinary crime. Jadi menurut saya itu very serious crime. Dalam kaitan dengan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi yang memutuskan agar pemufakatan jahat dalam Pasal 15 undang-undang itu bertentangan dengan konstitusi dan menimbulkan ketidakpastian hukum, jika dikaitkan dengan berita yang termuat dalam mass media bahwa yang penyelidikan (suara tidak terdengar jelas) jahat diarahkan ke permufakatan jahat untuk memeras dalam jabatan. Ke (suara tidak terdengar jelas) Pasal 12E Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disalin dari Pasal 423 KUHP yang tidak ada dalam KUHP Belanda.

Pasal 423 KUHP yang menjadi Pasal 12E undang-undang itu salah satu pasal dalam KUHP dulu, Wetboek Van Strafrecht Voor Nederlandsch-Indie yang tidak ada dalam Netherlands WVS. Menurut Well Gelemer seorang dosen recht voor school, sekolah tinggi hukum di Jakarta dulu, dalam bukunya Wetboek Van Strafrecht Voor Nederlandsch-Indie vergeleken met Nederlandsch Wetboek Van Strafrecht, kitab undang-undang hukum pidana Hindia-Belanda dibandingkan dengan KUHP Belanda.

Pasal itu disisipkan oleh Pemerintah Belanda ke dalam Wetboek Van Strafrecht Voor Nederlandsch-Indie yang sekarang menjadi KUHP karena Pemerintah Belanda melihat bahwa pejabat Indonesia suka memeras rakyat pada waktu menjalankan jabatannya.

Rakyat minta surat jalan, segala macam izin, pejabat pegawai negeri itu minta uang atau barang, baru dikeluarkan izin. Dapat juga minta memaksa membeli barang orang dengan harga miring, terutama diskon. Jika rakyat itu tidak memiliki uang atau barang, maka pejabat itu minta orang itu bekerja untuk kepentingannya tanpa dibayar. Jadi pemerasan tenaga orang. tentulah sangat sulit membuat konstruksi hukum seorang pegawai negeri bermufakat jahat dengan pegawai negeri yang lain untuk memeras rakyat.

Sesuai dengan penafsiran sistematis tidaklah termasuk permufakatan jahat delik-delik dalam KUHP yang kemudian ditarik menjadi delik korupsi yang tercantum dalam Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 8 … Nomor 8 KUHP.

Pasal 88 itu berlaku untuk delik korupsi yang dari KUHP yang 13 buah pasal itu. Itu Khairul Huda, ya.

Kesimpulan. Ketentuan permufakatan jahat dalam Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mestinya ditafsirkan sesuai dengan penafsiran sistematis dan kreatif terbatas pada delik korupsi ... asli korupsi yang disusun oleh pembuat Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu Pasal 2 dan Pasal 3.

Pasal 2, Pasal 3 pun ini segera harus direvisi karena kita sudah ratifikasi (suara tidak terdengar jelas) yang mengatakan yang Pasal 2 itu ada delik Pasal 20 (suara tidak terdengar jelas) itu Pasal 20 yang hanya pejabat publik, public officer sebagai subjek, baik DPR, anggota DPR, maupun eksekutif, maupun yudikatif. Baik digaji maupun tidak.

Jadi tidak mungkin swasta berdasarkan konvensi itu melakukan Pasal 2. Yang puluhan pemborong kita di Indonesia ada dalam penjara sekarang (suara tidak terdengar jelas) Pasal 2, Pasal 3. Pasal 20 (suara tidak terdengar jelas) itu, Pasal 2 subjeknya adalah public official, bukan setiap orang. Yang kedua, kerugian negara tidak ada. Menurut konvensi itu kerugian negara bukan subjek apa … bukan unsur korupsi.