SKORS DIBUKA PUKUL 16.44 WIB
84. AHLI DARI PEMOHON PERKARA NOMOR 21/PUU-XIV/2016: CHAIRUL HUDA
Terima kasih, Yang Mulia. Izinkan menjawab, saya memandang lex certa itu juga lex scripta dan lex stricta adalah asas yang lebih banyak gunanya dalam rangka melakukan kriminalisasi in abstracto dalam rangka membentuk undang-undang. Jadi sama sekali bukan persoalan penafsiran, jadi hasil produk penggunaan asas inilah yang ditafsirkan kalau menurut saya seperti itu. Jadi jangan dikotomikan antara lex certa denga soal penafsiran karena harus jelas, harus ketat, harus tertulis itu bagi pembentuk undang-undang ketika merumuskan suatu delik. Nah, produknya ini yang ditafsirkan. Saya terus terang Prof. Eddy tadi sudah menjelaskan bagaimana menafsirkan, jadi kalau bagi saya ini bukan persoalan bahwa dengan ini seolah-olah tidak ada ruang penafsiran sama sekali, tapi dalam hal ini menuntun pembentuk undang-undang, pemerintah, dan DPR dalam membentuk dalam merumuskan tindak pidana.
Yang kita persoalkan juga adalah rumusan tindak pidana yang menurut pendapat kami para ahli ini rumusan yang dibikin oleh pembentuk Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 itu tidak memperhatikan prinsip itu. Karena apa? Tadi dalam menjawab pertanyaan Pak Yang Mulia Dr. Suhartoyo, kalau dirujuk ke Pasal 88 sebagian selesai, sebagian selesai, yaitu tidak lagi ada ... apa namanya ... seperti saya katakan tadi tidak ada maknanya, tidak ada unsurnya, tapi sudah ada unsurnya seperti percobaan yang dirujuk dengan 103 dan pembantuan dirujuk dengan 103. Jadi kalau ditafsirkan sebagaimana dimaksud Pasal 88, ya selesai, sebagian, tapi tidak lagi juga menyelesaikan persoalannya Pemohon karena si Pemohon ini mempersoalkan ketika dia tidak mempunyai kualitas untuk melakukan suatu delik yang dipersyaratkan adanya kualitas tertentu kok dianggap merupakan permufakatan jahat? Artinya, rumusan Pasal 88 pun hanya dipersiapkan untuk delik yang dilakukan tanpa kualitas sehingga kalau mau dirujuk ke Pasal 88 pun harus dengan penyempurnaan rumusan 88 itu, barulah kemudian aman orang tidak akan dikriminalisasi karena kongko-kongko, ngobrol-ngobrol tentang ngalor ngidul yang sebenarnya tidak menjadi kewenangannya, katakanlah seperti itu. Jadi,
memang dua jalan. Bisa dengan jembatan 103, bisa dengan undang-undang sendiri itu yang merujuk ke pasal mana dimaksud hal tersebut.
Yang kedua yang ingin saya jelaskan adalah bahwa ... dalam pertanyaan dari pihak pemerintah tadi, bagi saya percobaan, pembantuan, juga permufakatan jahat itu adalah representasi dari unsur. Kan ini kan rumusan delik, subjeknya setiap orang, unsur perbuatan yang dilarangnya adalah di situ diwakili dengan kata percobaan. Kalau ditafsirkan dengan ... dihubungkan dengan 103 juncto Pasal 53 KUHP, yang dimaksud dengan percobaan ada niat, ada permulaan pelaksana, terhenti bukan karena kehendak pelaku. Yang dimaksud dengan pembantuan adalah pembantuan pada saat dilakukannya delik dan pembantuan dengan memberi sarana kesempatan keterangan. Yang dimaksud dengan permufakatan jahat adalah dua orang atau lebih bersepakat, cuman persoalannya dua orang atau lebih bersepakat itu letaknya ada di definisi, bukan di ketentuan tentang aturan-aturan yang berkenaan dengan yang juga diberlakukan berdasarkan Pasal 103, itu problem teknikalnya itu, gitu.
Jadi kalau menurut pendapat saya, sekali lagi, bukan tidak ada norma yang bebas dari penafsiran, tapi yang ditafsirkan apa? Yang ditafsirkan apa? Kita menafsirkan apa yang dimaksud dengan niat. Tadi Prof. Eddy menafsirkan apa yang dimaksud dengan permulaan pelaksanaan, mungkin berbeda penafsirannya dengan penafsiran saya, katakanlah begitu. Tapi ada yang ditafsirkan dalam hal permufakatan jahat, dia belum merupakan suatu unsur, sehingga belum ada yang ditafsirkan di situ. Kalau pembantuan bisa ditafsirkan, apa yang dimaksud dengan (suara tidak terdengar jelas)? Apa yang dimaksud
dengan kesempatan? Kita bisa tafsirkan di situ. Tapi karena unsurnya sudah ada di dalam pasalnya, tapi kalau permufakatan jahat, belum ada unsurnya. Sehingga kemudian belum ada yang bisa ditafsirkan, jadi bukan tidak ada norma yang lepas dari soal penafsiran, saya pikir semua norma harus ditafsirkan ketika menerapkan pun Hakim menafsirkan pada dasarnya. Menghubungkan dengan kejadian konkrit, cuma apa yang ditafsirkan, kalau belum ada unsurnya. Ini persoalan pokok berkenaan dengan permohonan ini, saya kira mengenai hal itu.
Lalu kalau tadi ditanyakan juga, berkenaan dengan apakah kemudian perumusan yang sebaiknya bagaimana? Tadi saya pikir sudah terjawab sebenarnya. Ada dua hal yang menjadi persoalan di situ, pertama, permufakatan jahat belum ada unsurnya, katakanlah begitu. Yang kedua adalah tindak pidana korupsi yang ada di dalam rumusan Pasal 15 juga tindak pidana korupsi yang mana? Kan begitu. Yang ditegaskan itu hanyalah sanksinya, tapi tindak pidana korupsi yang mana? Tidak ditegaskan. Ini akibatnya dalam kasus konkrit yang dihadapi oleh Pemohon, ya, enggak penting mau tindak pidana korupsi yang mana, yang penting sudah ada permufakatan, yang penting sudah ada ketemu-ketemu. Ketemu-ketemunya itu meeting of mind.
Nah, padahal kan harus dihubungkan dengan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, sampai Pasal 14, permufakatan jahat dalam rangka untuk merugikan keuangan negara dengan perbuatan melawan hukumkah atau permufakatan jahat dalam rangka memeraskah? Atau perbuatan jahat dalam rangka menyuapkah? Ini yang kemudian bagi saya rumusan Pasal 15 itu tidak menggambarkan tentang hal itu. Tetapi menggambarkan penegasan tentang sanksi saja karena cara berpikirnya pembentuk Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 adalah bagaimana menghukum orang, bukan bagaimana membuat rumusan yang baik, melindungi individu yang tidak bersalah dan memang bisa menghukum individu yang bersalah. Kalau cara berpikirnya menghukum orang, ya, dipikirkan hukumannya saja, rumusan deliknya tidak pernah dipikirkan. Ini yang menurut saya … dalam tulisan saya, ini ada semacam kelalaian pembentuk undang-undang dalam membuat norma ini. Sehingga kemudian dipersoalkan di dalam permohonan ini. Saya pikir itu pokok-pokoknya, Yang Mulia. Terima kasih, Assalamualaikum wr. wb.
85. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Pak Chairul, kalau begitu Saudara-Saudaranya bisa … bisa tidak kita punya apa … punya pemahaman yang sama bahwa sebenarnya 5 … Pasal 15 itu redundancy. Kalau lebih sederhana, ya, Prof Eddy, ya, Pasal 2, Pasal 3 dan seterusnya juncto kan saja, persoalannya kalau 88 itu menurut, Bapak, masih terhalang dengan 103. Tapi kalau 53, 55 tidak ada halangan, kan, gitu, kan?
86. AHLI DARI PEMOHON PERKARA NOMOR 21/PUU-XIV/2016: CHAIRUL HUDA
Betul, Yang Mulia.
87. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Nah, itu artinya saya kuatir bahwa ketika ini nanti dipersoalkan, kemudian ada pengalihan konsentrasi ke sana, gitu lho. Tapi itu urusan lainlah. Sekarang kita ke Pasal 15 saja.
88. AHLI DARI PEMOHON PERKARA NOMOR 21/PUU-XIV/2016: CHAIRUL HUDA
Ya, terima kasih.
89. KETUA: ANWAR USMAN
Ya. Baik, ya, mungkin ada tambahan dari, Pak Dr. Dian?