C. Pasal 7 ayat (2) dan Pasal 11 ayat (2) UU Sisdiknas Bertentangan dengan Pasal 31 UUD
2. Ahli Prof Dr Soedijarto,MA
• Bahwa Indonesia adalah satu-satunya atau paling tidak salah satu dari tidak banyak negara yang dalam deklarasi kemerdekaannya, yang selanjutnya tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang meletakkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai salah satu misi penyelenggaraan pemerintahan negara. Makna misi ini sukar dipahami tanpa memahami perjalanan perkembangan peradaban modern yang bergerak sejak abad ke-17 di Eropa. Pada saat Proklamasi Kemerdekaan, kondisi masyarakat Indonesia jauh tertinggal bila diukur dari kacamata peradaban modern yang meliputi kehidupan hubungan antar negara di pertengahan abad ke-20 baik dalam segi politik, ekonomi, social budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lain karena pada saat Eropa bangkit dimulai dengan Renaisance pada abad ke- 17, Indonesia mulai tenggelam dan akhirnya pada permulaan abad ke-20 sepenuhnya dikuasai penjajah yang tujuan utamanya hanyalah menjadikan Indonesia sebagai sumber kekayaan. Rakyat Indonesia pada umumnya tidak tersentuh perkembangan perabadan modern. Karena itu, para Pendiri Republik nampaknya sadar tentang perlunya melakukan transformasi budaya dari budaya tradisional dan feodal ke budaya modem dan demokratis. lnilah makna mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu melaksanakan transformasi budaya yang dalam bahasa Bung Karno merupakan “A summing up of many
revolution in one generation”. Revolusi dalam arti revolusi berpikir, berpolitik, berekonomi, dan berilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itulah pendiri Republik menetapkan hak warga negara untuk memperoleh pendidikan [Pasal 31 ayat (1) UUD 1945] dan kewajiban Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional [Pasal 31 ayat (2) UUD 1945], karena hanya melalui sistem persekolahan, sebagai yang ditempuh oleh Negara-negara maju dan kini menjadi maju, kita dapat melakukan proses mencerdaskan kehidupan bangsa.
• Atas dasar ketentuan tersebut, selama para pendiri Republik masih memegang kendali penyelenggaraan negara sampai tahun 1965, Pemerintah sepenuhnya membiayai penyelenggaraan pendidikan nasional, kalau negeri dibiayai dan kalau swasta disubsidi. Pada periode itu, Universitas Negeri selalu dilengkapi dengan asrama putra-putri, dosen disediakan perumahan di kampus, calon guru berikatan dinas dan berasrama. Ini ditempuh karena Indonesia adalah “negara kesejahteraan.” Nampaknya para pendiri Republik terilhami oleh penyelenggaraan pendidikan di Negara-negara Kesejahteraan di Eropa Barat, seperti Jerman, dan Negara-negara Skandinavia yang membiayai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi tidak dipungut biaya karena bagi mereka Negara Kesejahteraan Pemerintahnya bertanggung jawab menggunakan pendapatan negara untuk membiayai pendidikan, kesehatan, pertahanan negara, administrasi pemerintahan negara, dan Infrastruktur Dasar. Kita tidak perlu ragu bahwa sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, dan Pasal 34 UUD 1945, Negara Republik Indonesia adalah Negara Kesejahteraan. Suatu model penyelenggaraan pemerintah yang sekarang cenderung ditempuh juga oleh Presiden Amerika Serikat Barack. Atas dasar itu pula, berbagai ketentuan dalam UU BHP hakikatnya bertentangan dengan kedudukan Indoneisa sebagai Negara Kesejahteraan. Bila dibandingkan tujuan membentuk negara antara Amerika Serikat dan Indonesia dalam kutipan berikut, “We hold these truths to self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their creator with certain unalienable rights; that among these are life, liberty, and pursuit of happiness.That to secure these rights, governments are instituted among
men, deriving their just powers from the consent of the governed; that, whenever any form of government becomes destructive of these ends, it is the rights of the people toalter or to abolish it, and to institute a new government”.
• Dari kutipan di atas jelas betapa pemerintahan negara di Amerika Serikat fungsinya menjamin terpenuhinya hak-hak dasar manusia, “Life, Liberty, and Pursuit of Happiness,” sedangkan Indonesia menurut UUD 1945 Pemerintahnya harus aktif seperti rumusan dalam Pembukaan UUD 1945 menyatakan “...kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial…”.
• Dari kutipan ini jelaslah bahwa “mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan tanggung jawab utama Pemerintah dan karena itu diikuti dengan Pasal 31 ayat (2) yang kemudian menjadi Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.” Jadi sesuai dengan semangat dan ketentuan UUD Pemerintah bukan hanya berkewajiban mengatur tetapi “mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional”. Atas dasar pertimbangan di atas maka UU BHP secara keseluruhan bertentangan dengan UUD 1945 terutama:
1. Pasal 40 ayat (5) yang menetapkan kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyalurkan dana pendidikan dalam bentuk hibah sedangkan Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 menetapkan bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.” Pasal 31 ayat (2) UUD 1945 secara tersurat mewajibkan Pemerintah membiayai sepenuhnya penyelenggaraan wajib belajar pendidikan dasar. Sekarang istilahnya “bantuan”, yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
2. Pasal 4 ayat (4) yang menetapkan bahwa Pemerintah hanya membiayai pendidikan menengah sekitar 1/3 (sepertiga) biaya operasional. Ketentuan
ini jelas mensyahkan penyimpangan terhadap kewajiban Pemerintah “mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional” 3. Pasal 4 ayat (6) yang menetapkan kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan dana sekitar dua puluh persen dari keperluan biaya operasional pendidikan tinggi. Seperti halnya Pasal 40 ayat (4), ayat ini pun dipandang melanggar dari ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945. 3. Ahli Alamsyah Ahmad, S.E.
• Baik dalam Pembukaan maupun dalam Pasal 31 UUD 1945 memberikan mandat agar pendidikan diselenggarakan dengan menggunakan pendekatan universal, yakni bahwa pendidikan adalah hak dasar warga negara sehingga sebagai konsekuensinya negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN dan dari APBD tetapi terdapat kontradiksi dalam UU Sisdiknas dan UU BHP karena dalam UU Sisdiknas ada ketentuan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam menyelenggarakan pendidikan;
• Bukti kontradiksi lain adalah adanya ketentuan dalam Pasal 12 ayat (1) UU Sisdiknas yang pada pokoknya negara hanya bertanggung jawab memberikan beasiswa kepada mereka yang orangtuanya tidak mampu. Pemohon Perkara Nomor 14/PUU-VII/2009