D. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon.
5. Ahli Prof Dr Wuryadi,MS
1.7 Ketentuan UU BHP dan Hak Hidup Pemohon
Ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam UU BHP, pada umumnya merupakan penyeragaman dalam bentuk tata kelola dan karenanya mengandung banyak kontroversi terbukti dengan banyaknya perkara permohonan pengujian UU BHP yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi, baik untuk keseluruhan maupun terhadap pasal-pasal tertentu. Materi pengaturan ketentuan dalam UU BHP tidak jelas, tidak terdapat konsistensi antara pasal yang satu dengan pasal yang lain, dan lebih- lebih lagi masalah ketentuan-ketentuan yang melanggar hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945, yaitu hak hidup para Pemohon. Para Pemohon menghendaki agar diperlakukan seperti ”ilmu padi” seperti telah dikemukakan di awal permohonan ini, yaitu, Ketika ditemukan varietas padi baru pada masa orde baru yang disebut “IR” pada awal tahun 70-an yang ”dianggap” sebagai bibit unggul, tidak serta merta varietas padi lama dimusnahkan, sekalipun varietas padi baru itu sudah diuji-coba keunggulannya. Tetapi varietas padi baru dan lama itu dibiarkan ditanam secara bersamaan untuk diseleksi oleh alam itu sendiri. Sebagaimana juga badan hukum yayasan dan lain-lain yang telah eksis dalam penyelenggaraan pendidikan bahkan sebelum kemerdekaan, kiranya dapat bertumbuh bersama dan hidup berdampingan dengan BHP untuk diseleksi alam sekiranya BHP itu adalah “bibit” unggul seperti varietas padi “IR” itu. Biarkanlah hidup dan berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam melayani masyarakat sesuai hak konstitusionalnya dalam bidang pendidikan.
Para Pemohon secara khusus membatasi hanya dengan ketentuan- ketentuan yang terkait secara prinsipil dengan hak konstitusional para Pemohon yang terkait langsung dengan eksistensi dan hak hidup dari
yayasan (tidak berarti ketentuan lainnya telah sesuai dengan UUD 1945), sebagaimana telah juga diuraikan di atas, yaitu:
(1) Pasal 1 angka 5, sepanjang anak kalimat ”... diakui sebagai badan hukum pendidikan”, dari selengkapnya Pasal 1 angka 5 yang berbunyi, ”Badan hukum pendidikan penyelenggara, yang selanjutnya disebut BHP Penyelenggara adalah yayasan, perkumpulan, atau badan hukum lain sejenis yang telah menyelenggarakan pendidikan formal dan diakui sebagai badan hukum pendidikan”.
(2) Pasal 8 ayat (3), ”Yayasan, perkumpulan, atau badan hukum sejenis yang telah menyelenggarakan satuan pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan atau pendidikan tinggi, diakui sebagai BHP Penyelenggara”.
(3) Pasal 10, ”Satuan pendidikan yang didirikan setelah Undang-Undang ini berlaku, wajib berbentuk badan hukum pendidikan”.
(4) Pasal 67 ayat (2), ”Yayasan, perkumpulan atau badan hukum lain sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyesuaikan tata kelolanya sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini, paling lambat 6 (enam) tahun sejak diundangkan”;
(5) Pasal 67 ayat (4), ”Penyesuaian tata kelola sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan mengubah akta pendiriannya”.
(6) Pasal 62 ayat (1) [sepanjang menyangkut Pasal 67 ayat (2)]:
”Pelanggaran terhadap Pasal 40 ayat (3), Pasal 41 ayat (7), ayat (8), dan ayat (9), Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 47 ayat (3), Pasal 65 ayat (2), Pasal 66 ayat (2), dan Pasal 67 ayat (2) dikenai sanksi administratif”.
(7) Bab IV Ketentuan tentang Tata Kelola (Pasal 14 sampai dengan Pasal 36 UU BHP)
Dengan ketentuan tersebut, penyelenggara pendidikan haruslah berbentuk badan hukum pendidikan, dalam arti yayasan, perkumpulan dan badan hukum sejenis walaupun juga merupakan badan hukum harus menyesuaikan diri dengan tata kelola melalui perubahan akta pendirian yayasan, perkumpulan dan badan hukum lain sejenis dalam waktu enam tahun setelah UU BHP diundangkan, apabila tidak akan mendapat sanksi/hukuman walaupun berbentuk administrasi tetapi menurut Pasal
62 ayat (2), ”Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa teguran lisan, teguran tertulis, penghentian pelayanan dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah, penghentian hibah hingga pencabutan izin”.
Dengan ketentuan Pasal 1 butir 5 sepanjang anak kalimat “… dan diakui sebagai badan hukum pendidikan”, Pasal 8 ayat (3) dan Pasal 10 serta Pasal 67 ayat (2), ayat (4), Pasal 62 ayat (1) menyangkut Pasal 67 ayat (2) tentang sanksi administratif serta Bab IV tentang Tata Kelola (Pasal 14 sampai dengan Pasal 36) UU BHP, maka hak konstitusional yayasan, perkumpulan dan badan hukum sejenis yang saat ini sedang menyelenggarakan pendidikan akan hilang, sebab yayasan-yayasan tersebut tidak dimungkinkan lagi turut serta menyelenggarakan pendidikan karena harus menyesuaikan diri dengan tata kelola yang ditentukan UU BHP dengan cara mengubah akta pendirian dan di sisi lain tidak mungkin menjadi badan hukum pendidikan, sebab akan terbentur dengan ketentuan Undang-Undang Yayasan.
Menurut Undang-Undang Yayasan, selain mengatur tentang pengurus dan pengelolaan yayasan yang berbeda dengan Tata Kelola BHP dalam UU BHP, juga mengatur hal-hal prinsip lainnya yang berbeda dengan pengaturan dalam UU BHP, antara lain ”...yayasan tidak diperkenankan mengalihkan harta kekayaannya kepada pihak lain dan hanya diperkenankan menggabungkan diri dengan yayasan yang maksud dan tujuannya sama dan/atau membubarkan diri”. Dengan demikian, penyesuaian tata kelola akan membawa konskwensi kepada perubahan anggaran dasar yayasan yang tentu menimbulkan masalah dalam tubuh yayasan tersebut. Sebaliknya, kalaupun yayasan yang menyelenggarakan pendidikan itu hendak membubarkan diri nantinya, juga harus sesuai dengan pengaturan dalam UU Yayasan, karena UU Yayasan memberikan batasan yang sangat ketat sebagaimana diatur dalam Pasal 62, bahwa yayasan bubar karena:
a. jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar berakhir;
b. tujuan yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;
c. putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan:
1) yayasan melanggar ketentuan umum dan kesusilaan;
2) tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit, atau 3) harta kekayaan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah
pernyataan pailit dicabut;
Bahwa dengan mengacu pada ketentuan Pasal 62 UU Yayasan, akan menyebabkan permasalahan bagi kelangsungan hidup yayasan yang menyelenggarakan pendidikan dan kelangsungan penyelenggaraan pendidikan yang sekarang diselenggarakan oleh berbagai yayasan, karena yayasan yang semula menyelenggarakan pendidikan tidak lagi diperkenankan menyelenggarakan pendidikan (oleh UU BHP) dan juga tidak dimungkinkan menjadi badan hukum pendidikan (yang tadinya telah dijamin oleh UU Yayasan), dimana pengaturan dalam kedua undang- undang tersebut khususnya eksistensi dari yayasan telah saling bertolak belakang.
Di satu sisi UU BHP sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan pendidikan, akan tetapi sekaligus merugikan yayasan dan menghilangkan hak untuk menyelenggarakan pendidikan serta tidak adanya pengakuan terhadap eksistensi yayasan sebagai penyelenggara pendidikan. Tidak diakuinya sekarang ini eksistensi yayasan sebagai penyelenggara pendidikan berarti menimbulkan ketidakpastian bagi masa depan yayasan yang selama ini kegiatannya khusus sebagai penyelenggara pendidikan.
Bahwa adalah tidak adil dan bertentangan dengan hukum apabila hak hidup yayasan, perkumpulan dan badan hukum lain sejenis yang menyelenggarakan pendidikan serta-merta menjadi hilang dengan adanya UU BHP. Yayasan tidak diperkenankan dibubarkan dengan alasan lain di luar ketentuan Pasal 62 UU Yayasan tersebut di atas, dan sebaliknya dengan adanya UU BHP yang menghilangkan peran penyelenggaraan pendidikan dari yayasan, maka berarti menghilangkan hak hidup yayasan (right to life) dalam kegiatannya di bidang penyelenggaraan pendidikan yang dijamin oleh UUD 1945. Menghilangkan peran yayasan untuk menyelenggarakan pendidikan,
berarti mematikan hak hidup yayasan yang kegiatannya di bidang pendidikan, yang sesungguhnya memiliki rekam jejak historis yang panjang dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan.
Bahwa dengan dihilangkannya peran yayasan serta tidak diperkenankannya yayasan sebagai penyelenggara pendidikan maka, kepentingan hak konstitusional dari yayasan-yayasan yang bergabung dalam Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), yayasan-yayasan yang tergabung dalam Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (YPLP-PGRI), yayasan-yayasan yang tergabung dalam Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Pendidikan KWI atau Komdik KWI), dan yayasan-yayasan yang tergabung dalam Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia sebagai para Pemohon, juga tidak terbatas kepada yayasan-yayasan yang menjadi para Pemohon dalam perkara ini, maka Pasal 1 angka 5 sepanjang anak kalimat ”...dan diakui sebagai badan hukum pendidikan”, Pasal 8 ayat (3) dan Pasal 10 serta Pasal 67 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 62 ayat (1) menyangkut Pasal 67 ayat (2) tentang sanksi administratif serta Bab IV tentang Tata Kelola (Pasal 14 sampai dengan Pasal 36) UU BHP adalah bertentangan dengan UUD 1945, karena hak dan kewenangan konstitusional para Pemohon untuk menyelenggarakan pendidikan telah dihilangkan. Tidak hanya para Pemohon yang dinyatakan ikut serta sebagai Pemohon dalam perkara ini, juga yayasan-yayasan yang menyelenggarakan pendidikan di seluruh Indonesia dalam semua lapisan, dimulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, perguruan tinggi swasta baik akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, maupun universitas, juga ikut serta sebagai pihak yang hak konstitusionalnya dihilangkan, yang walaupun tidak menempatkan diri sebagai Pemohon dalam perkara ini tetapi memberikan dukungan terhadap permohonan ini.