• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akad: Sengketa Disekitarnya

Dalam dokumen sengketa ekonomi dalam islam (1) (Halaman 75-79)

BAB IV ANALISA PASAL-PASAL

A. Akad: Sengketa Disekitarnya

Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (selanjutnya disebut den-gan KHES) pada bab I menjelaskan tentang subyek hukum dan amwal. Buku I ini terdiri dari 21 pasal. Pasal 1 menguraikan tentang defenisi yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah. Dalam Bab I tentang keten-tuan umum disebutkan bahwa ekonomi syari’ah adalah usaha atau ke-giatan yang dilakukan oleh orang perorang, kelompok orang, badan usaha yang berbadan hukum atau tidak berbadan hukum dalam rangka memenuhi kebutuhan yang bersifat komersial dan tidak komersial menu-rut prinsip syariah.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ekonomi syari’ah berupa usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh: (1) individu. (2) kelompok. (3) badan usaha yang berbadan hukum. (4) ba-dan usaha yang tidak berbaba-dan hukum. Kategori yang ke empat ini me-nimbulkan masalah penafsiran yang dilematis. Karena secara admini-strasi, kegiatan atau kepatuhan hukum terhadap suatu usaha, maka sulit untuk mengatur badan usaha yang tidak berbadan hukum sebagaimana peraturan yang lebih tinggi mengaturnya.

BAB V

Pertanyaannya adalah, apakah payung hukum usaha yang tidak berbadan hukum mendasarkan kegiatannya pada norma-norma sya-ri’ah? Lantas, dari sedemikian banyak pendapat ulama tentang satu subyek tertentu, pendapat mana yang akan digunakan? Kalaupun ada perjanjian di antara masing-maing pihak, lantas bagaimana hakim menyelesaikannya jika perkara tersebut pada akhirnya harus disele-saikan di pengadilan? Bukankah pengadilan menggunakan hukum po-sitif sebagaiumana yang terdapat dalam KUHper dan KUH Pidana?

Jika disebutkan dengan istilah badan usaha maka yang muncul adalah lembaga yang telah memenuhi ketentuan hukum negara. Kare-na apabila sebaliknya, maka tidak disebut sebagai badan usaha, tetapi kegiatan biasa. Usaha yang dapat dijatuhi hukuman kewajiban oleh ne-gara adalah kegiatan yang secara administrasi telah diakui oleh nene-gara. Sementara ekonomi syari’ah bisa dijalankan oleh kegiatan yang tidak berbadan hukum.

Dilemma yang dimaksud adalah kepastian untuk melindungi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pada pasal 2 dijelaskan ten-tang Subyek hukum yaitu orang perseorangan, persekutuan, atau ba-dan usaha yang berbaba-dan hukum atau tidak berbaba-dan hukum yang memiliki kecakapan hukum untuk mendukung hak dan kewajiban. Pasal 2 ini menje-laskan pasal 1 sebelumnya. Konsekuensinya jika ba-dan usaha yang tidak berbaba-dan hukum maka subyek hukum juga tidak berbadan hukum. Bagaimana menilai seorang subyek hukum cakap se-cara hukum menjalankan usahanya, jika tidak dibuat ketentuan yang standard dan diakui bahwa orang tersebut sah dan cakap untuk menaja-lankan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan hukum negara.

Pasal 2 di atas mengalami pertentangan yang sangat kontras den-gan panjelasan pasal berikutnya yaitu pasal 3 yang berbunyi: kecakapan hukum adalah kemampuan subyek hukum untuk melakukan perbua-tan yang dipandang sah secara hukum. Kalimat dipandang sah secara hukum mengisyaratkan bahwa subyek hukum harus memenuhi persya-ratan-persyaratan yang telah ditentukan oleh hukum baik hukum Islam maupun hukum negara.

seseo-rang yang berada di bawah umur 18 tahun yang dipandang belum cakap melakukan perbuatan hukum atau belum pernah menikah. Sementara itu bab I tentang subyek hukum juga mengatur tentang perwalian. Pada pasal 5 disebutkan perwalian adalah kewenangan yang diberikan ke-pada wali untuk melakukan perbuatan hukum atas nama dan un-tuk kepentingan muwalla. Pada pasal 5 ini juga, penjelasan pada pasal 1 dan 2 sangat bertentangan. Jika perbuatan muwala yang diwakilkan oleh wali, bagaimana mekanisme perwakilan itu diakui dan dipertang-gung jawabkan jika tidak ada badan hukumnya.

Pada pasal 6 di jelaskan tentang Muwalla yaitu seseorang yang belum cakap melakukan perbuatan hukum, atau badan usaha yang dinyatakan talis/pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sehingga muwalla menurut pasal 6 ini adalah: (1) orang yang belum cakap hukum. (2) badan usaha yang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah mem-punyai kekuatan hukum tetap.

Dari sini jelaslah bahwa hukum negara menjadi penentu bagi sta-tus badan usaha dinyatakan pailit. Secara tegas bisa dinyatakan bahwa ketentuan hukum Islam tentang sesuatu hal atau tindakan yang mak-nanya umum dan tidak jelas, maka merujuk pada undang-undang yang lebih tinggi.

Beberapa sebab terjadinya kepailitan badan usaha dapat di-sebabkan: (1) ketidakmampuan perusahaan menjalankan kegiatan usahanya mulai dari produksi hingga distribusi. Termasuk didalamnya ketidakmampuan membayar gaji karyawannya. (2) adanya putusan pengadilan. Jika merujuk pada Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Ke-pailitan, suatu perusa-haan dapat dinyatakan pailit apabila perusahaan tersebut mempunyai terdapat dua atau lebih kreditor yang tidak mampu melunasi hutangnya yang telah jatuh tempo.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat dikatakan syarat yu-ridis untuk kepailitan adalah: (1) adanya hutang. (2) minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih. (3) adanya debitor. (4) adanya kreditor (lebih dari satu). (5) permohonan pernyataan pailit, serta (6) pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga. Apabila syarat-syarat tersebut

telah terpenuhi maka suatu perusahaaan tersebut dapat dikatakan pai-lit. Selain ketentuan yang diuraikan di atas, hal paling mendasar yaitu adanya permohonan pernyataan paillit yang disampaikan kepada Pen-gadilan Niaga. Dalam Undang-Undang Kepailitan Pasal 2 menyatakan bahwa pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit terha-dap suatu perusahaan adalah sebagia berikut: (1) debitor atau kreditor. (2) kejaksaan demi kepentingan umum. (3) bank Indonesia. (4) badan pengawas pasar modal, serta (5) menteri keuangan. Apabila pihak-pihak itu mengajukan permohonan pailit terhadap suatu perusahaan maka Pengadilan Niaga akan memproses permohonannya.

Wali adalah seseorang atau kurator badan hukum yang dite-tapkan oleh pengadilan untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan, untuk kepentingan terbaik bagi muwalla. Sementara yang dimaksud dengan pengadilan dalam KHES ini adalah pengadilan/mahkamah syar’iah dalam lingkungan pera-dilan agama. Oleh karena itu, berdasarkan pasal 8, maka penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah tidak mengenal penyelesaian di pengadilan negeri, tetapi di lingkungan pengadilan agama.

Amwal adalah benda yang dapat dimiliki, dikuasai, diusaha-kan, dan dialihdiusaha-kan, baik benda berwujud maupun tidak berwujud, baik benda yang terdatar maupun yang tidak terdatar, baik benda yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hak yang mempunyai nilai ekonomis.

Benda berwujud adalah segala sesuatu yang dapat diindra. Benda tidak berwujud adalah segala sesuatu yang tidak dapat diindera. Semen-tara benda bergerak adalah segala sesuatu yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain. Benda tidak bergerak adalah segala sesua-tu yang tidak dapat dipindahkan dari suasesua-tu tempat ke tempat lain yang menurut sifatnya ditentukan oleh undang-undang.

Benda terdatar adalah segala sesuatu yang kepemilikannya ditentukan berdasarkan warkat yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Benda tidak terdatar adalah segala sesuatu yang kepe-milikannya ditentukan berdasarkan alat bukti pertukaran atau penga-lihan di antara pihak-pihak.

Dari pasal 9 sampai pasal 15, amwal yang dimaksud oleh KHES ti-dak menyebutkan benda yang halal atau titi-dak haram. Atau sesuatu yang dilarang oleh agama. Yang dimaksud dengan amwal adalah benda yang memiliki nilai ekonomis. Penjelasan KHES ini bisa menimbulkan tum-pang tindih antara ketentuan agama dan ketentuan negara. Sekalipun demikian, orientasi ketentuan KHES adalah menempatkan ketentutan negara untuk mengaturnya atau menjadikannya landasan penyelesa-ian. Lantas, di mana posisi pertimbangan hukum yang diberikan oleh hukum Islam terkait status suatu amwal? Jika amwal yang memenuhi kriteria adalah amwal yang memiki nilai ekonomis. Apa yang dimakud dengan nilai ekonomis? Nilai ekonomi adalah benda-benda yang seca-ra ekonomis bernilai. Hanya saja, bernilai perspektif Islam dan hukum positif berbeda. Misalnya, babi dan minuman keras menurut hukum Islam tidaklah sesuatau yang bernilai secara ekonomis, karena tidak bo-leh diperjualbelikan atau dimiliki. Sementara dalam hukum positif, babi dan minuman keras adalah termasuk benda yang bernilai ekonomis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa benda yang bernilai ekono-mis adalah benda yang secara halal dapat diperjual belikan dan dimiliki. Kepemilikan benda adalah hak yang dimiliki seseorang, kelom-pok orang, atau badan usaha yang berbadan hukum atau tidak berba-dan hukum untuk melakukan perbuatan hukum. Penguasaan benda adalah hak seseorang, kelompok orang, atau badan usaha yang berba-dan hukum atau tidak berbaberba-dan hukum untuk melakukan perbuatan hukum, baik miliknya maupun milik pihak lain. Sementara orang ada-lah seseorang, orang perorangan, kelompok orang, atau badan hukum. Penjelasan pasal 21 tersebut jelas menghapus penjelasan dari pasal 1 dan 2 tentang adanya badan usaha yang tidak memiliki badan hukum. Bahwa yang dimaksud dengan orang selain individu juga lembaga yang berbadan hukum. Konsekuensinya badan usaha yang tidak berbadan hukum maka tidak bisa dianggap sebagai orang.

Dalam dokumen sengketa ekonomi dalam islam (1) (Halaman 75-79)

Dokumen terkait