BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HUKUM PERJANJIAN
C. Hukum Kepailitan
5. Akibat Hukum Kepailitan
Kepailitan memiliki beberapa akibat hukum. Akibat-akibat hukum tersebut dapat ditinjau dari 2 (dua) jenis, yaitu :
a. Umum
1) Putusan Pailit dapat Dijalankan Lebih Dahulu (Serta-Merta)
Putusan pailit pada dasarnya bersifat serta merta, yaitu dapat dijalankan terlebih dahulu. Akan tetapi, karena masih belum berkekuatan hukum tetap, maka terhadap putusan tersebut masih
97 Pasal 2 ayat (1) sampai dengan ayat (5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
49 dapat dilakukan upaya hukum lebih lanjut.98 Pemberlakuan putusan pailit secara serta merta mendasarkan kepada kepailitan pada dasarnya sebagai alat untuk mempercepat proses likuidasi terhadap utangnya dan menghindari perebutan hart kekayaan debitor pailit oleh para kreditor baik yang memiliki kedudukan secara kuat atau lemah. Putusan pailit bersifat serta merta ini juga sesungguhnya melindungi debitor pailit dari kerugian berkaitan dengan pemberasan harta pailit. Demikian dikarenakan apabila putusan pailit sudah dijalankan secara serta merta dan telah dibayarkan sebagian utang-utangnya terhadap kreditor, kemudian putusan tersebut dibatalkan karena suatu upaya hukum, debitor tidak dalam posisi dirugikan karena pada prinsipnya suatu utang haruslah tetap dibayar.99
2) Wewenang dalam Harta Kekayaan dan Sitaan Umum
Debitor pailit dengan dijatuhkannya putusan pailit oleh pengadilan niaga, demi hukum kehilangan haknya untuk mengurus dan berbuat sesuatu utamanya perbuatan kepemilikan terhadap harta kekayaannya yang termasuk dalam kepailitan.100 Kehilangan hak bebasnya debitor terbatas pada harta kekayaannya dan tidak terhadap status diri pribadinya, sehingga debitor pailit tidak hilang
98 M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan…Op.Cit, hlm. 162
99 Ibid, hlm. 163
100 Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
50 hak-hak keperdatannya lainnya dan hak-hak lain sebagai warga negara.101 Ratio legis dari ketentuan kepailitan hanya bersangkut paut dengan harta kekayaan debitor saja adalah bahwa kepailitan sebagai distribusi harta kekayaan debitor untuk membayar utang-utang debitor kepada para kreditornya.102 Sehingga, kepailitan hanya bermakna terhadap persoalan harta kekayaan.
Sitaan umum (public attachment, gerechtelijk beslag)103 dalam kepailitan meliputi harta kekayaan debitor yang masuk harta pailit beserta apa yang diperoleh selama kepailitan.104 Dalam keadaan sitaan umum, harta pailit dalam status dihentikan dari segala macam transaksi dan perbuatan hukum lainnya sampai harta pailit tersebut diurus oleh kurator. Hal ini menghindari perebutan harta pailit debitor oleh para kreditornya. Sitaan umum terhadap harta pailit tidak memerlukan tindakan khusus, terjadi demi hukum, dan dapat mengangkat sitaan khusus lainnya jika pada saat dinyatakan pailit harta debitor sedang atau sudah dalam penyitaan.105
Terdapat pengecualian harta dalam harta pailit bagi debitor perorangan dan bukan badan hukum, yaitu106:
101 M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan…Op.Cit, hlm. 165
102 Ibid
103 Ibid, hlm. 163
104 Pasal 21 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
105 M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan…Op.Cit, hlm. 164
106 Pasal 22 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
51 a. Benda (termasuk hewan) yang benar-benar dibutuhkan oleh debitor sehubungan dengan pekerjaannya, perlengkapannya, alat-alat medis yang digunakan untuk kesehatan, tempat tidur, dan perlengkapannya yang digunakan oleh debitor dan keluarganya, serta bahan makanan untuk 30 (tiga puluh) hari bagi debitor dan keluarganya, yang ada di dalam tempat itu; b. Segala sesuatu yang diperoleh debitor dari pekerjaannya sendiri
sebagai penggajian dari suatu jabatan atau jasa, upah, pension, uang tunggu, atau uang tunjangan sejauh yang ditentukan oleh hakim pengawas; atau
c. Uang yang diberikan kepada debitor untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-undang.
3) Akibat terhadap Pasangan Suami Istri
Harta kekayaan dalam perkawinan yang sah tidak seluruhnya menjadi persatuan harta. Kepailitan memiliki akibat hukum terhadap pasangan suami istri yang dalam pernikahannya terdapat persatuan harta. Pasal 23 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU menyatakan bahwa apabila terdapat persatuan harta antara suami istri, maka jika salah satu di antara keduanya dinyatakan pailit, keduanya juga dapat dinyatakan pailit. Hal ini memberikan makna dan konsekuensi bahwa harta kekayaan suami istri yang kawin dalam persatuan harta juga terkena sita kepailitan dan masuk dalam
52 boedel pailit. Kemudian, dalam hal suami atau istri dinyatakan pailit, suami atau istri tersebut berhak mengambil kembali semua benda bergerak atau tidak bergerak yang merupakan harta bawaan dari suami atau istri, yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan. Apabila harta tersebut telah dijual oleh suami atau istri, dan harganya belum dibayar atau hasil penjualan tersebut belum tercampur dalam harta pailit, maka istri atau suami berhak mengambil kembali uang hasil penjualan tersebut.107
4) Perikatan Setelah Pailit
Pasal 25 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU mengatur bahwa segala perikatan debitor yang ada setelah putusan pailit, tidak dapat dibayar dari harta pailit. Apabila ketentuan ini dilanggar, maka debitor pailit, maka perbuatannya tidak mengikat kekayaannya tersebut kecuali periaktan tersebut mendatangkan keuntungan terhadap harta pailit. Ketentuan ini sering dicurangi dengan membuat perikatan yang di -antedateer (ditinggali mundur ke belakang dan sering muncul kreditor fiktif untuk kepentingan debitor pailit).108 Ketentuan ini didasarkan bahwa harta kekayaan
107 Kitab Undang Hukum Perdata dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
53 debitor dimaksudkan untuk didistribusikan pada kreditornya yang telah ada, bukan yang akan ada setelah pailit.109
5) Pembayaran Piutang oleh Debitor Pailit
Perihal pembayaran piutang oleh debitor pailit setelah adanya putusan pailit, termasuk juga terhadap tuntutan dan gugatan mengenai hak dan kewajiban di bidang harta kekyaaan tidak boleh dibayarkan pada debitor pailit, melainkan harus oleh atau kepada kurator.110 Maksud dari ketentuan ini adalah bahwa debitor pailit demi hukum kehilangan kewenangannya terhadap harta kekayaannya. Sehingga, semua transaksi hukum yang memberikan nilai tambah maupun nilai kurang terhadap harta kekayaannya, ditujukan kepada kurator yang perlu dibantu oleh hakim pengawas.111
6) Penetapan Putusan Pengadilan Sebelumnya
Putusan pernyataan pailit berakibat bahwa segala penetapan pelaksanaan pengadilan terhadap setiap bagian dari kekayaan debitor yang dimulai sebelum kepailitan, harus dihentikan seketika dan sejak saat itu tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan termasuk juga dengan menyandera debitor. Semua penyitaan yang
109 Ibid, hlm. 166
110 Pasal 26 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
54 telah dilakukan menjadi hapus dan jika diperlukan hakim pengawasan harus memerintahkan pencoretannya.112 Hal ini ditujukan untuk menghindari dan menghentikan perebutan harta oleh kredtior.
7) Akibat Terhadap Seluruh Perbuatan Hukum Debitor Sebelum Dinyatakan Pailit
Segala perbuatan hukum debitor yang telah dinyatakan pailit, yang merugikan kepentingan kreditor dan dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan, untuk kepentingan harta pailit dapat dimintai pembatalan oleh kreditor kepada pengadilan.113 Pembatalan ini menandakan berlakunya actio pauliana dalam kepailitan. Actio Pauliana adalah hak yang diberikan kepada kreditor melalui undang-undang untuk menuntut pembatalan dari segala tindakan debitor yang tidak diwajibkan sepanjang dapat dibuktikan bahwa pada saat itu tindakan dilakukan, debitor dan orang dengan siapa debitor mengikat diri mengetahui bahwa tindakan itu menyebabkan kerugian bagi kreditor.114
Perbuatan hukum debitor yang dimaksud adalah perbuatan hukum yang dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sebelum
112 Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
113 Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
114 Wibowo T. Tunardy, Actio Pauliana, dalam https://www.jurnalhukum.com/actio-pauliana/, Agt. 19, 2012 diakses tanggal 23 Agustus 2020
55 putusan pernyataan pailit dan tidak wajib dilakukan oleh debitor (kecuali dapat dibuktikan sebaliknya).115 Selain itu, perbuatan hukum debitor dimaksud adalah bahwa debitor dan pihak dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan, dianggap mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi kreditor.116 Ketentuan dapat dibuktikan sebaliknya menandakan bahwa sistem pembuktian yang digunakan dalam kepailitan adalah sistem pembuktian terbalik, yaitu beban pembuktian terhadap perbuatan hukum debitor dalam jangka waktu 1 (satu) tahun dan sebelum adanya putusan pailit berada pada debitor dan pihak ketiga bahwa perbuatan hukum di antar akeduanya wajib dilakukan dan tidak merugikan harta pailit.
8) Kreditor Separatis dan Penangguhan Hak
Kreditor separatis yang memegang hak jaminan atas kebendaan seperti pemegang hak tanggungan, hak gadai, dan lainnya dapat menjalankan hak eksekusinya seakan-akan tidak terjadi kepailitan.117 Bagi kreditor separatis dalam hal kepailitan, terdapat ketentuan khusus yaitu adanya masa tangguh (stay) dan eksekusi jaminan oleh kurator setelah kreditor pemegang jaminan diberi waktu dua bulan untuk menjual sendiri. Masa tangguh
115 Pasal 42 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
116 Ibid
117 Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
56 adalah masa ditangguhkannya haknya tersebut sebanyak 90 (sembilan puluh) hari untuk mengesekusi benda jaminan yang dipegangnya. Hal ini berdasarkan filosofi bahwa apabila ditangguhkan 90 (sembilan puluh) hari, maka kurator besar kemungkinan akan memperoleh harga yang layak dan terbaik dibanding harga jual cepat. Sehingga nantinya hal ini akan sama-sama menguntungkan baik bagi kreditor maupun debitor, karena apabila dapat memperoleh harga diatas nilai piutang kreditor, maka sisa nilai likuidasi benda jaminan tersebut dikembalikan kepada debitor. 118
9) Paksa Badan (Gijzeling)
Paksa badan atau Gijzeling merupakan suatu upaya hukum untuk memastikan debitor pailit, atau direksi dan komisaris (apabila yang pailit adalah perseroan terbatas), benar-benar membantu tugas-tugas kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit.119 Paksa badan dapat dikenakan kepada debitor pailit apabila debitor pailit tidak kooperatif dalam hal pengurusan dan pemberesan harta pailit. Ketentuan mengenai paksa badan terdapat dalam Pasal 93 sampai dengan Pasal 96 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Ketentuan teknis mengenai Lembaga Paksa
118 M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan…Op.Cit, hlm. 173
57 Badan terdapat dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomr 1 Tahun 2000 tentang Lembaga Paksa Badan.
b. Khusus
1) Perjanjian Timbal Balik
Suatu perjanjian yang merupakan suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang yang lain atau lebih120 dapat dibuat secara cuma-cuma (hanya satu pihak yang memberikan suatu keuntungan kepada pihak lain tanpa menerima manfaat bagi dirinya sendiri) atau atas beban (masing-masing pihak wajib memberikan, berbuat, atau tidak berbuat sesuatu).121 Perjanjian yang dibuat atas beban dapat disebut sebagai perjanjian timbal balik.
Kepailitan memiliki akibat hukum terhadap perjanjian timbal balik. Sebagaimana diatur pada Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, apabila saat putusan pernyataan pailit diucapkan terdapat perjanjian timbal balik yang belum atau baru sebagian dipenuhi, maka pihak yang mengadakan perjanjian dengan debitor dapat meminta kepada kurator untuk memberikan kepastian tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian tersebut dalam jangka waktu yang disepakati oleh kurator dan pihak tersebut. Apabila dalam perjanjian tersebut, di dalamnya diperjanjikan pula
120 Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
58 penyerahan benda dagangan yang biasa diperdagangkan dengan jangka waktu dan debitor pailit sebagai pihak yang harus menyerahkan benda tersebut, maka perjanjian menjadi hapus dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit, dan pihak lawan dirugikan dalam penghapusan maka yang bersangkutan dapat mengajukan diri sebagai kreditor konkuren untuk mendapatkan ganti rugi.122
2) Perjanjian Hibah
Hibah sebagaimana diatur dalam Pasal 1666 KUHPerata adalah suatu perjanjian di mana penghibah semasa hidupnya menyerahkan suatu benda secara cuma-cuma dan tidak dapat ditarik kembali guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu. Sehingga, hibah tidak termasuk sebagai perjanjian timbal balik. Terkait dengan hibah, Undang-Undang Kepailitan dan PKPU telah mengatur mengenai akibat hukum kepailitan terhadap hibah dalam Pasal 43 dan Pasal 44. Akibat hukum tersebut adalah bahwa hibah yang dilakukan debitor dapat dimintakan pembatalan kepada pengadilan oleh kurator, apabila kurator dapat membuktikan bahwa pada saat hibah dilakukan, debitor mengetahui bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan kerugian bagi kreditor.
122 Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
59
3) Perjanjian Sewa Menyewa
Sewa menyewa berdasarkan Pasal 1548 KUHPerdata merupakan perjanjian di mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari suatu barang selama waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga dan oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya. Barang dalam perjanjian sewa menyewa ini berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak yang dapat disewakan.
Kaitan antara kepailitan dengan perjanjian sewa menyewa adalah bahwa apabila debitor (sebagai penyewa) telah menyewa suatu benda, kurator maupun pihak yang menyewakan benda (pemilik barang), dapat menghentikan perjanjian sewa tersebut sebelum perjanjian selesai sesuai adat kebiasaan setempat dengan memberitahukan penghentian tersebut dalam jangka waktu paling singkat 90 (sembilan puluh) hari.123 Penghentian perjanjian sewa tidak dapat dilakukan sebelum berakhirnya waktu perjanjian apabila uang sewa telah dibayar di muka oleh debitor. Kemudian, uang sewa menjadi utang harta pailit terhitung sejak putusan pernyataan pailit sudah diucapkan.124
123 Pasal 38 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
124 Pasal 38 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
60
4) Perjanjian Kerja dengan Para Pekerja Perusahaan Pailit
Perjanjian kerja antara para pekerja dalam perusahaan pailit (debitor) dengan debitor dapat berhenti melalui 2 (dua) cara. Pertama, adalah dengan cara para pekerja yang bekerja pada debitor yang memutuskan hubungan kerja.125 Kedua, para pekerja yang bekerja pada debitor dapat diberhentikan oleh kurator dengan memperhatikan jangka waktu menurut persetujuan atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dengan pengertian bahwa hubungan kerja dapat diputuskan dengan pemberitahuan paling singkat 45 (empat puluh lima) hari sebelumnya.126
Pemberhentian hubungan kerja yang juga mengakhiri perjanjian kerja dengan alasan perusahaan pailit, memerlukan penetapan dari lembaga yang berwenang dan para pekerja tersebut memperoleh uang pesangon, uang penghargaan, dan hak-hak lainnya.127 Selain itu, dalam hal perusahaan pailit, perusahaan yang bekerja pada debitor merupakan kreditor dari harta pailit tersebut dan masuk dalam kreditor preferen.128 Sehingga persoalan pemenuhan hak-hak pekerja adalah persoalan pendistribusian harta pailit kepada para kreditornya. Apabila ada perselisihan mengenai pemutusan hubungan kerja yang berkaitan dengan kepailitan, maka
125 Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
126 Ibid
127 Pasal 165 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan