UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA
V. GENDER DALAM KERELAWANAN PEREMPUAN
V.2. Akses dan Kontrol : Sebagian Tetap Tak Terjamah
Walaupun banyak contoh yang menunjukkan kerelawanan perempuan dalam bencana, dan juga tambahan kerja ekstra yang dilakukan perempuan, tetapi sayangnya ini tidak secara otomatis diikuti dengan pelibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi yang sama juga ditemukan di El Salvador, dimana perempuan mencatat perbedaan dalam tugas yang dilakukan oleh mereka dengan yang dilakukan oleh laki‐laki. Perempuan mendistribusikan bantuan darurat, tetapi keputusan tentang distribusi tetap saja di tangan laki‐
60
laki. Dengan kata lain, perempuan terlibat dalam distribusi secara fisik, tetapi tidak dalam proses pengambilan keputusan45.
Bagaimana dengan kondisi di Bantul? Ada banyak pengalaman yang sedikit berbeda, karena dalam situasi macetnya pranata negara dalam situasi darurat, banyak perempuan yang justru mengambil posisi dan mencuri start dengan tampil kemuka dalam mengatasi masa krisis. Pengalaman Bu Wanti dan teman‐teman di Kadisoro, sebagaimana pengalaman Mbak Siti yang menjadi satu‐satunya koordinator posko dusun yang perempuan, menunjukkan tampilnya latent leader perempuan yang tangguh dan tanggap mengatasi situasi darurat.
Walau begitu, ini tidak terjadi di semua tempat, sebagaimana menurut penuturan Pak Dukuh Nangsri, kepengurusan posko yang mengatur jalur masuk dan distribusi bantuan, hampir semuanya laki‐laki. Dan pola ini terulang kembali dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi, dimana peminggiran perempuan dari akses dan apalagi kontrol terhadap pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya khususnya di area publik nampak dengan kuat. Dan ini terjadi di banyak tempat, bahkan tempat dimana pada masa tanggap darurat, perempuan telah maju ke muka. Hal ini terjadi secara sistematis karena kebijakan pemerintah yang mengatur pembangunan kembali rumah dalam fase ini justru membawa dampak berupa pengabaian sistematis perempuan dari area publik. Walau begitu, sebagaimana diungkap dalam sub bab dimuka, inisiatif yang dilakukan perempuan disini, juga perlu dilihat dan diukur kontribusinya untuk akses, kontrol dan manfaat yang adil dan setara.
Lantas, bagaimana dengan area produktif, dan korelasinya dengan area komunitas/publik? Adagium lain yang juga banyak dipakai adalah bahwa penguatan ekonomi perempuan secara otomatis akan memperkuat posisi tawar perempuan. Dalam banyak ilustrasi dimuka, mulai meningkatnya posisi tawar perempuan yang secara ekonomi dan sekaligus juga publik mulai nampak seperti kasus pengrajin tepung aci, ternyata masih dihadapkan pada akses dan terlebih lagi kontrol yang terbatas, untuk area strategis berupa pengambilan
45
61
keputusan. Tentang ini, Wawan dari IHAP yang mendampingi ibu‐ibu pengrajin aci ini mengatakan bahwa walau sudah mulai menunjukkan bukti, tetapi masih banyak keputusan strategis yang tereksklusi dari jangkauan perempuan. Ia mengatakan :
...”Ibu‐ibu menunjukkan bahwa keputusan strategis seperti memutuskan ketergantungan kepada tengkulak bisa mereka ambil dan ini berjalan dengan baik. Tetapi tak semua keputusan strategi bisa mereka pengaruhi. Contohnya adalah dalam hal pembangunan kembali rumah, bahkan di level rumah tangga mereka masing‐masing, mereka hampir tidak pernah terlibat. Wilayah ini praktis didominasi laki‐laki...”
Tampaknya, kesetaraan tak hanya dalam akses tetapi juga dalam kontrol sumber daya masih menjadi catatan bahkan bagi perempuan yang menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
Secara singkat, peta akses dan kontrol serta manfaat dalam pengelolaan bencana di Bantul nampak dalam tabel berikut ini :
Tabel 3.4. Peta Akses dan Kontrol
Aktivitas Akses Kontrol
Reproduktif Mengacu kepada pembagian peran gender maskulin, maka ini adalah ruang yang menjadi wilayah perempuan.
Munculnya keterlibatan laki‐ laki adalah indikasi menarik, tetapi secara umum masih menjadi wilayah perempuan.
Begitu juga dengan kontrol terhadap area ini, ada di tangan perempuan. Masuknya laki‐laki dalam area ini tidak terlalu berpengaruh kepada kontrol pilihan dalam area reproduktif
Produktif Hampir di semua wilayah, perempuan dan laki‐laki sama‐ sama terlibat dalam kerja produktif. Di kelas terbawah, akses dan keterlibatan ini bahkan relatif sama. Ini juga
Walaupun perempuan juga terlibat dalam aktivitas produktif, kontrol terhadap pengelolaan dan kepemilikan sumber daya belum
62
nampak dalam situasi pasca bencana.
perempuan. Kepemilikan asset kebanyakan masih ditangan laki‐laki.
Komunitas Akses perempuan relatif terbatas, kecuali di ruang khusus perempuan seperti PKK dan posyandu. Mulai muncul upaya menembus akses bagi ruang komunitas yang campuran seperti pokmas, walaupun masih belum sistematis dan belum di semua tempat.
Kontrol di area, kecuali yang diruang khusus perempuan, masih didominasi laki‐laki, yang mereproduksi situasi sebelum bencana. Inisiatif keterlibatan perempuan walaupun mulai nampak, tapi belum menyentuh sisi kontrol pengambilan keputusan.
Peta diatas menunjukkan bahwa kesetaraan dalam kontrol sumber daya memang bukan hal yang mudah dan cepat bisa diraih. Proses negosiasi dan dialog tanpa henti dalam jangka yang tidak pendek, tampaknya tetap perlu dilakukan di sini.
63
BAB IV
MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA
Di bab‐bab awal dari tulisan ini sudah dipaparkan mengenai kondisi perempuan Bantul pada waktu bencana dan apa yang mereka lakukan untuk menghadapi situasi bencana. Kerelawanan perempuan muncul dalam ragam bentuk di ranah yang beragam. Kerelawanan perempuan merupakan kisah sukses usaha perempuan untuk membawa komunitasnya keluar dari situasi krisis paska bencana. Peneliti menemukan fakta‐fakta lapangan bahwa sebagian besar perempuan relawan dalam penanganan paska bencana merupakan perempuan yang telah terbiasa menjadi relawan di komunitasnya. Karenanya, dalam bab IV ini peneliti merasa penting untuk menyajikan ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian selanjutnya mengulas mengenai faktor pendorong kerelawanan perempuan. Kedua sub‐bab tersebut sebagai pengantar untuk mengulas lebih lanjut untuk mengenai modal social perempuan dalam bencana.
I. RUANG PRODUKSI PEREMPUAN RELAWAN
Kerelawanan perempuan bukanlah sebuah produk sosiologis yang instan. kerelawanan diproduksi dalam mesin sosial dengan dimensi waktu yang panjang dan ruang yang beragam. Perempuan relawan diproduksi dalam beragam ruang‐ruang bias gender yang mana secara social, politik dan budaya dikonstruksi bagi perempuan (socially, culturally and politically constructed).
Oleh karena itu, menganalisis kerelawanan tak bisa dilepaskan dari analisis atas relasi kuasa antara negara dengan masyarakat, dalam hal ini perempuan. Dalam kasus Indonesia, salah satu kritik yang muncul adalah kuatnya pandangan dan juga kebijakan yang berlandaskan pada pandangan state‐ibuism46. Julia Suryakusuma menyebut fenomena tersebut
dengan ideologi pengibu‐rumahtanggaan (housewifization), yang memposisikan perempuan
46
Suryakusuma, Julia, “ State-ibuism : the Social Costruction of Womanhood in New Order Indonesia”, the Hague, thesis MA, Institute of Social Studies (ISS).