• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akses dan Kontrol : Sebagian Tetap Tak Terjamah

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 59-63)

UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA

V. GENDER DALAM KERELAWANAN PEREMPUAN

V.2.    Akses dan Kontrol : Sebagian Tetap Tak Terjamah

Walaupun banyak contoh yang menunjukkan kerelawanan perempuan dalam bencana,  dan juga tambahan kerja ekstra yang dilakukan perempuan, tetapi sayangnya ini tidak secara  otomatis diikuti dengan pelibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi  yang sama juga ditemukan di El Salvador, dimana perempuan mencatat perbedaan dalam  tugas  yang  dilakukan  oleh  mereka  dengan  yang  dilakukan  oleh  laki‐laki.  Perempuan  mendistribusikan bantuan darurat, tetapi keputusan tentang distribusi tetap saja di tangan laki‐

60

laki. Dengan kata lain, perempuan terlibat dalam distribusi secara fisik, tetapi tidak dalam  proses pengambilan keputusan45. 

Bagaimana dengan kondisi di Bantul? Ada banyak pengalaman yang sedikit berbeda,  karena dalam situasi macetnya pranata negara dalam situasi darurat, banyak perempuan yang  justru mengambil posisi dan mencuri start dengan tampil kemuka dalam mengatasi masa  krisis. Pengalaman Bu Wanti dan teman‐teman di Kadisoro, sebagaimana pengalaman Mbak  Siti yang  menjadi satu‐satunya  koordinator posko  dusun  yang  perempuan,  menunjukkan  tampilnya latent leader perempuan yang tangguh dan tanggap mengatasi situasi darurat.  

Walau begitu, ini tidak terjadi di semua tempat, sebagaimana menurut penuturan Pak  Dukuh Nangsri, kepengurusan posko yang mengatur jalur masuk dan distribusi bantuan,  hampir  semuanya  laki‐laki.  Dan  pola  ini  terulang  kembali  dalam  fase  rehabilitasi  dan  rekonstruksi,  dimana  peminggiran  perempuan  dari  akses  dan  apalagi  kontrol  terhadap  pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya khususnya di area publik nampak  dengan kuat. Dan ini terjadi di banyak tempat, bahkan tempat dimana pada masa tanggap  darurat, perempuan telah maju ke muka. Hal ini terjadi secara sistematis karena kebijakan  pemerintah yang mengatur pembangunan kembali rumah dalam fase ini justru membawa  dampak berupa pengabaian sistematis perempuan dari area publik. Walau begitu, sebagaimana  diungkap dalam sub bab dimuka, inisiatif yang dilakukan perempuan disini, juga perlu dilihat  dan diukur kontribusinya untuk akses, kontrol dan manfaat yang adil dan setara.   

Lantas,  bagaimana  dengan  area  produktif,  dan  korelasinya  dengan  area  komunitas/publik? Adagium lain yang juga banyak dipakai adalah bahwa penguatan ekonomi  perempuan secara otomatis akan memperkuat posisi tawar perempuan. Dalam banyak ilustrasi  dimuka, mulai meningkatnya posisi tawar perempuan yang secara ekonomi dan sekaligus juga  publik mulai nampak seperti kasus pengrajin tepung aci, ternyata masih dihadapkan pada  akses  dan  terlebih  lagi  kontrol  yang  terbatas,  untuk  area  strategis  berupa  pengambilan 

45

61

keputusan.  Tentang  ini,  Wawan  dari IHAP  yang mendampingi  ibu‐ibu  pengrajin  aci  ini  mengatakan bahwa walau sudah mulai menunjukkan bukti,   tetapi masih banyak keputusan  strategis yang tereksklusi dari jangkauan perempuan. Ia mengatakan :  

...”Ibu‐ibu  menunjukkan  bahwa  keputusan  strategis  seperti  memutuskan  ketergantungan  kepada tengkulak bisa mereka ambil dan ini berjalan dengan baik. Tetapi tak semua keputusan  strategi bisa mereka pengaruhi. Contohnya adalah dalam hal pembangunan kembali rumah,  bahkan di level rumah tangga mereka masing‐masing, mereka hampir tidak pernah terlibat.  Wilayah ini praktis didominasi laki‐laki...”  

Tampaknya, kesetaraan tak hanya dalam akses tetapi juga dalam kontrol sumber daya  masih menjadi catatan bahkan bagi perempuan yang menghasilkan pendapatan bagi keluarga.  

Secara singkat, peta akses dan kontrol serta manfaat dalam pengelolaan bencana di  Bantul nampak dalam tabel berikut ini :  

Tabel 3.4.   Peta Akses dan Kontrol 

Aktivitas  Akses  Kontrol 

Reproduktif  Mengacu kepada pembagian  peran gender maskulin, maka  ini adalah ruang yang menjadi  wilayah perempuan. 

Munculnya keterlibatan laki‐ laki adalah indikasi menarik,  tetapi secara umum masih  menjadi wilayah perempuan.   

Begitu juga dengan kontrol  terhadap area ini, ada di  tangan perempuan. Masuknya  laki‐laki dalam area ini tidak  terlalu berpengaruh kepada  kontrol pilihan dalam area  reproduktif 

Produktif  Hampir di semua wilayah,  perempuan dan laki‐laki sama‐ sama terlibat dalam kerja  produktif. Di kelas terbawah,  akses dan keterlibatan ini  bahkan relatif sama. Ini juga 

Walaupun perempuan juga  terlibat dalam aktivitas  produktif, kontrol terhadap  pengelolaan dan kepemilikan  sumber daya belum 

62

nampak dalam situasi pasca  bencana.   

perempuan. Kepemilikan asset  kebanyakan masih ditangan  laki‐laki.  

Komunitas  Akses perempuan relatif  terbatas, kecuali di ruang  khusus perempuan seperti  PKK dan posyandu. Mulai  muncul upaya menembus  akses bagi ruang komunitas  yang campuran seperti  pokmas, walaupun masih  belum sistematis dan belum di  semua tempat.  

Kontrol di area, kecuali yang  diruang khusus perempuan,  masih didominasi laki‐laki,  yang mereproduksi situasi  sebelum bencana. Inisiatif  keterlibatan perempuan  walaupun mulai nampak, tapi  belum menyentuh sisi kontrol  pengambilan keputusan.  

 

Peta  diatas menunjukkan bahwa kesetaraan dalam kontrol sumber daya memang bukan hal  yang mudah dan cepat bisa diraih. Proses negosiasi dan dialog tanpa henti dalam jangka yang  tidak pendek, tampaknya tetap perlu dilakukan di sini.  

                 

63

BAB IV

MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA

 

Di bab‐bab awal dari tulisan ini sudah dipaparkan mengenai kondisi perempuan Bantul  pada waktu bencana dan  apa yang mereka lakukan untuk  menghadapi  situasi  bencana.  Kerelawanan perempuan muncul dalam ragam bentuk di ranah yang beragam. Kerelawanan  perempuan merupakan kisah sukses usaha perempuan untuk membawa komunitasnya keluar  dari situasi krisis paska bencana. Peneliti menemukan fakta‐fakta lapangan bahwa sebagian  besar perempuan relawan dalam penanganan paska bencana merupakan perempuan yang  telah terbiasa menjadi relawan di komunitasnya. Karenanya, dalam bab IV ini peneliti merasa  penting untuk menyajikan ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian  selanjutnya mengulas mengenai faktor pendorong kerelawanan perempuan. Kedua sub‐bab  tersebut  sebagai  pengantar  untuk  mengulas  lebih  lanjut  untuk  mengenai  modal  social  perempuan dalam bencana. 

I. RUANG PRODUKSI PEREMPUAN RELAWAN 

Kerelawanan perempuan bukanlah sebuah produk sosiologis yang instan. kerelawanan  diproduksi dalam mesin sosial dengan dimensi waktu yang panjang dan ruang yang beragam.  Perempuan relawan diproduksi dalam beragam ruang‐ruang bias gender yang mana secara  social,  politik  dan  budaya  dikonstruksi  bagi  perempuan  (socially,  culturally  and  politically  constructed). 

Oleh karena itu, menganalisis kerelawanan tak bisa dilepaskan dari analisis atas relasi  kuasa antara negara dengan masyarakat, dalam hal ini perempuan. Dalam kasus Indonesia,  salah  satu  kritik  yang  muncul  adalah  kuatnya  pandangan  dan  juga  kebijakan  yang  berlandaskan pada pandangan state‐ibuism46. Julia Suryakusuma menyebut fenomena tersebut 

dengan ideologi  pengibu‐rumahtanggaan  (housewifization), yang memposisikan  perempuan 

46

Suryakusuma, Julia, “ State-ibuism : the Social Costruction of Womanhood in New Order Indonesia”, the Hague, thesis MA, Institute of Social Studies (ISS).

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 59-63)