• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN DAN KESIMPULAN

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 82-87)

BAB V

CATATAN DAN KESIMPULAN

 

1. Penghargaan Itu Barang Yang Mahal 

Dalam uraian di bab‐bab sebelumnya,  bentuk dan model kerelawanan perempuan  menunjukkan serangkaian strategi untuk mempertahankan hak akan hidup yang bermartabat  setelah  bencana.  Ada  banyak  motif  yang  nampak,  mulai  dari  kebutuhan  untuk  mempertahankan kehidupan dalam jangka pendek seperti pada kasus dapur umum, hingga  berbagi dukungan untuk kehidupan yang lebih baik seperti dalam model trauma healing.  Begitu juga dalam cara yang dikembangkan, mulai dari cara yang personal dan sarat dengan  persaudarian  (sisterhood)  sebagaimana  nampak  pada  dapur  umum,  hingga  harus  menggunakan  cara  yang  frontal  dan  konfliktual  seperti  dalam  advokasi  korupsi  dana  pembangunan kembali rumah.  

Terhadap keragaman pola ini, persoalan pengakuan dan penghargaan terhadap kerja  kerelawanan perempuan adalah salah satu isu kunci dalam kajian feminis tentang bencana.  Bradshaw mengatakan, bahwa walaupun perempuan juga terlibat dalam kerja darurat dan  bersih‐bersih  setelah  bencana,  seperti  halnya  laki‐laki,  kerja  perempuan  mendapatkan  penghargaan yang lebih terbatas55. Sebagai contoh, di Nicaragua, hanya sebagian kecil lakilaki 

yang mengaku bahwa perempuan tidak terlibat dalam aktivitas pada masa darurat, sementara  beberapa menilai bahwa perempuan tidak  terlibat dalam seluruh  tahapan pasca bencana.  Sebagian yang lain mengakui bahwa perempuan melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak  memberikan apresiasi atas kontribusi  mereka.    Sedangkan ketiadaan pengakuan terhadap  peran tradisional peremuan bisa dimaknai bahwa pengakuan ini masih menganggap bahwa  perempuan hanya sekedar membantu laki‐laki, daripada sebagai bentuk kontribusi perempuan 

55

Bradshaw (2004),

“Socio-Economic Impacts of natural Disasters : A Gender Analysis”,

Manuales, Serie 32, GTZ-Cooperation Italiana-Naciones Unidas-CEPAL-Sustainable

Development and Human Settlements Division, Women and Development Unit, Santiago-Chile,

May

83

ketika  berhadapan  dengan  krisis.  Padahal,  kebanyakan  perempuan  yang  diwawancarai  mengatakan  bahwa  mereka  memainkan  peran  penting  dalam  bersih‐bersih  dan  dalam  menyediakan makanan, sesegera setelah bencana terjadi. Tetapi menurut mereka, kebanyakan  laki‐laki tidak menghargai kerja dan kontribusi ini. 

Ia  juga  menulis  bahwa  kebanyakan  laki‐laki  mengakui  bahwa  peran  utama  yang  dimainkan perempuan hanyalah ketika mereka melakukan peran non tradisional. Sementara  itu, Garcia mengatakan, bahwa persepsi kultural terhadap peran gender seringkali membuat  kerja perempuan menjadi tidak nampak, dan bahkan menjadi sering didiskriminasi dalam  program pasca bencana. Dalam banyak hal, ia mengutip yang dikatakan Fothergill, bahwa  biarpun kontribusi perempuan sangatlah berarti, mereka tetap dianggap tidak sah dan tidak  resmi.  

Lantas, bagaimanakah penghargaan terhadap kerelawanan perempuan dalam situasi  pasca  bencana  di  Bantul.  Beberapa  responden,  yang  terdiri  dari  perwakilan  perangkat  pemerintah di tingkat lokal, anggota legislatif hingga beberapa aktivis LSM   yang ditemui  dalam riset ini mengatakan bahwa kerelawanan perempuan ini memang nampak dengan jelas.  Hampir semuanya juga mengakui bahwa beberapa kerelawanan ini, dan terutama nampak jelas  dalam kasus dapur umum, sangatlah berarti dalam menyelamatkan kehidupan komunitas.  Namun,  pada  tingkat  penghargaan,  adalah  menarik  untuk  mengkaji  bahwa  sebagian  responden mengatakan bahwa ini adalah bentuk kerelawanan yang lumrah, natural dan sudah  seharusnya dilakukan oleh perempuan. Lontaran seperti ’perempuan sudah seharusnya memasak’,  atau ’memang apa istimewanya dengan dapur umum?’, beberapa kali ditemui peneliti dalam proses  wawancara.  Kesimpulan  ini  juga  diperkuat  dalam  FGD  yang  melibatkan  perwakilan  komunitas, NGO dan pemerintah daerah.  

Ini menunjukkan bahwa    peran dan  sekaligus juga  kerelawanan perempuan  yang  dengan jelas menampakkan bentuknya, ternyata tak selalu diiringi dengan pengakuan yang  setimpal sebagai balasannya. Padahal, urgensi sekaligus nilai dari kerelawanan perempuan  untuk kerja reproduktif ini sungguh besar dan sangat berarti, sebagaimana diurai dalam bab 3 

84

laporan ini. Dan dalam situasi kerusakan dan kehancuran infrastruktur seperti sumber air  bersih dan tempat penyimpanan makanan setelah bencana, dapatlah diasumsikan bahwa tugas  rumah  tangga  yang  dilakukan  perempuan  menjadi  lebih  sulit.  Ini  juga  sekaligus  mengakibatkan jumlah jam yang dihabiskan perempuan juga menjadi jauh lebih panjang.  Belum bila memperhitungkan bertambahnya kesulitan karena kerusakan sarana pendukung,  seperti rusaknya jalan ke sumber air56. Dan sebagaimana kondisi sebelum bencana dimana kerja 

reproduktif ini seringkali tidak dihargai, demikian pula halnya yang terjadi dalam situasi  setelah  bencana.  Pandangan  yang  melihat  bahwa  tugas  ini  memang  sudah  seharusnya  dilakukan perempuan, sebagai bagian dari peran gender yang diemban, membuat penghargaan  akan kontribusi perempuan dalam aktivitas reproduktif menjadi tidak nampak. Padahal tanpa  itu, keberlanjutan kehidupan komunitas akan menjadi taruhannya.  

Pemahaman  bahwa  perempuan  hidup  dalam  situasi  yang  tidak aman  dan  secara  otomatis juga menjadi lebih rentan terhadap bencana, seringkali juga diikuti oleh stereotype  atau anggapan yang minor dalam memandang perempuan ketika menghadapi bencana. Tetapi  justru kebalikannya, pembagian kerja secara seksual bisa mendorong perempuan unuk secara  proaktif  mengambil  tindakan  untuk  menyelamatkan  kehidupan.  Dalam  situasi  dimana  komunitas terkena bencana, kerja kerelawanan perempuan yang tidak tampak, justru banyak  membantu dalam mengorganisir masyarakat untuk perubahan sosial. Kontribusi yang mereka  berikan  pada  pendapatan  keluarga  adalah  sangat  berarti  ketika  keluarga  dihantam  oleh  bencana dan harus memulai segala sesuatunya dari awal. Di tingkat domestik, kerja perempuan  mulai dari memasak, mencuci, menjahit, mengurus kebun dan mengurus rumah adalah kerja  yang sangat penting. Tetapi, apakah perempuan menjadi korban ataukah menjadi pahlawan  dalam  situasi  bencana,  akan  ditentukan  ketika  ketrampilan,  pengetahuan,  kapasitas  dan  jaringan  perempuan  diperhitungkan.  Dan  sayangnya,  ini  tak  selalu  didapatkan  para  perempuan ketika bencana terjadi di Bantul.   

85

Dan begitu juga  di  ranah komunitas,  minimnya  penghargaan  di beberapa  tempat  bahkan nampak lebih jauh dalam resistensi terhadap bentuk‐bentuk kerelawanan perempuan  di ranah ini.   Alih‐alih berharap akan adanya akses berupa keterlibatan dalam ruang‐ruang  komunitas pasca bencana, kondisi di beberapa tempat justru menunjukkan kuatnya dominasi  kultur  dan  kuasa  patriarkhi  dalam  ruang‐ruang  publik  yang  formal.  Pengacuhan,   ketidakterlibatan dan bahkan intimidasi menjadi respon yang diterima beberapa perempuan  yang mencoba menerobos kebuntuan dan sekat gender dalam ruang‐ruang publik, seperti  nampak dengan kuat dalam kasus Pokmas.  

2. Mo d a l So sia l Be rna m a Ke re la wa na n

Walaupun  berhadapan  dengan  isu  minimnya  penghargaan,    tetapi  riset  ini  menunjukkan  begitu  tanggap  dan  bersikukuhnya  perempuan  dalam  melakukan  kerja  kerelawanan. Spirit altruisme untuk berbagi dan saling dukung dalam situasi krisis terlontar  dari banyak perempuan yang menjadi responden riset ini. Dan lebih dari yang diperkirakan  pandangan kaum misoginis, jaringan, ruang dan pola hubungan yang dimiliki perempuan  ternyata bekerja dengan cepat dan efektif ketika gempa terjadi. Dalam situasi kemandegan  sistem sosial yang ada, jaringan informal dan tidak nampak ini justru bekerja dengan sangat  cepat dan juga terhubung dengan pihak yang cukup luas. Jaringan ini bekerja dan melengkapi  ruang‐ruang formal perempuan yang sudah ada sebelumnya, seperti PKK dan posyandu.   

    Sebagaimana  nampak dalam bab 4, ruang‐ruang produksi kerelawanan perempuan  menunjukkan  beragamnya  tipe  modal  sosial  yang  terbangun  dan  bekerja  dalam  situasi  bencana. Walaupun ada beberapa perkecualian seperti nampak dalam kasus dapur umum yang  hanya menjadi kepanjangan dapur domestik, modal sosial baik dari tipologi bondingbridging  dan linking bekerja dengan baik di beberapa dapur umum sekaligus posko yang dibangun  masyarakat.   

86   Begitu  juga  dalam  kerelawanan  ketika  fase  rehabilitasi‐rekonstruksi.  Di  tengah  guncangan gempa bagi sektor produktif, dukungan dan keterikatan sesama perempuan usaha  kecil menunjukkan dimensi bonding yang kuat, dan begitu juga aspek linking dengan aktor luar  bernama LSM yang bekerja untuk pemulihan ekonomi. Namun, dimensi bridging dalam kasus  ini tidak nampak dengan kuat, karena tarikan berupa keengganan dan ketiadan dukungan dari  warga lain yang bukan pengrajin dan bahkan sebagian pengrajin dengan karakter usaha yang  berbeda, ditemui dalam riset ini.  

  Dalam fase yang sama, kerelawanan perempuan dalam program pembangunan kembali  rumah juga menunjukkan aspek linking yang mulai terbangun. Peran ini sebetulnya krusial di  tengah tekanan yang diterima perempuan, tetapi pengelolaan dukungan yang tidak cukup  terkelola membuat masalah kunci yang dihadapi tidak terselesaikan.  

  Beberapa  ilustrasi  dan  analisis  yang  diurai  dalam  bab  sebelumnya  menunjukkan  beberapa keberhasilan intervensi dan pengelolaan modal sosial, dan sekaligus juga beberapa  kegagalan yang masih nampak. Ke depan, pihak‐pihak yang bekerja dalam situasi bencana  tampaknya perlu menggali lebih dalam kajian tentang dimensi modal  sosial dalam merespon  kerelawanan  perempuan.  Pelajaran  dari  beberapa  keberhasilan  menunjukkan  bahwa  kerelawanan perempuan adalah modal berharga untuk penyelamatan komunitas dalam situasi  krisis. Tetapi pelajaran dari kegagalan pengelolaan menunjukkan bahwa tantangan dan kendala  bukanlah alasan untuk mematikan kerelawanan perempuan. Di sini, strategi dan taktik yang  lebih jitu diperlukan, sebagaimana upaya mempengaruhi dan menggalang dukungan banyak  pihak juga tak boleh dilupakan. Proses memperjuangkan inilah yang tampaknya masih perlu  dilakukan, dan yang pasti, ini bukan proses yang mudah untuk dilakukan walaupun tentu saja  tak mustahil untuk diwujudkan.  

     

87

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 82-87)