• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM SOSIAL BANTUL DALAM GUNCANGAN GEMPA

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 38-42)

UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA

II. SISTEM SOSIAL BANTUL DALAM GUNCANGAN GEMPA

Bencana, sebagaimana juga tekanan dari pihak eksternal, adalah ujian ketangguhan bagi  sistem sosial di dalam masyarakat. Mengacu kepada Murphy, dari aspek proses, bencana  menjadi konteks yang melatarbelakangi dan mempengaruhi proses koordinasi, promosi dan  interpretasi layanan sosial dalam beragam bentuk. Apakah ketika bencana, layanan sosial bisa  terkoordinasi  dan  dipahami  dengan  baik  oleh  banyak  pihak  atau  tidak,  akan  sangat  menentukan ketangguhan sistem sosial yang ada. Sementara itu, dari aspek ruang, bencana  menguji apakah suprastruktur yang dibentuk bisa bekerja dalam mengkoordinasikan kerja  layanan bagi publik37. Jawaban atas ini akan menjadi penanda apakah ujian berupa situasi 

abnormal yang bernama bencana bisa terlewati oleh sistem sosial yang ada. Dalam studi ini, 

37

39

bagian terpenting dari sistem sosial yang hendak diuji adalah yang terkait dengan posisi dan  pengaruh dari kelompok perempuan dalam masyarakat di Bantul.   

Lantas, bagaimana dengan wajah sistem sosial di Bantul ketika bencana terjadi dan juga  pada  masa  sesudahnya?  Salah  satunya  adalah  suprastruktur  bernama  negara,  yang  sebagaimana dalam banyak kejadian bencana, ternyata juga mengalami kemandegan.   Ini  nampak dalam situasi ketika muncul isu tsunami dan juga gempa susulan yang beredar di  masyarakat.  Ketika  isu  tsunami  hanya  berselang  beberapa  saat  setelah  gempa  terjadi,  kepanikan yang luar biasa melanda masyarakat. Bahkan dalam situasi kepanikan ini, nalar dan  rasionalitas juga tak bisa bekerja karena perangkat dan jalur komunikasi dan informasi juga  terputus dan begitu juga komunikasi antara perangkat negara dengan rakyatnya. Tari, seorang  diffabel menuturkan pengalamnnya :  

...Saya terbangun ketika rumah roboh diguncang gempa dan badan saya terbenam di antara  puing‐puing rumah. Tak sempat melarikan diri, karena kruk tak terjangkau. Setelah gempa  selesai, kakak saya datang dan menolong saya dengan menarik saya dari reruntuhan bangunan.  Tetapi, tak lama kemudian, isu tsunami membuat semua orang lari terbirit‐birit. Kali ini, tak ada  yang mempedulikan saya karena semua orang berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri 38

.(Tari, seorang diffabel korban gempa) 

Kepanikan ini luar biasa besarnya, karena sekitar jam 8 pagi Sabtu itu, hampir semua ruas jalan  dipenuhi ratusan ribu orang yang hendak menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Begitu  tidak adanya informasi resmi yang beredar, dan begitu besarnya kepanikan ini, rasionalitas  tentang besarnya cakupan tsunami pun tidak lagi menjadi dasar pijakan tindakan kebanyakan  warga. Isu bahwa air laut sudah sampai di Jogjakarta sebetulnya sangat tidak masuk akal,  mengingat ketinggian kota Jogja dan jaraknya dari laut yang lumayan jauh, yaitu sekitar 40 km.  Begitu juga bila melihat hampir semua orang berlari menuju ke utara atau ke pegunungan,  sebetulnya juga tidak nalar mengingat saat itu, Merapi juga dalam status awas dan setiap saat  bisa meletus. Walau tak ada laporan resmi, kepanikan ini juga berbuah pada meninggalnya 

40

beberapa orang ketika dalam kepanikan isu tsunami ini, menjadi korban dari serangkaian  kecelakaan lalu lintas. Dan begitulan, dalam ketiadaan informasi dan macetnya perangkat  negara yang ada, rasionalitas tertinggal jauh dibelakang.  

Di  Wukirsari,  Siti  –bukan  nama  sebenarnya‐  juga  mengatakan  bahwa  kepanikan  terhadap berita akan munculnya gempa susulan yang lebih besar dan tidak bisa terkonfirmasi  ke  aparat  yang  berwenang,  menjadikan  hampir  semua  orang  didusunnya  memilih  meninggalkan kampung dan bermalam di pegunungan di timur kampungnya. Akibatnya,  kampungnya  kosong  melompong,  dan  sekaligus  juga  muncul  kerawanan  baru  dari  segi  keamanan aset yang ditinggalkan.  

Respon  pemerintah  dalam  mengatasi  situasi  darurat  juga  disayangkan  banyak  responden penelitian ini. Menurut Bu Ponirah di Gedongan, Kasihan, pemerintah relatif kurang  perhatian terhadap kondisi masyarakat setelah gempa mengguncang. Ia mengatakan :  

....”Bukannya  menuduh  siapa‐siapa,  tetapi  dari  pemerintah,  bahkan  yang  paling  bawah  sekalipun, harusnya kan perhatian terhadap warganya... Tapi di sini tidak begitu..” 

Di Kadisoro, Bu Wiranti membandingkan cepat dan banyaknya dukungan berupa logistik dari  saudara, teman, kenalan di gereja dan masjid, hingga teman anaknya di kampus. Dukungan  yang sudah datang hanya pada hitungan jam setelah gempa ini menjadi skema pengaman bagi  kehidupan masyarakat pasca bencana. Namun menurutnya, hingga 1 minggu pasca bencana,  bantuan logistik dari pemerintah belum masuk dikampungnya.  

Kondisi yang senada juga dilontarkan oleh Pak Jawadi, yang menjadi kepala dukuh  Nangsri, Srihardono, Pundong, Bantul. Ia mengatakan bahwa banyak pelayanan pemerintah  yang mandeg dalam waktu yang cukup lama. Ia mencontohkan, pelayanan kesehatan bagi  masyarakat di Puskesmas yang terhenti ketika bencana terjadi.  Penuturan ini juga dibenarkan  oleh Agung Laksmono, anggota DPRD Bantul yang juga mantan sekretaris Pansus Monitoring  Bencana, yang mengatakan bahwa dalam situasi kemandegan struktur negara ketika bencana,  masyarakat sendirilah yang justru berperan dalam mengatasi masa kritis. Ia mengatakan :  

41 ...”Saya kira, rakyat Bantul yang nota bene orang Jawa dan memiliki kebiasaan kerjasama dan  gotong‐royong memiliki peran yang cukup besar dalam situasi bencana. Ini terjadi pada saat  pemerintah daerah tidak dapat berfungsi dan berperan secara maksimal ketika itu..”.  

Bahkan, Pemerintah propinsi DIY pun mengakui bahwa walaupun saat itu pemerintah daerah  menyiapkan diri terhadap kemungkinan erupsi Merapi, tetapi aparatus dan pranata yang ada  tidak mengantisipasi kejadian yang jauh lebih besar sebagaimana dalam kondisi gempa.  Hal  ini, ditambah dengan minimnya kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi  bencana gempa, sehingga menjadikan dampak gempa bagi kehidupan masyarakat sangatlah  besar39.  

Begitulah, dalam situasi ketika kemandegan negara dan perangkatnya terjadi dalam  situasi bencana, inisiatif dan proses komunitaslah yang justru menjadi penyelamat kehidupan.  Hanya dalam hitungan hari, ditengah perasaan yang hancur karena tertimpa bencana, geliat  kebangkitan kehidupan warga nampak dalam beragam bentuk. Menepis keraguan tentang  terulangnya kemandegan semangat dan kehidupan masyarakat seperti dalam banyak bencana  yang lain, masyarakat Bantul segera melakukan langkah‐langkah penting dalam penyelamatan  kehidupan dan memastikan roda kehidupan tak berhenti ketika gempa mengguncang dan  meluluhlantakkan banyak sendi kehidupan. Proses evakuasi korban dilakukan oleh masyarakat  pada hari yang sama ketika gempa terjadi. Dan kehidupan yang diliputi rasa kebersamaan dan  perasaan senasib menjadi suasana yang nampak di wilayah yang terkena bencana.Bu Wiranti  dan Bu Sartini dari Kadisoro menuturkan semangat inilah yang dirasakan pada periode awal  pasca bencana :  

....”Sesaat  setelah  terjadi  gempa,  suasananya  sangat  guyub.  Mungkin  merasa  senasib  sepenanggungan, karena sama‐sama terkena bencana dan sama‐sama tidak punya. Jadi kalau ada  yang punya, ya dibagi untuk semua...” 

39

Lihat makalah Pemerintah Propinsi DIY berjudul, “Bijak dari Belajar : Mewujudkan Tata

Pemerintahan DIY yang Tangguh Membangun dan Siaga terhadap Bencana”. Makalah disampaikan

pada seminar Menjajagi Prospek Yogyakarta sebagai Pusat Keunggulan Penanggulangan Bencana, Yogyakarta, 26 Mei 2007

42

Tentang ini, AB Widyanta yang mantan koordinator OC Suara –jaringan NGO untuk bencana  di Jogja dan Jateng   mengatakan bahwa dalam suasana   bencana yang mencekam, mental  perkawanan dan sisi manusia menjadi sikap yang muncul dan mengatasi batas dan sekat yang  ada. Suasana yang mencekam inilah yang menjadi stimulus pencairan konflik dan mencairnya  batas‐batas yang ada.  

 

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 38-42)