UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA
III. PEREMPUAN TANGGAP DI TAHAP DARURAT
IV.2. Yang Tercecer dari Pembangunan Kembali Rumah
Di sini, catatan penting yang muncul adalah terkait dengan keterlibatan kelompok rentan dalam program pembangunan kembali rumah pasca gempa, yang menunjukkan masih adanya lubang dalam hal partisipasi publik. Salah satunya adalah ketiadaan aturan secara eksplisit tentang keterlibatan perempuan dalam kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai organ inti pelaksanaan pembangunan rumah yang menurut pemerintah adalah model yang partisipatif. Aturan yang dimaksud disini adalah Pergub No 23 tahun 2006 tentang Petunjuk Operasional (PO) Rehab Rekons Pasca Gempa di DIY. Ketiadaan aturan ini, membuat rendahnya keterwakilan perempuan dalam organ pelaksana pembangunan kembali rumah di banyak dusun. Sebagai catatan, setelah gempa, pemerintah pusat mengucurkan dana pembangunan kembali rumah yang hancur melalui mekanisme pokmas untuk pengelolaan dana dari APBN ini.
Dalam situasi rendahnya keterwakilan perempuan dalam kelembagaan Pokmas ini, potensi peminggiran suara dan sekaligus juga kebutuhan perempuan memang terjadi. Di Imogiri, kondisi ini nampak dari penuturan Mbak Siti, yang menuturkan praktek pelaksanaan pembangunan kembali rumah didusunnya.
....Walau rumah kami rusak, nama kami dicoret dari daftar nama penerima dana pembangunan rumah42 yang diajukan dusun, bersama dengan tujuh nama lain di RT saya. Beberapa orang yang rumahnya tidak rusak tetapi merupakan tokoh atau orang berada justru masuk daftar. Setelah itu, dalam pencairan dana tahap ketiga, penerima dana yang dibagikan ternyata berbeda dengan yang tertera dalam daftar. Beberapa nama lagi‐lagi dicoret, bahkan yang janda dan rumahnya benar‐benar rusak. Yang menerima juga dipotong, katanya shodaqoh, sebesar Rp 5 juta per keluarga dari total dana Rp 15 juta yang seharusnya mereka terima...”
Peminggiran perempuan dalam program‐program pembangunan kembali rumah memang sangat mungkin terjadi, terlebih dalam program tanpa design khusus. Hal ini juga terkonfirmasi dalam pembangunan kembali pasca badai Mitch dimana keluarga dengan kepala
54
keluarga perempuan adalah pihak yang dalam pemulihan menjadi yang paling akhir mendapatkan giliran. Data dalam komposisi hunian sementara di 4 negara menunjukkan bahwa seiring dengan penurunan jumlah populasi yang hidup di shelter, proporsi perempuan justru meningkat secara tajam dan begitu juga dengan proporsi keluarga dengan kepala keluarga perempuan, yang paling akhir pergi dari shelter. Dalam durasi dua minggu setelah badai Mitch, proporsi keluarga dengan kepala keluarga perempuan yang menghuni shelter di Tegucigalpa adalah sebanyak 41%. Setelah jumlah penghuni shelter menurun, proporsi mereka justru meningkat menjadi 57%. Pada akhir tahun, jumlah orang Nicaragua yang hidup di shelter menurun dari 65.000 menjadi 17.000 orang. Tetapi, proporsi perempuan justru meningkat tajam, dari 48% menjadi 49.8%, dan begitu juga dengan keluarga dengan kepala keluarganya perempuan43.
Di Bantul, apakah hanya keluarga dengan kepala keluarga perempuan yang menerima dampaknya? Tampaknya tak hanya itu, karena peminggiran suara perempuan secara umum bisa terjadi dalam banyak keluarga, bahkan ketika mereka mendapatkan dana dalam program pembangunan kembali rumah. Bentuk‐bentuk seperti pengabaian terhadap area servis yang menjadi ruang perempuan, dalam bentuk design yang tidak ramah atau tanpa dilengkapi akses memadai bilamana terjadi bencana, bisa menjadi bentuk lain bencana gender dalam hal ini. Dapur misalnya, karena seringkali dipinggirkan dan dianggap tidak terlalu penting, seringkali diikuti dengan persoalan kualitas bangunan yang didapat. Karena tidak menjadi prioritas, maka bahan yang digunakan lebih rendah kualitasnya, dan ini bisa meningkatkan keterpaparan terhadap risiko ketika terjadi bencana44.
Tetapi, tak semua perempuan memilih bersikap diam dalam situasi seperti itu. Siti, yang masih lajang dan berasal dari kalangan biasa menceritakan serangkaian upaya yang dilakukannya sebagai bagian dari memperjuangkan hak‐hak penyintas yang terabaikan, termasuk hak keluarganya di dalamnya.
43
Gomariz, 1999, sebagaimana dikutip oleh Buvinic, op.cit.
44
55
...” Saya mengirimkan surat protes ke DPRD dan Bupati dan melaporkan kejadian pemotongan dana dan pencoretan nama dari daftar. Surat kami mendapat respon dan dusun kami didatangi tim dari pemerintah kabupaten. Tapi hingga hari ini, prosesnya belum selesai...”.
Langkah yang lebih jauh bahkan dilakukan oleh Mbak Endang yang tinggal di Piyungan. Merasa gerah dengan kelakukan beberapa perangkat lokal di tempatnya, ia juga melaporkan kasus pemotongan dan pencoretan nama kepada pemerintah kabupaten. Ketika petugas kabupaten datang, nama‐nama yang dicoret dimunculkan kembali dan dana pembangunan kembali rumah dicairkan sesuai dengan ketentuan. Tetapi setelah itu, masing‐ masing orang didatangi dan diminta potongan dengan beragam alasan.
...”Macem‐macem lah alasannya. Katanya potongan Rp 1 juta dengan kerelaan untuk membangun jalan. Ada juga potongan untuk materai, untuk infaq. Mereka juga menekan warga supaya tidak membocorkan informasi kepada petugas pengawas yang datang. Tetapi akhirnya beberapa orang mengaku dan kemudian kepala desa ditegur oleh Bupati...”
Akhirnya uang dikembalikan dengan disaksikan Badan Pengawas Daerah (Bawasda), tetapi menurut warga ini hanyalah siasat untuk mengelabuhi pemerintah kabupaten. Beberapa saat setelah itu, perangkat yang nakal kembali bergerilya dan menagih ‘potongan’ dana. Melihat itu, maka kemudian ia melaporkan kasus ini ke Kjaksaan Negeri Bantul.
Tapi rupanya, upaya‐upaya yang dilakukan para perempuan tangguh di atas dalam melakukan pengawasan dan memperjuangkan hak masyarakat memang bukan jalan yang mulus dan mudah. Tindakan Mbak Endang dibalas perangkat yang melakukan pemotongan dengan memaksa warga untuk menandatangani surat pengusiran Endang dari dusun tempat dimana ia tinggal. Tetapi warga tak mau mengikuti ini sehingga ia masih tetap tinggal di dusun tersebut. Selain itu, bentuk tekanan yang lain adalah setiap malam, rumahnya selalu disatroni oleh orang tak dikenal. Sementara itu, Siti mengaku bahwa teror demi teror ia terima dalam beragam bentuk.
...” Saya diteror lewat sms, juga diancam kalau sampai pelakunya masuk penjara, kepala saya taruhannya. Orang tua saya tidak siap dengan kondisi itu, apalagi karena pelaku pemotongan
56 masih saudara dan saya anak perempuan satu‐satunya. Saya sebetulnya mau diam saja, tetapi kok nggak selesai‐selesai...”
Belakangan, tekanan demi tekanan yang diterima membuatnya lebih banyak diam. Dalam kultur masyarakat yang patriarkhis, perempuan yang diam adalah dianggap sebagai kelaziman, sementara perempuan yang sering mengajukan protes dihadapkan pada tekanan sistematis yang begitu kuat. Walau beberapa upaya ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, upaya menerobos kebuntuan dan memperjuangkan hak dalam situasi banyak tekanan, adalah bukti‐bukti tak terbantahkan akan kekuatan dan kerelawanan perempuan.