• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yang Tercecer dari Pembangunan Kembali Rumah

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 53-56)

UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA

III. PEREMPUAN TANGGAP DI TAHAP DARURAT

IV.2.   Yang Tercecer dari Pembangunan Kembali Rumah

Di sini, catatan penting yang muncul adalah terkait dengan keterlibatan kelompok  rentan dalam program pembangunan kembali rumah pasca gempa, yang menunjukkan masih  adanya lubang dalam hal partisipasi publik. Salah satunya adalah ketiadaan aturan secara  eksplisit tentang keterlibatan perempuan dalam kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai organ  inti  pelaksanaan  pembangunan  rumah  yang  menurut  pemerintah  adalah  model  yang  partisipatif. Aturan yang dimaksud disini adalah Pergub No 23 tahun 2006 tentang Petunjuk  Operasional  (PO)  Rehab  Rekons  Pasca  Gempa  di  DIY.  Ketiadaan  aturan  ini,    membuat  rendahnya keterwakilan perempuan dalam organ pelaksana pembangunan kembali rumah di  banyak  dusun.  Sebagai  catatan,  setelah  gempa,  pemerintah  pusat  mengucurkan  dana  pembangunan kembali rumah yang hancur melalui mekanisme pokmas untuk pengelolaan  dana dari APBN ini.  

Dalam situasi rendahnya keterwakilan perempuan dalam kelembagaan Pokmas ini,  potensi peminggiran suara dan sekaligus juga kebutuhan perempuan memang terjadi.  Di  Imogiri, kondisi ini nampak dari penuturan Mbak Siti, yang menuturkan praktek pelaksanaan  pembangunan kembali rumah  didusunnya.  

....Walau rumah kami rusak, nama kami dicoret dari daftar nama penerima dana pembangunan  rumah42 yang diajukan dusun, bersama dengan tujuh nama lain di RT saya. Beberapa orang  yang rumahnya tidak rusak tetapi merupakan tokoh atau orang berada justru masuk daftar.  Setelah itu, dalam pencairan dana tahap ketiga, penerima dana yang dibagikan ternyata  berbeda  dengan yang tertera dalam daftar. Beberapa nama lagi‐lagi dicoret, bahkan yang janda dan  rumahnya benar‐benar rusak. Yang menerima juga dipotong, katanya shodaqoh, sebesar Rp 5  juta per keluarga dari total dana Rp 15 juta yang seharusnya mereka terima...” 

Peminggiran  perempuan  dalam  program‐program  pembangunan  kembali  rumah  memang sangat mungkin terjadi, terlebih dalam program tanpa design khusus. Hal ini juga  terkonfirmasi dalam pembangunan kembali pasca badai Mitch dimana keluarga dengan kepala 

54

keluarga  perempuan  adalah  pihak  yang  dalam  pemulihan  menjadi  yang  paling  akhir  mendapatkan giliran. Data dalam komposisi hunian sementara di 4 negara menunjukkan bahwa  seiring dengan penurunan jumlah populasi yang hidup di shelter, proporsi perempuan justru  meningkat secara tajam dan begitu juga dengan proporsi keluarga dengan kepala keluarga  perempuan, yang paling akhir pergi dari shelter. Dalam durasi dua minggu setelah badai Mitch,  proporsi keluarga dengan kepala keluarga perempuan yang menghuni shelter di Tegucigalpa  adalah  sebanyak  41%.  Setelah  jumlah  penghuni  shelter  menurun,  proporsi  mereka  justru  meningkat menjadi 57%. Pada akhir tahun, jumlah orang Nicaragua yang hidup di shelter  menurun dari 65.000 menjadi 17.000 orang. Tetapi, proporsi perempuan justru meningkat tajam,  dari  48%  menjadi  49.8%,  dan  begitu  juga  dengan  keluarga  dengan  kepala  keluarganya  perempuan43. 

Di Bantul, apakah hanya keluarga dengan kepala keluarga perempuan yang menerima  dampaknya? Tampaknya tak hanya itu, karena peminggiran suara perempuan secara umum  bisa terjadi dalam banyak keluarga, bahkan ketika mereka mendapatkan dana dalam program  pembangunan kembali rumah. Bentuk‐bentuk seperti pengabaian terhadap area servis yang  menjadi ruang perempuan, dalam bentuk design yang tidak ramah atau tanpa dilengkapi akses  memadai bilamana terjadi bencana, bisa menjadi bentuk lain bencana gender dalam hal ini.  Dapur misalnya, karena seringkali dipinggirkan dan dianggap tidak terlalu penting, seringkali  diikuti dengan persoalan kualitas bangunan yang didapat. Karena tidak menjadi prioritas,  maka    bahan  yang  digunakan  lebih  rendah  kualitasnya,  dan  ini  bisa  meningkatkan  keterpaparan terhadap risiko ketika terjadi bencana44. 

Tetapi, tak semua perempuan memilih bersikap diam dalam situasi seperti itu. Siti, yang  masih  lajang  dan  berasal  dari  kalangan  biasa  menceritakan  serangkaian  upaya  yang  dilakukannya  sebagai  bagian  dari  memperjuangkan  hak‐hak  penyintas  yang  terabaikan,  termasuk hak keluarganya di dalamnya.  

43

Gomariz, 1999, sebagaimana dikutip oleh Buvinic, op.cit.

44

55

...”  Saya  mengirimkan  surat  protes  ke  DPRD  dan  Bupati  dan  melaporkan  kejadian  pemotongan dana dan pencoretan nama dari daftar. Surat kami mendapat respon dan dusun  kami  didatangi  tim  dari  pemerintah  kabupaten.  Tapi  hingga  hari  ini,  prosesnya  belum  selesai...”. 

Langkah  yang  lebih  jauh  bahkan  dilakukan  oleh  Mbak  Endang  yang  tinggal  di  Piyungan. Merasa gerah dengan kelakukan beberapa perangkat lokal di tempatnya, ia juga  melaporkan kasus pemotongan dan pencoretan nama kepada pemerintah kabupaten. Ketika  petugas  kabupaten  datang,  nama‐nama  yang  dicoret  dimunculkan  kembali  dan  dana  pembangunan kembali rumah dicairkan sesuai dengan ketentuan. Tetapi setelah itu, masing‐ masing orang didatangi dan diminta potongan dengan beragam alasan.  

...”Macem‐macem  lah  alasannya. Katanya  potongan Rp  juta  dengan  kerelaan untuk  membangun jalan. Ada juga potongan untuk materai, untuk infaq. Mereka juga menekan warga  supaya tidak membocorkan informasi kepada petugas pengawas yang datang. Tetapi akhirnya  beberapa orang mengaku dan kemudian kepala desa ditegur oleh Bupati...” 

Akhirnya uang dikembalikan dengan disaksikan Badan Pengawas Daerah (Bawasda),  tetapi menurut warga ini hanyalah siasat untuk mengelabuhi pemerintah kabupaten. Beberapa  saat setelah itu, perangkat  yang nakal  kembali  bergerilya dan  menagih ‘potongan’  dana.  Melihat itu, maka kemudian ia melaporkan kasus ini ke Kjaksaan Negeri Bantul.  

Tapi rupanya, upaya‐upaya yang dilakukan para perempuan tangguh di atas dalam  melakukan pengawasan dan memperjuangkan hak masyarakat memang bukan jalan yang  mulus dan mudah. Tindakan Mbak Endang dibalas perangkat yang melakukan pemotongan  dengan memaksa warga untuk menandatangani surat pengusiran Endang dari dusun tempat  dimana ia tinggal. Tetapi warga tak mau mengikuti ini sehingga ia masih tetap tinggal di dusun  tersebut. Selain itu, bentuk tekanan yang lain adalah setiap malam,  rumahnya selalu disatroni  oleh orang tak dikenal. Sementara itu, Siti mengaku bahwa teror demi teror ia terima dalam  beragam bentuk. 

...” Saya diteror lewat sms, juga diancam kalau sampai pelakunya masuk penjara, kepala saya  taruhannya. Orang tua saya tidak siap dengan kondisi itu, apalagi karena pelaku pemotongan 

56 masih saudara dan saya anak perempuan satu‐satunya. Saya sebetulnya mau diam saja, tetapi  kok nggak selesai‐selesai...” 

Belakangan, tekanan demi tekanan yang diterima membuatnya lebih banyak diam.  Dalam kultur masyarakat yang patriarkhis,   perempuan yang diam adalah dianggap sebagai  kelaziman, sementara perempuan yang sering mengajukan protes dihadapkan pada tekanan  sistematis  yang  begitu  kuat.  Walau  beberapa  upaya  ini  belum  menunjukkan  hasil  yang  menggembirakan,  upaya  menerobos  kebuntuan  dan  memperjuangkan  hak  dalam  situasi  banyak  tekanan,  adalah  bukti‐bukti  tak  terbantahkan  akan  kekuatan  dan  kerelawanan  perempuan. 

 

Dalam dokumen Perempuan dan Kerelawanan dalam Bencana (Halaman 53-56)