• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

AKSESIBILITAS MASYARAKAT TERHADAP LAHAN KAMPUNG PENGARENGAN

6.4 Aksesibilitas Penduduk dalam Pengakuan sebagai Warga DKI Jakarta

Sebagai daerah yang tidak terdaftar menjadi bagian dari Kelurahan Kayu Putih Jakarta Timur, penduduk Kampung Pengarengan tentunya juga tidak terdaftar sebagai warga DKI Jakarta. Sebagian besar penduduk Kampung Pengarengan sebagaimana sudah dijelaskan pada Bab IV merupakan pendatang dari luar DKI Jakarta yang pada umumnya berasal dari daerah pedesaan. Dimana ketika bermigrasi, para penduduk biasanya tidak melengkapi diri dengan mempersiapkan dokumen-dokumen ataupun surat-surat keterangan pindah dari daerah asal. Sebagian penduduk masih mempertahankan status kependudukan dari daerah masing-masing dan hidup di Jakarta dengan menggunakan KTP dari daerah asal.

Kenyataannya walaupun penduduk tinggal di daerah yang tidak menjadi bagian atau tidak terdaftar di Kelurahan, tetapi ada beberapa warga yang mempunyai KTP

Jakarta. Mereka yang memegang KTP Jakarta umumnya merupakan penduduk yang memang sudah lama menempati Kampung Pengarengan sebagai tempat tinggal. Hal ini menurut pengakuan penduduk disebabkan karena proses pembuatan KTP saat ini sangat sulit, dan mereka dikenakan biaya hingga Rp.300.000 untuk pembuatannya.

“ penduduk yang punya KTP Jakarta biasanya penduduk yang sudah tinggal lama disini, kalau sekarang mau membuat KTP susah neng. Harus bayar sama kelurahan sampai Rp.300.000an. Makanya banyak penduduk yang lebih memilih pakai KTP kampung…” ungkap RDH (34 tahun) yang sampai saat ini masih mengunakan KTP asal Cirebon sebagai tanda pengenalnya.

Namun dalam penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan penduduk yang memiliki KTP Jakarta walaupun penduduk tersebut bukanlah penduduk yang sudah lama tinggal di Kampung Pengarengan. Penduduk tersebut adalah EKS. EKS memproses KTP Jakarta dengan cara mendaftar sebagai warga Kampung Pedongkelan RT 08 RW 15. EKS dalam proses pembuatan KTP juga membayar sejumlah uang kepada Kelurahan sebagai syarat kelancaran proses pembuatan tanda pengenal.

Adakalanya penduduk yang memiliki KTP Jakarta dan menjalani proses pembuatan KTP seperti yang dialami oleh EKS, yaitu dengan membayar sejumlah uang untuk kelancaran, memperoleh keuntungan. Sebagai contohnya ketika dilangsungkan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) pada tahun 2007 yang diselenggarakan oleh pemerintah sebagai kompensasi kenaikan bahan bakar minyak , beberapa warga miskin di wilayah Kampung Pengarengan yang memiliki KTP Jakarta didaftarkan oleh kelurahan sebagai warga yang menerima bantuan langsung tunai tersebut.

Penduduk yang memperoleh BLT mengakui bahwa dirinya dapat memperoleh bantuan disebabkan dirinya meminta kepada RT 08 RW 15 Kampung Pedongkelan untuk dibuatkan surat miskin yang akhirnya digunakan untuk mendaftar sebagai warga

miskin dan menerima BLT. Setelah ditanyakan kembali kepada penduduk yang menerima BLT, mereka mengungkapkan bahwa proses penerimaan BLT lebih mudah daripada ketika mereka mengurus pembuatan KTP. Diungkapkan juga oleh penduduk bahwa apabila seseorang sudah memiliki KTP Jakarta, maka akan lebih mudah untuk mengurus hal-hal administrasi yang berujung kepada bantuan yang berikan kepada pemerintah, seperti beras miskin (RasKin) dan BLT. Hal ini tentu mengungkap sebuah fakta di masyarakat bahwa walaupun penduduk yang tinggal didaerah tidak terdaftar tetap bisa memiliki aksesibilitas terhadap proses pembuatan KTP dan mendapatkan bantuan dari pemerintah, hanya dengan membayar sejumlah uang kepada oknum yang terkait.

Fakta lain yang terungkap adalah ketika pemilihan presiden tahun 2004 dan pemilihan gubenur Jakarta tahun 2007, Penduduk Kampung Pengarengan yang telah memiliki hak pilih memperoleh kartu pemilu. Penduduk yang memperoleh kartu pemilu tidak hanya penduduk yang memiliki KTP Jakarta, bahkan penduduk yang belum memiliki KTP Jakarta pun diberikan. Menurut keterangan dari penduduk, ketika beberapa bulan sebelum waktu pemilihan umum dimulai Kampung Pengarengan didatangi pihak dari Kelurahan Kayu Putih untuk mendata penduduk dalam pembuatan kartu pemilu agar dapat mengikuti pemilihan umum. Tempat Pemungutan Suara (TPS) dibangun di dua titik pusat aktivitas di kampung. Satu dibangun di tengan kampung, yang letaknya berdekatan dengan mesjid Nurul Barokah, dan yang kedua didirikan di pelataran rumah JTM yang terletak di dekat jalan utama Kampung Pengarengan.

Alasan pihak kelurahan memproses kartu pemilu untuk penduduk Kampung Pengarengan tidak dapat diungkap dalam penelitian ini. Namun, peneliti berasumsi bahwa kelurahan memproses kartu pemilu disebabkan oleh banyaknya kepentingan

politik dalam proses pemilu dimana partai-partai politik membutuhkan suara guna mendukung jalan mereka menuju kemenangan sehingga warga yang tidak memiliki surat keterangan tanda penduduk Jakarta-pun ikut didaftarkan.

6.4 Ikhtisar

Aksesibilitas definisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh keuntungan dari sesuatu (ability to derive benefits from things) termasuk diantaranya dari objek material, orang lain, lembaga, dan simbol (Peluso dan Ribot, 2003 dalam Elisabeth). Aksesibilitas masyarakat pendatang terhadap lahan Kampung Pengarengan tergolong ke dalam mekanisme akses hubungan sosial. Hubungan sosial seperti keluarga dan pertemanan sangat mempengaruhi bagi pendatang untuk dapat mengakses lahan di Kampung Pengarengan. Tanpa adanya hubungan sosial tentunya akan sulit bagi pendatang untuk bisa tinggal.

Pentingnya suatu hubungan sosial karena ketatnya peraturan di Kampung Pengarengan dengan melarang adanya bangunan baru yang dibangun di atas lahan tersebut. Bagi pendatang yang ingin tinggal di Kampung Pengarengan harus menunggu hingga ada tempat tinggal atau kontrakan yang sudah tidak ditempati oleh penduduk lain. Ditambah adanya pengawasan dari security yang ditempatkan PT. Pulomas Jaya yang bertugas mengkontrol keadaan lahan. Pendatang perlu memiliki “orang dalam” dalam usahanya agar dapat mengakses lahan. Sikap keberpihakan penduduk terhadap pendatang yang merupakan kerabat daripada pendatang yang tidak mempunyai hubungan sosial juga dapat menjadi faktor kesulitan pendatang untuk mengakses ke dalam lahan.

Penguasaan lahan di Kampung Pengarengan sudah memiliki aturan tidak tertulis diantara sesama penduduk. Penguasaan lahan di Kampung Pengarengan secara

umum diperoleh secara turun temurun. Pola penguasaan lahan di Kampung Pengarengan berbeda pada lahan pertanian dan lahan yang diusahakan untuk tempat tinggal (kontrakan). Penduduk yang telah tinggal lebih lama di daerah Kampung Pengarengan memiliki aksesibilitas lebih besar terhadap lahan dari pada pendatang. Khusus usaha lahan pertanian di Kampung Pengarengan, penduduk yang bisa melakukan usaha bertani adalah penduduk yang sudah turun temurun keluarganya melakukan usaha tani di lahan tersebut. Hal ini membuat kemungkinan bagi penduduk lain yang mempunyai minat tani untuk bekerja di bidang pertanian sangat tidak mungkin. Bagi penduduk yang tidak memiliki lahan pertanian hanya bisa membantu dalam pengusahaan lahan pertanian sebagai buruh tani, yang menerima upah dari pembagian hasil panen sesuai kesepakatan bersama.

Penguasaan lahan di Kampung Pengarengan untuk tempat tinggal dikuasai oleh satu kelompok tertentu, yaitu kelompok dari suku Madura. Hal ini disebabkan suku Madura merupakan kelompok yang pertama kali memanfaatakan lahan Kampung Pengarengan sebagai tempat tinggal. Suku Madura di Kampung Pengarengan cenderung lebih mengutamakan aksesibilitas terhadap tempat tinggal bagi pendatang yamg memiliki kesamaan identitas sosial. Bagi penduduk lain yang tidak memiliki kesamaan identitas sosial hanya bisa menguasai lahan sebagai tempat tinggal sendiri. Penguasaan lahan untuk dijadikan usaha tempat tinggal tidak dapat dilakukan oleh penduduk yang tidak termasuk ke dalam kelompok tertentu.

Aksesibilitas penduduk sebagai penunjang pergerakan roda ekonomi kota dapat dilihat dari peran penduduk Kampung Pengarengan. Peran ini terutama di lihat dari aplikasi mata pencaharian yang dianut seperti berdagang makanan, tukang pangkas rambut, tukang ojek, bengel motor, pemulung dan pembuat arang yang secara tidak

sadar merupakan bagian dari faktor ekonomi rakyat yang menopang ekonomi di Jakarta khususnya wilayah Pulomas dan sekitarnya. Sebagai salah satu contoh dilihat dari keberadaan pedagang makanan yang berperan untuk menyediakan keperluan logistik bagi masyarakat dan karyawam PT. Pulomas Jaya. Dimana apabila peran tersebut hilang, maka dapat menganggu proses kegiatan PT. Pulomas Jaya dan secara langsung juga berdampak terhadap masyarakat luas sebagai konsumen dari PT. Pulomas Jaya. Sehingga terciptanya hubungan mutualisme diantara keduanya.

Aksesibilitas penduduk Kampung Pengarengan dalam memperoleh status sebagai warga DKI Jakarta diperoleh dengan cara membayar sejumlah uang kepada kelurahan sebagai syarat kelancaran proses pembuatan tanda pengenal. Keuntungan yang diperoleh oleh penduduk yang mempunyai KTP Jakarta adalah penduduk dapat memproses untuk mendapatkan BLT pada tahun 2007. Proses penerimaan BLT sendiri diperoleh dengan cara mendaftar kepada kelurahan melalui RT 08 RW 015.

Hal menarik yang ditemukan selama penelitian adalah ketika masa pemilihan umum presiden tahun 2004 dan gubernur tahun 2007 penduduk Kampung Pengarengan yang sudah memiliki hak pilih, baik yang memiliki ataupun tidak memiliki KTP Jakarta mendapatkan kartu pemilihan umum penduduk tersebut dapat mengikuti pemilihan umum yang diselenggarakan di dalam kampung dengan dua tempat pemungutan suara (TPS) yang didirikan di pusat aktivitas kampung. Menurut peneliti hal ini disebabkan oleh banyaknya kepentingan politik dalam proses pemilu sehingga warga yang tidak memiliki surat keterangan tanda penduduk Jakarta-pun ikut didaftarkan.

BAB VII

KONVERSI LAHAN DALAM RANCANGAN TATA RUANG WILAYAH DAN