METODE PENELITIAN
LAHAN KAMPUNG PENGARENGAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK KONVERSI LAHAN DI PERKOTAAN
5.1 Proses Pembentukan Kampung Pengarengan (Awal Konveri Lahan)
Konversi lahan menurut Sihaloho (2004) memiliki pengertian sebagai proses alih fungsi lahan, khususnya dari lahan pertanian ke non-pertanian atau dari lahan non- pertanian ke lahan pertanian. Konversi lahan yang terjadi di Kampung Pengarengan merupakan alih fungsi lahan dari fungsi non-pertanian ke fungsi non-pertanian lainnya, yaitu sebagai daerah resapan air menjadi sebuah pemukiman. Konversi lahan yang terjadi di Kampung Pengarengan merupakan wujud dari pertambahan kepadatan penduduk di DKI Jakarta. Pertambahan penduduk di DKI Jakarta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertama pertambahan penduduk alami (natural increase) yang merupakan selisih antara jumlah kelahiran dan kematian, kedua pertambahan penduduk yang diakibatkan oleh faktor migrasi. Diantara wilayah-wilayah di Jakarta, Jakarta Timur merupakan wilayah dengan laju pertambahan penduduk tertinggi yang mencapai 10.445 jiwa per kilometer persegi untuk tahun 20073.
Bertambahnya penduduk di ibukota tidak diiringi oleh bertambahnya jumlah luas lahan yang dapat dimanfaatkan. Hal ini kemudian menimbulkan keterbatasan lahan untuk menampung dan menyediakan tempat tinggal bagi penduduk. Lahan-lahan dan ruang-ruang terbuka yang luasnya sangat terbatas menjadi daya tarik oleh penduduk untuk memanfaatkannya sebagai tempat tinggal. Ruang-ruang terbuka ini seperti di pinggir kali, di bawah jembatan (air maupun layang), taman-taman, pinggiran rel kereta api, dan di banyak tempat berbahaya lainnya (Ismail, 2000).
3
Pertambahan jumlah penduduk juga didasarkan kepada faktor pembangunan. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Menurut S.P. Siagian dikutip Ndhara (1997) dalam Sunito Melani pada Bab Perubahan Sosial, Sosiologi Umum (2003) mendefinisikan pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa negara dan pemerintah, menuju modernisasi dalam rangka pembinaan bangsa (nation building).
Pembangunan yang terjadi di kota terutama ibukota DKI Jakarta menjadi daya tarik bagi penduduk di daerah. Posisi Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia memberikan asumsi bagi pendatang bahwa Jakarta merupakan tempat yang menjanjikan kesuksesan ekonomi. Hal ini yang kemudian membuat pendatang terutama pendatang di daerah Kampung Pengarengan berani mengadu nasib bermigrasi ke ibukota.
“.. Saya pindah ke Jakarta karena ingin mencari kerja yang lebih baik dari pada di kampung, jika saya menetap dikampung pekerjaan yang mungkin saya lakukan hanyalah bertani dan bercocok tanam. Penghasilan yang saya peroleh lebih besar apabila saya bekerja di kota. Namun walaupun pendapatan yang diterima lebih besar, dengan biaya hidup yang tinggi tidak merubah status ekonomi menjadi kaya.” ujar MNR (45 tahun) yang sudah menjadi pendatang sejak tahun 1993 di Pengarengan.
Lahan Kampung Pengarengan pada awalnya belum ada penduduknya dan belum dimanfaatkan sebagai areal pemukiman. Kondisinya merupakan lahan rawa yang memiliki fungsi sebagai daerah resapan air untuk daerah pulomas dan sekitarnya Daya tarik untuk menempati daerah ini, selain dapat dijadikan tempat tinggal yang strategis (dekat waduk) juga dapat memberikan sumber nafkah hidup dengan memanfaatkan lahan-lahan sebagai areal pertanian. Dari hasil wawancara dengan informan terungkap bahwa lahan Kampung Pengarengan sebelumya dimiliki secara pribadi oleh beberapa
warga, yang hingga saat ini lahan tersebut sebagian besar sudah diberikan hak kelolanya kepada PT. Pulomas Jaya selaku penguasa dan pengusaha lahan.
Pemukiman di atas lahan Kampung Pengarengan pertama kali dibangun pada tahun 1980an. Pendatang yang berasal dari Madura pertama kali menempati lahan dengan membangun rumah dan membuka usaha pertanian. Sejak itu menimbulkan ketertarikan kepada pendatang lain baik yang berasal dari Madura dan daerah Jawa lainnya serta Luar-Jawa untuk juga bermukim di wilayah ini. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan YTI (66 tahun) yang sudah tinggal di Kampung Pengarengan sejak tahun 1986.
“..Dulunya disini masih merupakan lahan rawa dan semak belukar, belum ada banyak pemukiman. Bagi penduduk yang ingin pergi ke suatu tempat masih harus membuka jalannya sendiri dengan menggunakan arit. Pemukiman mulai banyak terbentuk sejak tahun 1980an yaitu ketika era pembangunan oleh mantan presiden Soeharto. Pendatang yang pertama tinggal di sini berasal dari suku Madura. Pemukiman yang terbentuk dahulu masih menggunakan kayu dan belum menggunakan bahan permanen seperti saat ini.” ujar YTI sambil memilah-milah barang di warung.
Pemukiman di Kampung Pengarengan berdasarkan penjelasan dari beberapa penduduk merupakan wujud perluasan pemukiman dari Kampung Pedongkelan yang sudah lebih dahulu tercipta. Awalnya pemukiman hanya terbentuk di sisi jalan raya saja, namun semakin banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di wilayah ini, maka luas kampung mulai melebar ke bagian dalam lahan rawa. Migrasi berantai yang terjadi di wilayah ini menjadi faktor pemicu bertambahnya jumlah penduduk di Kampung Pengarengan. Sikap penduduk pendatang yang cenderung mengajak serta sanak saudaranya untuk melakukan migrasi mempercepat proses konversi dari lahan rawa dengan fungsi sebagai daerah resapan air menjadi pemukiman. Penuturan dari gejala ini dapat dilihat dari penjelasan oleh JMR sebagai berikut.
“.. Biasanya setelah hari raya Idul Fitri Kampung Pengarengan mengalami lonjakan pertambahan penduduk yang kemudian membuat kampung ini menjadai tambah ramai. Banyak penduduk yang setelah dirinya pulang ke daerah asal masing-masing membawa balik sanak saudaranya yang akan bekerja di Jakarta.” Berikut penjelasan dari JMR
Pendatang baru di lahan Kampung Pengarengan sebelumnya dapat dengan bebas membangun tempat tinggal di wilayah ini sebagai tempat bermukim. Tidak adanya peraturan dan larangan bagi penduduk untuk membangun tempat tinggal mempercepat kepadatan yang terjadi di Kampung Pengarengan. Namun sejak wilayah Kampung Pengarengan menjadi daerah kekuasaan PT. Pulomas Jaya, untuk mendapatkan tempat tinggal para pendatang harus menyewa tempat tinggal dengan penduduk yang sudah bekerjasama (sudah mendapatkan izin) dengan PT. Pulomas Jaya dalam hal sewa menyewa dan mengusahakan lahan. Mengenai hal ini YTI (66 tahun) juga menyatakan antara lain
“ Sebelumnya penduduk pendatang yang menempati lahan Kampung Pengarengan memiliki kebebasan untuk membangun tempat tinggal di atas wilayah ini. Tidak ada peraturan yang melarang penduduk dalam hal pembangunan pemukiman. Tetapi sejak PT. Pulomas Jaya menguasai lahan Kampung Pengarengan, penduduk yang ingin bermukim di kampung ini harus menyewa rumah dengan pihak yang sudah mendapatkan izin dari PT. Pulomas Jaya dalam hal sewa menyewa lahan.”
Peraturan yang berubah mengenai pendirian bangunan pemukiman di Kampung Pengarengan membuat semakin berkurangnya kesempatan penduduk untuk dapat tinggal di kampung ini. Terbatasnya jumlah rumah sewaan membuat tidak sedikit penduduk bermukim dengan cara menumpang tinggal dengan saudara yang sudah lama menempati Kampung Pengarengan.
“..Penduduk pendatang yang tidak berhasil mendapatkan rumah sewaan pada umumnya menumpang tinggal dengan sanak saudaranya yang sudah terlebih dahulu menetap dikampung ini. Setelah nanti penduduk tersebut memiliki kesempatan dan
penghasilan untuk memperoleh rumah sewa, barulah penduduk tersebut pindah.” Penjelasan dari EKS
Peraturan yang terdapat didalam Kampung Pengarengan mengenai pendirian pemukiman harus didasarkan izin dari PT. Pulomas Jaya mendapatkan penolakan keras dari pihak PT. Pulomas Jaya sendiri. Pihak PT merasa tidak pernah membuat perjanjian apapun dengan masyarakat Kampung Pengarengan mengenai pendirian pemukiman. Perwakilan dari PT. Pulomas Jaya mengungkapkan bahwa pihaknya melarang keras adanya penduduk yang bermukim diatas lahan yang dikelolanya, dan mereka tentunya akan menindak keras penduduk yang masih tetap tinggal diatas lahan tersebut. Salah satu tindakan yang akan PT. Pulomas Jaya lakukan adalah melakukan pengusiran yang berujung kepada pengosongan lahan.
“Kami selaku pihak penguasa lahan tentunya melarang masyarakat untuk tinggal diatas lahan yang dikelola oleh kami. Apabila ada penduduk yang bermukim diatas lahan tentunya PT. Pulomas Jaya akan menindak tegas dengan melakukan usaha pengusiran, karena bagaimanapun keberadaan mereka ilegal diatas lahan tersebut” ungkap FTR selaku perwakilan dari PT. Pulomas Jaya.
Keterangan dari pihak PT. Pulomas Jaya tentunya berbeda dari keterangan yang sudah diutarakan oleh YTI dan EKS