Peneliti memulai penjajagan penelitian pada bulan Maret 2008. Pada awal penjajagan, peneliti terlebih dahulu mengamati Kampung Pengarengan dari depan Jalan Perintis Kemerdekaan dan juga Jalan Ahmad Yani yang berbatasan dengan Kampung Pengarengan. Kegiatan ini bertujuan agar peneliti mengetahui jalan masuk yang tepat untuk dilalui agar bisa masuk kedalam kampung. Setelah peneliti mengamati kampung dari kedua jalan tersebut, peneliti memutuskan untuk memasuki Kampung Pengarengan melalui jalan yang terletak disamping pos polisi Pulomas. Saat itu peneliti merasa segan untuk masuk kedalam kampung, disebabkan adanya rumor yang mengatakan bahwa Kampung Pengarengan merupakan markas dari Kapak Merah, kelompok perampok yang terkenal sering melakukan aksi di perempatan ITC Cempaka Mas. Sehingga peneliti memutuskan untuk pergi ke pos Polisi Pulomas terlebih dahulu sebelum memasuki kampung.
Pos polisi Pulomas saat peneliti melakukan pejajagan sedang dijaga oleh dua orang petugas. Setelah memperkenalkan diri, peneliti mengutarakan maksud kedatangan peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “ Konversi Lahan dan Dampak yang Ditimbulkan Terhadap Tata Guna Lahan Perkotaan” di lahan Kampung Pengarengan. Setelah mendengar maksud peneliti, petugas yang berjaga di pos polisi Pulomas menyambut baik penelitian yang akan dilaksanakan, dan berjanji akan sebisa mungkin membantu apabila diperlukan. Kemudian petugas menyarankan peneliti untuk masuk ke dalam kampung dan tidak usah takut. Petugas meyakinkan peneliti bahwa Kampung Pengarengan merupakan tempat yang aman. Peneliti akhirnya menuruti saran petugas dan mencoba masuk ke dalam kampung.
Peneliti menyusuri jalan disamping pos polisi Pulomas untuk masuk ke dalam Kampung Pengarengan. Ketika peneliti menyusuri jalan menuju kampung, banyak sekali terdapat gerobak-gerobak yang terletak tidak teratur di samping jalan. Peneliti pun menyadari bahwa jalan yang peneliti tempuh bukan merupakan jalan utama menuju kampung, tetapi salah satu jalan alternatif menuju kampung. Saat peneliti menyusuri kampung, peneliti bertemu dengan bapak-bapak yang sedang memilah barang dari gerobaknya, kemudian bapak tersebut spontan bertanya “ mau ngapain neng?” peneliti kemudian tersenyum dan mengenalkan diri lalu menjelaskan bahwa peneliti ingin melihat-lihat daerah sekitar kampung. Setelah pertemuan singkat tersebut peneliti melanjutkan berjalan lebih dalam kearah kampung hingga menuju ke lahan pertanian yang berada di belakang kampung berdekatan dengan Waduk Ria-Rio. Setelah melakukan pengamatan hari itu, peneliti memutuskan untuk pulang. Tiga hari kemudian peneliti peneliti kembali lagi ke Kampung Pengarengan untuk melakukan pengamatan mengenai cara pendekatan kepada penduduk.
Akhir bulan Maret, peneliti baru berkesempatan untuk mendatangi kantor PT. Pulomas Jaya yang letaknya di Jalan Ahmad Yani dan tidak jauh dari Kampung Pengarengan. Keinginan peneliti untuk melakukan penelitian di atas lahan milik perusahaan tersebut disambut sangat baik, pihak PT. Pulomas Jaya bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan terkait data yang diperlukan untuk mendukung kesuksesan penelitian ini.
Setelah studi penjajagan berakhir, peneliti mulai melakukan penelitian pada mulai April 2008. Pada awal penelitian, peneliti seorang diri menyusuri Kampung Pengarengan untuk mencari responden atau tineliti. Saat itu peneliti memiliki perasaan takut, hal ini dikarenakan sikap penduduk yang memandang peneliti dengan curiga setiap berpapasan dijalan. Namun peneliti berusaha bersikap ramah dengan memberi salam setiap bertemu dengan penduduk. Peneliti kemudian tertarik untuk mendatangi sekelompok pemuda yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah. Ketika mendatang sekolompok pemuda tersebut peneliti disambut dengan ramah, hal ini membuat peneliti merasa lebih percaya diri untuk memulai penelitian. Peneliti mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan peneliti ke Kampung Pengarengan. Proses wawancara pun dimulai. Peneliti mencoba membuat suasana wawancara senyaman mungkin, dengan cara membuat kegiatan wawancara seperti kegiatan mengobrol dengan teman. Peneliti menghabiskan waktu hingga hampir 35 menit dalam melakukan wawancara dengan sekelompok pemuda tersebut. Setelah itu peneliti menanyakan kemanakah sebaiknya peneliti melanjutkan perjalanan berkeliling kampung, para pemuda tersebut menyarankan peneliti untuk menuju lokasi pembuatan arang yang terletak tidak jauh dari tempat peneliti berdiri.
Peneliti melanjutkan perjalanan menuju tempat pembuatan arang, namun sebelum menuju ke tujuan, peneliti berhenti di sebuah warteg untuk makan siang yang kemudian berlanjut kepada perkenalan dengan pemilik warung. Wawancara kedua pun dilakukan. Setelah bertemu dengan tineliti keempat, peneliti diarahkan kepada sejumlah tineliti lain dan informan. Hari demi hari peneliti lalui dengan lebih tenang ketika mengunjungi Kampung Pengarengan, peneliti sudah mulai akrab dengan suasana dan keadaan kampung, peneliti juga sudah hafal dengan jalan-jalan yang ada di Kampung Pengarengan. Beberapa penduduk pun sudah mengenal peneliti karena sering mengunjungi kampung.
Minggu berikutnya peneliti mendatangi kantor PT. Pulomas Jaya untuk meminta data yang diperlukan dan melakukan wawancara dengan pihak PT. Pulomas Jaya selaku informan utama. Penjelasan yang diberikan oleh perwakilan PT. Pulomas Jaya cukup membuat peneliti mendapatkan banyak data untuk melengkapi penelitian yang sedang dilakukan. PT. Pulomas Jaya pun tetap bersikap sangat ramah dan bersedia membantu peneliti apabila masih ada data yang diperlukan untuk melengkapi penelitian yang sedang dijalankan.
Pada hari Rabu tanggal 23 April 2008 peneliti berencana untuk datang ke Kelurahan Kayu Putih dengan tujuan meminta data yang dapat mendukung penelitian. Sesampainya di Kelurahan, peneliti langsung menemui Sekretaris Lurah. Saat bertemu peneliti menyerahkan surat pengantar dari IPB dan juga menjelaskan penelitian yang sedang dilaksanakan. Namun ternyata pihak kelurahan enggan memberikan data terkait lahan Kampung Pengarengan, dengan alasan bahwa peneliti seharusnya mendapatkan surat pengantar dari Walikota Jakarta Timur dengan alasan birokrasi, dan selama peneliti belum memilki surat tersebut pihak kelurahan tidak akan memberikan data apapun. Peneliti hari itu juga pergi menuju kantor Walikota Jakarta Timur, namun pihak dari walikota sendiri tidak mau memberikan data apabila tidak ada surat pengantar dari kampus.
Tanggal 14 Mei 2008 peneliti baru dapat pergi ke Walikota Jakarta Timur untuk kedua kalinya, disebabkan proses yang memakan waktu lama ketika mengurus surat di IPB. Sesampainya di gedung Walikota Jakata Timur, peneliti di arahkan oleh satpam untuk menuju ruang Kesatuan Bangsa. Dimana dikatakan apabila seorang mahasiswa
ingin melakukan penelitian seharusnya mendaftarkan diri dahulu ke bagian Kesatuan Bangsa. Penelitipun menuju kesana. Ketika di ruang Kesatuan Bangsa peneliti menemui seorang petugas dan menjelaskan maksud kedatangan peneliti dengan menyerahkan surat pengantar dari IPB. Setelah petugas mendengar penjelasan dan melihat surat pengantar dari IPB, beliau langsung memberitahukan bahwa saya tidak bisa mendapatkan data apabila saya tidak ada surat pengantar dari DKI Jakarta dan dari Pemerintahan daerah Bogor yang memberitahukan bahwa peneliti akan meakukan penelitian. Petugas tersebut mnegutarakan alasannya yaitu disebabkan universitas peneliti tidak terdapat di daerah Jakarta Timur. Menurut peneliti hal ini sangat aneh, apakah memang birokrasi di Jakarta sangat susah. Peneliti sempat berargumen dengan mengutarakan bahwa tempat penelitian yang dilaksanakan berada di daerah Jakarta Timur, dan mengapa harus peneliti meminta surat terlebih dahulu dari Pemkot DKI Jakarta dan Pemda Bogor. Namun sang petugas pun tetap pada pendiriannya bahwa mereka tidakakan memberikan data apapun sebelum adanya surat pengantar.
Kejadian yang terjadi di Kelurahan dan di kamtor Walikota Jakarta Timur, sempat membuat peneliti putus asa dalam melakukan penelitian, karena saat itu peneliti sudah mendapatkan beberapa data dan yang kurang adalah data mengenai RTRW Kampung Pengarengan. Akhirnya ditengah keputus asaan, peneliti menemukan cara untuk mendapatkan blue print mengenai RTRW Kampung Pengarengan melalui proses komersil dari pihak Dinas Tata Ruang Jakarta Timur. Peneliti terpaksa memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan semua data dan melakukan wawancara kilat dengan pihak dari Dinas Tata Ruang demi melengkapi data yang diperlukan untuk penelitian.
Menjelang akhir bulan mei tepatnya tanggal 25 Mei 2008 peneliti melanjutkan penelitian di Kampung Pengarengan dengan melakukan pengamatan berperanserta- terbatas melalui ikut seta dalam kegiatan mengamen, karena biasanya setiap hari Minggu banyak sekali penduduk Kampung Pengarengan baik anak kecil ataupun orang tua yang berjualan ataupun mengemis disekitar Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Ahmad Yani. Peneliti merasa saat itu menjadi bagian dari salah satu komunitas pengamen walaupun mereka tidak mengizinkan peneliti untuk ikut mengamen di jalanan dengan alasan muka peneliti tidak pantas menjadi seorang pengamen, sehingga peneliti hanya diperkenankan menunggu mereka dipinggir jalan, dan ketika lampu lalu lintas menunjukan warna hijau, mereka para pengamen kembali kepinggir jalan dan melanjutkan diskusi yang dilakukan dengan peneliti.
Penelitian yang dilakukan di Kampung Pengarengan berakhir pada bulan Juni. Namun setelah itu peneliti masih sesekali berkunjung ke kampung untuk melengkapi data yang kurang, seperti kurang jelasnya data yang telah didapatkan sebelumnya ketika wawancara. Terakhir peneliti berkunjung ke Kampung Pengarengan untuk pengambilan foto guna melengkapi lampiran penelitian.
Lampiran 4. Contoh Penduduk
Riwayat Kasus Keluarga Bapak Tuki di Kampung Pengarengan
Aksesibilitas masyarakat pendatang terhadap lahan di Kampung Pengarengan salah satunya dapat dilihat dalam contoh keluarga bapak Tuki. Pak Tuki merupakan salah satu responden dalam penelitian ini dan merupakan pendatang asal Bogor yang tinggal di Kampung Pengarengan sejak tahun 1992. Tuki tinggal di Kampung Pengarengan bersama dengan istri dan keempat anaknya. Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan peneliti, beliau mengungkapkan bahwa dirinya sering berpindah-pindah tempat tinggal sebelum akhirnya menetap di Kampung Pengarengan. Sebelumnya beliau menetap di salah satu pemukiman kumuh di daerah Jakarta Pusat, didaerah Kampung Kebun Kacang sejak tahun 1950 yang saat ini sudah menjelma menjadi daerah Bunderan Hotel Indonesia dan Jalan Thamrin. Cerita mengenai Kampung Kebun Kacang yang diutarakan oleh Tuki membuat peneliti mengingat tentang buku karya Jellinek, Lea mengenai suatu konsep perubahan sosial yang terjadi di sebuah kampung di Jakarta.
Terkonversinya Kampung Kebun Kacang menjadi pusat bisnis dan perdagangan membuat Tuki dan keluarga berpindah tempat tinggal menuju pemukiman kumuh berikutnya yang letaknya tidak jauh dari Kampung Pengarengan, yaitu di lahan yang saat ini sudah dibangun menjadi ITC Cempaka Mas. TKI mengakui bahwa beliau mengetahui mengenai lahan ITC Cempaka Mas dari salah satu temannya yang dahulu sama-sama tinggal di daerah Kebun Kacang. Mata pencaharian Tuki berubah sejak beliau tinggal di lahan ITC Cempaka Mas, beliau dari seorang pedagang menjadi seorang pemulung. Kemudian yang paling berkesan bagi Tuki ketika tinggal di lahan tersebut adalah peristiwa kelahiran anak ke-empatnya. Namun keberadaan beliau di atas lahan tersebut berakhir pada tahun 1992 disebabkan oleh perencanaan pembangunan ITC Cempaka Mas yang menginginkan lahan tersebut segera dikosongkan. Hal inilah yang akhirnya membuat Tuki dan keluarganya pindah dan menetap di Kampung Pengarengan.
Aksesibilitas Tuki terhadap lahan Kampung Pengarengan ketika masa tahun 1992 tidak sesulit seperti saat ini, dimana adanya hubungan sosial sangat berpengaruh dalam akses pendatang terhadap lahan, tetapi tidak dipungkiri juga oleh Tuki bahwa beliau berhasil menetap di Kampung Pengarengan atas bantuan salah satu teman. Ketika pertama kali tinggal di Kampung Pengarengan, Tuki membangun tempat tinggalnya sendiri yang hingga saat ini masih ditempatinya bersama sang istri. Pada masa Tuki pindah ke Kampung Pengarengan keadaan kampung tidak seramai saat ini, tentu saja hal ini membuat pendatang lebih mudah untuk membangun pemukiman diatasnya, ditambah lagi saat itu belum adanya kontrol PT. Pulomas Jaya terhadap lahan.
Sudah hampir 20 tahun Tuki bermukim di Kampung Pengarengan, dan hingga saat ini beliau berhasil membangun empat rumah untuk setiap anaknya. Pembangunan rumah tersebut diakui beliau atas usahanya sendiri bekerja sebagai pemulung. Tuki dan keluarganya tidak tenang begitu saja setelah berhasil bermukim di Kampung Pengarengan. Setiap tahunnya pada saat bencana banjir melanda daerah Pulomas dan sekitarnya, Tuki dan ratusan keluarga lain di Kampung Pengarengan harus mengungsi kebawah Jalan Tol (jalan bebas hambatan) Wiyoto Wiyono atau yang akrab disebut oleh penduduk Kampung Pengarengan sebagai ”rumah panjang”, karena mereka tinggal di
sepanjang bawah jalan tol tersebut. Musibah lain yang pernah menimpa Kampung Pengarengan adalah kebakaran yang terjadi pada tahun 2007 secara dua kali berturut- turur. Saat musibah kebakaran terjadi banyak pemukiman penduduk yang terbakar, termasuk juga Mesjid Nurul Barokah. Perbaikan dari musibah kebakaran tersebut dilakukan secara swadaya oleh penduduk.
Lampiran 3. Gambar Wilayah Kampung Pengarengan
Kampung Pengarengan yang berbatasan langsung dengan jalan raya.
Akses utama menuju kedalam Kampung Pengarengan.
Tipe-tipe tempat tinggal yang terdapat pada Kampung Pengarengan
Tipe-tipe tempat tinggal yang terdapat pada Kampung Pengarengan
Salah satu mata pencaharian
di Kampung Pengarengan : Pemulung.
Salah satu mata pencaharian di Kampung Pengarengan : Pengemis dan Pedagang.
Lampiran 4. Gambar Wilayah Dalam Kampung Pengarengan
Kali yang membatasi antara Kampung Pengarengan dan Kampung Pedongkelan
Pemandangan yang umum didalam Kampung Pengarengan. Getek
Batas kali antara Kampung Pengarengan dan Kampung Pedongkelan, serta getek yang digunakan untuk
mmenyeberang
Bukti nyata dari kepemilikan lahan di Kampung
Pengarengan
Salah satu contoh lahan pertanian hortikulutura yang terdapat di Kampung