METODE PENELITIAN
KONVERSI LAHAN DALAM RANCANGAN TATA RUANG WILAYAH DAN APLIKASINYA DI MASYARAKAT KAMPUNG PENGARENGAN
7.3 Rancangan Tata Ruang Wilayah Kampung Pengarengan
Menurut Jayadinata (1999), ruang adalah seluruh permukaan bumi termasuk lapisan biosfer tempat kehidupan bagi mahluk hidup. Ruang dapat diartikan sebagai suatu wilayah dengan batas geografi tertentu yang terdiri dari lapisan tanah dibawahnya serta lapisan udara diatasnya dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan. Tata ruang merupakan wujud struktural pemanfaatan ruang dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak. Penataan ruang tidak terbatas pada dimensi perencanaan
tata ruang saja, tetapi termasuk juga dimensi pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan landasan pembangunan sektoral, dengan tujuan agar terjadi sinergi dan efisiensi pembangunan, sekaligus menghindari kemungkinan terjadinya konflik pemanfaatan ruang antar sektor- sektor yang berkepentingan dan dampak yang dapat merugikan masyarakat luas (externalities).
Menurut RTRW yang ditetapkan oleh pemerintah DKI Jakarta sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur No 1459 Tahun 1992 daerah Kampung Pengarengan seperti telah diungkapkan ditetapkan sebagai daerah ”Keperuntukan Untuk Taman” atau (KUT). Secara khusus, fungsi KUT adalah sebagai: 1) pemelihara keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan, 2) sarana memperkecil polusi udara, air, suara, dan visual, 3) sarana peresapan air hujan, dan 4) potensi dasar untuk menunjang ekosistem dan ekologi kota.
Lahan Kampung Pengarengan seharusnya menjadi kawasan taman dengan fungsi sosial. Apabila menjadi taman, maka fungsi sosial wilayah ini dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, tidak hanya penduduk pulomas, tetapi secara lebih luas dirasakan oleh penduduk Jakarta.
Fakta yang ada di lapangan justru Kampung Pengarengan berubah dari fungsi taman menjadi pemukiman. Pembentukan pemukiman kumuh Kampung Pengarengan dengan alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya pada Bab V telah menimbulkan suatu penyimpangan terhadap Rancangan Tata Ruang Wilayah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Penyimpangan tata ruang yang terjadi di kampung ini tentunya juga menimbulkan perubahan fungsi lahan.
Pembentukan pemukiman berdampak kepada penyimpangan lainnya, yaitu terbentuknya tempat usaha di Kampung Pengarengan. Tempat usaha yang terbentuk, seperti warung, tempat cukur rambut, hingga lahan pertanian yang tentunya sangat berbeda dengan fungsi taman.
Penyimpangan terhadap Rancangan Tata Ruang Wilayah juga dilakukan oleh PT. Pulomas Jaya dalam rencananya membangun business and culture comlplex di lahan Kampung Pengarengan. Tujuan PT. Pulomas memang untuk optimalisasi lahan dan sebagai salah satu bentuk kontribusi kepada Jakarta Timur, tetapi bentuk dan cara pengoptimalisasian yang dilakukan berbeda dengan rencana yang dibuat oleh pemerintah. Bentuk-bentuk penyimpangan yang terjadi di Kampung Pengarengan dapat dilihat di Tabel 2.
Tabel 2. Penyimpangan Rancangan Tata Ruang Wilayah yang terjadi di Kampung Pengarengan. No Uraian RTRW Penyimpangan terhadap RTRW Penjelasan 1 Pemukiman Kampung Pengarengan SK Gubernur 1459 tahun 1992 sebagai KU Taman
Pemukiman Pembentukan pemukiman Kampung Pengarengan menyebabkan perubahan fungsi lahan taman menjadi
pemukiman. Fungsi taman yang seharusnya dapat dirasakan oleh seluruh warga Pulomas menjadi hilang dengan terbentuknya Kampung Pengarengan. 2 Tempat Usaha di Kampung Pengarengan SK Gubernur 1459 tahun 1992 sebagai KU Taman
Lahan usaha Warga yang bermukim di Kampung Pengarengan membuka usaha seperti warung dan sebagainya. Pembentukan tempat usaha tentunya sangat
menyimpang dari fungsi awal lahan sebagai taman.
3 Lahan PT Pulomas SK Gubernur 1459 tahun 1992 sebagai KU Taman
Business and culture complex
Pengembangan Waduk Ria Rio yang diiringi dengan rencana pembangunan
business and culture complex mulai tahun 2008. oleh PT Pulomas Jaya merupakan penyimpangan kedua yang mungkin terjadi di lahan Kampung Pengarengan. Namun disebabkan hingga saat ini proyek tersebut belum dijalankan maka belum bisa dikatakan sebagai penyimpangan, tetapi rencana penyimpangan.
Dengan terjadinya penyimpangan RTRW, Kampung Pengarengan saat ini lebih memiliki fungsi sebagai fungsi komersil. Fungsi sosial yang sudah ditetapkan oleh pemerintah (keperuntukan sebagai taman) semakin melemah dengan berkembangnya pemukiman. Penyimpangan RTRW tentunya juga berkaitan terhadap aksesibilitas masyarakat. Apabila Kampung Pengarengan difungsikan sesuai dengan ketentuannya maka seluruh masyarakat dapat mengakses lahan. Dengan adanya pemukiman, hanya penduduk yang tinggal di Kampung Pengarengan ataupun penduduk yang mempunyai hubungan sosial dengan pendatang yang dapat mengakses lahan.
Perencanaan pembentukan Business and Culture Complex yang direncanakan oleh PT. Pulomas Jaya juga tidak merubah fungsi lahan yang seharusnya menjadi fungsi sosial. Bahkan lahan akan lebih bersifat komersil dengan dibangunnya pusat bisnis dan perdagangan. Walaupun dengan perencanaan pembangunan tersebut masyarakat dapat mengakses lahan, tetapi tetap saja hal ini menyimpang dengan fungsi awal yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
Penjelasan yang bisa diungkapkan oleh peneliti adalah pada lahan Kampung Pengarengan terjadi dua penyimpangan terkait tata ruang. Penyimpangan pertama, adalah adanya pembentukan pemukiman di Kampung Pengarengan. Penyimpangan timbul ketika awal pembentukan pemukiman yang dilakukan oleh para masyarakat pendatang. Pembentukan pemukiman tidak terdapat di dalam rencana dinas tata ruang dalam pemanfaatan lahan Kampung Pengarengan yang pada dasarnya merupakan lahan yang diperuntukan sebagai taman dan masih termasuk ke dalam ruang terbuka hijau. Pembentukan pemukiman di lahan ini membawa dampak ekologi dan sosial, baik yang negatif maupun postif.
Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas pemukiman kampung Pengarengan adalah terjadinya banjir rutin tahunan di sekitar Pulomas, pencemaran akibat limbah rumah tangga, dan pemukiman kumuh yang mengganggu estetika penampilan ruang dan wilayah. Dampak positif dari konversi lahan menjadi pemukiman adalah adanya peningkatan nilai ekonomis lahan.
Penyimpangan kedua adalah rencana pengembangan business and culture complex oleh PT. Pulomas Jaya. Program ini dapat diungkapkan sudah menjadi rencana pihak PT sejak hak kelola lahan wilayah Pengarengan dikembalikan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta kepada PT Pulomas. Namun realisasinya diharapkan akan terlaksana pada tahun 2008 ini. Walaupun rencana ini memilik dampak positif, seperti semakin luasnya akses masyarakat terhadap lahan, tetapi pihak-pihak terkait seperti pemerintah dan perusahaan yang terkait melupakan dampak negatif baru yang kemungkinan besar timbul. Yaitu munculnya “Kampung-Kampung Pengarengan” baru di lahan-lahan dan ruang-ruang publik lain. Penduduk Kampung Pengarengan tentunya tidak akan menyerah untuk hidup di dalam kemelut ibukota. Munculnya pemukiman yang sejenis dengan Kampung Pengarengan merupakan hal yang tidak dapat dielakkan, kecuali pemerintah dapat memberikan ruang khusus untuk menampung harapan mereka.
7.4 Ikhtisar
Sesuai dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah yang dikeluarkan Pemda DKI dengan Surat Keputusan Gubernur No 1459 Tahun 1992, daerah lahan Kampung Pengarengan ditetapkan sebagai daerah KUT atau sebagai daerah Karya Umum Taman.
Dengan rencana seperti ini, pemanfaatan lahan dapat dinikmati oleh warga di sekitar Pulomas, sebagai sarana rekreasi dan hiburan. Pemanfaatan wilayah ini sebagai kawasan terbuka hijau juga dapat mencegah terjadinya banjir tahunan yang saat ini melanda daerah Pulomas.
Pada kenyataaannya lahan ini dimanfaatkan sebagai pemukiman oleh warga masyarakat pendatang. Pemukiman ini telah ada sejak tahun 1980 akhir dan semakin meluas hingga mencapai 85 persen luas lahan. Adanya pemukiman kumuh di lahan ini merupakan penyimpangan dari RTRW yang ditetapkan oleh pemerintah DKI Jakarta. Selain itu, sejak hak kelola wilayah Kampung Pedongkelan dan Pengarengan diberikan kepada PT. Pulomas Jaya, rencana pemanfaatan wilayah berubah menjadi kawasan bisnis dan hunian terpadu.
Rencana pengembangan business and culture complex oleh PT. Pulomas Jaya merupakan penyimpangan kedua yang mungkin akan terjadi dari RTRW yang sudah ditetapkan. Rencana pengembangan business and culture complex akan dilaksanakan mulai tahun 2008 setelah rencana pembentukan Waduk Ria Rio disetujui Pemerintah Propinsi DKI Jakarta tahun 2007.
BAB VIII