• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Aksi Bersama ( Collective Action )

Menurut Undang Undang Dasar 1945 Pasal 33 dinyatakan bahwa hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah sebagai agents dalam pelaksanaan pembangunan adalah melakukan pengurusan hutan sesuai yang diamanatkan oleh rakyat sebagai pemberi kepercayaan (principal) untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat/principal.

Keberadaan sumberdaya hutan tersebut memberikan fungsi dan manfaat baik langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung dinikmati oleh pemegang hak pengelolaan hutan, sedangkan manfaat tidak langsung dinikmati masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Manfaat langsung tersebut antara lain adalah kayu, rotan, getah, dan lain-lain. Sedangkan manfaat tidak langsung antara lain adalah pengendali erosi, penjaga kesuburan tanah, penyerap karbon, dan lain sebagainya (Kartodihardjo 2006). Pemanfaatan barang dan jasa sumberdaya hutan tersebut menimbulkan hubungan saling ketergantungan dalam keberlanjutan pengelolaannya.

Hubungan saling ketergantungan tersebut akan susah dikendalikan pada hutan dengan karakteristik milik bersama. Hal ini dikarenakan pada kondisi hutan yang demikian tidak dapat mengeluarkan yang tidak berhak, sehingga cenderung mengalami kerusakan dari waktu ke waktu. Terlebih lagi diperparah dengan kehadiran perilaku penunggang gratis, pencari keuntungan, dan perilaku memanfaatkan kesempatan dalam pemanfaatan barang dan jasa sumberdaya hutan. Perilaku-perilaku tersebut perlu dikendalikan agar tidak cepat menimbulkan kerusakan hutan yang lebih parah.

Dari kondisi tersebut di atas sudah dapat digambarkan betapa pentingnya melakukan suatu aksi bersama (collective action) untuk pengambilan keputusan

bersama pengelolaan hutan untuk kepentingan masyarakat/bangsa/negara. Apabila sumberdaya hutan milik publik tidak dapat ditegakkan haknya dalam melakukan aksi bersama maka akan terjadi eksploitasi secara berlebihan untuk memaksimumkan pemanfaatan para individu yang dapat mengakses (Hardin 1968). Pernyataan Hardin tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari ahli kelembagaan seperti Ostrom (1990); Thompson (1992); McGinnis dan Ostrom (1996); Gibson dan Koontz (1998); Agrawal dan Gibson (1999); dan Gibson et al.

(2000). Para pengguna sumberdaya tersebut menciptakan tatanan kelembagaan dan mengalokasikan pemanfaatan sumberdaya secara efisien melalui aksi bersama. Tetapi tidak semua pengguna sumberdaya milik bersama berhasil melindungi dan mengelola sumberdaya secara lestari. Demikian juga tidak semua pemilik sumberdaya pribadi dapat melindungi dan memanfaatkan sumberdayanya secara lestari. Keberlanjutan pengelolaan hutan lokal sangat ditentukan pada kekuatan institusi/kelembagaan lokal yang mengatur pemanfaatan hutan, pengawasan, dan pemeliharaannya. Hal ini mengimplikasikan bahwa pengakuan dan kerjasama kelembagaan tingkat lokal dalam merumuskan kebijakan sangat penting bagi tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan pengelolaan sumberdaya hutan yang masih ada (Ghautam dan Shivakoti 2005).

Membangun aksi bersama bukanlah hal yang mudah, banyak kendala yang harus dihadapi. Beberapa kompleksitas dalam membangun aksi bersama yang perlu diperhatikan, antara lain adalah (Nugroho dan Kartodihardjo 2009): 1) ukuran kelompok (group size) sangat menentukan keefektifan aksi bersama, 2) penunggang gratis yang muncul seringkali tidak segera ditindak sehubungan dengan kedekatan‐kedekatan hubungan sosial dan persaudaraan serta filosofi menjunjung tinggi keharmonisan dalam menjalankan kehidupan sehari‐hari masyarakat pedesaan. Penunggang gratis yang tidak segera ditindak akan segera membangun kelompok strategis (aliansi strategis) dengan pihakpihak lain, 3) heterogenitas komunitas sangat mempengaruhi tingkat kemudahan dalam membangun aksi bersama. Semakin homogen masyarakat, semakin mudah membangun aksi bersama, walaupun tidak berarti tidak mungkin untuk membangun aksi bersama pada masyarakat yang heterogen, 4) aksi‐aksi bersama membutuhkan kesepakatan multi pihak yang pada banyak kejadian memerlukan

biaya transaksi (transaction costs) yang lebih mahal dibanding kesepakatan‐kesepakatan bilateral, 5) keberagaman kepentingan dan kecenderungan individu pada dasarnya sulit diagregasikan maupun dirataratakan, pilihan tersebut menyebabkan pengambil keputusan untuk membuat satu aturan untuk semua (one size fits all), padahal pada kenyataannya multi aspirasi, 6) aksi bersama memerlukan multilateral give and take, manfaatmanfaat yang dihasilkan tidak secara langsung mudah diperoleh (indirect benefits) dan tidak selamanya bersifat saling menguntungkan (non mutual), serta hasil‐hasil kerjasama kolektif sering tidak segera dapat dirasakan. Kondisi demikian akan menyebabkan kerusakan moral, penunggang gratis dan perilaku memanfaatkan kesempatan, yang pada akhirnya akan menyebabkan munculnya kerusakan sumberdaya milik bersama, 7) kepentingan dan pilihan kolektif sering disampaikan secara tidak sempurna yang mengakibatkan pengambilan keputusan dilakukan secara voting yang pada dasarnya tidak menjamin terwakilinya preferensi individu‐individu yang terlibat, 8) pengambilan keputusan kolektif sering dilakukan dengan sistem perwakilan yang rentan menimbulkan masalah hubungan pemberi—penerima kepercayaan dan memerlukan biaya perwakilan (agency costs) yang mahal, 9) apabila wakil yang ditunjuk adalah adalah partai politik dan birokrat cenderung akan memunculkan fenomena pengusaan yang besar oleh yang kecil (exploitation of the majority by minorities), karena pada dasarnya mereka memiliki kepentingan‐kepentingan sendiri yang sulit dideteksi, 10) apabila biaya keikutsertaan dalam pengambilan keputusan bersama dan biaya informasi untuk mengetahui keragaan, motif dan kepentingan para wakil mahal dan tidak tertanggulangi oleh individuindividu yang terlibat, maka pemberi kepercayaan menjadi tidak aktif dan mentoleransi keputusan yg dibuat wakilwakilnya (rationally ignorant).

Kompleksitas membangun aksi bersama seperti diuraikan di atas tidak dimaksudkan untuk menghindari aksi bersama dalam penerapan mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama. Mengingat kemanfaatan aksi bersama yang sangat strategis dalam penerapan pengelolaan sumberdaya tersebut, maka kompleksitas‐kompleksitas tersebut perlu dicarikan jalan keluarnya. Untuk itu beberapa langkah perlu dilakukan, antara lain: 1) membangun kesaling‐percayaan

(trust) di antara para pihak yang akan terlibat dalam mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama. Dengan adanya kesaling‐percayaan akan mengurangi minat individuindividu untuk berperilaku penunggang gratis, biaya transaksi dapat diminimalkan, akan memudahkan membagun koordinasi antar pihak, dan ikatan soial (social cohesion) dapat ditingkatkan, 2) penetapan skala penerapan mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama yang tepat. Hal ini akan mempengaruhi ukuran kelompok. Apabila penerapan mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama mengharuskan skalanya besar, maka perlu dipertimbangkan untuk memecah ukuran kelompok ke dalam subsub kelompok yang lebih kecil, namun masih tetap memiliki kemampuan investasi yang memadai, 3) memastikan bahwa mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama yang dibangun benar‐benar dapat memecahkan masalah kolektif yang sedang dihadapi. Hal ini berkaitan dengan ketepatan pendefinisian akar masalah, tawaran solusi dan kondisi pemungkin yang diperlukan. Ketepatan mekanisme yang dibangun akan semakin mendekati kebutuhan lokal apabila identifikasi dilakukan oleh individu/kelompok/lembaga‐lembaga yang mempunyai basis pendampingan masyarakat lokal dengan mekanisme partisipatif, 4) untuk menumbuhkan partisipasi yang benar, maka diperlukan penguatan kapasitas para pihak baik melalui pembangkitan kesadaran (raising awareness), penjelasan konsepsi maupun penyediaan informasi yang tepat dan akurat. Tanpa kapasitas yang sepadan di antara para aktor, maka proses partisipatif dalam arti sesungguhnya akan sulit dicapai. Dengan demikian perbedaan kepentingan‐kepentingan para pihak dapat didekatkan dan mampu diekspresikan dengan sempurna, 5) aturan dalam mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama yang dibangun memungkinkan keikutsertaan dalam pengambilan keputusan secara langsung. Apabila keterlibatan pemerintah diperlukan, maka harus dipastikan bahwa biaya partisipasi para pihak yang terlibat dapat diminimalkan, 6) aturan dalam mekanisme pengelolaan sumberdaya milik bersama harus dapat mendefinisikan hak dan kewajiban secara jelas dan tidak multi‐interpretatif, serta menjamin adanya keadilan distribusi manfaat, tranparans, dan akuntabel (Williamson 1996).

Dalam aksi bersama pengelolaan sumberdaya hutan dengan karakteristik milik publik perlu dilakukan sebuah kebijakan pengelolaan di antara pemerintahan dan masyarakatnya dalam pengaturan pemanfaatan sumberdaya hutan tersebut agar terjadi kesamaan visi dan misi dalam pengelolaan hutan untuk keberkelanjutannya. Untuk dapat melihat berjalan atau tidaknya aksi bersama yang dilakukan maka dapat diterapkan delapan (8) prinsip perencanaan Ostrom (1990) sebagai kerangka teoritik dan evaluasi. Delapan prinsip Ostrom juga untuk menentukan hubungan dengan situasi kehutanan dan menguji apakah sistem kehutanan sudah sesuai dengan prinsip Ostrom tersebut. Kedelapan prinsip tersebut meliputi: 1) batas-batas terdefinisi dengan jelas (clearly defined boundaries); 2) relevansi/sebangun (rules congruent with local conditions); 3) pengaturan pilihan kolektif dalam pengambilan keputusan (individuals affected can participate in modifying operational rules); 4) monitoring efektif terhadap akses dan penggunaan sumberdaya (monitors are accountable to the appropriators); 5) sangsi bertingkat/gradual terhadap pelanggar aturan (graduated sanctions against violators); 6) mekanisme resolusi konflik (ready access to conflict-resolution mechanisms); dan 7) pengakuan hak minimal terhadap hak untuk mengorganisir/mengelola (recognition of rights to organize, by external government authorities); dan 8)kelompok pengguna (untuk sumberdaya milik bersama yang merupakan bagian dari sistem yang lebih besar) (nested enterprises, where the resource is part of a larger system). Sedangkan analisa organisasi kelembagaan menurut Peters (2000) sebagai berikut: 1) tingkat otonomi, dalam pengertian sampai sejauh mana organisasi yang ada memiliki kapasitas untuk melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkannya sendiri; 2) tingkat adaptasi, dalam pengertian sejauh mana organisasi yang ada mampu menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi atau mampu memberikan arah terhadap perubahan; 3) tingkat kompleksitas, dalam pengertian sejauh mana organisasi yang ada mempunyai kapasitas untuk membentuk struktur organisasinya sendiri dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan; 4) tingkat koherensi, dalam pengertian sejauh mana organisasi yang ada mengelola beban kerjanya dan mengembangkan prosedur atau protokol untuk melaksanakan berbagai tugas yang diembannya dengan cara yang efektif dan efisien, 5) tingkat

kongruensi, dalam pengertian sejauh mana hubungan politik yang terdapat di dalam organisasi sesuai dengan hubungan sosial pada kelompok masyarakat yang akan diatur atau dibina. Ini mencerminkan sejauh mana perbedaan norma-norma di antara para elit politik di dalam organisasi dengan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya; 6) tingkat eksklusifitas, dalam pengertian intensitas persaingan di antara organisasi yang ada. Dengan kata lain, sejauh mana kinerja organisasi tersebut di antara lembaga-lembaga pesaing yang ada.

Selanjutnya untuk melakukan analisa organisasi kelembagaan dalam aksi bersama dalam memahami implikasi terjadinya evolusi hak kepemilikan dan peran stakeholder dalam pengelolaan hutan mangrove mensistesis metode yang dikembangkan oleh Peters (2000) dan Ostrom (1990) sebagai berikut:

1) tingkat kewenangan (tugas, pokok, dan fungsi) para pihak yang terlibat dalam pengelolaan. Tupoksi masing-masing pihak yang terlibatakan diidentifikasi dan dianalisa terhadap pengelolaan bersama; 2) tingkat otonomi, dalam hal ini ingin melihat sejauh mana implementasi terhadap keputusan/regulasi yang ditetapkannya sendiri; 3) tingkat adaptasi, bagaimana kemampuan organisasi menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi melalui pembuatan aturan yang sesuai secara partisipatif dalam menentukan pilihan kolektif; 4) tingkat koordinasi, dalam hal ini akan melakukan identifikasi sejauh mana koordinasi pengelolaan dilaksanakan; 5) tingkat pemantauan dan evaluasi, kegiatan ini akan melakukan identifikasi kondisi sumberdaya alam, stakeholder dan peluang- peluang terjadinya mis-koordinasi, pelanggaran, dan mekanisme penerapan sanksi.