V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Ketidakjelasan Implementasi Regulasi Pemanfaatan tanah Timbul
Dinamika Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove (2005-2010)
Narasumber pada periode ini adalah ANS, ERW, SUG, AD, NG, AK, dan YN. Pada bulan November tahun 2004, atas inisiatif masyarakat, yang diwakili oleh Kepala Desa Sukimin (Alm) menyerahkan hutan mangrove kepada Universitas Lampung untuk hutan pendidikan seluas 50 hektar dari luas total hutan 700 hektar. Inisiatif ini disampaikan bersamaan dengan acara praktikum mahasiswa Jurusan Manajemen Hutan Universitas Lampung pada mata kuliah Manajemen Hutan Mangrove. AK, sebagai dosen penanggung jawab mata kuliah tersebut, menyampaikan keinginan kepala desa secara tertulis kepada Dekan Fakultas Pertanian masa itu. Tindak lanjut dari surat itu, Dekan Fakultas Pertanian meneruskan kepada pihak Rektorat—yaitu pihak Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama. Pada waktu itu ada program yang dikembangkan oleh bidang kerjasama di PR IV yaitu Program Tripartit.
Tidak ditemukan konflik lahan dan kepemilikan sumberdaya hutan di lokasi penelitian lebih didasarkan pada keinginan dan penyadartahuan masyarakat akan bencana yang akan timbul kembali setelah hutan mangrove di wilayahnya pernah hilang terabrasi pada tahun 1990. Dalam kurun waktu 14 tahun yaitu tahun 2004 telah terjadi pemahaman masyarakat bahwa hutan mangrove di wilayahnya mempunyai manfaat ekologi yang lebih besar disamping manfaat ekonominya. Namun, kesadaran masyarakat akan manfaat ekologi hutan mangrove tersebut melahirkan sebuah pemindahan posisi dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumberdaya dengan adanya perubahan kepemilikan (Behera & Stefanie 2006).
Menurut narasumber ANS bahwa konsep dasar pengembangan kerjasama Tripartit adalah (Ekonoviant 2011):
1.Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian dan Pengembangan memiliki peran untuk menghasilkan inovasi-inovasi teknologi. Pada suatu masyarakat berbasis pengetahuan di negara-negara berkembang, posisi kalangan akademik ini adalah sederajat dengan entitas industri dan pemerintah.
2.Ketiga kalangan tersebut yaitu akademisi, pebisnis, dan pemerintah memiliki motivasi untuk meningkatkan dinamika dan daya kesinambungan ekonomi. Hal tersebut memunculkan kondisi yang selalu menimbulkan inovasi berdasarkan interaksi dengan masyarakat dan bukan hanya usulan dari pihak pemerintah saja.
3.Ada kendala yang dialami oleh negara berkembang dimana perlu didorong suatu adanya inovasi di antara ketiga pihak sehingga dicapai potensi yang berdaya inovasi dan dapat mengambil peran secara aktif dalam pembangunan.
Pada awalnya ketiga pihak yang terlibat tersebut masing-masing bekerja sendiri-sendiri. Ternyata makin banyak bukti bahwa proses-proses inovasi tersebar pada ketiga kelompok tersebut yang berinteraksi. Interaksi tersebut
disebut sebagai “Triple Helix”.
Berdasarkan hal tersebut, maka untuk pengembangan kerjasama hutan
mangrove di Universitas Lampung mengadopsi konsep triple helix. Menurut
ANS, konsep triple helix dikembangkan untuk mempertemukan tiga pihak yang
bekerjasama yaitu antara Perguran Tinggi Universitas Lampung sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, Pemerintah sebagai lembaga birokrat, dan Masyarakat sebagai pemakai teknologi. Diharapkan dengan penerapan konsep tersebut terjadi percepatan inovasi dan pengembangan teknologi yang berguna dalam pembangunan.
Menurut ANS, sebenarnya pada tahun 1998-2002 perjuangan memperoleh hutan mangrove yang ada di Desa Margasari sudah dilakukan tetapi belum mendapatkan kepercayaan dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten. Diharapkan
dengan pendekatan konsep triple helix atau yang kemudian dikenal dengan
konsep Tripartit dapat menemui keberhasilan. Konsep Tripartit ini mulai dikembangkan sejak tahun 2004. Dengan telah diinisiasi masyarakat untuk menyerahkan hutan mangrovenya untuk hutan pendidikan, maka pihak Universitas Lampung dalam hal ini di bawah Pembantu Rektor IV pendekatan untuk kepengurusannya didekati dengan konsep Tripartit yaitu dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kekuatan atas inisiasi masyarakat sendiri.
Pada bulan Januari 2005, AK berkonsultasi dengan Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Lampung Timur untuk membicarakan kondisi hutan
mangrove di Kabupaten Lampung Timur secara umum dan hutan mangrove di Desa Margasari secara khusus. Berdasarkan hasil konsultasi tersebut dinyatakan bahwa sudah terjadi perubahan bentang alam dan mempengaruhi secara ekologis dan ekonomis bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan. Oleh karena itu, diusulkan pengelolaan hutan mangrove secara terpadu, baik secara multidisiplin dengan melibatkan multisektor agar terjadi keterpaduan pengelolaan. Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa pihak Universitas Lampung dipersilakan mengadakan audiensi di kantor Kabupaten Lampung Timur tentang rencana pengelolaan terpadu hutan mangrove tersebut.
Pada 1 Februari 2005 dilaksanakan audiensi di kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur dipimpin oleh Asisten I Lampung Timur. Pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Tim Tripartit Universitas Lampung tentang program pengelolaan terpadu yang melibatkan multidisplin dan multipihak. Pihak yang menghadiri pertemuan tersebut adalah dinas-dinas teknis pemda, BPDAS Provinsi Lampung, Badan Pertanahan Daerah, Badan Pertanahan Nasional, Masyarakat, dan LSM. Program-program yang disampaikan pihak Universitas diterima dan disarankan untuk disempurnakan dan dibahas dalam pertemuan selanjutnya.
Selanjutnya, pada tanggal 10 Maret 2005 dilakukan ground check kondisi
lapangan hutan mangrove antara pihak Universitas, pemerintah daerah, pihak Badan Pertanahan Nasional Lampung Timur, LSM, dan masyarakat. Hasil dari pertemuan tersebut bahwa pihak pemerintah daerah akan membantu segala pengurusan penyerahan yang dilakukan secara legal dan sesuai prosedur permohonan.
Pada 21 Maret 2005 disampaikan permohonan Masyarakat Desa Margasari untuk menyerahkan hutan mangrove 700 Ha kepada Universitas Lampung. Surat bernomor 170.07.02.2008/143/2005 ditujukan kepada Bupati Lampung Timur. Surat ditandatangani oleh 7 kelompok yang menyerahkan, kepala desa, dan tembusan kepada Camat, BPD, Universitas Lampung, dan Arsip.
Pada 10-11 Mei 2005, dilaksanakan lokakarya “Penyamaan Persepsi Pengelolaan Terpadu Hutan Mangrove”. Pada kegiatan tersebut menghasilkan
program-program pengelolaan yang disepakati oleh masyarakat, Pemdakab dan Propinsi sebanyak 75 para pihak (Lampiran 1).
Tahapan selanjutnya pada bulan Juni-Desember 2005 yaitu dilakukan beberapa kali audiensi dengan para pihak terkait mengenai luas dan status lahan hutan mangrove Desa Margasari untuk diberikan ijin pengelolaan kepada pihak Universitas Lampung. Peserta audiensi adalah dari pihak pemda (BPD, BPN, Disbunhut, Universitas Lampung, LSM). Dalam pembahasan mengenai luas lahan mengemuka mengenai pengertian ekosistem hutan mangrove apakah termasuk tanah timbul yang menjorok ke laut ataukah hanya yang berupa hutan saja. AK menyampaikan secara keilmuan menyatakan bahwa ekosistem hutan mangrove termasuk tanah timbul yang menjorok ke arah laut.
Hal tersebut disampaikan berdasarkan teori yang disampaikan Kusmana (2003) bahwa ruang lingkup sumberdaya ekosistem hutan mangrove adalah: 1) satu atau lebih species tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove; 2) species-species tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove; 3) biota yang berasosiasi dengan mangrove baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-kali, biasa ditemukan kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove; 4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah vegetasi maupun yang berada di luarnya; dan 5) daratan terbuka dari lumpur yang berada di antara batas hutan sebenarnya dengan laut.
Menurut Nirarita et al. (1996) mengemukakan bahwa hutan bakau hanya
dapat ditemukan di daerah tropika dan sebagian besar sub tropika dengan ciri sebagai berikut: 1) jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang; 2) lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari sampai hanya daerah yang tergenang saat purnama frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan bakau; 3) menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air, atau air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas serta menambah pasokan unsur hara dan lumpur; dan 4) airnya payau dengan salinitas 2-22 ppm atau asin dengan salinitas 38 ppm. Nybakken (1992) mengemukakan bahwa hutan mangrove adalah ekosistem peralihan antara daratan dan berhutan yang
mempunyai gradient lingkungan yang sangat tajam. Frekuensi serta volume air laut yang bercampur sangat berpengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia perairan air laut. Ekosistem ini selalu tergenang air laut secara berkala baik setiap hari maupun hanya tergenang saat purnama.
Pada tanggal 25 Januari 2006 di kantor Desa Margasari, dilakukan serah terima Ijin Lokasi kepada Universitas Lampung dari Bupati Lampung Timur dengan Surat Keputusan Bupati Lampung Timur Nomor Surat Keputusan Bupati
No. B. 303/22/SK/2005 pada tanggal 23 Desember 2005 tentang ”Penetapan
Lokasi untuk Pengelolaan Hutan Mangrove dalam Rangka Pendidikan, Pelestarian Lingkungan, dan Pemberdayaan Masyarakat seluas 700 Ha di Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai”. Pematokan hutan mangrove seluas 700 ha dilaksanakan oleh tim Badan Pertanahan Nasional didampingi pihak Universitas Lampung, Masyarakat pada tanggal 26-27 Januari 2006.
Pada tahun 2006 Universitas Lampung melakukan berbagai kegiatan pengelolaan hutan mangrove berbasis masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan adalah: 1) sylvofishery, polychaeta, pembinaan masyarakat dan
UMKM, rehabilitasi mangrove, pembangunan fasilitas trek ekowisata 300 meter di Kuala Penet; 2) pembuatan demplot rehabilitasi hutan mangrove oleh Tim Mangrove Universitas Lampung seluas 2 Ha. Jenis yang ditanam adalah bakau; dan 3) rehabilitasi hutan mangrove oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung
Timur seluas 75 Ha. Jenis yang ditanam adalah bakau besar (Rhizhopora
mucronata). Pada Gambar 16 dapat dilihat meluasnya hutan mangrove dengan diikuti fenomena kemunculan tanah timbul
Gambar 16. Kemunculan tanah timbul berhutan mangrove meluas pada Tahun 2009
Pada tahun 2007 dilakukan kunjungan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove
II (BPHM II), Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Balai
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS) ke Universitas Lampung (Universitas Lampung). Tujuan kunjungan adalah saling mengenal mengenai pengelolaan hutan mangrove.
Tahun 2008 dilakukan pengukuran lapangan lahan calon gedung LMC
seluas 2500 m2
Pada tahun 2009 dilakukan penandatangan naskah kesepahaman (MoU) antara BPHM II dan Universitas Lampung dengan dukungan JICA dalam Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Desa Margasari Lampung
Timur-LMC dengan nomor MOU No. SKB.42/BPHM.II/2/2009 dan
392/H26/KL/2009 tanggal 29 Januari 2009. Pada Mei 2009 dilakukan kegiatan: 1) pembahasan Kegiatan Pelatihan Dasar Hutan Mangrove dan Pelatihan PLH
bulan Mei dan 2) pembahasan tender tower bird watching di LMC.
, berdasarkan pertemuan dengan Bupati Lamtim (4 April 2007) agar Universitas Lampung menyediakan lahan sedangkan Lamtim akan membangun gedung LMC. Penanaman bakau dan api-api seluas 1 ha oleh mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata). Penetapan Model Pengelolaan JICA
dalam Pengelolaan Hutan Mangrove se-Indonesia. Pembahasan peran para pihak
dalam pengelolaan terpadu hutan mangrove.
Margasari 2009
Pada 18-23 Mei 2009 dilaksanakan Pelatian Dasar Hutan Mangrove di Desa Margasari bagi fasilitator pendidikan lingkungan hidup (PLH). Pembukaan Acara oleh Rektor Universitas Lampung, BPHM Wilayah II (Ir. Murdoko MM), Badan Lingkungan Hidup (BLH) Lampung Timur, dan JICA SSPM. Setelah
Pembukaan dilanjutkan dengan peninjauan lokasi lahan Lampung Mangrove
Center (LMC) dan Kuala Penet. Adapun susunan acara sebagai berikut: 1) pelatihan diikuti 23 peserta; 2) materi 29 jam pelajaran; 3) pengajar dari Delta Mahakam, Universitas Lampung, JICA, BPHM dan 4) sambutan dari penyandang dana yaitu JICA. Sementara itu penutupan dilakukan oleh Pembantu Rektor (PR) IV Universitas Lampung, JICA, dan BPHM II.
Pada 22-25 Juni 2009 dilaksanakan Pelatihan Teknis Fasilitasi PLH oleh
The RMI Bogor. Peserta 30 orang (23 anggota kelompok PLH + 7 Voluentaire
JICA). Adapun susunan acara sebagai berikut: 1) pengenalan keanekaragaman hayati dan konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat; berkaitan dengan a) isu-isu hutan mangrove, b) pendidikan alternatif pembuatan peta, c) pemanasan global dan perubahan iklim, d) pendidikan lingkungan hidup sebuah jembatan manusia dan lingkungan, e) permainan alam, f) teknik komunikasi, dan g) program/kegiatan pendidikan lingkungan hidup.
Pada 24-26 Juli 2009 Pencarian Trek PLH oleh kelompok. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari, menentukan, mendiskripsikan, dan memvisualisasikan spot-spot yang menarik untuk PLH di masa yang akan datang. Kegiatan ini sangat penting untuk mendukung PLH, yaitu sebagai tempat aktivitas/pembelajaran langsung ke alam terhadap partisipan dalam PLH.
Pada September 2009 dilaksanakan pembangunan menara pengamatan
burung (bird watching tower) setinggi 8 meter sebagai fasilitasi Pendidikan
Lingkungan Hidup. Pada bulan November 2009 dilaksanakan kegiatan lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak sekolah dasar se-Kecamatan Labuhan
Maringgai dan serah terima menara bird watching dari kontraktor kepada JICA-
BPHM II-Universitas Lampung.
Berakhirnya kegiatan setahun BPHM II dan JICA di hutan mangrove Desa Margasari menandakan adanya kepercayaan entitas lembaga hutan mangrove
(LMC) mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dan lembaga internasional lainnya. Mereka dapat menerima LMC sebagai bagian dari mangrove nasional. Eksistensi lembaga tersebut diakui, baik secara nasional maupun internasional.
Menurut ANS, bahwa konsep kerjasama tripartit yang dikembangkan atas inisiatif masyarakat mempunyai kekuatan dalam menjamin keberlangsungannya. Pada saat pelasanaan cek lapangan dan pematokan lahan tidak ada gejolak dari masyarakat. Sampai sekarang patok merah yang terpasang tidak hilang. Bila dipelajari secara hukum, maka lahan tersebut merupakan kewenangan pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Sehingga selanjutnya dimohonkan kepada Bupati. Konsep Tripartit adalah membangun koeksistensi masing-masing pihak yang bekerjasama yaitu saling menerima dan mengakui.
Dalam pelaksanaan kerjasama Tripartit menurut ANS, pembuatan program dan kegiatan dapat dilakukan di antara ketiga pihak yaitu apakah dari pihak perguruan tinggi, pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing pihak yang bekerjasama. Pada saat-saat tertentu saja pihak pemerintah daerah yang melakukan pembinaan kepada masyarakat akan kesadaran pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan. Masing-masing pihak yang bekerjasama memberikan peran karena merasakan ada kebutuhan bersama dalam pengembangan hutan mangrove bagi pembangunan.
Masyarakat dapat menggali sumber-sumber pendanaan dan peningkatan perekonomian dari pengelolaan hutan mangrove. Pihak Universitas Lampung (SUG) menjelaskan bahwa selanjutnya Unila melaksanakan pengembangan jejaring kerja, menyusun program jangka pendek-menengah-jangka panjang diantaranya penerimaan mahasiswa baru dengan menjaring siswa sekolah menengah atas dari lokasi hutan mangrove, mendorong peningkatan perekonomian masyarakat, perkembangan hutan mangrove meningkat sehingga tercipta kelestarian ekologi, produktivitas hutan mangrove meningkat.
Nilai ekonomi total (Total Economic Value-TEV) hutan mangrove Desa
Margasari tahun 1999 sebesar Rp. 11.506.435.090/tahun; Tahun 2005 sebesar 29.751.261.034/tahun. Hutan mangrove memberikan manfaat ekonomi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan dikonversi menjadi lahan tambak (Ariyanto 2007). Sementara itu menurut UNEP (2009) bahwa TEV hutan mangrove sebesar
120.392.000/ha lebih besar daripada harus mengkonversi hutan menjadi tambak. Sedangkan penanaman hutan mangrove seluas 12.000 ha memerlukan pendananaan 1 juta dolar tetapi dapat memberikan manfaat tujuh kali lipat (Tallis
et al. 2008); Usaha tambak udang hanya dapat mengembalikan sekitar 1.220 dolar/ha/tahun, tetapi menghilangkan manfaat mangrove bagi masyarakat sebesar 12.000 dolar/ha/tahun (Barbier 2006).
Menurut ANS, hutan mangrove sebagai sebuah ekosistem mempunyai fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat, disamping fungsi ekologinya. Hutan mangrove di negara berkembang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi sosial yang begitu besar bagi kehidupan masyarakatnya. Pembangunan ekonomi masyarakat sekitar hutan mangrove dilakukan berbasis pantai bermangrove. Untuk selanjutnya diperlukan penelitian-penelitian bagaimana pemanfaatan hutan mangrove bagi kehidupan masyarakat. Pada suatu masa apabila masyarakat sudah mampu untuk berjalan sendiri maka peran pemerintah dan universitas tidak selalu mendominasi tetapi lebih bersifat mengayomi. Bila suatu saat terjadi konflik atau permasalahan maka diperlukan peran pihak pemerintah daerah.
Memperhatikan berbagai perbedaan kepemilikan sumberdaya hutan dan lahan dan pengelolaannya di negara India, Cina, Eropa dimana pengelolaan hutannya dengan penguasaan oleh Negara tidak memberikan hasil yang lebih baik
dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya dan menyejahterakan
masyarakatnya. Pengelolaan lahan-lahan sumberdaya hutan milik bersama (common pool resources) sudah seharusnya memperhatikan kepentingan bersama dan lebih mengutamakan aspirasi bersama. Terlebih pada sumberdaya yang hilang akibat suatu bencana.
Hutan mangrove yang terkena abrasi jugai terjadi di lokasi penelitian.
Kepemilikan pribadi (privat) pada sumberdaya hutan yang sedemikian juga akan
memberikan hasil akhir yang tidak jauh berbeda dengan penguasaan lahan hutan oleh negara. Kerentanan antara karakteristik sumberdaya dan bentuk-bentuk kepemilikan memberikan pelajaran berharga bagi pencarian bentuk-bentuk pengelolaan sumberdaya dengan karakteristik milik bersama.
Sumberdaya hutan mangrove di lokasi penelitian merupakan salah satu contoh sumberdaya milik bersama yang memiliki keunikan atau perbedaan dari
kekacauan yang selama ini terjadi pada sumberdaya hutan mangrove di sepanjang pesisir. Tidak ditemukan konflik lahan dan kepemilikan sumberdaya hutan di lokasi penelitian lebih didasarkan pada keinginan dan penyadartahuan masyarakat akan bencana yang akan timbul kembali setelah hutan mangrove di wilayahnya pernah hilang terabrasi pada tahun 1990. Setelah kurun waktu 14 tahun dari tahun 1990 yaitu pada tahun 2004 masyarakat memahami bahwa hutan mangrove di wilayahnya mempunyai manfaat ekologi yang lebih besar disamping manfaat ekonominya. Namun, kesadaran masyarakat akan manfaat ekologi hutan mangrove tersebut melahirkan sebuah pemindahan posisi dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumberdaya (Behera & Stefanie 2006).
Menurut Nugroho (2011) hak-hak kepemilikan oleh negara (state
property) pada banyak kasus memang sangat rentan menjadi sumberdaya akses terbuka yang tidak jelas hak kepemilikannya atau oleh Chichilnisky (2005)
diistilahkan sebagai ill-defined property rights. Pada situasi demikian, maka
sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak berhak. Akibatnya,
pada pengelolaan sumberdaya hutan muncul fenomena pembalakan liar (illegal
logging) dan penyerobotan hutan (encroachment), pada pengelolaan kekayaan
tambang muncul fenomena penambang liar (illegal mining), dan pada pengelolaan
kekayaan laut muncul fenomena illegal fishing.
Mekanisme pemberian ijin pengelolaan hutan mangrove dari Bupati Lampung Timur kepada Universitas Lampung adalah suatu mekanisme pemindahan hak melalui administrasi pemerintah. Pemberian hak kelola ini dari sisi pandang Badan Pertanahan Nasional dapat ditingkatkan status hak nya apabila sudah melebihi waktu 2 tahun dengan kesepakatan pihak desa akan menjadi hak milik apabila diajukan administrasi ke kantor pertanahan.
Pola Interaksi
(Hasil Sandwich Like Dikti 2012 di Universitas Goettingen Jerman)
Ekosistem hutan mangrove merupakan ekosistem hutan yang unik. Keunikan hutan tersebut karena terletak di antara wilayah daratan dan lautan. Kustanti (2011) menyatakan bahwa hutan mangrove merupakan sumber daya
alam hayati yang dapat diperbaharui (renewable resources). Vegetasi penyusun
dari 20 terdiri dari jenis tambahan yang merupakan asosiasi mangrove. Selain vegetasi yang terdapat di hutan mangrove tersebut, juga terdapat lebih dari 2.000 biota air yang tergantung terhadap keberadaan hutan tersebut, misalnya: ikan, invertebrata, dan tumbuhan epifit (Barth 1982). Keberadaan vegetasi dan fauna yang terdapat di hutan mangrove merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Potensi yang diperoleh dari ekosistem hutan tersebut berupa hasil hutan kayu, nonkayu, jasa, dan lingkungan. Keanekaragaman potensi tersebut sudah lama dimanfaatkan untuk kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kondisi vegetasi, meliputi indeks nilai penting di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 12. Jenis-jenis yang mendominasi pada semua strata pohon
dan pancang adalah api-api (Avicennia marina). Sedangkan pada strata semai
adalah jenis nipah (Nypa fruticans). Pada srata asosiasi didominasi oleh jenis
beluntas.
Sedangkan hasil analisis perjumpaan burung di areal penelitian dapat dilihat pada Tabel 13. Jenis burung yang banyak terdapat di lokasi penelitian
adalah jenis kuntul besar (Egretta alba), kemudian berturut-turut jenis kuntul
kecil (Egretta garzetta), blekok sawah (Ardeola speciosa), cangak laut (Antea
sumatrana), belibis (Dendrocygna arcuata), kuntul karang (Egretta sacra), dan
raja udang biru (Alcedo caerulescens).
Krott (2005) menyatakan bahwa dengan adanya potensi yang terkandung pada hutan, maka terdapat berbagai macam kepentingan dalam mengambil manfaat dari keberadaan hutan tersebut. Adanya berbagai macam kepentingan (interest) para pihak, opini masyarakat, bentuk psikologis, pengaruh kebijakan hutan merupakan fokus yang harus mendapat perhatian dalam analisis kebijakan pengelolaan hutan. Krott (2005) menyatakan bahwa kebijakan kehutanan merupakan proses tawar menawar dalam mengatur berbagai macam kepentingan antar para pihak (pengguna, asosiasi kehutanan, dan partai politik) dalam memanfaatkan dan mengkonservasi hutan. Kebijakan kehutanan dalam penggunaan lahan di daerah penelitian merupakan tanah timbul yang memerlukan pendekatan partisipatif dalam penyusunan program dan kegiatan (Krott 2005), serta peran pemerintah sebagai pengayom masyarakat dalam mencapai tujuan
kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya hutan mangrove (Kustanti 2011).
Tabel 12. Hasil Analisis Vegetasi Hutan Mangrove
No. Nama Lokal Nama Latin INP (%)
STRATA POHON
1. Buta-buta Ecoecaera agallocha 6.87
2. Pidada Sonneratia alba 14.32
3. Waru Laut Hibiscus tiliaceus 21.50 4. Api – api Avicennia marina 256.05
STRATA PANCANG
1. Pidada Sonneratia alba 8.17
2. Waru Laut Hibiscus tiliaceus 15.59 3. Api – api Avicennia marina 176.24
STRATA SEMAI
1. Api-api Avicennia marina 4.46
2. Bakau merah Rhizophora apiculata 4.46 3. Bakau kecil Rhizophora stylosa 4.46
4. Nipa Nypa fruticans 6.23
ASOSIASI
1. Paku-pakuan Acrostichum aureum 14.22
2. Kemangi Ocimum basilium L 14.22
3. Gulung-gulung Spinifex littoreus 17.76 4. Tapak Kuda Ipomoea pes-caprae 22.25 5. Jeruju Acanthus ilicifolius 53.38
6. Beluntas Pluchea indica L 58.57
Tabel 13. Keberadaan burung di ekosistem hutan mangrove
Nama Latin
Keberadaan Burung
No. Pengamatan langsung Informasi masyarakat
Sedikit (jumlah individu) Sedang (jumlah individu) Banyak (jumlah individu) Sedikit (jumlah individu) Sedang (jumlah individu) Banyak (jumlah individu) 1 Kuntul Besar
(Egretta alba) 179 ekor
2 Kuntul Kecil
(Egretta garzetta) 14 ekor
3 Kuntul Karang
(Egretta sacra) 4 ekor
4 Belibis (Dendrocygna arcuata)
5 ekor
5 Raja udang biru (Alcedo
caerulescens)
2 ekor
6 Blekok sawah
(Ardeola speciosa) 36 ekor
7 Cangak laut
Selanjutnya (Papageorgiou et al. 2008) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan dengan karakteristik CPRs diperlukan untuk menjamin keberlanjutannya. Hutan mangrove di lokasi penelitian terletak di antara daratan dan lautan. Hal tersebut memerlukan pendekatan yang lebih kompleks daripada pengelolaan hutan lainnya. Pengelolaan terpadu diperlukan dengan memperhatikan keterlibatan beberapa pihak, baik secara individual atau
pun kelembagaan (Kustanti et al. 2012). Berdasarkan pendekatan dari teori Krott
(2005) kepentingan para pihak dalam pengelolaan hutan mangrove di lokasi
penelitian dapat dibedakan atas kepentingan keberadaan jalur hijau (green belt
existing), boidiversitas, produk non kayu, dan kayu bakar. Secara keseluruhan kepentingan para pihak pada periode 2005-2010 dapat dilihat pada Gambar 17 di