• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Analisis Alur Distribusi Rantai Pasok Buah Pepaya

4.2.2. Anggota Rantai Pasok

4.2.2.3. Aktivitas Anggota Rantai Pasok

Berdasarkan survey di lapangan, terdapat 6 (enam) anggota rantai pasok buah pepaya dari Batang Kuis. Sedangkan untuk buah pepaya dari Aceh, terdapat 5 (lima) anggota rantai pasok. Setiap anggota rantai pasok buah pepaya di pasar induk mempunyai peran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Peran masing-masing anggota dalam tipe rantai pasok buah pepaya dijelaskan dalam Tabel 4.11, Tabel 4.12 dan Tabel 4.13.

Tabel 4.12. Fungsi dan aktivitas Anggota Rantai Pasok Buah Pepaya di Pasar Induk dari Batang Kuis

Anggota Rantai Pasok Fungsi Aktivitas

Petani Buah Pepaya Pertukaran Fisik

Pembelian, penjualan Penanaman, pemeliharaan Pedagang Pengumpul Kecil Pertukaran

Fisik Pedagang Pengumpul Besar Pertukaran

Fisik Fasilitas

Pembelian, penjualan Sortasi, pengangkutan

Penanggungan Resiko, informasi harga pasar, pengangkatan

Konsumen Pertukaran Pembelian

Sumber: Wawancara Responden (Diolah Peneliti, 2018)

Tabel 4.13. Fungsi dan aktivitas Anggota Rantai Pasok Buah Pepaya di Pasar Induk dari Aceh

Anggota Rantai Pasok Fungsi Aktivitas

Petani Buah Pepaya Pertukaran Fisik

Pembelian, penjualan Penanaman, pemeliharaan Pedagang Pengumpul Besar Pertukaran

Fisik Fasilitas

Pembelian, penjualan Sortasi, pengangkutan

Penanggungan Resiko, informasi harga pasar, pengangkatan

Konsumen Pertukaran Pembelian

Sumber: Wawancara Responden (Diolah Peneliti, 2018)

4.2.3.4 Aliran Dalam Rantai Pasok

Berasarkan teori Pujawan (2010), terdapat 3 (tiga) aliran yang dikelola dalam rantai pasok. Pertama adalah aliran barang atau komoditas yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream), kedua adalah aliran finansial/uang dari hilir ke hulu, dan yang ketiga adalah aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau sebaliknya.

Penelitian ini juga mendapatkan gambaran tiga aliran yang dikelola dalam rantai pasok buah pepaya di pasar induk. Gambaran ini didapatkan berdasarkan wawancara responden dan perbandingan dari teori Pujawan (2010). Gambar 4.9. menunjukkan pola aliran dalam rantai pasok buah pepaya di Pasar Induk Kota Medan.

Aliran barang

Aliran Finansial

Aliran Informasi

Aliran buah Pepaya

Gambar 4.9. Aliran dalam Rantai Pasok Buah Pepaya di Pasar Induk (Diolah Peneliti, 2018)

63 Penyedia Sarana Produksi

Petani Pedagang

Pengumpul Distributor

Pasar Induk

Retailer

kecil Konsumen

Aliran komoditas buah pepaya dimulai dari petani. Buah pepaya dikumpulkan oleh pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul mengangkut buah pepaya kepada distributor Pasar Induk. Setelah sampai di distributor, distributor memasarkan buah pepaya tersebut ke retailer kecil. Sesampainya ke retailer kecil, buah pepaya tersebut diteruskan ke konsumen.

Aliran finansial mengalir dari konsumen sampai retailer kecil buah pepaya.

Untuk buah pepaya, aliran finansial lebih panjang, yakni konsumen, retailer kecil, distributor, pedagang pengumpul kemudian ke petani.

Pada distributor dan pedagang pengumpul, distributor membayar langsung sesuai buah pepaya yang dibawa oleh pengumpul dengan spesifikasi buah pepaya yang diminta.

Untuk pedagang pengumpul dan petani, pedagang pengumpul membayar langsung kepada petani dengan jumlah buah pepaya yang diambil atau sudah melakukan perjanjian pembayaran sebelum petani tersebut melakukan pemanenan buah pepaya.

Sistem komunikasi sudah terintegrasi antara anggota primer dalam rantai pasok.

Pada aliran buah pepaya, aliran informasi terjadi pada konsumen, retailer kecil, distributor, maupun pedagang pengumpul atau sebaliknya. Namun demikian, ada satu jalur informasi tentang harga yang tidak tersampaikan dari distributor ke produsen.

Sehingga sampai sekarang produsen tidak mengetahui harga jual buah pepaya yang mereka panen di pasar induk ataupun di konsumen. Informasi hanya sebatas informasi tentang jumlah buah pepaya yang perlu untuk di pasok ke pasar induk.

4.2.3. Sasaran Rantai Pasok 4.2.3.1. Produk

Buah pepaya merupakan buah meja bermutu dan bergizi yang tinggi.

Selain dimakan dalam bentuk masak, buah pepaya yang muda, juga bisa untuk di buat sayuran pelengkap lauk, untuk santapan sehari-hari, sebagai teman nasi.

Buah pepaya juga banyak mengandung serat yang sangat baik untuk membantu melancarkan pencernaan dalam tubuh.

Selain buahnya, daun pepaya pun bisa diolah sebagai bahan makanan seperti buntil, pecel, dan untuk membuat obat jamu nafsu makan. Bahkan banyak di manfaatkan oleh kalangan restoran sebagai bahan pelunak daging. Di Indonesia beraneka ragam jenis pepaya yang sering di budidayakan oleh para petani, akan tetapi buah pepaya yang di jual di pasar induk hanya ada 1 jenis, yaitu pepaya california. Pepaya california ini memiliki sifat dan keunggulan tersendiri yaitu buahnya tidak terlalu besar dengan bobot 0,8 – 1,5 kg/buah, berkulit hijau tebal dan mulus, berbentuk lonjong, buah matang berwarna kuning, rasanya manis, daging buah kenyal dan tebal.

Sebagian besar buah pepaya yang dipasok di pasar induk adalah buah

pepaya california yang mempunyai tingkat permintaan yang cukup tinggi. Hal ini

dikarenakan daging buahnya tebal, biji sedikit serta rasanya yang sangat manis.

4.2.3.2. Pasar

Permintaaan buah pepaya mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya penduduk di Kota Medan. Selain itu, buah pepaya merupakan buah penyegar mulut selepas bersantap bagi warga Kota Medan. Pasar buah pepaya ini sangat menjanjikan, karena setiap harinya Kota Medan memerlukan buah pepaya sebanyak 100 ton/hari.

4.2.3.3. Stakeholder

Anggota yang terlibat dalam rantai pasok buah pepaya di pasar induk disebut dengan stakeholder (pemangku kepentingan) baik anggota primer maupun sekunder.

Setiap stakeholder memiliki peran masing-masing dalam rantai pasok baik di dalam sistem produksi, panen, pasca panen, transportasi dan distribusi. Kelancaran dalam pasokan buah pepaya memerlukan koordinasi secara intensif dan dan efisien melibatkan seluruh stakeholder dalam rantai pasok.

4.2.4. Manajemen Rantai Pasok 4.2.4.1. Struktur Manajemen

Struktur manajemen menjelaskan tentang aspek-aspek tindakan pada setiap tingkatan manajemen dalam anggota rantai pasok. Tindakan tersebut menjelaskan langkah yang diambil oleh anggota rantai pasok dalam menindaklanjuti setiap tingkat manajemen yang terdiri dari strategi, koordinasi, perencanaan, evaluasi, transaksi dan kemitraan.

Dari hasil penelitian rantai pasok buah pepaya di pasar induk belum seluruhnya menggunakan sistem manajemen yang baik. Petani sebagai produsen utama yang memproduksi buah pepaya. Pedagang pengumpul kecil mengorganisir hasil panen petani dan mensortasi buah pepaya kemudian mengirimkannya ke pedagang pengumpul besar.

Pedagang pengumpul kecil juga melakukan perencanaan panen agar dapat continue mengirimkan buah pepaya ke pedagang pengumpul besar. Pedagang pengumpul besar

melakukan proses sortasi dan secara periodik mengirimkannya ke distributor. Distributor melakukan penanganan seperti pengemasan dari mulai kemasan 50 kg hingga 100 kg. Hal ini berguna untuk penyaluran ke retailer kecil agar lebih mudah dalam pengangkutan.

4.2.4.2 Kesepakatan Kerjasama

Tidak ada kontrak secara tertulis baik dari pihak distributor kepada pedagang pengumpul dan produsen. Kerjasama dilakukan dengan menggunakan prinsip kepercayaan dengan memegang komitmen, rasa saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Sebagian besar produsen hanya akan menjual buah pepaya pada pedagang pengumpul kecil yang memberikan modal awal penanaman seperti benih, pupuk dan pestisida. Pedagang pengumpul kecil juga hanya akan menjual buah pepaya pada pedagang pengumpul besar yang bermitra dengan baik, baik dalam hal tidak pernah terlambat dalam pembayaran buah pepaya yang dikirim oleh pedagang pengumpul kecil, demikian juga pedagang pengumpul besar dengan distributor. Paling lambat pembayarannya dengan tunda dua kali pengiriman atau sekitar 1-2 minggu. Hal tersebut sudah merupakan kesepakatan kerjasama yang mengikat antara anggota rantai pasok buah pepaya di pasar induk.

Kerjasama dan kesepakatan antar anggota rantai pasok buah pepaya perlu dibangun karena memberikan berbagai hal positif dalam meningkatkan kinerja rantai pasok antara lain:

a. Meningkatkan rantai nilai (value chain) produk b. Meningkatkan jejaring pasar atau akses pasar c. Menciptakan jaminan produksi

d. Mengakselerasi pertumbuhan penjualan

4.2.4.3. Sistem Transaksi

Sistem pembayaran pada tingkat petani dilakukan secara langsung, berapa banyak hasil panen, hasil tersebut yang harus dibayar oleh pengumpul. Sedangkan sistem pembayaran di tingkat pengumpul dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kesepakatan pengumpul dan distributor. Kesepakatan tersebut berupa pedagang pengumpul dibayar langsung oleh distributor pada saat mengirim buah pepaya langsung ke distributor ataupun dengan pembayaran tunda. Penundaan pembayaran bisa sampai dua kali pengiriman atau sekitar 1-2 minggu. Diantara distributor dengan pedagang juga memiliki kesepakatan pembayaran. Pedagang yang sudah memiliki kepercayaan distributor dapat mengambil buah pepaya dan membayarnya setelah habis. Akan tetapi pedagang yang mendapat kepercayaan seperti ini hanya satu atau dua pedagang saja.

Selain itu, ada kebijakan dari distributor untuk pedagang. Harga buah pepaya yang diperoleh pedagang dengan membayar langsung akan lebih murah dengan harga yang diperoleh pedagang yang membayar tunda. Selisih harga bisa mencapai Rp 500/kg.

4.2.5 Sumber Daya Rantai Pasok 4.2.5.1. Sumber Daya Fisik

Sumber daya fisik rantai pasok buah pepaya meliputi sarana produksi (benih, pupuk, pestisida, dan lain-lain), sarana panen dan pascapanen (gudang pascapanen), jalan usaha tani dan prasarana komunikasi dan informasi yang efektif dan efisien.

Untuk petani buah pepaya di Batang Kuis yang memasok buah pepaya di pasar induk, mereka sudah bekerja sama dengan pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul akan berkeliling ke daerah sentra buah pepaya dan memberikan benih kepada petani.

Pedagang pengumpul telah memiliki perencanaan panen sehingga saat panen dapat serentak yang memudahkan proses pengangkutan ke distributor.

Usahatani buah pepaya memerlukan perhatian yang lebih karena tanaman buah pepaya membutuhkan air yang cukup, tetapi tidak boleh terlalu banyak. Biasanya di

musim penghujan muncul hama Kutu Daun (Myzuz persicae). Dan penanganan sebelum tanam yang kurang tepat akan menimbulkan penyakit layu Bakteri.

Untuk akses jalan khususnya jalan di Pasar Induk Kota Medan masih kurang memadahi, dikarenakan akses jalan hanya satu pintu. Jadi pengiriman hanya lewat satu pintu dan harus memutar ke arah Pancur Batu terlebih dahulu. Jarak lokasi sentra produksi buah pepaya di pasar induk yang paling dekat daerah Batang Kuis dengan pasar induk yaitu sekitar 39,2 km.

4.2.5.2 Sumber Daya Teknologi

Pedagang pengumpul menerapkan teknologi pasca panen yang masih sederhana yaitu menggunakan tenaga manusia untuk memanen buah pepaya dengan penggunaan sarung tangan kain dalam proses pemanenan dan pascapanen. Dalam melakukan sortasi, pedagang pengumpul masih menggunakan teknologi manual berdasarkan timbangan dan pengamatan manusia.

Distributor buah pepaya juga menggunakan timbangan manual dan tenaga manusia untuk pengemasan yang akan didistribusikan ke pedagang dalam bentuk kemasan 50 kg.

4.2.5.3 Sumber Daya Manusia

Banyak sumber daya manusia yang terlibat dalam rantai pasok buah pepaya di pasar induk. Di Batang Kuis, ada 2 (dua) kelompok tani buah pepaya. Sedangkan di Aceh ada 5 (lima) kelompok tani buah pepaya. Petani bekerja selama 5 – 8 jam sehari untuk bertani buah pepaya.

Selama penanaman, pedagang pengumpul akan berkeliling dari satu petani ke petani lain yang merupakan petani yang diberikan pinjaman oleh para pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul melakukan perencanaan panen sehingga waktu panen tidak akan berlangsung bersamaan tetapi memiliki rentan waktu antar petani. Pedagang pengumpul akan berkeliling untuk mengambil hasil panen dan langsung diangkut oleh

mobil angkutan yang disebut dengan pick up yang akan membawa buah pepaya tersebut langsung ke pedagang pengumpul besar atau langung ke distributor pasar induk.

Sedangkan sumber daya manusia yang terdapat di distributor meliputi beberapa karyawan yang membantu dalam proses pasca panen mulai dari pembersihan hingga pengemasan berdasarkan ukuran timbangan.

4.2.5.4. Sumber Daya Permodalan

Budidaya buah pepaya merupakan usaha agribisnis yang memerlukan cukup banyak modal. Petani buah pepaya di Batang Kuis memperoleh modal yang berasal dari tabungan pribadi ataupun pinjaman di bank. Berbeda dengan petani buah pepaya di Aceh, mereka memperoleh modal yang berasal dari pedagang pengumpul sehingga pada saat panen petani tidak bisa menjual buah pepaya kepada pedagang pengumpul lainnya.

Karena Petani yang tidak memiliki modal berupa benih atau bibit dan pestisida, permodalan di tingkat petani tersebut disediakan oleh pedagang pengumpul dengan kesepakatan dan jaminan bahwa buah pepaya yang mereka tanam akan dijual kepada pedagang pengumpul tersebut.

Sedangkan di pihak pedagang pengumpul, permodalan diperoleh dari modal pribadi. Permodalan paling besar dikeluarkan pada pengeluaran sarana dan prasarana pasca panen.

Di pihak distributor mendanai usahanya dengan uang sendiri. Para distributor jarang memerlukan lembaga keuangan untuk keperluan peminjaman modal. Hal ini dikarenakan karena pedagang yang mengambil buah pepaya ke distributor di wajibkan untuk membayar cash sebelum buah pepaya diambil. Hanya 1-2 orang pedagang saja yang mendapat kepercayaan untuk mengambil barang dengan pembayaran tunda, dan itu dengan kuantitas buah pepaya yang tidak cukup banyak. Kemungkinan lainnya adalah distributor sudah cukup mapan dan belum berencana untuk memperbesar skala usahanya, sehingga belum merasa perlu untuk mencari pinjaman modal.

Di pihak retailer kecil mendanai usaha dagangnya dengan modal sendiri. Hal ini dikarenakan usaha yang mereka lakukan tidak terlalu banyak memakan banyak modal, sehingga cukup dari tabungan pribadi dari para retailer kecil. Selain itu, konsumen yang membeli juga semua dengan sistem cash dan tidak ada sistem tunda/kredit. Sehingga modal para retailer kecil dapat segera di putar untuk pembelian buah pepaya lagi.

4.2.6 Proses Bisnis Rantai Pasok

4.2.6.1. Hubungan Kegiatan Bisnis Rantai Pasok

Hubungan kerjasama antara produsen, pedagang pengumpul, distributor, serta retailer kecil merupakan satu hal yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Ada hubungan yang harus dibina selain hubungan profesi untuk tetap menjaga hubungan baik, maka pedagang pengumpul tidak segan-segan untuk memberikan bantuan kepada petani ketika mereka sedang membutuhkan, misalnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani. Begitu pula dengan para distributor, mereka juga tidak segan-segan akan memberikan bantuan kepada para pedagang pengumpul apabila sedang membutuhkan, tambahan transportasi misalnya.

Dari hasil wawancara diketahui bahwa pedagang pengumpul mengetahui dengan pasti karakteristik petani yang sangat sensitif, sehingga memang untuk menjalin hubungan yang baik dengan petani seperti ini harus dilakukan dengan perlakuan khusus, misalnya dengan memberikan tambahan uang untuk membayar uang sekolah anak atau membantu membeli sembako bagi keluarga tersebut.

Hubungan yang dijalin seperti ini bagi mereka cukup memuaskan kedua pihak, karena dipandang saling menguntungkan. Hal ini juga yang menjadikan saling ketergantungan antara kedua belah pihak. Ketergantungan yang dimaksud adalah kekuatan utama dalam pengembangan solidaritas rantai pasok. Hubungan saling ketergantungan ini adalah apa yang dimotivasi keinginan untuk menegosiasikan transfer fungsional, berbagai informasi kunci, dan berpartisipasi dalam perencanaan operasional bersama.

4.2.6.2. Pola Distribusi a. Distribusi Produk

Pola distribusi yang dibangun oleh anggota rantai pasok memiliki pola yang berbeda, pola tersebut dibangun berdasarkan kemudahan aplikasi dilapangan. Pola distribusi jenis buah pepaya di pasar induk yaitu buah pepaya california. Untuk pola distribusi buah pepaya di pasar induk berdasarkan daerah produksi dapat dibedakan menjadi 3 alur distribusi (Lihat Gambar 4.6, 4.7 dan 4.8).

b. Distribusi Harga

Dalam sebuah sistem perdagangan, pada umumnya distribusi harga akan mengalami beberapa peningkatan di tiap level. Hal ini juga terjadi di rantai pasok buah pepaya di pasar induk. Beberapa tingkatan harga buah pepaya diidentifikasi dan didapatkan perbedaan seperti pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Harga pada Buah Pepaya di pasar induk pada bulan Juli – Agustus 2018

Anggota Rantai Pasok Harga Jual Buah Pepaya (Rp/Kg)

Batang Kuis Aceh

Petani 3.000 2.500

Pedagang Pengumpul 4.500 4.000

Distributor 5.500 5.000

Retailer

6.500 6.000

Sumber : Wawancara Responden (Diolah Peneliti, 2018)

Perbedaan harga pada buah pepaya dari Batang Kuis yaitu dimana harga jual petani adalah Rp 3.000/kg. Untuk harga jual tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 4.500/kg. Di tingkat distributor, harga jual buah pepaya sebesar Rp 5.500/kg. Pada tingkat retailer, buah pepaya dijual sebesar Rp 6.500/kg.

Berbeda dengan buah pepaya dari Aceh. Harga buah pepaya dari Aceh lebih murah dari pada buah pepaya dari Batang Kuis. Di tingkat petani, buah pepaya di jual dengan harga Rp 2.500/kg. Di tingkat pedagang pengumpul, buah pepaya di jual dengan

harga Rp 4.000/kg. Pada tingkat distributor, harga buah pepaya sebesar Rp 5.000/kg. Dan di tingkat retailer, harga buah pepaya dijual dengan harga Rp 6.000/kg.

Dengan margin yang cukup tinggi bagi tingkat petani, maka diharapkan pemerintah dapat mengendalikan dan menentukan harga dasar bagi petani agar tidak dirugikan, dan menentukan harga tetap di tingkat pedagang. Akan tetapi, keuntungan yang terlihat besar tersebut belum tentu dapat digunakan dalam memuaskan peran mana yang memiliki margin paling besar. Sebab untuk mengetahui margin bersih, harga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam jangka waktu relatif lama.

4.2.6.3. Pendukung Anggota Rantai Pasok a. Distribusi informasi pasar

Informasi tentang pasar sangat diperlukan dalam suatu rantai pasok. Bagi distributor informasi ini sangat penting, karena untuk menentukan harga jual bagi pedagang dan konsumen lainnya.

Informasi pasar seharusnya dapat diteruskan pada level petani, namun sayangnya hal tersebut tidak dilakukan, atau tidak adanya upaya untuk melakukan distribusi informasi pasar karena hal ini dianggap tidak perlu. Apabila sebuah rantai pasok ingin dibangun dengan baik, seharusnya transparansi dan informasi tentang pasar dapat terdistribusikan secara merata.

4.2.6.4. Aspek Resiko

Dalam rantai pasok buah pepaya dihadapkan pada resiko, baik resiko internal maupun resiko eksternal. Resiko internal dibedakan atas resiko operasional dan resiko kerjasama. Sedangkan resiko eksternal dibedakan atas resiko lingkungan dan kebijakan serta resiko pasar.

Resiko operasional merupakan resiko yang dihadapi dalam proses produksi seperti serangan organisme tanaman pengganggu (OTP), benih yang kurang baik ataupun cuaca ekstrim. Resiko inilah yang paling sering dialami oleh petani karena usahatani buah pepaya sangat rentan dengan iklim dan serangan OTP. Sedangkan kerjasama yang

dibangun oleh sesama anggota rantai pasok tidak hanya memberikan dampak positif tapi juga kerjasama tidak luput dari resiko-resiko. Sifat resiko dalam hubungan kerjasama meliputi pemilihan pemasok dan perencaan.

Dalam rantai pasok buah pepaya, resiko akibat faktor eksternal adalah ketidakpastian. Kenaikan harga BBM menyebabkan biaya transportasi meningkat, kenaikan biaya transportasi menyebabkan kenaikan harga saprodi. Dengan demikian, resiko biaya transportasi ini merupakan resiko yang tidak dapat dikendalikan. Resiko eksternal lain seperti kebijakan lalu lintas perdagangan barang juga turut mempengaruhi kelancaran perdagangan buah pepaya. Sedangkan resiko pasar berkaitan dengan tingkat permintaan buah pepaya yang fluktuatif merupakan faktor yang sulit untuk diprediksi.

Akibat penanganan pascapanen yang kurang baik sehingga banyak buah pepaya mengalami pembusukan buah pepaya lebih cepat. Kondisi buah pepaya yang tidak baik biasanya tidak akan diterima oleh distributor. Melalui perencanaan yang matang disertai dengan arus informasi yang baik dari arah konsumen diharapkan dapat mengetahui apa yang diinginkan pasar dan juga penanganan pascapanen yang baik.

4.2.6.5. Proses Trust Building

Proses trust building merupakan proses untuk menumbuh kembangkan saling kepercayaan antara anggota rantai pasok. Hubungan kepercayaan yang lemah dapat menyebabkan keengganan untuk menjalin kerjasama sehingga transfer informasi menjadi terhambat. Adanya aspek ketidakpercayaan menyebabkan salah satu pihak dalam rantai pasok berusaha untuk mendapatkan keuntungan sendiri.

Proses trust building di dalam rantai pasok buah pepaya di pasar induk terjalin tanpa adanya kesepakatan kontraktual yang mengikat. Kepercayaan yang terbangun di antara anggota rantai pasok buah pepaya adalah competence trust. Competence trust yaitu kepercayaan dari masing-masing pihak dalam menjalankan kerja sama. Kepercayaan ini terbangun setelah pihak yang bekerjasama tersebut telah mengenal cukup lama terhadap kompetensinya masing- masing. Tingkatan kepercayaan yang paling baik adalah good

will trust yaitu kepercayaan yang dilandasi itikad baik dan berusaha memikirkan untuk mencapai kemajuan bersama. Trust seperti ini merupakan level yang tertinggi, dan merupakan daya saing yang sangat baik di dalam rantai pasok. Untuk menerapkannya, diperlukan niat yang tulus yang dilandaskan dengan moral yang baik. Kepercayaan yang terbangun diantara anggota rantai pasok mampu mendukung kelancaran aktivitas rantai pasok, seperti kelancaran pada transaksi penjualan, distribusi produk, dan distribusi informasi pasar. Untuk membangun kepercayaan diantara pihak-pihak yang bekerjasama, dapat dilakukan dengan membuat kesepakatan. Apabila kesepakatan tersebut dijalankan dengan sebaik-baiknya, maka kepercayaan dapat meningkat sehingga pihak-pihak yang bekerjasama tersebut dapat fokus menjalankan tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan spesialisasi/perannya. Dengan demikian, trust building yang terbangun di dalam rantai pasok dapat menciptakan rantai pasok yang efisien.

4.2.7. Kunci Sukses

Keberhasilan suatu rantai pasok tergantung dari sejauh mana pihak-pihak yang terlibat di dalamnya mampu menerapkan kunci sukses (key success factor) yang mendasari setiap aktivitas di dalam perdagangan. Kunci sukses tersebut merupakan praktek-praktek penting yang jika dijalankan dengan baik, dapat memperlancar aktivitas bisnis di sepanjang rantai pasok.

Berdasarkan perbandingan teori yang dikemukakan oleh Marimin dan Magfiroh (2011) dengan di lapangan, kunci sukses dalam membentuk rantai pasok buah pepaya di pasar induk sudah diterapkan oleh produsen, tengkulak, distributor dan pedagang dengan baik tetapi belum semuanya berjalan dengan lancar. Kunci sukses tersebut antara lain:

1) Trust Building

Kepercayaan yang terbangun diantara petani dan tengkulak sudah terbentuk

Kepercayaan yang terbangun diantara petani dan tengkulak sudah terbentuk

Dokumen terkait