METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Aktivitas glutation peroksidase (GSH-Px) hati tikus putih Spraque Dawley.
Aktivitas glutathion peroksidase (GSH-Px) yang diukur pada semua grup perlakuan, yaitu grup ekstrak pegagan, ekstrak kunyit dan grup kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit serta kombinasi pegagan dan kunyit.
Pengukuran enzim GSH-Px dilakukan, yaitu pada grup tikus normal, grup preventif, serta grupkuratif, dapat dilihat padaTabel 10 dibawah ini.
Tabel 10: Aktivitas enzim GSH-Px pada hati tikus (mU/mgprotein) (preventif) No Perlakuan n=4 GSH-Px Rataan 1 Kontrol Normal 123,21±1,96a 2 Kelompok I 196,48±5,37b 3 Kelompok II 203,46±1,99c 4 Kelompok III 198,11±5,93d 5 Kelompok IV 197,91±5,37d 6 Kelompok V 209,22±6,64e 7 Kelompok VI 207,38±1,99e 8 Kelompok VII 224,23±0,00f
Keterangan: Superskrip a: kelompok kontrol normal, superskrip b : kelompok pegagan (18,75 mg/200g BB tikus tikus) serta superskrip c: kelompok kunyit tunggal (336 mg/200g BB tikus tikus), juga superskrip d: kelompok kombinasi ekstrak pegagan kunyit 3:1 (18,75 mg/200g BB tikus tikus:112 mg/200g BB tikus tikus); 3:2 (18,75 mg/200g BB tikus tikus:224 mg/200g BB tikus tikus), superskrip e: kelompok pegagan kunyit 1:3 (6,25 mg/200g BB tikus tikus:336 mg/200g BB tikus tikus); 2:3 (12,50 mg/200g BB tikus tikus:112 mg/200g BB tikus tikus), dan superskrip f: kelompok kombinasi ekstrak pegagan kunyit 3:3 (18,75 mg/200g BB tikus tikus:336 mg/200g BB tikus tikus). Senua kelompok menunjukkan kemampuan meningkatkan GSH-Px disbanding kelompok kontrol normal (p<0,05).
Enzim GSH-Pxpada tikus kelompok preventif, perlakuan I dan II yang hanya diberi ekstrak pegagan dan kunyit tunggal, lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kuratif (p<0,05). Aktivitas enzim GSH-Px pada kelompok I(kelompok pegagan tunggal) tetap, dibandingkan dengan kelompok kombinasi (pegagan dan kunyit) III dan IV, secara signifikan lebih rendah.Sedangkan untuk kelompok II (kelompok kunyit tunggal) dibandingkan dengan kelompok V, VI dan VII (kombinasi pegagan kunyit dosis tinggi) menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan alternatif. Aktivitas enzim GSH-Px pada kelompok tikus preventif secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tikus normal. Data ini mengindikasikan bahwa ekstrak tunggal pegagan dan kunyit maupun kombinasinya mampu terjadinya
peningkatan aktivitas GSH-Px. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh perbandingan diantara kedua komponen penyusun sediaan. Pada kondisi dimana ekstrak pegagan bobtnya tetap, penambahan kunyit pada berbagai variasi dosis menyebabkan aktivitas enzim lebih rendah secara bermakna dibandingkan aktivitas enzim yang terpapar. Ekstrak tunggal pegagan (aktivitas enzim kelompok I) secara signifikan lebih rendah dari kelompok II dan III. Pada kondisi dimana bobot kunyit tetap, penambahan pegagan pada berbagai variasi dosis menyebabkan aktivitas enzim GSH-Px secara signifikan lebih tinggi dibandingkan aktivitas enzim kelompok VI dan VII tikus yang memeperoleh ekstrak tunggal kunyit. Kaitan antara dosis respon formula gabungan ekstrak pegagan dan kunyit berbasis pegagan atau kunyit pada kelompok tikus dengan tujuan preventif menunjukkan kurva logaritma Y=50,13ln (x)+137,5 dengan R2 =0,8112 (Gambar 16), namun hanya pada kelompok V saja secara signifikan tidak mampu mempengaruhi peningkatan kadar enzim GSH-Px ( p>0,05).
Untuk membuktikan kemampuan ekstrak pegagan dan kunyit dengan variasi dosis kunyit dengan pegagan tetap serta variasi dosis pegagan dengan kunyit tetap dapat dilihat pada Gambar 15 di bawah ini.
Gambar 15 : Pengaruh ekstrak pegagan dan kunyit terhadap aktivitas enzim GSH-Px pada cara preventif
Dari uji diatas, ada perbedaan bentuk profil aktivitas GSH-Px hati tikus antara basis kunyit dengan variasi pegagan terhadap GSH-Px menunjukkan kurva logaritme dengan persamaan Y=50,13ln (x)+137,5 R2 =0,8112
Gambar 16 :Profil aktivitas enzim GSH-Px berbasis kunyit tetap variasi dosis pegagan
Selanjutnya diperoleh data perlakuan ekstrak pegagan dan kunyit terhadap aktivitas enzim GSH-Px yang dilakukan untuk tujuan kuratif, dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini.
Tabel 11: Aktivitas enzim GSH-Px hati tikus (mU/mgprotein) (kuratif) pada akhir percobaan hari ke-14.
No Perlakuan n=4 GSH-Px Rataan 1 Kontrol Normal 123,21±1,96a 2 Kelompok I 204,83±1,90b 3 Kelompok II 207,38±1,99c 4 Kelompok III 197,91±5,37d 5 Kelompok IV 198,11±5,93d 6 Kelompok V 203,46±1,99e 7 KelompokVI 207,38±1,99e 8 Kelompok VII 211,08±6,64f
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada p<0,05 (t-Student test).
Pada kelompok pengguna kuratif, baik terhadap semua kelompok tikus dengan pemberian ekstrak pegagan dan kunyitbaik tunggal maupun kombinasi mampu meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px (p<0,05). Sebagai obat alami, pegagan mengandung bahan aktif yaitu triterpenoid saponin. Bahan aktif triterpenoid saponin meliputi asiatikosida, centellosida, madekosssida, asam asiatik, dan
y = 50,13ln(x) + 137,5 R² = 0,8112 y = 45,763ln(x) + 141,85 R² = 0,6877 0,00 100,00 200,00 300,00 N I II III IV G SH -P x * mU /mg p ro te in ) prev kur
komponen yang lain seperti minyak volatile, flavonoid, tannin, fitosterol, asam amino, dan karbohidrat.
Bahan aktif triterpenoid saponin berfungsi untuk meningkatkan aktivitas makrofag yang menyebabkan meningkatnya fagositosis dan sekresi interlukin.
Interlukin akan memicu sel β untuk menghasilkan antibodi (Besung 2009).
Asiatikosid mampu mempengaruhi proses detoksifikasi pada hati dan merupakan marker dalam standar deviasi pegagan. Madekossida dalam memperbaiki kerusakan sel malalui sintesis kolagen (Sefitri 2008).
Kunyit mengandung kurkumin sebagai antioksidan lebih kuat dari pada dehidrozingeron analog kurkumin yang didapatkan dari isolate Zingeber officinale.
Aktivitas antioksidan kurkumin juga memiliki efek sebagai antiinflamasi, antibakteria, antivirus, antijamur, antitumor, antispasmodic, dan hepatoproteksi (Kohli et al. 2004). Sebagai antiinflamasi kurkumin telah menunjukkan penghambatan metabolisme asam arakidonat, silkooksigenase, lipooksigenase, sitokin (interleukin dan necrosing factor), menghambat sintesis prostaglandin dan melepas hormaon steroid (Kohli et al. 2004). Kurkumin juga menunjukkan efek meningkatkan kerja obat antitumor (Antony 2008). Penggunaan kunyit sebagai suatu formulasi dengan tanaman obat lainnya menunjukkan efek perlindungan terhadap hepar (Kamble et al.2008). Kedua tanaman ini membuktikan kemampuan untuk tujuan sebagai kuratif pada penyakit hati.
Ekstrak pegagan dan kunyit dengan variasi dosis kunyit dengan pegagan tetap serta variasi dosis pegagan dengan kunyittetap dapat dilihat pada Gambar 17 di bawah ini.
Gambar 17: Pengaruh ekstrak pegagan dan kunyit terhadap aktivitas enzim GSH-Px (kuratif) 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 N I II III IV V VI VII
G
SH
-P
x
(m
U/
m
g
p
ro
te
in
)
KURATIF
Variasi dosis kunyit pegagan tetapVariasi dosis pegagan , kunyit tetap
a
a a
a a
Dari uji diatas, ada perbedaan bentuk profil aktivitas GSH-Px hati tikus antara basis pegagan dengan variasi kunyit terhadap GSH-Px menunjukkan kurva logaritma dengan persamaan Y=53,133ln (x)+140.46 R2 =0,7791(Gambar 18).
Gambar 18 :Profil aktivitas enzim GSH-Px berbasispegagandengan variasi dosis kunyit
Untuk variasi dosis, kaitan antara dosis respon formula gabungan ekstrak pegagan dan kunyit berbasis pegagan atau kunyit pada kelompok tikus dengan tujuan kuratif menunjukkan kurva logaritma Y=53.133ln(x)+140.45 R2 = 0,7791 (Gambar 18).
Data diatas membuktikan bahwa ekstrak pegagan dan kunyit baik tunggal maupun kombinasi dapat menurunkan kadar AST dan ALT serta meningkatkan aktivitas GSH-Px. GSH-Px mengikat radikal bebas yang dihasilkan dari proses oksidasi parasetamol oleh enzim Sitokrom P-450. Penangkalan enzim GSH-Px membuktikan bahwa ekstrak pegagan dan kunyit dosis tinggi mampu meningkatkan pengisian GSH dalam proses metabolik reaktif antioksidan dengan oksidasi parasetamol (radikal bebas)sehingga mencegah ikatan kovalen metabolik reaktif dengan komponen makromolekul sel hepar (Davis et al. 1991).