• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hati berperan dalam pertahanan tubuh, baik berupa proses detoksifikasi maupun melibatkan berbagai fungsi perlindungan (immunitas). Detoksifikasi terhadap zat-zat beracun dilakukan dengan melibatkan berbagai proses enzim-enzim yang dihasilkan oleh hati, baik yang masuk dari luar maupun yang dihasilkan oleh tubuh sendiri. Dalam proses detoksifikasi, enzim glutation peroksidase(GSH-Px) berperan penting dalam melindungi sel dari kerusakan. Aktivitas GSH-Px mampu mereduksi 70% peroksida organik dan lebih dari 90% H2O2. Aktivitas GSH-Px juga ditemukan dalam mitokondria, plasma, dan saluran pencernaan (Winarsi2007).

Parasetamol atau N-asetyl-p-aminofenol merupakan senyawa analgetik, antipiretik nonnarkotik turunan para aminofenol. Parasetamol di dalam hati mengalami metabolisme, melalui konjugasi dengan asam glukoronat dan asam sulfat. Sisanya oleh enzim sitokrom P-450 mikrosomal dioksidasi sehingga membentuk suatu metabolit elektrofil N-asetyl-p-benzoquinonimina (NAPQI) yang bersifat hepatotoksik. Hipotesis mekanisme toksisitas parasetamol dibagi menjadi 2, yaitu melalui interaksi kovalen dan interaksi nirkovalen. Interaksi kovalen terjadi karena pemberian parasetamol dosis toksis akan menguras kandungan glutathion (GSH) sehingga NAPQI akan berikatan secara kovalen dengan makromolekul protein sel hati, dan mengakibatkan terjadinya kerusakan sel hati. Interaksi nirkovalen melibatkan pembentukan radikal bebas NAPQI, pembangkitan oksigen reaktif, anion superoksida serta gangguan homeostatis Ca, yang semuanya akan menyebabkan terjadinya kematian sel. Pada keadaan nekrosis, sel-sel hati pecah sehingga enzim glutamat piruvat transaminase (GPT) yang terdapat dalam sel hati akan keluar, dan masuk ke dalam aliran darah di sekitar vena sentralis sehingga terjadi kenaikan aktivitas GPT melebihi normal (Kaplowitz and DeLeve 2003).

Kurkumin pada kunyit (Curcuma longa) merupakan senyawa aktif sebagai antioksidan dan berperan dalam detoksifikasi hati. Kerusakan hati pada tikus yang diinduksi dengan CCl4 dapat diperbaiki dengan pemberian ekstrak kunyit dengan dosis 50 mg/kg bobot badan (Sengupta et al. 2011). Tidak ada laporan tentang toksisitas pemberian ekstrak kunyit baik secara akut dan kronis pada dosis standar bahkan pada dosis yang sangat tinggi sekitar 100 mg/kg bobot badan (Sengupta et al.

2011).

Pegagan berkhasiat sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi sel hati dari berbagai kerusakan akibat racun dan zat berbahaya (Setiawan 2006). Aktivitas hepatoprotektor kombinasi pegagan dan kunyit telah dilaporkan oleh Setiani (2012) bahwa ekstrak air pegagan pada dosis 6,25 mg/200g BB tikus dan ekstrak etanol kunyit dosis 112 mg/200g BB tikus dapat menghambat kerusakan sel hati yang diinduksi parasetamol secara in vivo.

Pemberian parasetamol dengan dosis 720 mg/mL, 1440 mg/mL, 2160 mg/mL, padaSpraque Dawley menunjukkan adanya penurunan aktivitas enzim GSH-Px secara signifikan (p<0.05). Semakin tinggi dosis yang diberikan, semakin besar pula penurunan aktivitas enzim GSH-Px(y=-22,336x+200,19, R²=0,9332). Pengaruh parasetamol pada aktivitas GSH-Px, menunjukkan bahwa parasetamol dapat

menurunkan aktivitas enzim GSH-Px. Besarnya aktivitas GSH-Px berbanding terbalik dengan konsentrasi parasetamol (Jaesche H 2006).

Pada perlakuan pemberian ekstrak pegagan dan kunyit terhadap hati tikus yang normal, tanpa diinduksi parasetamol menunjukkan potensi ekstrak pegagan dan kunyit terhadap peningkatan aktivitas enzim GSH-Px pada hati tikus tetap tinggi jika dibandingkan dengan kondisi perlakuan kontrol (0). Pemberian ekstrak pegagan dan kunyit tunggal, secara signifikan berpengaruh pada peningkatan enzim GSH-Px pada hati tikus yaitu sebesar 258,31±8,09 mU/mgproteindan 299,58±24,78 mU/mgprotein (p<0,05). Kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit juga mempengaruhi aktivitas enzim GHS-Px pada hati normal. Glutathione sulphhydril (GSH) suatu protein yang secara alami diproduksi dalam tubuh dan berperan penting dalam sistem detoksifikasi, regenerasi sel, serta bersifat antioksidan dan antitoksin. Sebagai antioksidan, glutation dapat menangkap reactive oxygen species (ROS) yang dihasilkan dari reaksi oksidasi dalam tubuh (Devaraj S 2014). Pada hati tikus yang normal, pemberian ekstrak pegagan dan kunyit akan meningkat lebih besar disebabkan radikal bebas tidak ada sehingga terjadi peningkatan enzim GSH-Px.

Pada penelitian in vitro, pengukuran aktivitas GSH-Px hati tikus yang sebelumnya diberikan ekstrak pegagan dan kunyit kemudian diinduksi parasetamol atau untuk tujuan sebagai preventif, dosis pegagan 18,75mg/200g BB tunggal mampu meningkatkan aktivitas GSH-Pxdari (258,31±8,09)mU/mg proteinmenjadi (279,74±26,32)mU/mgprotein atau sekitar 5,8%. Sedangkan pada dosis kunyit tunggal yaitu 336mg/200g BB tikusjuga meningkat dari (277,60±75,57) mU/mgprotein menjadi(333,33±39,95)mU/mgprotein atau sekitar 27 %. Kedua ekstrak pegagan dan kunyit yang diberikan dosis tunggal, secara signifikan berpotensi dalam meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px (p<0,05). Sedangkan kombinasi pegagan dan kunyit hanyapada konsentrasi tinggi saja yaitu (22,05mg/mL:184,1mg/mL)meningkat dari (139,34±13,39) mU/mgprotein menjadi(232,60±21,40)mU/mgprotein atau sekitar 16% (p<0,05). Jika dibandingkan dengan kombinasi lainnya, tidak signifikan meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px (p>0,05).

Pada perlakuan dengan tujuan kuratif, bahwa ekstrak pegagan tunggal yaitudosis 18,75mg/200g BB tikus tikus menyebabkanpeningkatan aktivitas enzim GSH-Px dari 102,89±11,26 mU/mg protein dan pemberian ekstrak kunyit tunggal juga mengalami peningkatan enzim GSH-Px sebesar 160,77±19,29 mU/mgprotein atau sekitar 36%jika dibandingkan dengan kelompok kontrol normal (p<0,05). Kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit juga menunjukkan potensi dalam meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px terutama pada dosis 18,75mg/200g BB tikus:336mg/200g BB tikus, dari (98,61±7,52) mU/mgprotein menjadi(239,01±78,29) mU/mgprotein atau 56,9%(p<0,05).

Berdasarkan data yang diperoleh ekstrak pegagan dan kunyit baik dosis tunggal maupun kombinasi berpotensi untuk meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px, sama seperti yang dilakukan pada penelitian Rohrdanz et al. (2002) yang melaporkan bahwa aktivitas glutation peroksidase meningkat ketika sel hepatoma H4IIE dipapar dengan 300 mmol/L daidzein.

Pada penelitian Chenet al. (2002), pemberian Suplemen isoflavon dengan kadar genistein tinggi, yaitu sebanyak 598 mg/kg pakan tikus selama 4 minggu pada tikus yang dilatih berlari ternyata meningkatkan aktivitas glutation peroksidase dari 0,403 mmol/det/mg menjadi 0,412 mmol/det/mg protein RBC tikus. Isoflavon kedelai merupakan senyawa flavonoid. Potensinya sebagai antioksidan diduga serupa dengan antioksidan quersetin, yaitu sebagai scavenger radikal bebas (Kameokaet al 1999). Quersetin adalah suatu senyawa flavonoid dalam sayuran atau buah-buahan yang memiliki potensi antioksidan. Potensi tersebut ditunjukkan oleh posisi gugus hidroksil yang dapat langsung menangkap radikal bebas. Flavonoid melindungi sel dari serangan senyawa oksigen reaktif seperti oksigen single, superoksida, radikal peroksil, radikal hidroksil, dan peroksinitrit.

Ekstrak pegagan dan kunyit adalah bahan yang mengandung bahan aktif flavonoid sebagai antioksidan yang mampu mengikat radikal bebas yang dihasilkan dari proses induksi hati tikus dengan senyawa parasetamol sehingga ekstrak pegagan dan kunyit dapat melindungi hati tikus dari kerusakan.

Penelitian invivo dengan menganalisis kadar AST dan ALT, gluthation peroksidase serta dilanjutkan dengan pemeriksaan jaringan histologi hati tikus, di peroleh data bahwa pada kelompok perlakuan dengan tujuan preventif, kedua ekstrak mampu menurunkan kadar AST dan ALT (p<0,05).Pengaruh ekstrak pegagan dan kunyit terhadap kadar AST dan ALT dengan tujuan preventif terlihat adanya peningkatan secara signifikan kadar AST dan ALT pada hari ke–11, yaitu pada saat tikus diinduksi parasetamol pada hari ke-10(p<0,05). Kemudian kadar AST dan ALT mengalami penurunan yang signifikan pula pada hari ke-14 (p<0,05). Hal ini menunjukkan ekstrak pegagan dan kunyit berpotensi sebagai mencegah pada kejadian hepatitis (p<0,05).

Pada perlakuan pemberian ekstrak pegagan dan kunyit dengan tujuan kuratif, menunjukkan adanya penurunan kadar AST yang berbeda secara signifikan (p=0,081) namun pada kadar enzim ALT menunjukkan tidak adanya penurunan secara signifikan (p=0,023). Artinya peningkatan kadar ALT ini kemungkinan bisa saja terjadi bila stres oksidatif memicu peroksidasi lipid menyebabkan terjadinya kerusakan membran plasma. Kerusakan atau peningkatan permeabilitas membran hepatositakan mengakibatkan destruksi mitokondria dan retikulum endoplasmik tempat enzim tersebut berada. Enzim kemudian masuk dalam sirkulasi darah sehingga kadar ALT dalam darah meningkat (Kunz et al. 2006). Jika dibandingkan dengan kadar AST,parameter kadar ALT untuk menunjukkan fungsi lebih representatif (Prat et al. 2007). Kemampuan ekstrak pegagan dan kunyit ini dalam menurunkan kadar AST dan ALT mengindikasikan potensi tanaman ini berkhasiat sebagai obat untuk melindungi hati dari kerusakan (p<0,05).

Pada pengukuran GSH-Px, perlakuan dengan tujuan preventif dan kuratif menunjukkan bahwa kedua ekstrak pegagan dan kunyit dapat meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px (p<0,05). Kunyit mengandung kurkuminoid sebanyak 1%. Beberapa penelitian melaporkan potensi kurkumin dalam memperbaiki hati tikus yang diinduksi dengan karbontetraklorida (CCl4), galaktosamin, dan parasetamol dosis tinggi (Gantait 2011). Aktivitas antioksidan kurkumin memegang peranan penting sebagai hepatoprotektor. Selain itu, kurkumin juga berkhasiat mengatasi gangguan

hati, kurkumin merangsang produksi cairan empedu yang akan memecah lemak sehingga proses pencernaan lebih lancar. Kurkumin juga berpotensi sebagai antidiabetes karena mampu melipatgandakan kerja insulin. Konsumsi kurkumin tidak menimbulkan toksisitas. Aktivitas hepatoprotektor dari pegagan juga diduga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas antioksidan dan menurunkan aktivitas enzim lipid peroksidase, serta meningkatkan pengisian GSH. Peningkatan aktivitas antioksidan ekstrak pegagan dan kunyit dapat mencegah terbentuknya radikal bebas yang terjadi akibat proses oksidasi parasetamol oleh enzim Sitokrom P- 450.Peningkatan pengisian GSH memungkinkan metabolik reaktif yang terbentuk akibat proses oksidasi parasetamol dapat terkonjugasi oleh GSH yang dapat mencegah ikatan kovalen metabolik reaktif dengan komponen makromolekul sel hepar (Davis et al. 1991).

Pada pemeriksaan jaringan hati (histopatologi) ditemukan adanya beberapa perubahan pada sel hewan coba, terutama adanya jaringan sel hati yang mengalami regenerasi. Untuk perlakuan hewan coba dengan tujuan sebagai preventif dan kuratif terlihat kondisi perubahan jaringan dijumpai hampir sama. Kelompok tikus yang memperoleh ekstrak pegagan tunggal dengan dosis 18,75 mg/200g BB tikus menunjukkan adanya regenerasi sel. Regenerasi sel juga ditemukan pada perlakuan ekstrak kunyit tunggal dosis 336 mg/200g BB tikusuntuk preventif dan kuratif. Sedangkan gambaran histopatologi hati tikus yang memperoleh kombinasi pegagan:kunyit dosis 18,75 mg/200g BB tikus:112mg/200g BB tikus; 18,75 mg/200g BB tikus: 224mg/200g BB tikus; 18,75 mg/200g BB tikus:336 mg/200g BB tikusmenunjukkanperubahan kerusakan jaringan hati lebih sedikit pada kelompok kuratif. Pada perlakuan kombinasi ekstrak pegagagan:kunyit dengan dosis 6,25mg/200g BB tikus:336 mg/200g BB tikus; 12,50 mg/200g BB tikus:336 mg/200g BB tikus dan 18,75mg/200g BB tikus:336 mg/200g BB tikus:ditemukan perubahan jaringan berupa regenerasi sel hati dengan tujuan sebagai preventifdan kuratif.Hasil pengamatan jaringan diatas menunjukkan bahwa ekstrak pegagan dan kunyitmampu menstimulasi regenerasi sel.