Pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.6186/Kpts-II/2002, tanggal 10 Juni 2002, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berfungsi dalam mengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pengelola taman nasional (PTN) dibagi menjadi 3 bidang, yaitu bidang PTN wilayah I Cianjur, wilayah II Sukabumi, dan wilayah III Bogor; dengan 6 seksi PTN, yaitu seksi PTN wilayah I Cibodas, wilayah II Gedeh, wilayah III Selabintana, wilayah IV Situgunung, wilayah V Bodogol, dan wilayah VI Tapos; dan dengan 13 resort pengelola taman nasional (RPTN). Masing-masing bidang, seksi, dan resort PTN bersama-sama mengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan pusat pengelola, yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP). Kepentingan BB TNGGP dengan bidang, seksi, dan resort PTN dalam konflik yang terjadi di Kampung Ciwaluh, yaitu mengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango wilayah Bodogol, salah satunya dengan melindungi kawasan dari para perambah hutan. Tuntutan yang diinginkan oleh BB TNGGP dan bawahannya dari konflik yang terjadi yaitu warga khususnya petani Kampung Ciwaluh berhenti untuk merambah kawasan hutan agar kawasan konservasi dapat terlidungi. Posisi pengelola TNGGP bersifat positif terhadap perluasan kawasan konservasi TNGGP.
Petani Kampung Ciwaluh
Petani penggarap eks lahan Perhutani di jarak antara perkampungan dengan perluasan TNGGP berjumlah 39 orang, penggarap lahan sewa milik PT Agro berjumlah 2 orang dan penggarap lahan milik pribadi berjumlah 16 orang. Seluruh petani penggarap eks lahan Perhutani, seluruh petani penggarap lahan milik pribadi, dan seluruh petani penggarap lahan PT Agro yang lahannya berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bersifat negatif terhadap perluasan kawasan konservasi TNGGP (sebanyak 57 orang). Hal ini dikarenakan perluasan kawasan konservasi mengurangi lahan garapan mereka. Sebelum adanya penetapan kawasan, petani penggarap lahan milik pribadi dan petani penggarap lahan sewa PT Agro dapat menggarap eks lahan Perhutani dengan dibawah pengawasan Perum Perhutani.
Tuntutan petani penggarap eks lahan Perhutani adalah jaminan bahwa lahan pertanian mereka tidak akan diganggu kembali oleh pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan pengeluaran surat perjanjian bersama dari hasil rapat sebelum dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts- II/2003 tanggal 10 Juni 2003. Kemudian, kepentingan petani penggarap eks lahan Perhutani adalah mengenai kontrol terhadap lahan garapan mereka yang sekaligus merupakan sumber mata pencaharian utama mereka. Mereka menjadi resah menggarap lahan garapannya karena takut terjadi penangkapan kembali oleh polisi hutan. Kepentingan petani pemilik lahan dan juga petani penggarap lahan
PT Agro adalah membantu petani penggarap eks lahan Perhutani agar mendapatkan kontrolnya kembali atas lahan garapan mereka.
Aparat Desa Wates Jaya
Aparat Desa Wates Jaya termasuk ke dalam pemerintah yang berkeharusan untuk mengikuti segala kebijakan atasannya (pemerintah). Namun, di satu posisi mereka juga harus memikirkan nasib warga di desanya. Hal ini didukung pernyataan aparat Desa Wates Jaya, yaitu:
“...Sebenarnya kami juga merasa kasian dengan nasib petani Kampung Ciwaluh yang akses lahannya menjadi terbatas dan sempat resah karena takut terjadi penangkapan lagi. Namun itulah kebijakan dari pemerintah jadi kami juga harus menghormatinya. Yang kami dapat lakukan hanyalah mencari solusi seadil-adilnya diantara kedua pihak...” (Bapak USM, 47 tahun)
Aparat Desa Wates Jaya berkepentingan dalam mengelola konflik, yaitu sebagai penyambung keluhan warga Kampung Ciwaluh dengan pemerintah yang mempunyai posisi diatasnya, salah satunya Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dan memberikan sosialisasi. Selain itu, aparat Desa Wates Jaya juga menjadi mediator dalam konflik antara warga Kampung Ciwaluh dengan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Meskipun demikian, mereka tidak memiliki tuntutan dalam konflik yang terjadi.
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas)
Pembentukan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) merupakan tuntutan yang mengharuskan adanya integrasi dan kerjasama yang mantap serta dinamis antar para aparatur sipil, TNI, Polri dan pimpinan swasta nasional serta pimpinan politik dan organisasi kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Dalam konflik yang terjadi, Lemhanas membantu warga untuk mendapatkan kontrolnya kembali atas lahan garapannya terutama bagi petani penggarap eks lahan Perhutani dan juga agar warga semakin sadar pentingnya konservasi. Lemhanas menjadi mediator antara kedua pihak yang berkonflik yaitu pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan petani Kampung Ciwaluh. Lemhanas tidak memiliki tuntutan dalam konflik yang terjadi. Lemhanas hanya berkepentingan menjadi pihak yang mengelola konflik.
Rimbawan Muda Indonesia (RMI)
Rimbawan Muda Indonesia (RMI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat. Berdasarkan visi dan misinya, RMI mengembangkan program- program berbasis masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan konservasi keanekaragaman hayati di kawasan hulu Jawa Barat dan Banten terutama di daerah ekosistem Halimun, salah satunya di daerah yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kampung Ciwaluh merupakan kampung yang berbatasan dengan TNGGP sehingga termasuk ke dalam kawasan yang mendapatkan program berbasis masyarakat dari pihak RMI. Untuk menunjang program yang akan dikembangkannya dan untuk merespon keluhan
warga khususnya petani mengenai batas konservasi yang belum jelas, maka pada tahun 2012 terdapat bantuan dari Rimbawan Muda Indonesia (RMI) untuk mengukur ulang batas konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. RMI tidak memiliki tuntutan dalam konflik yang terjadi.
Relasi antar Aktor dalam Konflik
Upaya untuk melihat konflik akan lebih jelas ketika dilakukannya pemetaan dalam melihat aktor-aktor yang ada. Dari identifikasi aktor yang terlibat dalam konflik sumber daya alam ini, didapatkan beberapa aktor, yaitu seksi PTN wilayah V Bodogol, bidang PTN wilayah III Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, aparat Desa Wates Jaya, petani Kampung Ciwaluh, Rimbawan Muda Indonesia (RMI), dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Berdasarkan konsep tentang tiga ruang kekuasaan menurut Bebbington dan Luckman (1998) seperti dikutip Dharmawan (2006), dapat dikemukakan bahwa konflik yang terjadi berlangsung antar ruang masyarakat sipil atau kolektivitas sosial, dan ruang kekuasaan negara. Ruang masyarakat sipil atau kolektivitas sosial yang dimaksud adalah petani Kampung Ciwaluh, dan ruang kekuasaan negara yang dimaksud adalah Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP) dengan segala bidang dan seksi pengelola taman nasional. Selanjutnya, berdasarkan Dharmawan (2006) mengenai tiga bentuk konflik sosial, konflik yang terjadi merupakan bentuk konflik antara masyarakat sipil yang berhadapan melawan negara dan sebaliknya. Konflik sosial dapat terjadi dalam bentuk protes warga masyarakat atas kebijakan publik yang diambil oleh negara atau pemerintah yang dianggap tidak adil dan merugikan masyarakat secara umum. Hal ini sesuai dengan Fuad dan Maskanah (2000) bahwa konflik dapat terjadi antar berbagai unsur masyarakat.
Berdasarkan Kinseng (2003), hubungan antar pihak dibagi menjadi hubungan konflik maupun kolaborasi atau kerjasama. Garis yang tidak beraturan atau melengkung pada Gambar 5 menghubungkan petani Kampung Ciwaluh dengan pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan hubungan konflik atau perselisihan.
Keterangan: Konflik
Kerjasama atau kolaborasi
Gambar 5 Pemetaan aktor-aktor dalam konflik di Kampung Ciwaluh Garis lurus menunjukkan kerjasama atau kolaborasi, terlihat adanya kerjasama antara petani Kampung Ciwaluh dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan aparat Desa Wates Jaya. Selanjutnya, terdapat hubungan antara aparat Desa Wates Jaya dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), petani Kampung Ciwaluh, dan pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Aparat Desa Wates Jaya memiliki hubungan kerjasama atau koordinasi dengan kedua pihak yang berkonflik, yaitu petani Kampung Ciwaluh dan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kemudian, Lemhanas memiliki hubungan dengan aparat Desa Wates Jaya, dan pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Dinamika Konflik
Sejak tahun 1945, warga Kampung Ciwaluh memanfaatkan lahan dengan bebas tanpa adanya badan resmi yang mengelola lahan tersebut. Lahan yang tersedia menjadi sumber penghidupan secara turun temurun. Terlebih lagi mayoritas warga Kampung Ciwaluh bermata pencaharian utama sebagai petani. Namun, sejak adanya pembatasan lahan oleh Perum Perhutani, akses petani untuk mengelola dan juga memanfaatkan lahan menjadi terbatas. Sempat terjadi konflik antara Perum Perhutani dengan petani setempat karena adanya pelarangan pemanfaatan lahan namun dapat teratasi. Petani tetap diperbolehkan menggarap
Rimbawan Muda Indonesia Petani Kampung Ciwaluh Aparat Desa Wates Jaya Lemhanas
Pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
lahan tersebut dengan syarat harus dibawah pengawasan Perum Perhutani dan dengan ketentuan yang berlaku, misalnya dengan tidak dapat menebang pohon dan lahan tidak dapat dijual. Konflik antara Perum Perhutani dengan petani Kampung Ciwaluh selalu dapat teratasi dengan baik.
Terjadi penyebaran isu mengenai peralihan pengelolaan lahan yang sebelumnya dikelola oleh Perum Perhutani berganti menjadi dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP). Isu ini menyebabkan adanya protes warga, khususnya petani karena lahan tersebut akan berubah menjadi lahan konservasi TNGGP. Kemudian, diadakan rapat antara pihak BB TNGGP dengan perwakilan warga Kampung Ciwaluh, serta aparat Desa Wates Jaya. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah satu petani yang merupakan tokoh masyarakat setempat, yaitu:
“...Dahulu waktu ayah saya menjabat sebagai Ketua RT disini pernah diadakan rapat yang membahas mengenai jarak kampung dengan perluasan kawasan TNGGP...” (Bapak TAR, 43 tahun)
Kemudian, hal ini juga dibenarkan oleh kedua petani yang dahulu mengikuti rapat bersama pihak BB TNGGP dan aparat Desa Wates Jaya, yaitu:
“Saya masih ingat dahulu saya pernah mengikuti rapat bersama pihak taman nasional dan perwakilan aparat desa. Agak lupa pastinya kapan yang pasti sebelum ditetapkan menjadi taman nasional, sebelum tahun 2000.” (Bapak JUM, 64 tahun)
“Waktu itu saya bersama Bapak JUM dan beberapa warga mengikuti rapat tersebut. Rapat tersebut dilaksanakan di kampung kami tepatnya di bangunan sekolah dasar.” (Bapak MOS, 70 tahun)
Pertemuan rapat ini menghasilkan perjanjian apabila ditetapkan menjadi perluasan kawasan TNGGP, khususnya kawasan konservasi, maka jarak antara perluasan kawasan TNGGP dengan ujung perkampungan Kampung Ciwaluh sebesar 100 meter. Hal ini sekaligus merupakan penetapan batas konservasi taman nasional. Selanjutnya, ketika telah dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003, surat mengenai perjanjian jarak bersama yang sekaligus dapat menentukan batas konservasi belum juga diberikan kepada warga.
Jarak antara perluasan kawasan TNGGP dengan ujung perkampungan Kampung Ciwaluh sebesar 100 meter sampai saat ini masih digunakan petani untuk bercocok tanam, baik lahan sawah dan/atau lahan kebun dengan sistem pertanian tumpang sari maupun tidak. Mayoritas lahan tersebut merupakan eks lahan Perhutani dengan ketentuan penggunaan lahan Perhutani yang masih berlaku. Namun ditemukan juga, lahan milik pribadi dan lahan milik PT Agro yang sekarang ini dimiliki oleh MNC Group meskipun keduanya ditemukan tidak sebanyak eks lahan Perhutani.
Akses sumber daya lahan menjadi semakin terbatas karena adanya penetapan kawasan konservasi TNGGP merupakan potensi terjadinya konflik laten. Awalnya petani bersikap resistensi karena merasa tidak rela akan pengurangan akses lahan karena menganggap lahan telah digarap oleh leluhur
mereka ketika Indonesia merdeka yang jauh sebelum dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003. Hal ini sesuai dengan Nugraha (1999), ketertinggalan dari segi ekonomi menyebabkan timbulnya sikap resistensi dari masyarakat sekitar hutan terhadap pihak luar yang mengelola hutan, sikap inilah yang merupakan potensi laten terjadinya konflik dalam pengelolaan sumber data hutan. Namun pada akhirnya, mereka lebih memilih untuk bersikap pasrah dan menuruti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini karena mereka bersikap fatalis sehingga menyebabkan mereka pasrah terhadap kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Berdasarkan Condliffe (1991) seperti dikutip Sardjono (2004), hal ini termasuk lumping it yaitu terkait isu yang dilontarkan diabaikan (simply ignored) dan hubungan dengan pihak lawan terus berjalan.
Pembatasan akses sumber daya lahan yang terjadi sesuai dengan Wirajardjo (2001) bahwa pihak yang berkuasa dan memiliki wewenang formal untuk menetapkan kebijakan umum, biasanya lebih memiliki peluang untuk menguasai akses dan melakukan kontrol sepihak terhadap pihak lain. Selain itu, diungkapkan juga bahwa persoalan geografis dan faktor sejarah atau waktu seringkali dijadikan alasan untuk memusatkan kekuatan serta pengambilan keputusan yang hanya menguntungkan pada satu pihak tertentu. Hal ini dapat dilihat dari pengeluaran SK Menteri mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP karena menganggap eks lahan Perhutani merupakan salah satu lahan yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna sehingga harus dilindungi.
Terjadi kurangnya komunikasi diantara kedua pihak. Meskipun hal ini belum menjadi pemicu terjadinya konflik. Sebanyak 21 petani dari 57 petani penggarap yang lahannya berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (sebesar 36.84 persen) tidak mengetahui batas konservasi dengan adanya tapal batas. Mereka hanya mengetahui pohon pinus pertama dari perkampungan mereka merupakan batas konservasi. Hal ini dinyatakan oleh dua petani penggarap yang mewakili 21 petani lainnya, yaitu:
“Saya tidak tahu pasti batas taman nasional dengan kampung saya. Kalo tidak salah patokannya pohon pinus pertama.” (Bapak UDI, 45 tahun)
“Yah... Pokoknya apabila sudah melewati pohon pinus pertama berarti sudah masuk areal taman nasional.” (Bapak MIS, 54 tahun)
Padahal patokan petani terhadap pohon pinus pertama dari perkampungan adalah salah. Batas konservasi dapat maju atau mundur sebesar 1 sampai 3 meter bahkan lebih dari pohon pinus pertama. Hal ini didukung oleh salah satu pihak yang dahulu bekerja di bidang pengelola taman nasional (PTN) wilayah III Bogor namun sekarang dipindahkan ke Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yaitu:
“...Tapal batas dapat maju atau mundur 1 sampai 3 meter bahkan lebih dari
pohon pinus pertama...” (Mas Tangguh, 32 tahun)
Meskipun telah diadakannya sosialisasi konservasi, salah satunya mengenai tapal batas oleh pihak taman nasional dengan warga setempat khususnya petani penggarap yang lahannya berbatasan dengan kawasan taman nasional, namun tetap saja beberapa petani tidak mengetahui batas konservasi dengan patokan tapal
batas. Tapal batas berbentuk lonjong merupakan tapal batas eks lahan Perhutani, kemudian tapal batas berbentuk kotak merupakan tapal batas taman nasional dengan batas konservasi yang dapat maju atau mundur sebesar 1 sampai 3 meter bahkan lebih dari pohon pinus pertama. Hal ini karena ketika adanya sosialisasi, hanya tokoh masyarakat saja yang sering hadir, sedangkan warga lainnya khususnya petani penggarap yang lahannya berbatasan dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP jarang menghadiri sosialisasi tersebut karena alasan kepentingan pribadi.
Tahun 2007 terjadi rapat pertama antara warga Kampung Ciwaluh dengan pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Rapat membahas nasib petani karena adanya perluasan kawasan konservasi TNGGP berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003. Hasil rapat ini berupa persetujuan akan dibentuknya kerjasama antara kedua pihak dalam memaksimalkan hasil pertanian petani.
Tahun 2008 terjadi rapat antara aparat Desa Wates Jaya dengan perwakilan warga Kampung Ciwaluh yang merupakan tokoh masyarakat. Rapat ini memang bersifat tertutup, yaitu warga Kampung Ciwaluh tidak dapat menghadirinya. Hal yang dibahas mengenai nasib warga khususnya petani karena adanya perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan keinginan petani untuk dapat menggarap kembali eks lahan Perhutani yang sekarang ini telah menjadi lahan perluasan kawasan konservasi taman nasional. Rapat tersebut menghasilkan upaya aparat Desa Wates Jaya dalam menanggulangi akses lahan petani yang semakin terbatas, baik itu melalui sosialisasi kepada petani Kampung Ciwaluh untuk beralih profesi maupun sebagai mediator antara pengelola taman nasional dengan petani setempat.
Akhir tahun 2008, pihak TNGGP merealisasikan bentuk kerjasamanya, yaitu bekerja sama dengan Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh. Kerjasama ini sebagai bentuk kepedulian pihak taman nasional akan ekonomi warga setempat, khususnya petani Kampung Ciwaluh. Perjanjian kerjasama ditanda tangani oleh kedua pihak, dengan berisikan hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Tahun 2010, terjadi pemberian bantuan oleh pihak TNGGP kepada warga Kampung Ciwaluh. Bantuan yang diberikan berupa indukan domba, indukan ayam, dan lebah madu untuk dikembangkan oleh warga dengan pihak Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh sebagai pengelola bantuan tersebut. Bantuan ini merupakan bentuk kelanjutan kerjasama Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh dengan pihak taman nasional.
Pada tahun 2011, konflik menjadi terbuka dan memanas. Terjadi penangkapan salah satu petani berinisial BDR (43 tahun) oleh polisi hutan karena dianggap telah menebang pohon jenjeng di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Padahal petani tersebut menebang di lahannya yang memang berbatasan dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP. Didasari oleh asas kekeluargaan, sekitar pukul 17.00-19.00 WIB serentak warga setempat termasuk beberapa petani penggarap lahan yang berbatasan langsung dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP melalukan demonstrasi ke pengelolaan TNGGP terdekat, yaitu resort pengelolaan taman nasional (RPTN) model Bodogol. BDR sempat ditahan karena dianggap telah merambah hutan. Kemudian pukul 19.30 WIB terjadi ancaman oleh warga, apabila BDR tidak dibebaskan maka polisi hutan akan ditahan oleh warga. Setelah ditelusuri, kejadian ini terjadi
karena polisi hutan yang masih baru sehingga dia kurang mengetahui batas konservasi, terlebih lagi banyak tapal batas taman nasional yang telah hilang. Kemudian, masalah ini selesai, BDR dibebaskan dan warga menghentikan aksi demonstrasi. Merujuk pada konsep tipe dan bentuk reaksi masyarakat dalam menyikapi konflik yang terjadi menurut Dharmawan (2006), dapat dikemukakan bentuk reaksi warga Kampung Ciwaluh adalah demonstrasi atau protes bersama yaitu kegiatan yang mengekspresikan atau ketidaksepahaman yang ditunjukkan oleh suatu kelompok atas isu tertentu yang biasanya diambil sebagai protes reaksioner yang dilakukan secara berkelompok ataupun massal atas ketidaksepahaman yang ditunjukkan oleh suatu pihak tertentu kepada pihak berseberangan atau suatu masalah tertentu.
Penangkapan salah satu warga berinisial BDR ini menimbulkan persepsi negatif bahwa penetapan batas hanya diketahui oleh beberapa pihak BB TNGGP saja khususnya yang mengikuti pertemuan sebelum dikeluarkannya SK Menteri. Kemudian, ketika terjadi pergantian pemimpin maupun struktur organisasi BB TNGGP, penetapan batas yang telah disepakati bersama seketika hilang. Warga dianggap telah menggarap lahan perluasan kawasan konservasi TNGGP, sedangkan warga menganggap lahan yang mereka garap terletak di luar batas perluasan kawasan konservasi dan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama. Hal ini menjadikan warga menganggap bahwa pentingnya pemberian surat perjanjian terlebih untuk membela diri mereka ketika terjadi penangkapan kembali.
Ketika dikonfirmasi kepada salah satu pihak taman nasional, mereka memang tidak mengetahui mengenai perjanjian tersebut. Hal ini karena telah bergantinya struktur organisasi BB TNGGP. Kemudian, ditanyakan mengenai surat resmi perjanjian bersama, salah satu pihak TNGGP menyatakan:
“Perjanjian tersebut mungkin telah dituangkan langsung dalam penetapan tapal batas. Tanpa adanya pemberian surat resmi mengenai perjanjian bersama kepada warga Kampung Ciwaluh.” (Mas Tangguh, 32 tahun).
Kemudian pada tahun 2011, terjadi rapat kedua antara warga Kampung Ciwaluh dengan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Rapat membahas kejelasan batas konservasi taman nasional karena warga merasa resah dengan adanya penangkapan warga di lahan garapannya sendiri oleh polisi hutan. Rapat ini menghasilkan kesepakatan bahwa pihak taman nasional akan menanggulangi permasalahan tersebut.
Kesepakatan berdasarkan rapat kedua antara warga Kampung Ciwaluh dengan pihak TNGGP ternyata belum direalisasikan, sehingga pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 terjadi rapat antar warga Kampung Ciwaluh. Rapat ini membahas mengenai keresahan petani karena takut terjadi kembali penangkapan petani di lahannya sendiri. Selain itu, rapat ini juga membahas mengenai cara mengatasi keresahan petani. Rapat ini menghasilkan peningkatan rasa kesamaan nasib para petani dan asas kekeluargaan, sehingga mereka akan saling bahu membahu untuk mengatasi konflik yang terjadi. Hal ini sesuai dengan Coser (1956) seperti dikutip Turner (1997), konflik dengan kelompok lain akan memperkuat kohesivitas internal kelompok karena ketika ada tekanan dari pihak luar suatu kelompok akan mempertahankan diri dan mereka diharuskan
memperbaiki kondisi internal dengan cara meningkatkan kohesivitas internal kelompok. Meskipun demikian mereka tidak mengetahui pasti bagaimana cara mengatasi keresahan yang mereka alami, selain dengan melakukan rapat dengan pihak lain dan memberikan keluhan mereka kepada aparat Desa Wates Jaya mengenai hal yang mereka alami.
Pada tahun 2012, terdapat bantuan dari Rimbawan Muda Indonesia (RMI) untuk mengukur ulang batas konservasi dan menetapkan tapal batas taman nasional yang telah hilang. Bantuan RMI ini sangat membantu pihak taman nasional dan juga warga Kampung Ciwaluh dalam mengurangi konflik yang terjadi sehingga tidak terjadi kembali penangkapan warga oleh polisi hutan karena tapal batas yang telah hilang. Meskipun tidak dipungkiri, pengetahuan beberapa warga mengenai batas konservasi masih sama, yaitu mengandalkan pohon pinus pertama dari kampung mereka sebagai patokan batas konservasi.
Diakui oleh warga, konflik memanas semenjak terjadinya penangkapan salah satu petani hingga akhir tahun 2012. Pada akhir tahun 2012, terdapat bantuan dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Bantuan ini ternyata karena aparat Desa Wates Jaya yang menjadi penyambung keluhan warga Kampung Ciwaluh dengan pemerintahan yang mempunyai posisi diatasnya, salah satunya Lemhanas. Diakui oleh warga bantuan yang diberikan sangat membantu mereka dalam menurunkan konflik yang terjadi. Hal ini dinyatakan oleh Bapak