• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PETANI DENGAN TINGKAT KETERLIBATAN DALAM KONFLIK

Karakteristik Petani Usia

Usia petani terdiri dari berbagai macam kelompok usia. Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa petani terbanyak berada pada kisaran usia dari 45 tahun sampai 49 tahun, yaitu sebesar 17.54 persen. Kemudian, hanya sedikit petani pada kisaran usia 75 tahun sampai 79 tahun, dan 80 tahun, yaitu masing-masing sebesar 1.75 persen. Petani paling tua berusia 80 tahun, sedangkan petani paling muda berusia 35 tahun.

Tabel 6 Jumlah dan persentase petani menurut kelompok usia di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Kelompok usia (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 35 – 39 6 10.53 2 40 – 44 8 14.04 3 45 – 49 10 17.54 4 50 – 54 7 12.28 5 55 – 59 6 10.53 6 60 – 64 8 14.04 7 65 – 69 5 8.77 8 70 – 74 5 8.77 9 75 – 79 1 1.75 10 80 1 1.75 Total 57 100 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan petani dalam penelitian ini diukur dari lamanya petani menempuh jenjang pendidikan formal. Kategori pendidikan petani dalam penelitian ini dibagi berdasarkan sebaran pendidikan petani yang didapatkan setelah melakukan survei. Berdasarkan hasil survei, 0 tahun sampai 3 tahun termasuk kategori pendidikan rendah, 4 tahun sampai 6 tahun termasuk kategori pendidikan sedang, dan 7 tahun sampai 9 tahun termasuk kategori pendidikan tinggi.

Tabel 7 Jumlah dan persentase petani menurut tingkat pendidikan di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Tingkat pendidikan (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah (0 – 3) 20 35.09

2 Sedang (4 – 6) 34 59.65

3 Tinggi (7 – 9) 3 5.26

Hasil Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar petani yaitu berjumlah 34 orang memiliki tingkat pendidikan sedang dengan persentase 59.65 persen. Rata- rata petani menempuh pendidikan formal selama 6 tahun atau setingkat sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Kampung Ciwaluh memiliki pendidikan setingkat SD. Kemudian, ditemukan juga beberapa petani yang tidak pernah menempuh jenjang pendidikan formal. Hal ini diperkuat oleh pernyataan salah satu petani, Bapak ABO (72 tahun) yang menyatakan bahwa faktor ekonomi yang tergolong rendah menjadi hambatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, zaman dahulu mereka dan juga keluarga mereka belum menyadari pentingnya pendidikan. Namun, saat ini beberapa para petani telah menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting sehingga mereka berusaha menyekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin. Kemudian untuk petani yang termasuk dalam kategori berpendidikan tinggi yaitu terdapat 3 orang dengan proporsi sebesar 5.26 persen.

Tingkat Pengalaman Organisasi

Kategori pengalaman organisasi petani dalam penelitian ini dibagi berdasarkan sebaran pengalaman organisasi petani yang didapatkan setelah melakukan survei. Pengalaman organisasi didapatkan berdasarkan jumlah organisasi, persentase pertemuan rapat organisasi dari total rapat, dan persentase keikutsertaan acara organisasi dari total acara yang diikuti oleh reponden. Tingkat pengalaman organisasi petani dalam penelitian ini diukur dari total skor dari ketiga indikator.

Berdasarkan hasil survei, jumlah organisasi terbanyak yang diikuti petani sebanyak 2 organisasi. Ditemukan juga petani yang tidak pernah mengikuti organisasi. Petani yang tidak pernah mengikuti organisasi dikategorikan jumlah organisasi rendah, mengikuti 1 organisasi dikategorikan jumlah organisasi sedang, dan mengikuti 2 organisasi dikategorikan jumlah organisasi tinggi.

Sebagian besar petani tidak pernah mengikuti organisasi, yaitu sebesar 66.67 persen. Mayoritas warga kampung merupakan warga asli dan sangat sedikit sekali yang merupakan pendatang. Umumnya warga kampung asli memiliki pengalaman organisasi yang tergolong rendah karena kampung mereka yang jauh dari jalan raya sehingga kurangnya komunikasi akan keberadaan suatu organisasi. Kemudian, hal ini didukung oleh pernyataan petani yang dari lahir tinggal di Kampung Ciwaluh yaitu:

“...Jangankan untuk ikut berorganisasi, untuk mendapatkan pendidikan saja kami perlu berjalan kaki kurang lebih 1 jam untuk menemui jalan raya. Apalagi dahulu jalan setapak aspal untuk akses keluar masuk kampung ini belum ada...” (YAD, 45 tahun)

“...Dahulu kita belum mengenal apa itu organisasi, karena di sekitar sini tidak ada organisasi. Entah memang tidak ada atau kita kurang informasi mengenai keberadaannya. Selain itu, apabila dahulu di sekitar sini ada organisasi, kita pasti mau ikut...” (HOE, 50 tahun)

Tabel 8 Jumlah dan persentase petani menurut jumlah organisasi di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Jumlah organisasi (satuan) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah (0) 38 66.67

2 Sedang (1) 18 31.58

3 Tinggi (2) 1 1.75

Total 57 100

Jumlah organisasi yang tergolong sedang sebanyak 18 orang (31.58 persen), dan hanya 1 orang yang jumlah organisasinya tergolong tinggi yaitu sebesar 1.75 persen (lihat Tabel 8). Jumlah organisasi yang tergolong sedang dan tinggi umumnya dimiliki oleh warga pendatang, dan apabila jumlah organisasi sedang dan tinggi dimiliki warga asli maka warga tersebut tergolong sangat aktif.

Seluruh petani tidak mengikuti rapat organisasi secara penuh atau tidak mengikuti 100 persen dari total pertemuan rapat. Kemudian, petani yang mengikuti rapat tertinggi hanya sebesar 92 persen dari total pertemuan rapat. Petani yang tidak pernah mengikuti rapat sampai yang mengikuti rapat sebesar 30 persen dari total pertemuan rapat dikategorikan pertemuan rapat organisasi rendah, petani yang mengikuti rapat sebesar 31 persen sampai 61 persen dari total pertemuan rapat dikategorikan pertemuan rapat organisasi sedang, dan petani yang mengikuti rapat sebesar 62 persen sampai 92 persen dari total pertemuan rapat dikategorikan pertemuan rapat organisasi tinggi.

Tabel 9 Jumlah dan persentase petani menurut pertemuan rapat organisasi di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Pertemuan rapat organisasi (%) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah ( 0 – 30) 39 68.42

2 Sedang (31 – 61) 4 7.02

3 Tinggi (62 – 92) 14 24.56

Total 57 100

Berdasarkan hasil survei, sebagian besar petani masuk dalam kategori pertemuan rapat organisasi rendah, yaitu sebanyak 39 orang (68.42 persen). Jika dilihat dari jumlah organisasi maka pertemuan rapat petani yang tergolong rendah merupakan petani yang tidak pernah mengikuti organisasi (tergolong jumlah organisasi rendah). Satu orang yang masuk ke dalam pertemuan rapat organisasi rendah, yaitu Bapak MAM berusia 60 tahun, karena ia mengikuti organisasi ketika berumur 56 tahun dan saat itu kondisi kesehatannya semakin melemah.

Hampir seluruh jumlah organisasi yang tergolong sedang maupun tinggi terlihat sangat sering mengikuti pertemuan rapat organisasi. Hal tersebut dapat dapat dibandingkan pada Tabel 8 dan Tabel 9, petani yang masuk ke dalam pertemuan rapat organisasi tinggi sebanyak 14 orang (24.56 persen), sedangkan petani yang masuk ke dalam jumlah organisasi tinggi hanya sebanyak 1 orang (1,75 persen), sisanya berasal dari jumlah organisasi yang tergolong sedang sebanyak 18 orang (31.58 persen). Petani yang termasuk dalam golongan pertemuan rapat organisasi sedang sebanyak 4 orang (7.02 persen).

Untuk acara organisasi, persentase acara organisasi tertinggi yang diikuti petani mencapai 100 persen. Persentase acara organisasi terendah mencapai 0 persen. Petani yang tidak pernah mengikuti acara organisasi sampai yang mengikuti acara organisasi sebesar 33 persen dari total acara organisasi merupakan keikutsertaan acara organisasi rendah. Kemudian, petani yang mengikuti acara organisasi sebesar 34 persen sampai 67 persen dari total acara organisasi merupakan keikutsertaan acara organisasi sedang, dan 68 persen sampai 100 persen dari total acara organisasi merupakan keikutsertaan acara organisasi tinggi.

Tabel 10 Jumlah dan persentase petani menurut keikutsertaan acara organisasi di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Keikutsertaan acara organisasi (%) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah ( 0 – 33) 38 66.67

2 Sedang (34 – 67) 2 3.51

3 Tinggi (68 – 100) 17 29.82

Total 57 100

Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar petani masuk ke dalam golongan keikutsertaan acara organisasi rendah sebanyak 38 orang (66.67 persen). Seluruh petani yang tergolong keikutsertaan acara organisasi rendah merupakan petani dalam golongan jumlah pertemuan rapat rendah atau tidak pernah mengikuti organisasi. Umumnya, baik petani yang tergolong jumlah organisasi sedang maupun tinggi dalam hal keikutsertaan acara organisasi masuk ke dalam golongan keikutsertaan acara organisasi tinggi (lihat Tabel 8 dan Tabel 10). Hanya 2 orang yang tergolong keikutsertaan acara organisasi sedang, yaitu Bapak HOE berusia 50 tahun dan Bapak TAR berusia 43 tahun, karena saat itu mereka berhalangan hadir.

Tabel 11 Jumlah dan persentase petani menurut tingkat pengalaman organisasi di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Tingkat pengalaman organisasi (skor) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah (3 – 5) 38 67

2 Sedang (6 – 7) 5 9

3 Tinggi (8 – 9) 14 24

Total 57 100

Dari skor ketiga indikator, kemudian ditentukan golongan pengalaman organisasi, yaitu skor 3 sampai skor 5 merupakan pengalaman organisasi rendah, skor 6 sampai skor 7 merupakan pengalaman organisasi sedang, dan skor 8 sampai skor 9 merupakan pengalaman organisasi tinggi. Sebagian besar tingkat pengalaman organisasi petani tergolong rendah yaitu sebanyak 38 orang (67 persen). Sebesar 9 persen atau sebanyak 5 orang memiliki tingkat pengalaman organisasi sedang. Kemudian,sisanya 24 persen atau sebanyak 14 orang memiliki tingkat pengalaman organisasi tinggi (lihat Tabel 11).

Luas Penguasaan Lahan

Luas lahan yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan total luas lahan yang digarap petani untuk bertani. Lahan tersebut berbatasan langsung dengan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Berdasarkan Tabel 12 menunjukkan bahwa luas penguasaan lahan petani terbanyak seluas 0.00 hektar sampai 0.14 hektar yaitu sebesar 45.61 persen. Kemudian, sebesar 33.34 persen petani menguasai lahan seluas 0.15 hektar sampai 0.29 hektar, 12.28 persen petani menguasai lahan seluas 0.30 hektar sampai 0.44 hektar, dan 8.77 persen petani menguasai lahan seluas lebih besar sama dengan 0.50 hektar.

Tabel 12 Jumlah dan persentase petani menurut luas penguasaan lahan di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Luas penguasaan lahan (ha) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 0.00 – 0.14 26 45.61

2 0.15 – 0.29 19 33.34

3 0.30 – 0.44 7 12.28

4 ≥ 0.45 5 8.77

Total 57 100

Luas penguasaan lahan petani yang tinggi disebabkan oleh gabungan antara lahan hak milik dengan lahan pinjam pakai eks lahan Perhutani. Untuk memaksimalkan hasil pertanian mereka terutama bagi luas lahan petani yang sempit, beberapa petani melakukan kegiatan tumpang sari. Hal ini didukung oleh pernyataan Bapak UDU (57 tahun) yang menyatakan apabila mereka tidak menanam secara tumpang sari tentu hasilnya akan kurang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Status Penguasaan Lahan

Status penguasaan lahan digolongkan menjadi status penguasaan lahan rendah untuk lahan pinjam pakai, status penguasaan lahan sedang untuk lahan sewa, dan status penguasaan lahan tinggi untuk lahan hak milik. Lahan pinjam pakai merupakan eks lahan Perhutani yang berupa lahan sawah maupun lahan kebun. Warga diperbolehkan menggarap eks lahan Perhutani di jarak 100 meter dari perkampungan sampai perluasan kawasan konservasi taman nasional tanpa dikenakan biaya. Akan tetapi dengan persyaratan tertentu yaitu lahan tidak dapat dijual, maupun tanaman yang berupa pohon tidak dapat ditebang. Sistem pemakaian eks lahan Perhutani dapat bersifat turun temurun maupun sesuai kebutuhan dan kemampuan petani sendiri. Lahan sewa merupakan lahan milik PT Agro berupa lahan kebun. Lahan ini belum dimanfaatkan oleh PT Agro sehingga warga dapat menggarap lahan tersebut dengan sistem menyewa sebesar Rp100 000 per tahun. Uang tersebut diberikan kepada penjaga lahan PT Agro. Sebenarnya, menggarap di lahan PT Agro tidak dikenakan biaya. Hal ini didukung oleh pernyataan kepala urusan pemerintahan Desa Wates Jaya yang telah bekerja selama lebih dari 15 tahun di Kantor Desa Wates, yaitu:

“...itu akal-akalan penjaga lahannya saja, sebenarnya dari PT Agro nya sendiri tidak dikenakan biaya penggarapan ...” (Bapak USM, 45 tahun) Tabel 13 Jumlah dan persentase petani menurut status penguasaan lahan di

Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Status penguasaan lahan Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah (pinjam pakai) 39 68.42

2 Sedang (sewa) 2 3.51

3 Tinggi (hak milik) 16 28.07

Total 57 100

Lahan berstatus hak milik biasanya dimiliki oleh petani yang berusia tua atau petani yang mendapatkan warisan dari keluarganya. Berdasarkan Tabel 13 menunjukkan bahwa sebagian besar status penguasaan lahan petani yang berbatasan langsung dengan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah lahan pinjam pakai, yaitu sebanyak 39 orang (68.42 persen). Kemudian sisanya, sebesar 28.07 persen atau 16 orang menggarap lahan berstatus hak milik, dan sebesar 4 persen atau 2 orang menggarap lahan berstatus menyewa kepada PT Agro yang saat ini dimiliki oleh MNC Group. Pendapatan

Petani pada penelitian ini adalah petani sehingga pendapatan petani yang diukur berasal dari usahataninya. Pendapatan petani didapatkan dengan menghitung seluruh hasil pertaniannya dari lahan yang berbatasan langsung dengan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, baik yang akan dikonsumsi pribadi maupun yang akan dijual selama setahun. Pendapatan petani dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Jumlah dan persentase petani menurut pendapatan di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Pendapatan (Rp/tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 500 000 – 99 999 14 24.56 2 1 000 000 – 1 499 999 20 35.09 3 1 500 000 – 1 999 999 18 31.58 4 2 000 000 – 2 499 999 3 5.26 5 2 500 000 – 2 999 999 2 3.51 Total 57 100

Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa sebesar 35.09 persen pendapatan per tahun petani berada pada kisaran Rp1 000 000 sampai Rp1 499 999. Sementara, Sebesar 31.58 persen petani berpendapatan pada kisaran Rp1 500 000 sampai Rp1 999 999, sebesar 24.56 persen petani berpendapatan pada kisaran Rp500 000 sampai Rp999 999, dan 5.26 persen petani berpendapatan pada kisaran Rp2 000 000 sampai Rp2 499 999. Kemudian yang terkecil sebesar 3.51 persen petani berpendapatan pada kisaran Rp2 500 000 sampai Rp2 999 999.

Menurut salah satu petani, karena adanya gangguan hama menyebabkan perbedaan luas lahan tidak besar sehingga mempengaruhi hasil pertanian maupun

pendapatan mereka. Tidak dapat dipungkiri, pendapatan tertinggi petani pada Tabel 14 didapatkan dari hasil lahan yang paling luas. Kemudian, petani yang menerapkan sistem pertanian tumpang sari di lahannya mendapatkan hasil pertanian dan pendapatan yang lebih besar. Selain itu, bagi yang tidak menerapkan tumpang sari, umumnya lahan sawah lebih mendapatkan hasil pertanian yang lebih cepat sehingga pendapatannya dalam setahun lebih besar dibandingkan dengan lahan kebun yang biasanya hanya ditanami kopi. Lahan sawah maupun lahan kebun yang menerapkan sistem tumpang sari, maka selain menanam tanaman padi (untuk lahan sawah) dan kopi (untuk lahan kebun) juga ditanami kapulaga, jahe, kumis kucing, dan sebagainya.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Petani memiliki beban tanggungan yang berbeda. Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa tidak ada petani yang hanya tinggal seorang diri. Sebesar 28.07 persen petani memiliki tanggungan keluarga sebanyak 3 orang. Sebesar 26.32 persen petani memiliki tanggungan keluarga sebanyak 4 orang, 19.30 persen petani memiliki tanggungan keluarga sebanyak 2 orang, 15.79 persen petani memiliki tanggungan keluarga sebanyak 5 orang, dan 7.02 persen petani memiliki tanggungan keluarga sebanyak 6 jiwa. Kemudian, sisanya tidak lebih dari 5 persen, yaitu petani yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 7 orang dan 8 orang (1.75 persen). Berdasarkan hasil survei, semakin tua umur petani maka beban tanggungan keluarga semakin berkurang. Hal ini karena anak mereka sudah dapat membiayai dirinya sendiri sehingga petani hanya tinggal berdua dengan istrinya.

Tabel 15 Jumlah dan persentase petani menurut jumlah tanggungan keluarga di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Jumlah tanggungan keluarga (orang) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 2 11 19.30 2 3 16 28.07 3 4 15 26.32 4 5 9 15.79 5 6 4 7.02 6 7 1 1.75 7 8 1 1.75 Total 57 100 Jenis Lahan

Berdasarkan hasil survei, lahan yang digarap oleh petani berjenis lahan sawah, lahan kebun, maupun lahan sawah dan kebun. Sebagian besar petani menggarap lahan berjenis lahan sawah dan kebun, yaitu sebanyak 35 orang (61.40 persen). Kemudian, sebesar 19.30 persen atau sebanyak 11 orang menggarap lahan sawah atau lahan kebun (lihat Tabel 16).

Tabel 16 Jumlah dan persentase petani menurut jenis lahan di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Jenis Lahan Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Sawah 11 19.30

2 Kebun 11 19.30

3 Sawah dan kebun 35 61.40

Total 57 100

Tingkat Keterlibatan Petani dalam Konflik

Kategori keterlibatan konflik petani dalam penelitian ini dibagi berdasarkan sebaran keterlibatan konflik petani yang didapatkan setelah melakukan survei. Tingkat keterlibatan petani dalam konflik diukur berdasarkan pertemuan rapat yang diikuti petani, keikutsertaan demonstrasi, peranan dalam rapat, dan peranan dalam demonstrasi. Rapat dan demonstrasi yang dimaksud mengenai permasalahan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan hasil survei, rapat mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP dilaksanakan sebanyak enam kali, yaitu dilaksanakan bersama pengelola TNGGP wilayah III Bogor sebanyak dua kali, aparat Desa Wates Jaya sebanyak satu kali, antar warga kampung sebanyak dua kali, dan bersama pihak BB TNGGP serta aparat Desa Wates Jaya sebanyak satu kali. Pertemuan rapat bersama pengelola TNGGP wilayah III Bogor dilaksanakan satu kali di Cisarua dan satu kali di Kantor Kehutanan. Pertemuan rapat bersama aparat Desa Wates Jaya dilaksanakan di Kantor Desa Wates Jaya. Kemudian, pertemuan rapat antar warga, dan pertemuan rapat bersama pihak BB TNGGP serta aparat Desa Wates Jaya dilaksanakan di kampung mereka. Hal ini didukung pernyataan salah satu petani yang merupakan Ketua RT 04, yaitu:

“...Rapat dilakukan enam kali yaitu tahun 2007 dan 2011 bersama bidang pengelola taman nasional wilayah III Bogor, tahun 2008 bersama aparat Desa Wates Jaya, tahun 2011 dan 2012 antar warga Kampung Ciwaluh, serta sebelum penetapan taman nasional bersama pengelola taman nasional pusat dan aparat Desa Wates Jaya...” (Bapak TAR, 43 tahun)

Tabel 17 menunjukkan bahwa petani mengikuti pertemuan rapat yang berbeda. Sebanyak 11 orang (19.30 persen) mengikuti rapat sebanyak 1 kali dan 2 kali, 5 orang (8.77 persen) mengikuti rapat sebanyak 3 kali, dan 3 orang (5.26 persen) mengikuti rapat sebanyak 4 kali dan 5 kali. Kemudian, sisanya sebesar 1.75 persen atau sebanyak 1 orang mengikuti rapat sebanyak 6 kali. Petani yang mengikuti rapat bersama aparat desa, dan bersama pihak BB TNGGP serta aparat desa merupakan petani yang termasuk tokoh masyarakat Kampung Ciwaluh, misalnya ketua RT setempat. Kemudian, pertemuan rapat bersama bidang pengelola TNGGP wilayah III Bogor dan antar warga diikuti bebas oleh petani.

Tabel 17 Jumlah dan persentase petani menurut pertemuan rapat mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Pertemuan rapat (satuan) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 0 23 40.35 2 1 11 19.30 3 2 11 19.30 4 3 5 8.77 5 4 3 5.26 6 5 3 5.26 7 6 1 1.75 Total 57 100

Demonstrasi mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP dilakukan sebanyak 1 kali pada tahun 2011. Demonstrasi ini terjadi karena batas konservasi yang masih belum jelas, kemudian memuncak ketika ada salah satu warga Kampung Ciwaluh berinisial Bapak BD ditangkap oleh polisi hutan Bodogol. Dia dianggap telah menebang pohon jenjeng di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, padahal dia menebang di lahannya sendiri. Demonstrasi dilakukan di Resort Bodogol yang merupakan bawahan dari bidang pengelola TNGGP wilayah III Bogor sekitar pukul 17.00-19.00 WIB. Sebagian besar petani tidak mengikuti demonstrasi yaitu sebanyak 42 orang (73.68 persen). Kemudian sisanya, sebanyak 15 orang atau sebesar 26.32 persen mengikuti demonstrasi (lihat Tabel 18).

Tabel 18 Jumlah dan persentase petani menurut keikutsertaan demonstrasi mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Keikutsertaan demonstrasi (satuan) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 0 42 73.68

2 1 15 26.32

Total 57 100

Untuk mengukur peranan petani dalam rapat mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP digunakan pertanyaan tertutup sebanyak 3 pertanyaan dengan menggunakan jawaban sering (S) skor 4, terkadang (T) skor 3, jarang (J) skor 2, dan tidak pernah (TP) skor 1. Total skor peranan rapat tertinggi sebesar 12 dan total skor terendah sebesar 3. Butir pernyataan mengenai mengemukakan pendapat, menjadi penengah dalam rapat, dan pengambil keputusan dalam rapat.

Tabel 19 Jumlah dan persentase petani menurut peranan dalam rapat mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Peranan rapat (skor) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 3 23 40.35 2 4 18 31.58 3 5 5 8.77 4 6 7 12.28 5 7 2 3.51 6 8 1 1.75 7 9 0 0.00 8 10 1 1.75 9 11 0 0.00 10 12 0 0.00 Total 57 100

Menurut Tabel 19, sebesar 40.35 persen mendapatkan skor 3 pada peranan dalam rapat yang berarti menjawab tidak pernah pada setiap butir pertanyaan. Jumlah tersebut sesuai dengan petani yang tidak mengikuti rapat. Ditemukan petani yang mengikuti rapat sebesar 100 persen (mengikuti sebanyak enam kali), namun peranan petani dalam rapat tersebut tidak dapat mencapai skor tertinggi (mencapai skor 12). Hal ini karena petani mungkin dapat selalu mengemukakan pendapatnya tetapi dalam menjadi penengah dan pengambil keputusan rapat hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, misalnya tokoh masyarakat, pihak TNGGP dan aparat Desa Wates Jaya.

Digunakan pertanyaan tertutup berjenis dikotomi sebanyak 5 pertanyaan untuk mengukur peranan petani dalam demonstrasi mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP. Pertanyaan menggunakan jawaban ya (skor 1) dan tidak (skor 0). Total skor peranan demonstrasi tertinggi sebesar 5, dan terendah sebesar 0. Butir pernyataan mengenai penyusunan strategi demonstrasi, mengajak orang lain untuk melakukan demonstrasi, dan motif melakukan demonstrasi.

Tabel 20 Jumlah dan persentase petani menurut peranan dalam demonstrasi mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Peranan demonstrasi (skor) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 0 36 63.16 2 1 5 8.77 3 2 1 1.75 4 3 6 10.53 5 4 6 10.53 6 5 3 5.26 Total 57 100

Berdasarkan Tabel 20, hampir sebesar 63.16 persen (36 orang) memiliki skor 0 dalam peranan demonstrasi. Kemudian, sebesar 10.53 persen (6 orang) memiliki skor 3 dan 4, 8.77 persen (5 orang) memiliki skor 1, 5.26 persen (3 orang) memiliki skor 5, dan 1.75 persen (2 orang) memiliki skor 2. Meskipun

sebanyak 6 orang tidak mengikuti demonstrasi tetapi mereka memiliki peranan dalam demonstrasi tersebut, yaitu menyusun strategi demonstrasi dan mengajak orang lain untuk melakukan demonstrasi.

Berdasarkan keempat indikator, maka ditentukan golongan keterlibatan petani dalam konflik. Skor 3 sampai skor 10 untuk keterlibatan konflik rendah, skor 11 sampai skor 17 untuk keterlibatan konflik sedang, dan skor 18 sampai skor 24 untuk keterlibatan konflik tinggi. Golongan keterlibatan petani dalam konflik dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Jumlah dan persentase petani menurut tingkat keterlibatan konflik mengenai perluasan kawasan konservasi TNGGP di Kampung Ciwaluh tahun 2014

No Tingkat keterlibatan konflik (skor) Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Rendah (3 – 10) 41 71.93

2 Sedang (11 – 17) 14 24.56

3 Tinggi (18 – 24) 2 3.51

Total 57 100

Sebagian besar tingkat keterlibatan konflik petani tergolong rendah, yaitu sebanyak 41 orang (71.93 persen). Sebesar 24.56 persen atau sebanyak 14 orang memiliki tingkat keterlibatan konflik sedang. Kemudian sisanya, 3.51 persen atau sebanyak 2 orang memiliki tingkat keterlibatan konflik tinggi (lihat Tabel 21).

Hubungan antara Karakteristik Petani dengan Tingkat Keterlibatan dalam Konflik

Petani memiliki beberapa karakteristik dalam dirinya yang khas dan berpengaruh ketika mereka terlibat dalam konflik, khususnya konflik mengenai perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sehingga karakteristik personal petani menjadi faktor yang berhubungan dengan tingkat keterlibatan dalam konflik. Hasil uji korelasi Rank Spearman pada Tabel 22 menunjukkan karakteristik petani yang memiliki hubungan dengan tingkat keterlibatan dalam konflik yaitu tingkat pendidikan, tingkat pengalaman organisasi, pendapatan, dan jumlah tanggungan keluarga. Hal ini karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 sehingga menandakan Ho ditolak, yaitu terdapat hubungan antara karakteristik petani tersebut dengan tingkat keterlibatannya dalam konflik.

Tabel 22 Koefisien korelasi Rank Spearman dan nilai signifikansi karakteristik petani (skala rasio dan ordinal) dengan tingkat keterlibatan konflik

Karakteristik petani Tingkat keterlibatan konflik Koefisien korelasi Sig

Umur -0.093 0.492

Tingkat pendidikan 0.292 0.027*

Tingkat pengalaman organisasi 0.593 0.000*

Luas penguasaan lahan 0.073 0.589

Status penguasaan lahan -0.229 0.086

Pendapatan 0.261 0.050*

Jumlah tanggungan keluarga 0.287 0.030*

Keterangan: *Berhubungan signifikan pada taraf 0.05

Tingkat pendidikan dibedakan menjadi tingkat pendidikan rendah, tingkat pendidikan sedang, dan tingkat pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan rendah bagi yang tidak menempuh pendidikan sampai menempuh pendidikan selama 3 tahun, tingkat pendidikan sedang bagi yang menempuh selama 4 sampai 6 tahun, dan tingkat pendidikan tinggi bagi yang menempuh selama 7 sampai 9 tahun. Nilai signifikansi (0.027) < 0.05 menandakan bahwa Ho ditolak, yaitu terdapat hubungan (korelasi) antara tingkat pendidikan dengan tingkat keterlibatan dalam konflik. Kemudian koefisiensi korelasi yang positif menandakan hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat keterlibatan konflik positif. Artinya, semakin