• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama melalui Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh

Kampung Ciwaluh memiliki koperasi mandiri dengan diketuai oleh Bapak EMA (45 tahun). Awal terbentuknya koperasi ini, karena inisiatif dari Bapak EMA untuk mendirikan koperasi di kampungnya. Kemudian, dia bekerjasama dengan Perkumpulan Telapak. Perkumpulan Telapak merupakan sebuah organisasi nirlaba yang terletak di Jembatan Merah, Kota Bogor. Perkumpulan Telapak bekerja mendampingi dan memperjuangkan kelompok-kelompok masyarakat petani dan nelayan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, kedaulatan, dan martabat sebagai entitas yang seringkali selalu terpinggirkan. Kerjasama dengan Perkumpulan Telapak kemudian menjadikan kelompok tani Kampung Ciwaluh bergabung dengan Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat yang didirikan sebagai wadah penyatuan bagi kelompok-kelompok tani tanaman obat yang tersebar di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun Salak. Tanaman obat Jawa Barat yang banyak diproduksi sekaligus menjadi andalan warga Kampung Ciwaluh adalah kumis kucing. Adanya koperasi memberikan keuntungan, selain harga tanaman obat yang semakin meningkat, masyarakat juga memperoleh bimbingan cara pengolahan kumis kucing agar memperoleh mutu yang baik. Koperasi juga memberikan bantuan peralatan yang memadai untuk melakukan proses pengolahan kumis kucing mereka. Selain itu, Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat juga mengatur bagian pemasaran dan manajemen tanaman obat.

Anggota yang tergabung dalam Koperasi Mandiri Ciwaluh adalah kelompok tani berjumlah 35 orang. Anggota diwajibkan membayar biaya pokok sebesar Rp100 000 per bulan, dan biaya sukarela sebesar Rp10 000 per bulan. Biaya pokok akan diberikan kepada anggota dengan sistem bergilir. Kemudian, biaya sukarela digunakan untuk kegiatan operasional koperasi.

Tanggal 28 Februari 2008 terjadi serah terima perjanjian kerjasama antara Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh yang diketuai oleh Bapak EMA dengan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Serah terima ini menghadirkan seluruh kepala bidang wilayah, kepala seksi, dan kepala resort Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang difasilitasi oleh Perkumpulan Telapak. Perjanjian ini berisi mengenai hak dan kewajiban pihak pertama, yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan pihak kedua, yaitu Koperasi Mandiri Kampung Ciwaluh. Hak Koperasi Ciwaluh diantaranya: (1) menanam pohon jenis MPTS (Multi Purpose Tree Species) di batas terluar kawasan TNGGP, (2) pengembangan tanaman obat-obatan di areal hutan dengan sistem pertanian secara tumpang sari di kawasan konservasi eks hutan produksi Perhutani, (3) pembinaan dan bimbingan teknis dari pihak taman nasional dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, (4) mendapatkan hasil non kayu dan jasa lingkungan yang telah disepakati bersama, dan (5) memanfaatkan bibit anakan pohon jenis asli dan/atau endemik dari kawasan untuk dibudidayakan oleh kelompok tani. Perjanjian ini disusun dalam rangka mempertahankan fungsi kawasan sebagai kawasan konservasi maka perlu diadakannya kegiatan

rehabilitasi (restorasi) kawasan dan peningkatan kesejahteraan warga sehingga mereka dapat berperan aktif dalam pengelolaan hutan secara lestari dan mendapatkan manfaat yang optimal.

Namun, keberhasilan Koperasi Mandiri Ciwaluh hanya berlangsung selama 4 tahun. Pada tahun 2012, Koperasi Mandiri Ciwaluh sudah tidak beroperasi lagi. Hal ini karena adanya persepsi negatif anggota koperasi kepada ketua koperasi. Bapak EMA dianggap mengambil keuntungan tanaman obat dari hasil mengekspor kumis kucing sehingga anggota tidak bersedia untuk membayar biaya pokok koperasi per bulan lagi, dan kemudian uang modal anggota dikembalikan. Namun hal ini dibantah oleh Bapak EMA, yaitu:

“...Saya tidak mengambil keuntungan dari hasil mengekspor. Itu salah dari atasan yang menggembor-gemborkan kepada anggota mengenai keuntungan dapat mencapai berkali-kali lipat sehingga menimbulkan ekspektasi petani yang berlebihan. Kemudian, ketika keuntungannya sampai ke saya, ternyata tidak sebanyak apa yang digembor-gemborkan oleh mereka. Ketika diberitahukan kepada anggota, mereka malah menganggap saya yang mengambil keuntungan dari hasil ekspor...” (Bapak EMA, 45 tahun)

Bantuan dari Pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) telah bersepakat untuk memberikan bantuan ternak kambing, ayam serta lebah madu kepada warga Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Bantuan ini diformalkan dalam bentuk kesepakatan kerjasama antara pihak TNGGP dengan Koperasi Mandiri Ciwaluh. Pada tahun 2010, pihak TNGGP yang diwakili oleh Kepala Bidang TN Wilayah III Bogor, Ir. Harianto MSc dan Bapak EMA sebagai Ketua Koperasi Ciwaluh menandatangani serah terima bantuan. Selain kedua penandatangan serah terima tersebut, Ibu Sulastri selaku Kepala Desa Wates Jaya juga hadir sebagai saksi resmi. Penandatanganan serah terima juga dihadiri oleh Perkumpulan Telapak. Perkumpulan Telapak diundang karena dianggap telah cukup lama melakukan kegiatan pendampingan para warga Kampung Ciwaluh melalui usaha budidaya tanaman herbal. Bantuan yang diberikan berupa indukan domba betina sebanyak 10 ekor, indukan domba jantan sebanyak 1 ekor, indukan ayam betina sebanyak 30 ekor, dan lebah madu sebanyak 4 kloni. Namun, pemberian bantuan ini tidak berhasil dikembangkan oleh anggota Koperasi Ciwaluh. Hal ini diungkapkan salah satu anggota Koperasi Ciwaluh sebagai berikut:

“...Pemberian bantuan indukan domba dan indukan ayam yang diberikan pihak taman nasional merupakan indukan dengan kualitas rendah. Ketika kami mencoba untuk mengembangkannya, indukan tersebut malah mati sehingga hampir seluruh indukan yang diberikan mati, hanya tersisa satu sampai tiga ekor indukan saja. Kemudian lebah madu yang diberikan semuanya terbang dan hilang...” (Bapak MAM, 67 tahun)

Rapat dengan Berbagai Pihak

Berdasarkan hasil survei, rapat mengenai perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dilaksanakan sebanyak enam kali, yaitu dilaksanakan warga Kampung Ciwaluh bersama pengelola taman nasional wilayah III Bogor sebanyak dua kali, bersama aparat Desa Wates Jaya sebanyak satu kali, antar warga kampung sebanyak dua kali, dan bersama pihak BB TNGGP serta aparat Desa Wates Jaya sebanyak satu kali. Pertemuan rapat bersama pengelola taman nasional wilayah III Bogor dilaksanakan satu kali di Cisarua dan satu kali di Kantor Kehutanan. Pertemuan rapat bersama aparat Desa Wates Jaya dilaksanakan di Kantor Desa Wates Jaya. Kemudian pertemuan rapat antar warga, dan bersama pihak BB TNGGP serta aparat Desa Wates Jaya dilaksanakan di kampung mereka.

Sebelum ditetapkan menjadi kawasan konservasi melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003, diadakan pertemuan rapat. Rapat dihadiri oleh perwakilan warga Kampung Ciwaluh bersama pihak BB TNGGP dan aparat Desa Wates Jaya. Rapat ini membahas perluasan kawasan konservasi TNGGP, dan menghasilkan jika ditetapkan menjadi kawasan konservasi maka jarak antara perluasan kawasan TNGGP dengan ujung perkampungan sebesar 100 meter.

Tahun 2007, dan 2011 dilakukan rapat antara warga khususnya petani Kampung Ciwaluh dengan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tahun 2007 membahas nasib petani karena adanya perluasan kawasan konservasi TNGGP berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003. Rapat ini menghasilkan persetujuan akan dibentuknya kerjasama antara kedua pihak dalam memaksimalkan hasil pertanian petani. Tahun 2011, diadakan rapat kedua yang membahas kejelasan batas konservasi karena adanya penangkapan warga oleh polisi hutan di lahan garapannya sendiri. Rapat ini menghasilkan kesepakatan bahwa pihak taman nasional akan menanggulangi permasalahan kejelasan batas.

Berdasarkan konsep prosedur umum dalam rangka penyelesaian konflik menurut Condliffe (1991) seperti dikutip Sardjono (2004), pengelolaan rapat yang dilakukan warga Kampung Ciwaluh dengan pihak taman nasional termasuk prosedur negotiation. Kedua belah pihak menyelesaikan konflik secara bersama- sama (mutual settlement) tanpa melibatkan pihak ketiga dan mencapai kesepakatan melalui konsensus. Kemudian, berdasarkan tiga penyelesaian konflik menurut Condliffe (1991) seperti dikutip Sardjono (2004), kerjasama ini merupakan penyelesaian langsung antara pihak yang bersengketa (one-to-one), ketika masing-masing pihak yang bersengketa bertindak untuk menyelesaikan sendiri.

Tahun 2008 terjadi rapat antara aparat Desa Wates Jaya dengan perwakilan warga Kampung Ciwaluh yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Rapat tersebut membahas nasib warga, khususnya petani karena adanya perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan keinginan petani untuk dapat menggarap kembali eks lahan Perhutani yang saat ini telah menjadi lahan perluasan kawasan konservasi taman nasional. Rapat tersebut menghasilkan upaya Desa Wates Jaya dalam menanggulangi akses lahan petani yang semakin terbatas. Upaya yang dilakukan oleh aparat Desa Wates Jaya untuk

menanggulangi akses lahan petani yang semakin terbatas adalah dengan sosialisasi peralihan sumber mata pencaharian petani ke sektor lain dan berperan sebagai mediator diantara kedua pihak.

Tahun 2011 dan 2012, terjadi rapat antar warga Kampung Ciwaluh. Rapat ini membahas mengenai keresahan petani karena takut terjadi kembali penangkapan petani di lahannya sendiri seperti yang dialami oleh Bapak BDR. Selain itu, rapat ini juga membahas mengenai upaya mengatasi keresahan petani. Rapat ini menghasilkan peningkatan rasa kesamaan nasib para petani sehingga mereka akan saling bahu membahu mengatasi konflik yang terjadi.

Sosialisasi oleh pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Telah diadakannya sosialisasi konservasi oleh pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, atau lebih tepatnya oleh bidang pengelola taman nasional (PTN) wilayah III Bogor kepada warga Kampung Ciwaluh. Sosialisasi ini salah satunya mengenai tapal batas taman nasional. Namun, sosialisasi yang diadakan kurang berhasil. Hal ini karena ketika adanya sosialisasi, hanya tokoh masyarakat saja yang sering hadir, sedangkan warga khususnya petani penggarap yang lahannya berbatasan dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP jarang menghadiri sosialisasi tersebut karena alasan kepentingan pribadi. Hal ini terbukti sebanyak 21 petani dari 57 petani tidak mengetahui batas konservasi dengan patokan tapal batas. Mereka masih mengandalkan pohon pinus pertama sebagai patokan tapal batas.

Sosialisasi oleh Aparat Desa Wates Jaya

Tahun 2008 melalui rapat dengan perwakilan warga Kampung Ciwaluh yang merupakan tokoh masyarakat setempat terjadi penyampaian keluhan mengenai nasib warga, khususnya petani Kampung Ciwaluh karena adanya perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan keinginan petani untuk dapat menggarap kembali eks lahan Perhutani yang saat ini telah menjadi lahan perluasan kawasan konservasi taman nasional. Rapat tersebut menghasilkan upaya aparat Desa Wates Jaya dalam menanggulangi akses lahan petani yang semakin terbatas, salah satunya melalui sosialisasi kepada petani Kampung Ciwaluh untuk beralih profesi. Namun, sosialisasi yang dilakukan kurang berhasil. Hal ini karena ketika sosialisasi selesai dilakukan, petani memang mencoba beralih profesi ke sektor lain namun karena tidak ada pengawasan dan bimbingan sampai mereka menjadi mandiri, akhirnya mereka kembali ke mata pencaharian awal, yaitu sebagai petani.

Pengukuran Ulang Batas Konservasi oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) Tahun 2012, terjadi pengukuran ulang batas konservasi dan penetapan tapal batas yang dilakukan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI). RMI bertugas mengembangkan program berbasis masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan konservasi keanekaragaman hayati, salah satunya di daerah yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Untuk menunjang programnya dalam pengelolaan sumber daya alam dan konservasi

keanekaragaman hayati maka diperlukan kejelasan tapal batas konservasi. Hal ini karena beberapa tapal batas taman nasional telah hilang. Selain itu, juga untuk merespon keluhan warga atas keresahan mereka karena takut terjadi kembali penangkapan petani di lahannya sendiri seperti yang terjadi pada tahun 2011. Adanya bantuan dari RMI ini sangat membantu warga maupun pihak taman nasional. Meskipun demikian masih ditemukan sebanyak 21 petani dari 57 petani yang menganggap pohon pinus pertama dari perkampungan mereka sebagai batas konservasi.

Mediasi oleh Aparat Desa Wates Jaya

Selain menghasilkan upaya aparat Desa Wates Jaya dalam menanggulangi akses lahan petani yang semakin terbatas dengan sosialisasi peralihan profesi, aparat desa juga berperan sebagai mediator untuk membantu pihak-pihak yang bersengketa dalam mencapai kesepakatan. Mediasi yang dilakukan oleh aparat Desa Wates Jaya dapat dikatakan berhasil, karena setelah itu terjadi upaya dari pihak taman nasional untuk mengatasi akses petani yang terbatas, yaitu dengan merealisasikan adanya kerjasama Koperasi Mandiri Ciwaluh. Berdasarkan konsep prosedur umum dalam rangka penyelesaian konflik menurut Condliffe (1991) seperti dikutip Sardjono (2004), pengelolaan yang dilakukan oleh aparat Desa Wates Jaya termasuk prosedur mediation atau mediasi.

Mediasi oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas)

Aparat Desa Wates Jaya menjadi penyambung keluhan warga dengan pemerintah yang mempunyai posisi diatasnya, salah satunya Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Apa yang dialami petani Kampung Ciwaluh mengenai ketidakjelasan batas konservasi ternyata sampai kepada Lemhanas. Pada akhir tahun 2012, Lemhanas menjadi mediator antara petani Kampung Ciwaluh dengan pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Hasilnya adalah perjanjian petani yang tidak boleh merambah hutan dan semakin sadar akan pentingnya konservasi, serta pihak Taman Nasional yang harus menetapkan tapal batas yang hilang agar tidak terjadi kembali kesalahan penangkapan petani di lahan garapannya sendiri dan pemantauan tapal batas oleh pihak taman nasional. Sejak adanya pengelolaan konflik oleh Lemhanas, lahan warga khususnya lahan pertanian yang berbatasan dengan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sudah tidak diganggu lagi.

Sama halnya dengan aparat Desa Wates Jaya, berdasarkan konsep prosedur umum dalam rangka penyelesaian konflik menurut Condliffe (1991) seperti dikutip Sardjono (2004), pengelolaan yang dilakukan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) termasuk prosedur mediation atau mediasi. Mediasi adalah pihak ketiga yang mengintervensi suatu pertikaian untuk membantu pihak-pihak yang bersengkata mencapai kesepakatan. Hal ini berbeda dengan Sakai (2002) seperti dikutip Sardjono ( 2004) yang menyatakan kebanyakan kasus konflik pada saat ini diselesaikan melalui negoisasi karena dalam konflik yang terjadi di Kampung Ciwaluh ini diselesaikan dengan cara mediation atau mediasi.

Dampak Konflik Penurunan Luas Penguasaan Lahan

Akses terbatas petani Kampung Ciwaluh terhadap eks lahan Perhutani yang kini menjadi perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menyebabkan penurunan luas penguasaan lahan. Sebelum ditetapkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003, petani dapat menggarap eks lahan Perhutani dengan syarat harus dibawah pengawasan Perum Perhutani dan dengan ketentuan yang berlaku, misalnya dengan tidak dapat menebang pohon dan lahan tidak dapat dijual. Kemudian, ketika terjadi peralihan pengelolaan dari Perum Perhutani menjadi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP), akses seluruh petani yang berjumlah 57 orang terhadap sumber daya lahan menjadi semakin terbatas. Beberapa hektar eks lahan Perhutani yang masih disisakan untuk digarap oleh petani terletak pada jarak 100 meter antara perluasan kawasan konservasi TNGGP dengan ujung perkampungan mereka. Berikut beberapa kutipan argumen tiga petani dari 57 petani, yaitu:

“Lahan yang saya garap sebelum adanya perluasan taman nasional lebih besar dibandingkan luas lahan garapan saya sekarang.” (EMA, 45 tahun)

Dahulu saya masih bisa ikut menggarap lahan Perhutani. Besar lahan garapan saya bisa berkali lipat dibanding luas garapan sewa saya sekarang yang luasnya 0.1 hektar.” (Bapak ENB, 55 tahun)

“Saya sekarang hanya dapat menggarap eks lahan Perhutani seluas 0.16 hektar saja, berbeda sebelum adanya peralihan kawasan.” (Bapak UKA, 65 tahun)

Luas penguasaan lahan yang semakin terbatas, maka hampir seluruh petani Kampung Ciwaluh melakukan sistem pertanian tumpang sari di lahannya saat ini. Lahan sawah selain ditanami oleh padi juga ditanami kumis kucing, jahe, kapulaga, dan sebagainya, begitu juga dengan lahan kebun selain ditanami oleh kopi juga ditanami oleh tanaman lain tersebut. Sistem pertanian tumpang sari ini dilakukan untuk mengoptimalkan produktivitas lahan pertanian. Berikut beberapa kutipan argumen petani yang menerapkan sistem pertanian secara tumpang sari di lahannya saat ini, yaitu:

“Lahan sawah saya, saya tanami dengan padi dan kumis kucing, sehingga dalam setahun pendapatan saya lebih besar dibandingkan dengan menanam satu jenis tanaman.” (Bapak MAM, 72 tahun)

“Saya menanam kapol dan juga kopi di lahan kebun saya untuk mengatasi lahan garapan yang terbatas.” (Bapak ADA, 37 tahun)

“Peralihan pengelolaan menjadi kawasan konservasi taman nasional menjadikan akses petani terhadap lahan menjadi terbatas, sehingga mengharuskan saya menerapkan sistem pertanian secara tumpang sari untuk meminimalisir keterbatasan lahan. Lahan kebun, saya tanami rambutan, kopi,

dan kapol, sedangkan lahan sawah saya tanami padi dan kumis kucing” (Bapak

SAL, 42 tahun) Keresahan Petani

Pada tahun 2011 terjadi penangkapan salah satu petani berinisial BDR (43 tahun) oleh polisi hutan karena dianggap telah menebang pohon jenjeng di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Padahal petani tersebut menebang di lahannya sendiri yang memang berbatasan langsung dengan dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP. Kemudian, semenjak terjadinya penangkapan salah satu petani hingga akhir tahun 2012, seluruh penggarap eks lahan Perhutani yang berbatasan dengan perluasan kawasan konservasi TNGGP merasa resah karena takut terjadi penangkapan kembali oleh polisi hutan. Berikut kutipan argumen tiga petani dari 39 petani eks lahan Perhutani yang mengalami keresahan, yaitu:

“Pastinya takut, karena lahan saya bukan hak milik.” (Bapak HOE, 50 tahun) “Semenjak terjadinya penangkapan, saya menjadi resah apabila terjadi salah penangkapan kembali oleh polisi hutan.” (Bapak ABO, 72 tahun)

“Tentu takut neng, mana lahan kan masih numpang lahan Perhutani.” (Bapak ATA, 65 tahun)

Hal ini juga diungkapkan oleh Bapak BDR (47 tahun) yang pernah ditangkap oleh polisi hutan karena dianggap telah menggarap lahan perluasan kawasan konservasi, yaitu:

“Semenjak terjadi penangkapan oleh polisi hutan, petani penggarap eks lahan Perhutani menjadi was-was karena takut terjadi kembali penangkapan seperti yang saya alami.” (Bapak BDR, 47 tahun)

Akan tetapi keresahan petani ini juga menjadi pemicu baru terjadinya konflik sehingga konflik semakin memanas. Kemudian, menimbulkan dampak tersendiri bagi petani, khususunya petani penggarap eks lahan Perhutani. Mereka semakin intensif untuk mendapatkan kontrolnya kembali atas lahan garapan mereka.

Persepsi Negatif Petani

Penangkapan salah satu warga berinisial BDR menimbulkan persepsi petani bahwa penetapan batas hanya diketahui oleh beberapa pihak BB TNGGP saja, khususnya yang mengikuti pertemuan sebelum dikeluarkannya SK Menteri No.174/Kpts-II/2003. Kemudian, ketika terjadi pergantian pemimpin maupun struktur organisasi BB TNGGP, penetapan batas yang telah disepakati bersama seketika hilang. Petani dianggap telah menggarap lahan perluasan kawasan konservasi TNGGP, sedangkan petani menganggap lahan yang mereka garap terletak di luar batas perluasan kawasan konservasi dan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama, sehingga petani menganggap bahwa pentingnya

pemberian surat perjanjian, terlebih untuk membela diri mereka ketika terjadi penangkapan kembali. Penyebaran persepsi ini berasal dari mulut ke mulut. Berikut kutipan argumen petani, yaitu:

“Perjanjian bersama hanya diketahui oleh beberapa pihak taman nasional saja. Apabila terjadi pergantian struktur organisasi taman nasional maka seketika perjanjian bersamapun hilang.” (Bapak TAR, 43 tahun)

“Apabila pihak taman nasional masih mengetahui jarak 100 meter, tentunya tidak akan terjadi salah tangkap petani.” (Bapak OMA, 41 tahun)

“Pihak taman nasional kini tidak menerapkan lagi batas sesuai perjanjian bersama yang dilakukan sebelum adanya penetapan kawasan konservasi.”

(Bapak MIA, 55 tahun) Kesadaran Petani

Keresahan petani karena takut terjadi kembali penangkapan petani di lahannya sendiri oleh polisi hutan menimbulkan kesadaran petani. Merujuk empat faktor yang mendorong tumbuhnya kedasaran kelas dari kelompok subordinat (Turner 1998) seperti dikutip Kinseng (2014), dalam konflik ini kesadaran petani timbul karena adanya gangguan terhadap kehidupan atau kondisi sosial petani akibat perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pihak TNGGP yaitu perubahan lahan Perhutani menjadi lahan konservasi taman nasional kemudian hal ini diperburuk karena ketidakjelasan batas konservasi. Kemudian, praktik-praktik yang dilakukan oleh pihak TNGGP menyebabkan terjadinya alienasi pada petani karena petani yang menggarap lahan pada jarak 100 meter sesuai perjanjian bersama tidak mendapatkan kontrol atas lahan garapan mereka karena tapal batas konservasi yang hilang, sehingga petani mengomunikasikan kesulitan dan keluhan mereka satu sama lain. Petani membangun ideologi yang mempersatukan mereka untuk merebut kembali kontrol atas lahan garapan mereka.

Peningkatan Kohesivitas Kelompok

Kesadaran petani karena resah terjadi salah tangkap petani di lahannya sendiri kemudian menimbulkan peningkatan kohesivitas kelompok, khususnya bagi seluruh petani penggarap eks lahan Perhutani (39 petani). Kemudian, sisanya sebanyak 2 petani penggarap lahan PT Agro, dan 16 petani penggarap lahan milik pribadi juga mengalami peningkatan kohesivitas kelompok meskipun lahan garapan mereka tidak ikut terancam. Melalui rapat antar warga Kampung Ciwaluh pada tahun 2011 dan 2012, menghasilkan peningkatan rasa kesamaan nasib para petani dan asas kekeluargaan di antara mereka, sehingga mereka akan saling bahu membahu untuk mengatasi konflik yang terjadi. Meskipun demikian, petani yang mengalami peningkatan kohesivitas kelompok tidak murni mengalami peningkatan tersebut. Hal ini karena beberapa petani penggarap PT Agro dan lahan milik pribadi hanya ikut-ikutan saja. Mereka lebih menunggu suara terbanyak dan lebih mencari aman sehingga konformitas lebih berperan penting dalam petani tipe ini. Berikut kutipan argumen dari petani yang tidak murni mengalami peningkatan kohesivitas kelompok, yaitu:

“Iya, saya terpanggil untuk membantu petani yang numpang di lahan Perhutani karena petani yang lain juga ikut membantu.” (Bapak JAN, 56 tahun)

“Ya, saya sih cuman ikut-ikutan yang lain saja. Karena yang lain membantu, saya jadi ikut membantu”. (Bapak DEE, 37 tahun)

“Saya ikut membantu karena petani yang lain juga membantu.” (Bapak ENB, 55 tahun)

Berikut kutipan argumen petani yang murni mengalami peningkatan kohesivitas kelompok, yaitu:

“Ya, berdasarkan asas kekeluargaan saja, saling membantu sesama petani.