Gambaran Umum Desa Penelitian Kondisi Geografis
Desa Wates Jaya secara administratif pemerintahan terletak di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berjarak 23 km ke ibu kota Kabupaten Bogor, berjarak 116 km ke ibu kota Provinsi Jawa Barat, dan berjarak 82 km ke ibu kota Negara Indonesia. Wilayah administratif Desa Wates Jaya terdiri dari 8 wilayah rukun warga (RW) dan 29 wilayah rukun tetangga (RT). Adapun batas-batas geografisnya adalah sebagai berikut:
Sebelah utara : Desa Srogol Sebelah barat : Desa Cigombong
Sebelah timur : Lahan perluasan kawasan konservasi TNGGP Sebelah selatan : Kabupaten Sukabumi
Kondisi Demografis
Pendidikan warga Desa Wates Jaya tergolong rendah, dapat terlihat dari persentase tertinggi pendidikan warga sebesar 32.47 persen tamat SLTP/sederajat. Sebesar 29.81 persen tamat SD/sederajat dan sebesar 27.30 persen tamat SMU/sederajat. Kemudian sisanya dengan persentase yang tidak sampai 5 persen. Tabel 1 Jumlah dan persentase tingkat pendidikan penduduk di Desa Wates Jaya
tahun 2014
No Tingkat pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Belum sekolah 41 0.96
2 Tidak tamat SD/sederajat 46 1.08
3 Tamat SD/sederajat 1271 29.81 4 Tamat SLTP/sederajat 1384 32.47 5 Tamat SMU/sederajat 1164 27.30 6 Tamat D1 105 2.46 7 Tamat D2 84 1.97 8 Tamat D3 61 1.43 9 Tamat D4 41 0.96 10 Tamat S1 56 1.31 11 Tamat S2 10 0.23 Total 4263 100
Sumber: Profil Desa Wates Jaya Tahun 2014
Persentase tertinggi usia warga sebesar 8.80 persen terdapat pada kelompok usia kisaran 0 sampai 4 tahun. Selain itu, persentase penggabungan dari usia 15 tahun sampai 54 tahun mencapai 78.66 persen atau yang merupakan penduduk berusia produktif. Kemudian penduduk yang tergolong usia belum produktif atau dibawah usia 15 tahun sebanyak 24.29 persen.
Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk berdasarkan kelompok usia di Desa Wates Jaya tahun 2014
No Kelompok usia (tahun)
Jumlah jiwa (orang) Jumlah (orang) Persentase (%) Laki-laki Perempuan 1 0-4 337 320 657 8.80 2 5-9 330 256 586 7.85 3 10-14 300 271 571 7.64 4 15-19 304 311 615 8.23 5 20-24 291 274 565 7.56 6 25-29 300 270 570 7.63 7 30-34 300 259 559 7.48 8 35-39 260 234 494 6.61 9 40-44 260 214 474 6.35 10 45-49 270 255 525 7.03 11 50-54 190 176 366 4.90 12 55-59 270 210 480 6.43 13 60-64 250 227 477 6.39 14 65-69 251 215 467 6.25 15 ≥70 182 101 283 3.79 Total 3893 3576 7469 100
Sumber: Profil Desa Wates Jaya Tahun 2014
Agama di Desa Wates Jaya cukup beragam, yaitu ada agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Akan tetapi hampir sebesar 99.69 persen warga Desa Wates Jaya menganut agama Islam. Kemudian sisanya dengan persentase yang tidak sampai 1 persen.
Tabel 3 Jumlah dan persentase agama penduduk di Desa Wates Jaya tahun 2014
No Agama Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Islam 7446 99.69 2 Katolik 6 0.08 3 Protestan 4 0.05 4 Hindu 10 0.13 5 Budha 3 0.04 Total 7469 100
Sumber: Profil Desa Wates Jaya Tahun 2014
Berdasarkan Tabel 4, ketergantungan warga pada lahan persawahan dapat terlihat jelas pada data mata pencaharian penduduk. Sebesar 74.21 persen bermata pencaharian sebagai petani. Kemudian sebesar 11.89 persen bermata pencaharian sebagai buruh industri, dan sisanya dengan persentase yang tidak sampai 5 persen.
Tabel 4 Jumlah dan persentase mata pencaharian penduduk di Desa Wates Jaya tahun 2014
No Mata pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Petani 2714 74.21 2 Pengusaha 127 3.47 3 Pengrajin 30 0.82 4 Buruh industri 435 11.89 5 Buruh bangunan 90 2.46 6 Buruh pertambangan 26 0.71 7 Buruh perkebunan 10 0.27 8 Pedagang 47 1.29 9 Pengemudi 37 1.01 10 PNS 61 1.67 11 TNI/POLRI 10 0.27 12 Pensiunan TNI/POLRI/PNS 70 1.91 Total 3657 100
Sumber: Profil Desa Wates Jaya Tahun 2014
Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Desa Wates Jaya didominasi oleh fasilitas umum sebesar 56.05 persen. Kemudian, disusul oleh penggunaan lahan untuk pemukiman sebesar 21.66 persen, dan sisanya dengan persentase yang tidak sampai 5 persen (lihat Tabel 5). Penggunaan sawah di desa ini, mayoritas digunakan oleh warga Kampung Ciwaluh dan Kampung Lengkong. Kampung Lengkong merupakan RT 01 dan RT 02, RW 05 dari Desa Wates Jaya. Kemudian, Kampung Ciwaluh merupakan RT 03 dan RT 04, RW 05 dari Desa Wates Jaya. Letak RW 05 memang terpisah dari RW lainnya. Hal ini karena RW 05 terpisah oleh lahan pertanian dan lahan perluasan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Tabel 5 Luas dan persentase penggunaan lahan di Desa Wates Jaya tahun 2014
No Penggunaan lahan Luas (ha) Persentase (%)
1 Sawah 10 0.75 2 Pemukiman 290 21.66 3 Pekarangan 50 3.73 4 Danau 16 1.19 5 Tambak 0.5 0.04 6 Hutan konservasi 40 2.99 7 Hutan lindung 60 4.48 8 Hutan produksi 60 4.48 9 Perkebunan negara 60 4.48 10 Fasilitas umum 750.5 56.05 11 Pemakaman 2 0.15 Total 1339 100
Sumber: Profil Desa Wates Jaya tahun 2014
Sarana dan Prasarana
Kepemilikan sarana keagamaan didominasi oleh sarana beribadah bagi agama Islam, yaitu berupa 1 masjid agung, 12 masjid jami, 13 musholla, 10 langgar, dan 26 majelis ta‟lim. Sementara untuk sarana keagamaan lain, hanya terdapat 1 gereja. Untuk sarana pemerintahan terdapat 1 kantor Desa Wates Jaya dan 1 kantor Polsek. Sarana keuangan atau perkreditan terdapat 1 koperasi simpan pinjam. Selain itu, terdapat 10 toko, 5 kios, 150 warung, 3 toserba, 2 supermarket, dan 1 minimarket untuk sarana perekonomian. Sarana kesehatan terdapat 2 balai pengobatan, 2 rumah bersalin, dan 13 puskesmas pembantu. Kemudian, terdapat 1 SMU Negeri, 2 SMU Swasta, 1 SMP Negri, 2 SMP Swasta, 3 SD Negri, dan 2 pondok pesantren untuk sarana pendidikan. Penunjang pengairan, terdapat prasarana berupa 3 buah air PAM, 2 sungai, dan 1 situ. Selain itu, untuk menunjang perhubungan warga terdapat jalan provinsi sebesar 3 km, jalan kabupaten sebesar 5 km, dan jalan desa sebesar 2.5 km.
Gambaran Umum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Organisasi dan Tata Kerja
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut- II/2007 tanggal 1 Februari 2007 dan Surat Keputusan Kepala Balai Besar Nomor SK.103/II-TU/2010 tanggal 27 September 2010, sistem tata kerja Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango melalui bagian tata usaha yang terdiri dari sub bagian umum, sub bagian perencanaan dan kerjasama, serta sub bagian data evlpa dan hubungan masyarakat, melalui 4 bidang, yaitu: bidang teknis, bidang pengelolaan taman nasional (PTN) wilayah I yang merupakan wilayah Cianjur, bidang PTN wilayah II yang merupakan wilayah Sukabumi, dan bidang PTN wilayah III yang merupakan wilayah Bogor, serta pejabat fungsional PEH, polhut dan penyuluh.
Sistem tata kerja tidak selamanya bersifat top down, dapat berasal dari masing- masing bidang tata usaha, bidang PTN, atau pejabat fungsional PEH, polhut dan penyuluh terlebih dahulu.
Bidang teknis terdiri dari seksi pemanfaatan dan pelayanan, serta seksi perlindungan, pengawetan dan perpetaan. Bidang pengelolaan taman nasional (PTN) wilayah I Cianjur terdiri atas seksi PTN wilayah I Cibodas dan seksi PTN wilayah II Gedeh. Seksi PTN wilayah I Cibodas terdiri dari resort pengelolaan taman nasional (RPTN) model Mandalawangi dan RPTN Gunung Putri, sedangkan seksi PTN wilayah II Gedeh terdiri dari RPTN model Sarongge dan RPTN Gedeh. Kemudian, Bidang PTN wilayah II Sukabumi terdiri atas seksi PTN wilayah III Selabintana dan seksi wilayah IV Situgunung. Seksi PTN wilayah III Selabintana terdiri atas RPTN Goalpara dan RPTN model Selabintana, sedangkan seksi PTN wilayah IV Situgunung terdiri atas RPTN model Situgunung, RPTN Nagrak, dan RPTN Pasir Hantap. Selanjutnya, bidang PTN wilayah III Bogor terdiri atas seksi PTN wilayah V Bodogol, dan seksi PTN wilayah VI Tapos. Seksi PTN wilayah V Bodogol ini terdiri atas RPTN model Bodogol dan RPTN model Cimande, sedangkan seksi PTN wilayah VI Tapos terdiri dari RPTN Tapos, dan RPTN Cisarua (lihat Lampiran 8).
Kronologis Status Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Sebelum ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), kawasan TNGGP merupakan kawasan cagar alam (CA) Cibodas, Cimungkad, Gunung Gede, dan Pangrango, serta taman wisata alam (TWA) Situgunung dan areal hutan alam di lereng hutan Gunung Gede Pangrango seluas 15196 ha. Penetapan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.736/Men-tan/X/1982 pada tanggal 14 Oktober 1982. Kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No.472/Kpts-II/1992 tanggal 22 Mei 1992, komplek hutan Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, Sukabumi, dan Cianjur seluas 14100.75 ha sebagai kawasan hutan tetap dengan fungsi hutan cagar alam.
Pada tahun 2003, terjadi perluasan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 21975 ha melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003. Kemudian, tahun 2009 terjadi kembali perluasan kawasan TNGGP sehingga luas kawasan menjadi 22851.03 ha. Adanya serah terima pengelolaan dari Perum Perhutani III Jawa Barat dan Banten berdasarkan No.002/BAST–HUKAMAS/III/2009 dan No.123/II-TU/2/2009 tanggal 6 Agustus 2009, luas kawasan yang diserahkan kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 7655 ha. Sehingga melalui Keputusan Dirjen PHKA No.39/IV-KKBHL/2011 tanggal 22 Februari 2011, luas kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 22851.03 ha (lihat Lampiran 9). Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki luas 22851.03 ha yang terdiri atas 7 zona, yaitu: zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional, zona rehabilitasi, zona konservasi Owa Jawa, dan zona khusus. Luas
setiap zona di taman nasional ini berbeda. Pembagian luas zona Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat dilihat pada Gambar 4.
Sumber: Profil Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Gambar 4 Persentase zonasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Zona inti TNGGP memiliki luas yang paling besar yaitu sebesar 9612.592 ha (42 persen). Selanjutnya, zona rimba sebesar 7175.396 ha (32 persen), zona rehabilitasi sebesar 4367.192 ha (19 persen), dan zona pemanfaatan sebesar 1330.424 ha (6 persen). Kemudian sisanya, zona tradisional, zona konservasi Owa Jawa, dan zona khusus memiliki luas kurang dari 5 persen, yaitu sebesar 312.136 ha, 50.100 ha, dan 3.190 ha.