BAB IV GAGASAN FILSAFAT SEJARAH KUNTOWIJOYO
D. Aktualisasi Filsafat Sejarah Kuntowijoyo
Kuntowijoyo sepenuhnya menyadari bahwa rekonstruksi atas sejarah harus dijabarkan dalam formulasi teoritis dan berdampak pada aksi. Jika tidak, maka sejarah hanya kan menjadi wacana dan cerita, atau dengan kata lain sejarah akan memiliki kedudukan yang sama sebagaimana sastra atau mitos
44 Kuntowijoyowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 369.
45 Kuntowijoyowijoyo, Dinamika Internal Umat Islam Indonesia, (Jakarta: LSIP, 1993), hal. 171.
46 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 169-170.
70
yang ada. Tawarannya ialah interpretasi-interpretasi nilai-nilai yang bersifat general dan normatif ke pemahaman spesifik dan empiris.47
Gagasan sejarah yang dibangun Kuntowijoyo bertujuan pada penciptaan perubahan sosial yang lebih baik. Objektifikasi dan integralisasi sebagai metode dalam rangka menengahi antara sekularisasi ilmu maupun islamisasi telah dirumuskan. Langkah akhir dari gagasan sejarah ini adalah aksi atau gerakan nyata mewujudkan perubahan sosial tersebut. Menurutnya ilmu-ilmu sosial sekarang mengalami kemandekan sebab membatasi diri hanya pada tataran interpretasi atas gejala-gejala sosial semata, pada hal sejatinya ialah juga harus memberi tuntunan terkait dengan arah transformasi yang harus dituju. Selain itu ilmu-ilmu sosial bisa diterapkan sebagai salah satu solusi atas masalah-masalah yang ditimbulkan.48
Persoalannya adalah bagaimana kita mentransformasikan gagasan kesejarahan Kuntowijoyo pada saat ini? Kuntowijoyo memformulasikan sains dan agama sebagai gagasan transformasi perubahan sosial. Terdapat dua metode transformasi menurut kuntowijoyo. Pertama nilai normatif Islam diaktualisasikan menjadi perilaku. Hal ini bisa mengambil dari seruan praktis dalam Al-Qur‘an seperti perintah untuk menghormati orang tua. Kedua mentransformasikan nilai Islam menjadi ilmu sebelum akhirnya diaktualisasikan pada perilaku. Jika ingin merestorasi masyarakat, maka pendekatan nilai Islami menjadi teori adalah langkah paling tepat. Akan tetapi, terlebih dahulu melewati tahap dari interpretasi teologi, filsafat sosial, teori
47 Kuntowijoyowijoyo, Paradigma Islam, hal. 65.
48 Masykur, “Ilmu Sosial Profetik‖, hal. 98.
sosial. Pada akhirnya menuju pada aktualisasi yang berdampak pada perubahan sosial itu sendiri.49
Terdapat satu kata kunci untuk memahami arah yang dimaksud oleh Kuntowijoyo, yakni aktualisasi atau perilaku atau dalam bahasa Kuntowijoyo disebut sebagai ―Aksi‖. Aksi ini merupakan perbuatan atau perilaku dimana gagasannya diambilkan dari konsepsi transformasi sebagai tujuan. Aksi ini berbekal ketauhidan yang diambilkan dari sumber utama Islam. Keberadaan manusia sebagai pelaku sejarah tidak hanya diposisikan untuk mengetahui sejarah masa lalu, akan tetapi berbuat untuk masa yang akan datang.
Konskwensi logis dari gagasan sejarah Kuntowijoyo adalah menerapkan aksi atas teori yang dibangunnya.
Aksi kesejarahan Kuntowijoyo bersumber pada empat unsur mendasar, yakni tentang ummatan, amar ma‟ruf, nahi mungkar, dan amanu billah.
Mengambil dari Al-Qur‘an surat Ali Imran ayat 110. Setidaknya ada empat hal yang tersirat dari ayat tersebut, yakni konsep umat yang terbaik, aktivisme sejarah, kesadaran dan etika profetik. Umat yang terbaik artinya menunjukkan Islam adalah yang terbaik, dengan catatan menjalankan ketiga uraian selanjutnya. Aktivisme sejarah berarti bekerja di tengah-tengah manusia, atau terlibat dalam persoalan kemanusiaan. Selanjutnya kesadaran adalah memahami nilai-nilai keilahiyatan sebagai tumpuan aktifitas sejarah. Terakhir adalah etika profetik, yakni inti dari penjelasan seluruhnya. Kuntowijoyo mengatakan bahwa keempatnya merupakan gerakan sadar yang akan membuahkan hasil dalam waktu lama.50
49 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 169-170.
50 Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, hal. 91.
72
Menariknya ayat tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai bentuk atas humanisasi, liberasi dan transendensi. Jadi, perlu ditegaskan bahwa humanisasi, liberasi, dan transendensi adalah tujuan pergerakan manusia hidup di muka bumi sesuai dengan garis etika profetik. Humanisme bertujuan memanusiakan manusia. Tahap selanjutnya adalah mengupayakan liberasi.
Tujuan liberasi adalah pembebasan bangsa dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan perampasan kelimpahan. Selanjutnya, humanisasi dan liberasi harus dilengkapi dengan transendensi. Tujuan transendensi adalah menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan. Dalam kehidupan sekarang ini, manusia sudah banyak menyerah kepada arus hendonisme, materialisme, dan budaya yang dekaden. Oleh karena itu, manusia harus percaya bahwa ada sesuatu yang dilakukan, yaitu membersihkan diri dengan mengingatkan kembali dimensi transendental yang menjadi bagian sah dari fitrah kemanusiaan. Manusia ingin merasakan kembali dunia ini sebagai rahmat Tuhan. Manusia dapat hidup kembali dalam suasana yang lepas dari ruang dan waktu, ketika bersentuhan dengan kebesaran Tuhan.51
Pemahaman Kuntowijoyo terhadap tiga kata kunci yang terdapat dalam ayat tersebut memperlihatkan keunikan jika dibandingkan dengan, misalnya, pemahaman ahli tafsir al-Qur‘ân yang hanya menganalisis sisi bahasa. Sebagai contoh, pemahaman Kuntowijoyo bisa dibandingkan dengan penafsiran M.
Quraish Shihab ketika menjelaskan surat Âli ʻImrân ayat 110 dalam Tafsir al Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟ân. Kuntowijoyo mencoba mengembangkan pemahaman secara lebih kontekstual terhadap ketiga kata
51 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 138.
kunci tersebut dengan memanfaatkan perspektif ilmu-ilmu sosial. Amr ma‗rûf oleh Kuntowijoyo dipahami sebagai proses humanisasi. Penggunaan konsep humanisasi (memanusiakan manusia) dinilai Kuntowijoyo jauh lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi umat manusia pada saat ini yang sedang mengalami tiga krisis fundamental, yaitu: dehumanisasi (objektivasi teknologis, ekonomis, budaya, atau negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas), dan loneliness (privatisasi, individuasi).52
Selanjutnya, liberasi merupakan konsep yang digunakan oleh Kuntowijoyo untuk mengembangkan pemaknaan dan penerjemahan tanhawn ʻan al-munkar dalam realitas sosial. Kuntowijoyo terinsipirasi oleh Theology of Liberation; ideologi keagamaan yang dianut dan dikembangkan oleh kaum agamawan di Amerika Latin. Dengan menggunakan liberasi, Kuntowijoyo menginginkan praktik Islam atau yang telah populer dengan sebuatan ―amalan Islam‖ tidak sebatas pada aktivitas peribadatan terutama yang lebih berorientasi pada pemenuhan kepuasan secara individual atau subjektif pelakunya sebagaimana lazim dipraktikkan oleh kaum mistikus; suatu cara beragama yang bahkan dihindari oleh Nabi Muhammad sendiri. Kuntowijoyo tertarik pada pemikiran Muhammad Iqbal yang menceritakan ihwal perjalanan Nabi Muhammad ke tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tetapi alih-alih Nabi Muhammad kembali ke realitas bumi untuk melaksanakan misi kerasulannya. Lewat isrâ‘ dan miʻrâj, yang nantinya menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah, Nabi Muhammad sebenarnya merasakan pengalaman keagamaan yang memberikan kepuasan secara psikologis. Namun pengalaman
52 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 36
74
psikologis tersebut justru dijadikan pijakan oleh Nabi Muhammad untuk terlibat secara total dalam aktivisme sejarah. Kuntowijoyo mengatakan bahwa:
―Sunnah Nabi berbeda dengan jalan seorang mistikus yang puas dengan pencapaianya sendiri‖.53
Maksud liberasi pada sistem pengetahuan dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep dekonstruksi dalam arti membongkar sistem pengetahuan. Kuntowijoyo menyebut sistem pengetahuan materialistik sebagai sasaran dekonstruksi dan pembebasan. Pengetahuan materialistik yang dikembangkan oleh Karl Marx memiliki tesis bahwa basis material (structure) mendominasi dan menentukan kesadaran (superstructure), bukan sebaliknya.
Kuntowijoyo berpandangan sebaliknya bahwa kesadaran yang menentukan structure.
Terakhir Kuntowijoyo mengolah konsep transendensi yaitu menggagas kemajuan dan mencapai kebahagiaan. Alih-alih manusia terseret dalam kehidupan yang menyengsarakan dirinya seperti kekerasan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi perang, kekuasaan pasar sebagai buah dari penguasaan ilmu, dan kesenjangan yang berakar dari ketimpangan manajemen.
Fenomena paradoksal ini menggambarkan ketiadaan iman. Masyarakat Barat sudah membunuh Tuhan dan manusia.54 Oleh karena itu, transendental dalam arti spiritual akan membantu kemanusiaan menyelesaikan masalah-masalah modern. Kuntowijoyo ingin memberikan penguatan pada misi perubahan ilmu sosial yang telah berkembang pada saat ini, yakni perubahan yang tetap
53 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 364.
54 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 17.
mengingatkan manusia pada dimensi ketuhanan. Oleh karena itu, Kuntowijoyo menolak sekularisasi ilmu pengetahuan yang menolak otoritas Tuhan.
Kuntowijoyo mencotohkan dalam memahami realitas negara sebagai realitas empiris harus menggunakan konsep- konsep empiris yang real untuk memehami fenomena negara, seperti konsep birokrasi atau administrasi misalnya yang kemudian menempatkan posisi dan cita- cita etis kita dalam realitas itu. Dengan mengubah basis orientasi pemahaman seperti itu, kita misalnya dapat menerjemahkan konsep baldatun thayyibatun sebagai suatu cita- cita sosial, politik dan ekonomi yang obyektif. Demikianlah negara harus dilihat sebagai kenyataan eksternal yang terhadap mana gagasan- gagasan tertentu —misalnya tentang tingginya kedudukan masyarakat di dalamnya (societal state), tentang sistem perekonomiannya yang bersifat etis (ethical aconomy), atau tentang tatanan sosialnya yang berdasarkan pada cita- cita moral tertentu (moral society) — dapat disosialisasikan.55
Kuntowijoyo menegaskan kepada masyarakat bahwa dengan mengaktualisasikan atas dasar keimanan maka akan membuahkan hasil perubahan sosial yang lebih baik. Etika kesejarahan mengambil konsepsi dari etika profetik atau etika kenabian, yakni dengan mencontoh gerakan spiritual nabi membawa transformasi sosial yang maju. Atas dasar sejarah tersebutlah Kuntowijoyo menggagas etika profetik sebagai landasan aksi atau aktualisasi berdasarkan aturan keilahiyatan.
55 Kuntowijoyo, Paradigman Islam, hal. 334.
76 BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan
Konsep sejarah Kuntowijoyo dijelaskan dengan sangat rinci dan komprehensif. Mulai dari pengertian, penegasan, kedudukan hingga tujuan menunjukkan orientasi falsafi. Sejarah tidak hanya upaya rekonstruksi masa lalu, namun persoalan makna yang bisa direlevansikan untuk saat ini atau nanti. Selain itu pekerjaan sejarah tidak hanya memahai peristiwa, namun juga memahami perubahan-perubahan sosial. Titik inilah yang menjadikan sejarah juga sebagai ilmu perubahan. Hal ini selaras dengan tujuan ilmu pengetahuan harus berkontribusi memecahkan masalah yang dihadapi manusia, termasuk sejarah. Adapun peran sejarah dalam menciptakan perubahan adalah berperan aktif menciptakan kesadaran, yang disebut dengan kesadaran sejarah.
Kesadaran sejarah adalah perwujudan atas kesadaran rasional yang membimbing masyarakat berpikir secara rasional guna menciptakan perubahan.
Sejarah menjadi pijakan pencapain manusia membuat peruabahan sosial.
Dalam diskursus spekulatifnya, Kuntowijoyo menyuguhkan cita-cita perubahan sosial profetis, yaitu perubahan menuju peradaban yang luhur.
Untuk mencapainya, Kuntowijoyo memadukan antara perspektif sains yang berbasis fakta empiris dengan perspketif agama yang bersifat transenden sebagai sumber kebenaran. Keduanya saling diinterpretasikan hingga pada tataran aksi secara integral dan objektif. Pada akhirnya menciptakan strukuralisme transendental dimana agama menjadi moral force dan kemestian
penyatuan teori dan praktik dari sains. Gambaran akhir dari sosial profetis adalah menjadi masyarakat yang humanis teosentris, liberali sebagai ilmu pengetahuan dengan menolak keburukan, dan transendensi dimana manusia berpusat hanya kepada Tuhan.
Dengan demikian pemikiran Kuntowijoyo sangat mengakar dan mendalam sehingga dapat disebut sebagai pemikiran falsafi. Maka sejarah yang dijelaskan juga merupakan filsafat sejarah sebab memuat ide dasar kemajuan serta berisikan gagasan spekulatif mengenai masa depan maupun kritis terhadap setiap lini metode atau kaidah-kaidah ilmu sejarah. Sehingga sejarah bagi Kuntowijoyo bukan sebatas masa lalu, namun interpretasi makna untuk aktualisasi perubahan peradaban.
B. Kritik dan Saran
Konsep filsafat sejarah Kuntowijoyo mencakup banyak aspek pemikiran.
Di dalamnya dapat dipahami secara detail mengenai kategori filsafat sejarah spekulatif atau kritis. Dalam penelitian ini belum terlalu mengunggulkan kriteria filsafat dalam kelompok kritis atau spekulatif. Oleh karena itu ini menjadi kekurangan yang bisa dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya.
78
DAFTAR PUSTAKA
A. Bekker. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1984.
Algar, Hamid. ―Hidup dan Karya Murtaḍa Muṭahhari,‖ dalam Haidar Bagir (Penyunting), Murtaḍa Muṭahhari Sang Mujahid, Sang Mujtahid.
Bandung: Yayasan Muṭahhari 1988.
Ali, Fakhri. dan Efendy, Bachtiar. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Oerde Baru. Bandung: Mizan, 1986.
Al-Kudari, Zainab. Filsafat Sejarah Ibn Khaldun, Terj. A. Rofii Utsmani, Bandung, Pustaka, 1980.
Aziz, M. Abdul. ―Filsafat Sejarah Ibn Khaldun‖ dalam Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.
Baghir, Haidar. ―Pengantar‖ dalam Murtadha Mutahari, Menguak Masa Depan Manusia. Jakarta: Pustaka Indah, 1991.
Bagir, Haidar. Murtaḍa Muṭahhari Sang Mujahid Sang Mujtahid. Bandung:
Yayasan Muṭahhari, 1993.
Budiman, Fransisco. Filsafat Modern: Dari Machiavelli Hingga Nietsche.
Jakarta: Gramedia, 2007.
Cassirer, Ernst. Manusia Dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia. Terj.
Alois A Nugroho. Jakarta: Anggota IKAPI, 1990.
Dasuki, Ahmad. Historiografi dan Penggunaan Sejarah dalam Pendidikan, ed.
Helius Sjamsuddin dan Andi Suwirta. Bandung: Historia Press, 2003.
Fahmi, M. Islam Transendental, dan Sukmawati Wahyu, ―Pemikiran Kuntowijoyo Tentang Historiografi Islam‖ dalam Skripsi Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2012.
Ghazali, Rafi‘ah. ―George Wilhelm Fredrich Hegel: Metafisika, Epistemologi dan Etika‖, dalam Jurnal Diskursus Islam, Vol. 2, No. 1, UIN Alauddin, Makasar, 2014.
Gotschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press, 1989.
Hamersma, Harry. Tokoh-Tokoh Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia, 1992.
Hasbullah, Moeflih. Filsafat Sejarah. Bandung : CV. Pustaka Setia, 2012.
Hegel. The Philosophy of History. Canada; Botoche Books, 2001.
Hendrik Rapar, Jan. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Heraty Noerhadi, Toety. ―Metodologi Penelitian Filsafat‖ dalam Metodologi Penelitian Filsafat, Ed. Reza A.A Wattimena. Yogyakarta: Kanisius, 2011.
Ismaun. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Universtas Terbuka, 1993.
. Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung: Historia Utama Press, 2005.
K. Bertens. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia. Jakarta: PT. Gramedia,1988.
Kartodirjo, Sartono. Ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur. Jakarta:
Gramedia, 1990.
Khaldun, Ibn. Muqadimah, Terj. Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013.
. ―Sejarah / Sastra‖, dalam Jurnal Humaniora, Vol. 16, No. 1, Yogyakarta: UGM, 2004
. Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan, 1997.
. Islam Sebagai Ilmu: Epistimologi, Metodologi, dan Etika.
Yogyakarta: Teraju, 2005.
. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.
. Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008.
. Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas: Esai-Esai Budaya dan Politik. Bandung: Mizan, 2002.
. Dinamika Internal Umat Islam Indonesia. Jakarta: LSIP, 1993.
. Muslim Tanpa Masjid. Bandung: Mizan, 2001.
M. Fahmi. Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Kuntowijoyo.
Yogyakarta: Pilar Relegia, 2005.
Maskur. ―Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo; Telaah Liberalisasi, Humanisasi dan Transendensi‖ dalam Tesis UIN Alauddin Makasar, tahun 2012.
Miftahuddin, Ajat Sudrajat, Djurmawan, Kuntowijoyo dan Pemikirannya: Dari Sejarawan Sampai Cendekiawan. Yogyakarta: UNY, 2014.
Muhsin, Mumuh. Urgenitas Analisis Kuantitatif Dalam Penelitian Sejarah, Bandung: Padjajaran Pers, 2009.
Munir, Misnal. Filsafat Sejarah. Yogyakarta: UGM Press, 2014.
. ―Ide-Ide Filsafat Sejarah‖ dalam Jurnal Filsafat Vol. 2. No. 3.
Desember 20112.
Muslm. ―Pemikiran Murtadha Muthaharri Tentang Filsafat Sejarah‖ dalam Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011..
Mutaharri, Murtadha. Tafsir Holistik. Bandung: Mizan, 2004.
. Masyarakat dan Sejarah, Terj. Jakarta: Rausyan Fikr, 2014.
Muttaqin, Husnul. ―Menuju Sosiologi Profetik‖ dalam Jurnal Sosiologi Reflektif, Vol. 10. No. 1, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015.
80
Nasr, Seyyed Hossein. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, penerjemah: Luqman Hakim, cet. 1. Bandung: Penerbit Pustaka, 1994.
Nikolas Anamofia, Yusuf. ―Membaca Karya Sejarah Dengan Kerangka Filsafat Sejarah Kritis‖ dalam Merayakan Ingatan, Melawan Lupa.
Yogyakarta: Asensi, 2016.
Rahmad, Dadang .Metode Penelitan Agama. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Riyanto, Waryani Fajar. ―Seni Ilmu dan Agama; Tiga Dunia Kuntowijoyo‖ dalam Jurnal Politik Profetik.
Rizka, Hasanul. Ibnu Khaldun Pelopor Filsafat Sejarah Modern. Jakarta :Surat Kabar Republika Edisi Senin 19 Juni 2017.
Russel, Bertrand. Unpolar Essay. Londong; Goerg Allen Ltd, 1955.
Strathem, Paul. 90 Menit Bersama Hegel. Jakarta: Erlangga, 2001.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2008.
Sujati, Budi. ―Konsepsi Pemikiran Filsafat Sejarah dan Sejarah Menurut Ibn Khaldun‖ dalam Jurnal Tamaddun, Vol. 6. No. 2. Tahun 2018.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia, 2008.
Tamburaka. Pengantar Sejarah, Teori Filsafat Sejarah. Jakarta: Reineka Cipta, 1999.
Yass Ab, Marzuki. Metodologi Sejarah dan Historiografi. Palembang:
Universitas Sriwijaya, 2004.
Zulheri. ―Ilmu Sosial Profetik; Telaah Pemikiran Kuntowijoyo‖ dalam Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Sultan Syarif Kasim, Riau. 2012.