• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akuntansi dan Pelaporan, Internal Audit, serta Audit dan Pengawasan Eksternal

Pengelolaan Keuangan Daerah

2.5 Akuntansi dan Pelaporan, Internal Audit, serta Audit dan Pengawasan Eksternal

Kinerja akuntansi dan pelaporan menunjukkan nilai yang baik, namun masih menghadapi kendala SDM. Dalam bidang ini, Provinsi Sulawesi Utara memiliki kinerja terbaik dibanding seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Utara dengan nilai sangat baik (diatas 90 persen), sementara Sangihe, Bolmong dan Minahasa Utara masih dibawah 60 persen. Tingginya kinerja akuntansi dan keuangan Provinsi Sulawesi Utara tidak terlepas dari dukungan SDM yang sudah relatif memadai, sudah tersedianya sistem informasi akuntansi yang terintegrasi, dan adanya pencatatan untuk seluruh transaksi dan saldo keuangan. Hal ini berbeda dengan kinerja tingkat kabupaten/kota yang secara rata-rata masih lemah dalam hal SDM, yakni masih minimnya pegawai berlatarbelakang pendidikan akuntansi pada posisi-posisi penting seperti kepala bagian dalam DPPKAD atau Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) di masing-masing SKPD.

Fungsi internal audit masih perlu didukung oleh SDM dan sumberdaya yang memadai. Beberapa indikator bidang audit internal yang sudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar daerah pada umumnya terkait dengan pemenuhan prosedur dan tindaklanjut audit internal. Namun demikian, sebagian besar daerah masih menghadapi kendala sumber daya pendukung operasional. Rata-rata daerah menganggarkan kurang dari 1 persen APBD untuk fungsi audit internal. Selain itu, fungsi audit internal juga kurang didukung oleh SDM yang memadai. Dari 12 daerah yang disurvei, hanya 33 persen daerah yang memiliki dukungan SDM fungsional auditor atau berlatar belakang akuntansi lebih dari 50 persen staff pada instansi seperti BAWASDA (Badan Pengawas Daerah).

Sebagian besar daerah masih terkendala oleh laporan hasil audit eksternal yang masih berstatus Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Kinerja pemerintah dalam audit dan pengawasan eksternal tidak terlepas dari kinerja laporan keuangan yang diaudit BPK, sosialisasi dan tindaklanjut dari hasil-hasil tersebut, serta peran DPRD dalam pengawasan pelaksanaan APBD. Berdasarkan hasil survey, pada tahun 2009, baru Pemprov Sulawesi Utara yang telah memiliki status kinerja keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), 8 daerah berstatus Wajar Dengan Pengeculian (WDP), 2 daerah berstatus Tidak Wajar, dan 1 daerah berstatus Tidak Memberikan Pendapat (TMP). Berdasarkan hasil survey, disamping masih lemah dalam hal status laporan audit BPK, sebagian besar daerah juga masih lemah dalam memperkuat peran DPRD dalam pengawasan anggaran.

31

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 2 Pengelolaan Keuangan Daerah

Tabel 2.3 Hasil Audit BPK Provinsi dan Kabupaten serta Kota di Sulawesi Utara 2007 – 2009

No Nama Daerah 2007 2008 2009

1 Prov. Sulawesi Utara WDP WDP WTP

2 Kab. Bolaang Mongondow WDP WDP WDP

3 Kab. Bolaang Mongondow Selatan WDP

4 Kab. Bolaang Mongondow Utara WDP WDP

5 Kab. Minahasa WDP WDP WDP

6 Kab. Minahasa Selatan TMP TW

7 Kab. Minahasa Tenggara TMP

8 Kab. Minahasa Utara TMP WDP WDP

9 Kab. Kep. Sangihe TMP WDP TW

10 Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro WDP WDP

11 Kab. Kep. Talaud TMP TMP

12 Kota Bitung WDP WDP WDP

13 Kota Kotamobagu WDP WDP

14 Kota Manado TMP WDP TW

15 Kota Tomohon WDP TW

Sumber: Iktisar Hasil Pemeriksaan Semester I BPK, tahun 2010

WTP Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualifi ed) TW Tidak Wajar (Adverse)

WDP Wajar Dengan Pengecualian (Qualifi ed) TMP Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer)

2.6 Rekomendasi

Pemerintah Provinsi perlu memfasilitasi proses peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan daerah di Sulawesi Utara. Pemerintah provinsi serta Sangihe, Minahasa, dan Kotamobagu masing-masing memiliki keunggulan pada satu atau lebih bidang lainnya. Keunggulan tersebut merupakan modal dasar untuk mendorong proses saling-belajar dalam rangka mempersempit kesenjangan kapasitas antar-daerah dalam berbagai bidang terkait PKD. Beberapa agenda peningkatan kapasitas yang diperlukan antara lain terangkum dalam tabel berikut.

Agenda dan Usulan Program Peningkatan Kapasitas PKD di Provinsi Sulawesi Utara

Bidang Rekomendasi Usulan Program

Peraturan Perundangan Daerah

 Melengkapi berbagai aturan yang melandasi praktek pengelolaan keuangan daerah yang baik sesuai mandat peraturan perundangan dari pusat, antara lain : (i) Perda tentang Penanaman Modal dan BLUD; (ii) Perkada tentang Standar Biaya dan Analisis Standar Belanja untuk mendukung anggaran berbasis kinerja;

dan (iii) Berbagai peraturan perundangan daerah lain yang lebih teknis untuk pengelolaan keuangan daerah

 Menyusun peraturan daerah untuk mendorong pelaksanaan prinsip transparansi dan partisipasi

(i) Pelatihan tentang kerangka peraturan daerah yang komprehensif terkait

Pengelolaan Keuangan Daerah (ii) Pendampingan Teknis

untuk melengkapi berbagai peraturan daerah yang belum dibuat dan disahkan

32

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 2 Pengelolaan Keuangan Daerah

Bidang Rekomendasi Usulan Program

Perencanaan &

Penganggaran

 Meningkatkan kapasitas dan keterlibatan DPRD dalam perencanaan dan penganggaran

 Menyusun dokumen perencanaan (RPJMD, RENSTRA-SKPD, RKPD, RENJA-SKPD) dan dokumen anggaran (KUA/PPA, RKA-SKPD, APBD) yang lebih terukur dan berorientasi pada pencapaian target kinerja serta memperkuat sinkronisasi dokumen perencanaan dan penganggaran

 Menyusun peraturan tentang Standar Biaya dan Analisa Standar Belanja

(i) Pelatihan DPRD tentang Perencanaan dan Penganggaran

(ii) Pelaithan dan pendampingan teknis untuk penyusunan Standar Biaya dan Analisa Standar Belanja

(iii) Pelatihan dan pendampingan teknis untuk penyusunan indikator dan target yang layak pada berbagai

 Meningkatkan kapasitas dalam manajemen pendapatan

 Mempertahankan kinerja dalam pengelolaan dan pengendalian pendapatan dan pembayaran kas serta surplus kas temporer dikelola yang sudah cukup baik

 Mempertahankan dan meningkatkan kinerja dalam bidang pengadaan barang dan jasa

(i) Pelatihan dan Pendampingan Teknis untuk sistem

administrasi dan penagihan pendapatan

(ii) Melengkapi aturan pengadaan barang dan jasa didaerah sesuai dengan kerangka peraturan perundangan pusat yang baru

Akuntansi&

Pelaporan

 Meningkatkan kapasitas SDM berlatarbelakang pendidikan akuntansi pada posisi penting pengelolaan keuangan daerah

 Mempertahankan sistem informasi yang sudah terintegrasi di beberapa daerah dan mendorong penerapan hal yang sama di kabupten Bolmong

(i) Pelatihan dan Pendampingan Teknis dibidang akuntansi (ii) Pendampingan teknis untuk

sistem informasi akuntansi yang terintegrasi

(iii) Peningkatan jumlah SDM berlatar belakang akuntansi Audit Internal,

serta Audit dan Pengawasan Eksternal

 Meningkatkan peran audit internal dalam pengelolaan keuangan daerah melalui peningkatan sumberdaya anggaran serta SDM auditor fungsional yang berkualitas

 Meningkatkan komunikasi untuk mendukung audit eksternal serta tindaklanjut temuan audit eksternal

(iv) Pelatihan dan pendampingan teknis untuk memperkuat fungsi audit internal dan penambahan SDM auditor fungsional

Memperbaiki mekanisme perencanaan dan penganggaran partisipatif (bottom-up) di tingkat kabupaten/kota. Mekanisme Musrenbang tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten/kota merupakan mekanisme yang tersedia untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan penganggaran.

Namun demikian, pelaksanaannya masih harus ditingkatkan melalui : (i) pemberdayaan masyarakat untuk terlibat dalam Musrenbang (misalnya melalui sosialisasi mengenai pentingnya Musrenbang serta manfaatnya bagi pembangunan daerah/kecamatan/desa); (ii) memberikan kepastian anggaran yang bisa dijadikan patokan bagi perencanaan desa/kecamatan sebelum Musrenbang Desa/Kecamatan dilaksanakan (misalnya melalui penyepakatan pagu indikatif Kecamatan/Desa antara Kepala Daerah dan DPRD sehungga jumlah dana untuk direncanakan melalui Musrenabang Desa dan Kecamatan dapat diketahui sebelumnya);

(iii) meningkatkan kuantitas dan kualitas keterlibatan DPRD dalam Musrenbang sesuai dengan daerah pemilihan yang diwakilinya; (iv) membuat mekanisme klarifi kasi kepada masyarakat terkait program/

kegiatan yang tidak dapat diakomodasi dalam APBD sebagai bentuk transparansi kebijakan.

Bab 3