• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran C. Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi

Lampiran C. Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi

Tabel C.1 Agenda dan Usulan Program Peningkatan Kapasitas PKD di Provinsi Sulut

Bidang Rekomendasi Usulan Program

Peraturan Perundangan Daerah

 Melengkapi berbagai aturan yang melandasi praktek pengelolaan keuangan daerah yang baik sesuai mandat peraturan perundangan dari pusat, antara lain : (i) Perda tentang Penanaman Modal dan BLUD; (ii) Perkada tentang Standar Biaya dan Analisis Standar Belanja untuk mendukung anggaran berbasis kinerja; dan (iii) Berbagai peraturan perundangan daerah lain yang lebih teknis untuk pengelolaan keuangan daerah

 Menyusun peraturan daerah untuk mendorong pelaksanaan prinsip transparansi dan partisipasi

(i) Pelatihan tentang kerangka peraturan daerah yang komprehensif terkait Pengelolaan Keuangan Daerah (ii) Pendampingan Teknis untuk

melengkapi berbagai peraturan daerah yang belum dibuat dan disahkan

Perencanaan &

Penganggaran

 Meningkatkan kapasitas dan keterlibatan DPRD dalam perencanaan dan penganggaran

 Menyusun dokumen perencanaan (RPJMD, RENSTRA-SKPD, RKPD, RENJA-SKPD) dan dokumen anggaran (KUA/PPA, RKA-SKPD, APBD) yang lebih terukur dan berorientasi pada pencapaian target kinerja serta memperkuat sinkronisasi dokumen perencanaan dan penganggaran

 Menyusun peraturan tentang Standar Biaya dan Analisa Standar Belanja

(i) Pelatihan DPRD tentang Perencanaan dan Penganggaran (ii) Pelaithan dan pendampingan

teknis untuk penyusunan Standar Biaya dan Analisa Standar Belanja

(iii) Pelatihan dan pendampingan teknis untuk penyusunan indikator dan target yang layak pada berbagai

 Meningkatkan kapasitas dalam manajemen pendapatan

 Mempertahankan kinerja dalam pengelolaan dan pengendalian penerimaan dan pembayaran kas serta surplus kas temporer dikelola yang sudah cukup baik

 Mempertahankan dan meningkatkan kinerja dalam bidang pengadaan barang dan jasa

(i) Pelatihan dan Pendampingan Teknis untuk sistem administrasi dan penagihan pendapatan (ii) Melengkapi aturan pengadaan

barang dan jasa didaerah sesuai dengan kerangka peraturan perundangan pusat yang baru Akuntansi &

Pelaporan

 Meningkatkan kapasitas SDM berlatarbelakang pendidikan akuntansi pada posisi penting pengelolaan keuangan daerah

 Mempertahankan sistem informasi yang sudah terintegrasi di beberapa daerah dan mendorong penerapan hal yang sama di kabupten Bolmong

(i) Pelatihan dan Pendampingan Teknis dibidang akuntansi (ii) Pendampingan teknis untuk

sistem informasi akuntansi yang terintegrasi

(iii) Peningkatan jumlah SDM berlatar belakang akuntansi Audit Internal,

serta Audit dan Pengawasan Eksternal

 Meningkatkan peran audit internal dalam pengelolaan keuangan daerah melalui peningkatan sumberdaya anggaran serta SDM auditor fungsional yang berkualitas

 Meningkatkan komunikasi untuk mendukung audit eksternal serta tindaklanjut temuan audit eksternal

(iv) Pelatihan dan pendampingan teknis untuk memperkuat fungsi audit internal dan penambahan SDM auditor fungsional

102

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Lampiran

Tabel C.2 Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi Bab Penerimaan dan Belanja Penerimaan

Kesimpulan Rekomendasi

PAD Kabupaten dan Kota di Sulawesi Utara relatif rendah dan ketergantungan pendapatan akan transfer dari pemerintah pusat semakin besar. Hal ini kurang selaras dengan tujuan otonomi daerah.

Oleh sebab itu dibutuhkan upaya meningkatkan kajian tentang potensi pajak dengan dasar pajak (tax base) yang luas, meningkatkan pengawasan untuk meminimalisasi kebocoran pendapatan pajak dan retribusi daerah, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang perpajakan.

Sumber Dana Bagi Hasil dari non-pajak (Sumber Daya Alam) masih sangat kecil dibandingkan dengan DBH pajak, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah potensi SDA di Sulawesi Utara belum dimanfaatkan secara maksimal.

Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang potensi SDA di Sulawesi Utara yang dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah.

Ketimpangan pendapatan perkapita daerah antar kabupaten/

kota masih tinggi. Beberapa kabupaten hasil pemekaran sepertinya masih mempunyai sumber pendapatan yang sangat rendah (Kabupaten Bolaang Mongondow Timur).

Dibutuhkan dukungan dari pemerintah, misalnya melalui transfer dari pemerintah pusat, untuk memulai pengembangan kabupaten/kota baru hasil pemekaran melalui peningkatan posisi fi skal kabupaten/kota tersebut.

Pemerintah Provinsi dan kebanyakan Kabupaten dan Kota di Sulawesi Utara memiliki SILPA yang besar. Ini menggambarkan bahwa Pemerintah Daerah kurang dapat menyerap anggaran yang ada dan masih bisa melakukan program dan kegiatan yang penting dalam pelayanan kepada masyarakat.

Bilamana pelayanan pada masyarakat telah maksimal maka Pemerintah Daerah dapat melakukan investasi tambahan untuk memanfaatkan dana yang ada.

Belanja

Kesimpulan Rekomendasi

Belanja pegawai masih sangat mendominasi. (1) Pengurangan jumlah pegawai secara alami yaitu melakukan penerimaan pegawai dengan jumlah yang lebih kecil dari jumlah pegawai yang pensiun.

(2) Melakukan penerimaan pegawai yang berkualitas serta pelatihan yang sesuai untuk meningkatkan produktivitas pegawai.

(3) Melakukan realokasi pegawai dari bidang yang kelebihan pegawai ke bagian yang kekurangan untuk mencegah penerimaan pegawai yang tidak diperlukan.

Belanja pemerintah daerah yang dialokasikan untuk sektor-sektor unggulan Sulawesi Utara sangat kecil. Sektor pertanian hanya dialokasikan dana sekitar 3%, pariwisata sekitar 0,5%, serta perikanan dan kelautan sekitar 1%.

(1) Perlu dilakukan program-program yang tepat dan efi sien, termasuk pembangunan ketrampilan dan etos kerja pekerja di sektor-sektor tersebut, yang dibiayai secara memadai agar sektor-sektor unggulan tersebut dapat mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat.

(2) Perlu ada upaya mengarahkan tren belanja pada keseimbangan antara belanja pegawai dan belanja infrastruktur.

(3) Belanja kesehatan yang hanya 8% perlu lebih ditingkatkan seiring meningkatnya biaya kesehatan dan relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.

Anggaran responsif gender di Sulawesi Utara juga masih sangat kecil.

(1) Perlu ada peningkatan alokasi belanja yang dapat membantu pengembangan perdayaan perempuan dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Utara.

(2) Perlu diperluas akses perempuan dalam sektor-sektor ekonomi sehingga dapat meningkatkan derajat kehidupan kaum perempuan.

(3) Perlu disediakan anggaran yang cukup untuk pembiayaan korban trafi cking, perkosaan, kehamilan yang tidak di inginkan, anak-anak terlantar termasuk pendampingan (bantuan) hukum.

(4) Perlu adanya alokasi belanja yang lebih baik untuk kesejahteraan kaum Lansia.

103

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Lampiran

Tabel C.3 Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi Bab Sektoral Kesehatan

Kesimpulan Rekomendasi

Indikator kesehatan di Sulut secara umum lebih baik dari propinsi tetangganya di Sulawesi dan rata-rata nasional. Yang masih perlu diperhatikan adalah distribusi di antara kabupaten/

kota.

Oleh karena itu Kabupaten perlu memiliki tenaga kesehatan yang memadai dilengkapi dengan akses untuk menjangkau penduduk.

Proporsi belanja kesehatan terhadap total Belanja (Provinsi maupun Kabupaten/Kota) mayoritas masih di bawah 10%. Belanja kesehatan di tingkat Provinsi sebagian besar dialokasikan untuk belanja pegawai. Belanja kesehatan per kapita di kabupaten kepulauan lebih tinggi dengan daerah lain di Provinsi Sulut.

Proporsi belanja kesehatan terhadap total Belanja (Provinsi maupun Kabupaten/Kota) masih perlu ditingkatkan. Hal ini penting untuk meningkatkan alokasi belanja pemerintah daerah pada masyarakat.

Hubungan antara output (rasio dokter dan bidan per 10.000 penduduk) dengan capaian (cakupan imunisasi dan kelahiran dibantu tenaga medis) beragam. Untuk daerah perkotaan output dan capaian relatif merata, tetapi di kabupaten terutama kabupaten kepulauan, capaian sektor kesehatan beragam. Akses terhadap tenaga kesehatan di kabupaten kepulauan seringkali terkendala faktor transportasi dan geografi .

Kabupaten kepulauan perlu mendapat perhatian khusus dalam hal akses dan mobilitas tenaga kesehatan. Persepsi masyarakat Sulut terhadap pelayanan kesehatan relatif baik, tetapi penyedia jasa kesehatan perlu meningkatkan standar kebersihan alat dan fasilitasnya.

Pendidikan

Kesimpulan Rekomendasi

Kualitas capaian pendidikan di Sulut merupakan yang tertinggi di Indonesia. Capaian indikator pendidikan tersebut juga tersebar relatif merata di tiap kabupaten/kota di Sulut.

Rekomendasi yang dapat diberikan adalah untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan atau lulusan sehingga mendukung penciptaan lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran.

Ketimpangan indikator pendidikan di Sulut relatif kecil, baik antar kabupaten/kota, dari kelompok usia, maupun jenis kelamin.

Pemerataan akses pendidikan di kabupaten kepulauan dalam hal mobilisasi murid dan guru masih perlu diperhatikan.

Belanja sektor pendidikan di Sulut meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun, dan porsinya rata-rata selalu berada di atas 20%. Kenaikan itu juga diikuti oleh kenaikan belanja pegawai yang juga mencapai dua kali lipat. Di tingkat kabupaten kota, porsi belanja pendidikan hampir seluruhnya di atas 20%.

Proporsi belanja pegawai di sektor pendidikan masih perlu diturunkan. Proporsi belanja pegawai ini termasuk tinggi bila dibandingkan dengan belanja pegawai sektor pendidikan di beberapa daerah studi PEA.

Ketergantungan Sulut terhadap belanja pendidikan dari pusat semakin meningkat. Ini berarti semakin kuat pula peran pemerintah pusat dalam penyediaan pendidikan tinggi di Sulut.

Rekomendasi lainnya adalah perguruan tinggi di Sulut harus meningkatkan kualitas dan kemandirian sehingga mengurangi pada transfer dari pusat, misalnya melalui output akademik berupa penelitian atau pelatihan.

Infrastruktur

Kesimpulan Rekomendasi

Belanja sektor infrastruktur meningkat 4 kali lipat selama 5 tahun terakhir, komposisi belanja pegawai juga cenderung menurun.

Empat Kabupaten/Kota hasil pemekaran di Sulut mendominasi besaran belanja di sektor infrastruktur.

Mayoritas belanja infrastruktur yang berasal dari kabupaten hasil pemekaran harus diperhatikan, sebab hal ini tidak serta merta mencerminkan penyediaan layanan dasar yang lebih baik.

Dari tiga infrastruktur dasar, cakupan air bersih merupakan yang terendah dibandingkan dengan akses ke sanitasi dan cakupan listrik. Masih dijumpai ketimpangan antar kabupaten dan kelompok pendapatan terutama pada kabupaten baru.

Rekomendasinya adalah pelayanan terhadap akses infrastruktur dasar difokuskan pada masyarakat berpendapatan rendah, terutama penyediaan air bersih dan akses sanitasi.

104

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Lampiran

Terjadi pergeseran moda transportasi untuk arus penumpang dari angkutan laut ke angkutan udara. Sementara itu, angkutan laut masih menjadi pilihan untuk transportasi barang.

Rekomendasi utama adalah perlunya peningkatan kapasitas tampung dan kualitas layanan di pelabuhan udara untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang.

Rekomendasi lainnya adalah peningkatan efi siensi layanan bongkar muat di pelabuhan harus dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang dan meningkatkan daya saing dengan pelabuhan lain.

Masyarakat Sulut yang tinggal di kabupaten terluar masih sangat bergantung kepada pelayaran perintis, tetapi jumlah kapal perintis di Sulut masih sangat sedikit.

Rekomendasi yang penting diperhatikan adalah perlunya alokasi belanja infrastruktur khusus untuk mendukung pelayaran perintis, dikarenakan jalur-jalur ini sulit diminati pelayaran swasta.

Pertanian

Kesimpulan Rekomendasi

Belanja pertanian di Sulut meningkat lebih dari 2 kali lipat selama kurun waktu 2005-2009, hampir separuhnya berasal dari dana dekonsentrasi pemerintah pusat. Belanja pertanian mengambil proporsi sebesar 6% dari total belanja, di mana separuhnya dialokasikan untuk belanja pegawai.

Rekomendasi yang utama adalah mengurangi belanja modal untuk pembangunan gedung sementara di sisi lain belanja program-program pendampingan dan penyuluhan pertanian yang biasanya terdapat di belanja barang dan jasa perlu ditingkatkan.

Produksi padi di Sulut meningkat hampir 100 ribu ton (24%) dalam waktu 5 tahun. Produksi jagung meningkat lebih tinggi, 161% dalam waktu 5 tahun. Produktifi tas lahan jagung meningkat hampir 50% sementara produktifi tas lahan padi cenderung stagnan di 4,9 ton per hektar.

Komoditas pertanian seperti padi dan palawija rentan terhadap perubahan iklim, pemerintah Sulut harus menyiapkan program pendampingan dan penyadaran petani untuk mengadaptasi perubahan iklim.

Dari beberapa komoditas perkebunan yang potensial di Sulut, pala dan kakao menunjukkan peningkatan produksi antara tahun 2005-2008. Walaupun produksi kelapa pada tahun 2008 meningkat dibanding tahun 2005, trennya menurun sejak tahun 2006.

Sulut perlu mengambil kebijakan strategis berfokus pada produk perkebunan tertentu untuk meningkatkan keunggulan.

Kebijakan tersebut juga harus diselaraskan dengan kebijakan industri pertanian untuk menambah nilai tambah produk perkebunan Sulut.

105

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Lampiran

Tabel C.4 Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Sulawesi Utara

Kesimpulan Rekomendasi

Anggaran responsif gender di Sulawesi Utara masih relatif kecil.Walaupun secara umum permasalahan terkait gender di Sulawesi Utara relatif sedikit, provinsi ini dihadapkan pada permasalahan traffi cking.

Perlu ada peningkatan alokasi belanja yang dapat membantu pengembangan perdayaan perempuan dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Utara sehingga dapat meningkatkan derajat kehidupan kaum perempuan

Walaupun angka capaian gender cenderung tinggi, namun itu belum dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang gender di Sulawesi Utara.

Perlu ada studi perbandingan indikator dalam IPG dan IPM untuk mengetahui dengan pasti kesenjangan yang terjadi (di bidang apa saja) dan setelah itu melakukan langkah tertentu untuk mempersempit kesenjangan yang ada.

Kerja sama tingkat regional dapat dijadikan peluang bagi provinsi yang dilibatkan secara aktif oleh pemerintah pusat.

Komitmen dan kerja sama pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menetapkan regulasi yang mendukung seperti di bidang kepelabuhanan, imigrasi, dan bea cukai.

Komitmen untuk menjaga kualitas infrastruktur diperlukan, termasuk yang berada di bawah tanggung jawab pemerintah pusat.

Harus ada peningkatan kualitas pada infrastruktur yang menunjang aktifi tas ekonomi seperti bandar udara, pelabuhan, jalan, kelistrikan, dan sebagainya.

Pemerintah daerah di Sulut perlu mengembangkan sektor pariwisata dan jasa di Sulut.

Stimulus fi skal dan regulasi dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Misalnya dengan promosi parwisata, menggiatkan pariwisata berbasis partisipasi masyarakat, menggiatkan eko-wisata, membenahi dan menerapkan standar kualitas biro perjalanan, dsb.

Pemerintah daerah harus mendukung industri energi yang ramah lingkungan. Kebutuhan energi listrik di luar Jawa-Bali sangat tinggi, tetapi penyediaannya sangat terbatas.

Ke depannya, pemerintah daerah bisa memberikan insentif baik pajak maupun bukan pajak untuk industri energi terbarukan, atau kepada industri yang memproduksi barang secara ramah lingkungan.

Industri pendidikan menjadi penopang dan penggerak utama berkembangnya industri daerah.

Perlu dibangun kerjasama pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor industri untuk meningkatkan keahlian tenaga kerja bidang industri turunan kelapa, perikanan, industri pariwisata bahari dan pariwisata ekologis, industry energi, dan teknologi informasi.

Membangun kerjasama dan jaringan dengan provinsi tetangga mutlak dilakukan.

Memanfaatkan forum-forum yang sudah ada seperti BKPRS atau Forum Kepala Bappeda sebagai wadah komunikasi dan keselarasan kebijakan kawasan.

106

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011