• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluaran dan Hasil Pencapaian Sektor Infrastruktur

Analisis Sektor Strategis

5.3 Sektor Infrastruktur

5.3.2 Keluaran dan Hasil Pencapaian Sektor Infrastruktur

Secara umum akses kepada infrastruktur dasar di Sulawesi Utara adalah yang terbaik di Sulawesi.

Berdasarkan Susenas 2009 terlihat bahwa cakupan tiga indikator infrastruktur dasar di Sulawesi Utara lebih tinggi dari provinsi lain di Sulawesi. Dua provinsi terakhir yang terbentuk di Sulawesi memiliki tingkat akses ke sanitasi dan akses air bersih yang lebih kecil. Hal ini bisa disebabkan provinsi-provinsi baru tersebut merupakan daerah yang dahulunya relatif tertinggal. Sementara penyediaan listrik masih lebih banyak didominasi oleh kewenangan pusat.

Gambar 5.24 Capaian indikator infrastruktur dasar di Sulawesi

Sumber: Estimasi Bank Dunia dari Susenas 2009

75

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis

Masih ada ketimpangan antar kelompok pendapatan dalam mengakses infrastruktur dasar di Sulawesi dan Sulawesi Utara. Dari seperlima penduduk berpendapatan terendah di Sulawesi Utara, baru 18 persen di antaranya yang memiliki akses ke air bersih dan 51 persen yang memiliki akses ke sanitasi layak.

Kecuali seperlima penduduk termakmur, akses air bersih di kelompok pendapatan lain tidak mencapai 50 persen, ini berarti terlepas dari tingkat kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Utara, separuhnya tidak memiliki akses ke air bersih yang layak. Pada seperlima penduduk termakmur, 76 persen di antaranya memiliki akses ke air bersih dan hampir seluruhnya (99 persen) memiliki akses ke sanitasi.

Ketimpangan juga tertlihat di provinsi lain. Untuk akses ke sanitasi, Sulawesi Utara tidak memiliki ketimpangan sebesar Gorontalo misalnya. Hanya 20 persen dari penduduk berpendapatan terendah di Gorontalo yang memiliki akses ke sanitasi, dibandingkan dengan 90 persen dari masyarakat berpendapatan tertinggi. Untuk akses ke air bersih, Gorontalo dan Sulbar terlihat memiliki ketimpangan yang lebih besar.

Dari 80 persen penduduk di Sulbar cakupan akses air bersihnya tidak sampai 30 persen, sementara dari 20 persen masyarakat berpendapatan tinggi 68 persen memiliki akses air bersih. Ketimpangan seperti ini perlu mendapat perhatian Pemprov Sulawesi Utara, terutama dalam penyediaan dan pengawasan kualitas air bersih.

Gambar 5.25 Perbandingan akses air bersih dan sanitas di Sulawesi berdasarkan kelompok pendapatan

Sumber: Estimasi Bank Dunia dari Susenas 2009

Di sektor transportasi, terjadi peningkatan pada penggunaan moda angkutan udara baik untuk pergerakan manusia maupun barang. Data BPS Provinsi Sulawesi Utara tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah penumpang maupun barang yang keluar masuk lewat Bandar Udara Sam Ratulangi meningkat.

Dalam waktu lima tahun jumlah penumpang meningkat 22 persen, jumlah total kargo yang dilayani meningkat 27 persen, dan jumlah pengiriman lewat pos udara meningkat lebih dari 2 kali lipat (122 persen).

Tabel 5.3 Jumlah penumpang dan barang yang melewati Bandar Udara Sam Ratulangi meningkat

2004 2005 2006 2007 2008

Penumpang (jiwa) 1.042.002 802.371 1.139.334 1.132.657 1.275.405

Bagasi (Kg) 14.278.850 13.720.566 14.898.766 14.758.286 16.016.042

Kargo (Kg) 8.687.025 7.911.961 9.553.703 9.866.495 11.004.635

Pos (Kg) 214.333 160.928 170.478 229.292 475.136

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2009, Badan Pusat Statistik

76

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis

Penumpang yang menggunakan transportasi laut berkurang, tetapi arus barang tetap meningkat.

Mobilitas manusia di Sulawesi Utara diukur dari dua pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Bitung dan Pelabuhan Manado, sementara arus barang diukur dari pelabuhan utama barang yaitu Pelabuhan Bitung.

Selama kurun waktu 15 tahun, secara umum pengguna jasa kapal menurun dari total 524 ribu penumpang menjadi 491 ribu penumpang. Walalaupun pada akhir 1990-an dan awal 2000-an terlihat tren peningkatan jumlah penumpang, tetapi peningkatan jasa angkutan udara relatif membuat jumlah penumpang angkutan laut berfl uktuatif dan cenderung menurun. Tidak demikian halnya dengan arus barang, meskipun arus barang yang keluar dari Sulawesi Utara cenderung menurun sejak tahun 2005, terjadi peningkatan yang besar pada arus barang yang masuk ke Sulawesi Utara. Dalam 15 tahun, total arus barang yang dilayani Pelabuhan Bitung meningkat hampir 2 kali lipat. Jika tren ini terus berlangsung, Pemerintah Sulawesi Utara perlu mempertimbangkan kapasitas dan kualitas layanan pelabuhan serta infrastruktur pendukung seperti jalan raya.

Gambar 5.26 Arus barang di pelabuhan utama Sulawesi Utara meningkat sementara arus penumpang cenderung fl uktuatif

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2009, Badan Pusat Statistik

Pelayaran di kabupaten kepulauan masih bergantung pada layanan kapal perintis. Undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran menyebutkan bahwa Pelayaran- Perintis adalah pelayanan angkutan di perairan pada trayek-trayek yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk melayani daerah atau wilayah yang belum atau tidak terlayani oleh angkutan perairan karena belum memberikan manfaat komersial. Kabupaten kepulauan seperti Sangihe dan Talaud masih sangat bergantung pada layanan pelayaran perintis yang hingga 2008 hanya memiliki 3 unit. Dalam UU Pelayaran juga disebutkan bahwa

77

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis

wewenang dan pembiayaan operasional kapal perintis dapat berada pada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.

Kualitas jalan nasional di Sulawesi Utara menurun, sementara jalan provinsi lebih baik. Salah satu infrastruktur dasar pendukung mobilitas barang dan manusia dari pelabuhan laut dan udara adalah jalan raya. Berdasarkan data BPS Sulawesi Utara, terlihat penurunan kualitas jalan nasional yang berkategori mantap sebesar 10 persen. Sementara jalan nasional berstatus kritis meningkat dari 4 persen menjadi 7 persen. Sebaliknya pada jalan provinsi yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, terjadi peningkatan panjang jalan yang berkategori mantap hampir 2 kali lipat. Melihat tren peningkatan arus barang dan manusia di Sulawesi Utara, sudah selayaknya perhatian diberikan pada kualitas jalan sebagai pendukung utama.

Tabel 5.4 Terjadi penambahan proporsi jalan berkualitas baik di Sulawesi Utara

Jalan Nasional Jalan Provinsi

2003 2007 2003 2007

Mantap (Km) 655,06 893,44 408,69 511,82

Tidak Mantap (Km) 116 272,95 649,77 273,7

Kritis (Km) 38,36 101 252,06 47,5

persen Mantap 81% 70,5% 31% 61%

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2009, Badan Pusat Statistik

5.3.3 Analisa kabupaten/kota di Sulawesi Utara

Umumnya kabupaten/kota yang baru terbentuk memiliki belanja infrastruktur yang lebih besar. Hal ini lazim ditemui di berbagai daerah dikarenakan kabupaten/kota yang baru terbentuk akan membelanjakan anggarannya untuk pembangunan gedung-gedung pemerintahan baru. Di Provinsi Sulawesi Utara hal ini ditunjukkan dari 4 kabupaten/kota dengan belanja infrastruktur terbesar – baik secara per kapita maupun persentase terhadap total belanja – merupakan kabupaten/kota yang relatif baru terbentuk.

Gambar 5.27 Belanja infrastruktur terbesar terdapat di kabupaten yang baru terbentuk

Sumber: Database Sulawesi Utara PEA, Universitas Sam Ratulangi

78

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis

Daerah perkotaan di Sulawesi Utara umumnya memiliki akses terhadap air bersih yang tinggi, tetapi beberapa kabupaten masih jauh tertinggal. Kabupaten-kabupaten yang umumnya memiliki tingkat akses yang rendah adalah kabupaten kepulauan dan kabupaten yang baru saja terbentuk. Permasalahan lain adalah kesenjangan antar kelompok pendapatan, meskipun hal tersebut ditemui juga di perkotaan seperti Kota Kotamobagu. Di Kabupaten Bolmut dan Sitaro, dari 20 persen penduduk termakmur sepertiganya memiliki akses ke air bersih. Tetapi dari 80 persen penduduk sisanya, kurang dari 10 persen saja yang memiliki akses air bersih. Dari 40 persen masyarakat berpendapatan terendah, yang memiliki akses ke air bersih rata-rata 28 persen, jauh lebih rendah dari angka rata-rata kota sebesar 63 persen

Gambar 5.28 Masih terdapat kesenjangan cakupan infrastruktur dasar antara kota dan kabupaten di Sulawesi Utara

Sumber: Estimasi Bank Dunia dari Susenas 2009

Pada umumnya rakyat berpendapatan rendah di Sulawesi Utara memiliki akses ke sanitasi yang layak. Jika diambil 2 kelompok masyarakat berpendapatan terendah di Sulawesi Utara, mayoritas di atas 90 persen dari mereka memiliki akses sanitasi. Beberapa daerah yang memiliki yang masih rendah angka aksesnya adalah Bolmong, Sangihe, Bolmut, dan Kotamobagu. Hanya 40 persen dari penduduk berpendapatan terendah di Kotamobagu yang memiliki sanitasi layak, sementara rata-rata di kota tersebut mencapai 80 persen. Di Bolmong, persentase akses sanitasi masyarakat berpendapatan rendah hampir sama dengan rata-rata kabupaten. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan yang tinggi di Kotamobagu sementara di Bolmong, secara keseluruhan akses sanitasi layak memang rendah.

Gambar 5.29 Sebagian masyarakat berpendapatan rendah di Sulawesi Utara memiliki akses ke sanitasi

Sumber: Estimasi Bank Dunia dari Susenas 2009

79

Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis