Analisis Sektor Strategis
5.4 Sektor Pertanian dan Perkebunan
Komoditi tanaman perkebunan yang potensial di Sulawesi Utara adalah kelapa, cengkeh, pala, kopi dan coklat. Akan tetapi output dari sub-sektor perkebunan ini terlihat tidak konsisten. Tanaman kelapa sebagai primadonanya masyarakat Sulawesi Utara dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan yang signifi kan, baik dari segi luas tanam maupun produksi. Hal yang sama terjadi pada tanaman cengkeh yang justru pada tahun 2008 mengalami penurunan yang cukup signifi kan. Di sisi lain produksi pertanian seperti padi dan palawija seperti jagung, kacang tanah, dan kedelai, meningkat.
5.4.1 Belanja Sektor Pertanian dan Perkebunan
Belanja sektor pertanian cenderung meningkat tiap tahunnya walaupun proporsinya masih sangat kecil. Belanja pertanian pada tahun 2009 meningkat lebih dari 2 kali lipat dibanding tahun 2005, dengan proporsi 6 persen dibanding 3 persen pada tahun 2005. Komitmen pemerintah daerah dalam belanja sektor ini belum dapat dikatakan maksimal sebab 43 persen dari belanja pertanian bersumber dari transfer pemerintah pusat. Dari Rp. 192 miliar belanja pertanian pemerintah Sulawesi Utara tahun 2009, 49 persen atau Rp. 94 miliar dialokasikan untuk belanja pegawai.
Gambar 5.31 Separuh dari belanja pertanian di Sulawesi Utara bersumber dari transfer pusat
%
Sumber: Database Sulawesi Utara PEA, Universitas Sam Ratulangi
81
Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis
Belanja pegawai sektor pertanian di Sulawesi Utara masih tinggi, terutama di tingkat pemerintah provinsi. Gambar 5.32 menunjukkan belanja pegawai di provinsi rata-rata di atas 60 persen, berbeda dengan tingkat kabupaten yang menunjukkan penurunan porsi belanja pegawai dari 65 persen menjadi 42 persen. Pada sektor pertanian, umumnya program-program terkait ketahanan pangan, atau peningkatan produksi berada dalam alokasi belanja barang dan jasa. Belanja barang dan jasa di tingkat kabupaten meningkat dari hanya Rp. 6 miliar (19 persen dari belanja pertanian) di tahun 2005 menjadi Rp. 31 miliar di tahun 2009 (22 persen dari belanja pertanian). Meski demikian, belanja barang dan jasa juga memasukkan biaya perjalanan dinas. Proporsi belanja modal di tingkat kabupaten meningkat dari 8 persen (Rp. 3 miliar) pada tahun 2005 menjadi 36 persen (Rp. 50 miliar) 5 tahun berikutnya. Akan tetapi untuk sektor pertanian, seringkali belanja modal ini digunakan untuk pembangunan atau pengadaan barang pada perkantoran pemerintahan.
Gambar 5.32 Belanja pegawai di tingkat kabupaten/kota menurun yang diikuti peningkatan belanja modal
8% 10% 9% 12% 9% 12%
Sumber: Database Sulawesi Utara PEA, Universitas Sam Ratulangi
5.4.2 Keluaran dan Hasil Pencapaian Sektor Pertanian dan Perkebunan
Produksi padi di Sulawesi Utara meningkat, tetapi produktifi tasnya cenderung stagnan dalam 3 tahun terakhir. Komoditas pertanian yang konsisten meningkat adalah padi, jagung, kacang-kacangan.
Produktifi tas padi di Sulawesi Utara juga meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 4,7 ton per hektar menjadi 4,97 ton per hektar, meskipun dalam 3 tahun terakhir cenderung stagnan. Sulitnya meningkatkan produktifi tas padi dikarenakan metode penanaman dan kualitas input sudah hampir mencapai titik maksimal pada saat ini. Sementara tanaman padi yang membutuhkan air dalam jumlah besar sangat terpengaruh oleh faktor iklim, misalnya curah hujan yang tinggi dapat membanjiri lahan pertanian dan menambah kadar air dalam gabah sehingga sulit untuk dikeringkan dan menurunkan kualitas beras yang dihasilkan. Melihat luas lahan padi yang terus bertambah dan produktifi tas yang relatif stagnan, kebijakan yang dilakukan pemerintah di Sulawesi Utara untuk meningkatkan produksi padi masih terbatas pada ekstensifi kasi lahan.
Produksi jagung di Sulawesi Utara meningkat hampir tiga kali lipat dan produktifi tasnya naik 50 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Produksi jagung meningkat dari 195 ton pada tahun 2005 menjadi 509 ton di tahun 2009. Pada tahun 2007 jumlah lahan meningkat pesat menjadi 115 ribu hektar dari 82 ribu hektar pada tahun sebelumnya, hal ini diikuti oleh kenaikan produksi 68 persen di tahun 2007. Dilihat dari peningkatan produksi dan produktifi tas jagung di Sulawesi Utara, tampak bahwa pemerintah di Sulawesi
82
Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis
Utara menitikberatkan produksi jagung dalam 5 tahun terakhir. Program peningkatan serupa juga ditemui di sejumlah provinsi lain di Sulawesi seperti Gorontalo dan Sulawesi Selatan.
Tabel 5.5 Luas lahan panen dan produksi komoditas pertanian di Sulawesi Utara
Lahan (Hektar) Produksi (Ton)
2005 2006 2007 2008 2009 2005 2006 2007 2008 2009
Padi Sawah 88.772 89.159 94.528 98.416 103.887 417.659 441.573 473.940 492.177 516.522 Padi Ladang 6.174 5.558 38.020 11.535 10.858 14.966 13.328 92.957 28.014 27.657 Jagung 71.644 82.189 115.664 131.791 126.349 195.305 242.713 406.759 466.041 509.261 Ubi Kayu 6.695 6.058 5.709 6.388 5.907 68.463 82.919 74.406 83.654 79.471 Ubi Jalar 4.457 3.755 3.618 4.278 5.430 38.670 37.345 35.485 42.059 39.980 Kacang tanah 5.668 5.821 5.756 6.573 6.450 6.267 7.206 7.553 8.639 8.896
Kedelai 3.179 3.321 2.662 5.227 5.652 4.113 4.875 4.573 7.217 7.342
Kacang Hijau 1.417 1.506 1.614 1.791 2.123 1.463 2.079 2.153 2.381 2.553 Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2009, Badan Pusat Statistik
Selain pala dan kakao, produksi perkebunan di Sulawesi Utara cenderung menurun. Berbeda dengan tanaman pangan seperti padi dan palawija, tanaman perkebunan (cash crop) sangat dipengaruhi oleh harga komoditas tersebut. Walaupun pemerintah telah menetapkan harga beli nasional, harga beli di tingkat petani lokal sering lebih rendah. Selain itu ada pula komoditas yang panen besarnya setiap 2 tahun sekali seperti cengkeh. Pala dan kakao sebagai komoditas unggulan di Sulawesi Utara terlihat meningkatkan produksinya. Produktifi tas lahan pala meningkat dari 0,26 ton per hektar di tahun 2005 menjadi 0,7 ton per hektar di tahun 2008. Tidak dijadikannya vanila sebagai tanaman prioritas menyebabkan turunnya produksi secara drastis dalam kurun waktu 2005-2008.
Tabel 5.6 Luas lahan panen dan produksi komoditas perkebunan di Sulawesi Utara
Lahan (Hektar) Produksi (Ton)
2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008
Kelapa 262.347 259.306 267.652 272.137 187.719 246.262 229.613 209.995
Cengkeh 70.721 68.106 72.248 74.383 12.672 8.862 19.329 285
Pala 11.330 13.814 12.319 13.774 2.946 4.815 1.887 9.646
Kopi 9.689 9.579 9.488 9.143 5.929 5.951 3.323 3.305
Kakao 10.556 9.743 10.071 11.695 3.144 3.069 1.924 5.141
Vanila 5.239 5.273 5.755 5.404 1.165 717 436
Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2009, Badan Pusat Statistik
Belanja per kapita sektor pertanian tertinggi terdapat di wilayah perkotaan. Kota Tomohon dan Kota Kotamobagu adalah wilayah dengan belanja pertanian per kapita terbesar pertama dan ketiga di Sulawesi Utara. Kota Tomohon dikenal sebagai penghasil sayuran di Sulawesi Utara. Data BPS Sulawesi Utara menunjukkan pada tahun 2008 Kotamobagu memiliki produktifi tas lahan padi tertinggi di Sulawesi Utara, sebesar 5 ton per hektar. Dari kedua kota ini terlihat bahwa komitmen anggaran ditujukan untuk peningkatan komoditas pertanian.
Beberapa kabupaten hasil pemekaran juga memiliki belanja pertanian yang tinggi seperti Bolmut.
Meskipun kabupaten baru, data tahun 2008 menunjukkan Bolmut sebagai penghasil beras terbesar ke lima dan penghasil jagung terbesar ke empat di Sulawesi Utara.
83
Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Utara 2011 Bab 5 Analisa Sektor Strategis
Gambar 5.33 Belanja pertanian tertinggi justru berada di wilayah perkotaan
Sumber: Database Sulawesi Utara PEA, Universitas Sam Ratulangi
5.4.3 Kesimpulan dan Rekomendasi
Belanja pertanian di Sulawesi Utara meningkat lebih dari 2 kali lipat selama kurun waktu 2005-2009, hampir separuhnya berasal dari dana dekonsentrasi pemerintah pusat. Belanja pertanian mengambil proporsi sebesar 6 persen dari total belanja, di mana separuhnya dialokasikan untuk belanja pegawai.
Menurunnya belanja pegawai di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. diikuti peningkatan belanja modal.
Namun mayoritas belanja modal ini diperuntukkan untuk pembangunan gedung-gedung pemerintahan.
Rekomendasi yang utama adalah mengurangi belanja modal untuk pembangunan gedung sementara di sisi lain belanja program-program pendampingan dan penyuluhan pertanian yang biasanya terdapat di belanja barang dan jasa perlu ditingkatkan.
Produksi padi di Sulawesi Utara meningkat hampir 100 ribu ton (24 persen) dalam waktu 5 tahun.
Produksi jagung meningkat lebih tinggi, 161 persen dalam waktu 5 tahun. Produktifi tas lahan jagung meningkat hampir 50 persen sementara produktifi tas lahan padi cenderung stagnan di 4,9 ton per hektar.
Komoditas pertanian seperti padi dan palawija rentan terhadap perubahan iklim, pemerintah Sulawesi Utara harus menyiapkan program pendampingan dan penyadaran petani untuk mengadaptasi perubahan iklim.
Dari beberapa komoditas perkebunan yang potensial di Sulawesi Utara, pala dan kakao menunjukkan peningkatan produksi antara tahun 2005-2008. Produksi cengkeh cenderung fl uktuatif disebabkan siklus panen raya cengkeh yang tidak terjadi setiap tahun. Walaupun produksi kelapa pada tahun 2008 meningkat dibanding tahun 2005, trennya menurun sejak tahun 2006. Sulawesi Utara perlu mengambil kebijakan strategis berfokus pada produk perkebunan tertentu untuk meningkatkan keunggulan. Kebijakan tersebut juga harus diselaraskan dengan kebijakan industri pertanian untuk menambah nilai tambah produk perkebunan Sulawesi Utara.