• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4 Alih Kode

Hymes (dalam Rahardi 2001: 20), menyebutkan bahwa alih kode adalah istilah umum untuk menyebut pergantian atau peralihan pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa atau bahkan beberapa gaya dari suatu ragam. Alih bahasa ini sepenuhnya terjadi karena perubahan-perubahan sosiokultural dalam situasi berbahasa. Perubahan-perubahan yang dimaksud meliputi faktor-faktor seperti hubungan antara pembicara dan pendengar, variasi bahasa, tujuan berbicara, topik yang dibahas, waktu dan tempat berbincang. Kemudian, Apple (dalam Chaer (2004:107), mengatakan alih kode yaitu gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Selanjutnya, Hymes menambahkan bahwa alih kode bukan hanya terbagi antara bahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam-ragam atau gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Alih kode merupakan salah satu kajian dalam sosiolinguistik. Lebih lanjut Apple (dalam Chaer dan Agustina, 2010:107) menyatakan, alih kode yaitu gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Sedangkan Thealander (dalam Chaer dan Agustina, 2010:115) mengatakan alih kode sebagai peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain.

Dalam kemunculannya alih kode sangat sering dijumpai dalam pemilihan topik skripsi maupun jurnal ilmiah. Pada penelitian ini, terdapat penelitian yang relevan yaitu berupa jurnal ilmiah. Jurnal karya Mohammad Rohmadi dan Edy Tri Sulistiyo ini berjudul “Alih Kode dan Campur Kode Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di SMA”. Dalam jurnal ini, penulis banyak mengutarakan alih kode dan campur kode yang sering digunakan guru saat proses belajar mengajar. Menurut Kunjana Rahardi (2010), alih kode bisa terjadi apabila penutur dan mitra tutur ingin menyampaikan sesuatu atau menjelaskan maksud tujuan tertentu pada mitra tuturnya. Penggunaan alih kode dan campur kode ini biasanya digunakan untuk keperluan pembelajaran, misalnya untuk pemaparan materi.

Alih kode biasanya digunakan secara sadar atau secara sengaja. Hal ini dikarenakan alih kode sebagian besar digunakan untuk menghormati lawan bicara dan ingin membuat percakapan tersebut menjadi lebih mendalam. Menurut I Dewa Putu Wijaya (2012) yang mengatakan bahwa alih kode berkaitan erat dengan siapa kita berbicara, tujuannya apa, dan untuk apa kita berbicara. Peristiwa alih kode juga dipengaruhi oleh perubahan situasi dan topik pembicaraan. Misalnya, dua orang yang berasal dari Jawa sedang bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa tiba-tiba teman mereka yang berasal dari Padang ingin bergabung dalam percakapan mereka dengan menyapa menggunakan bahasa Indonesia karena tidak dapat berbahasa Jawa. Tidak lama kemudian masuk pula teman-teman lainnya, sehingga suasana menjadi riuh, dengan percakapan yang tidak tentu arah dan topiknya dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam santai.

Peristiwa pergantian bahasa yang digunakan dalam ilustrasi di atas dari bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia inilah yang disebut peristiwa alih kode.

Sejalan dengan pendapat Suwito (1985: 68), bahwa alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain. Berdasarkan jenisnya, alih kode dibagi menjadi dua macam, yaitu alih kode intern dan alih kode ekstern, menurut Suwito (1985:69). Alih kode intern adalah alih kode yang terjadi antar bahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional, antara dialek-dialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam satu dialek. Sedangkan alih kode ekstern adalah alih kode yang terjadi antara bahasa asli dengan bahasa asing. Meskipun demikian, dalam prakteknya dimungkinkan terjadi alih kode intern dan ekstern secara beruntun.

Selain sikap kemultibahasaan yang dimiliki oleh masyarakat tutur, terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya peristiwa alih kode, seperti yang dikemukakan Chaer (2004:108), adapun beberapa faktor tersebut yaitu sebagai berikut:

a. Penutur

Seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena adanya suatu tujuan. Misalnya mengubah situasi dari resmi menjadi tidak resmi atau sebaliknya. Adapun contoh alih kode yang sering dijumpai dalam kegiatan sehari-hari, yaitu diantaranya.

Contoh:

Saat terjadi kegiatan jual beli di pasar tradisional, tak jarang kita jumpai pembeli Warga Negara Asing. Penjual yang kebanyakan asli

Indonesia yang memiliki bahasa ibu yang berbeda-beda, mau tidak mau harus menyesuaikan bahasanya dengan bahasa yang digunakan oleh pembeli tersebut. Perubahan bahasa yang satu ke bahasa yang lain terjadi karena adanya faktor pendorong yang kuat.

b. Mitra Tutur

Setiap penutur biasanya ingin mengimbangi bahasa yang digunakan oleh lawan tuturnya dalam masyarakat. Penutur mungkin harus beralih kode untuk mengimbangi. Suwito (dalam Chaer dan Agustina, 2004:73) lawan tutur dibedakan menjadi dua golongan, yaitu 1) Penutur yang berlatar belakang kebahasaan yang sama dengan lawan tutur, 2) Lawan tutur yang berlatar belakang berlainan alih gaya.

c. Hadirnya Penutur Ketiga

Untuk menetralisir situasi dan menghormati mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda.

d. Perubahan Situasi

Perubahan situasi pembicaraan juga dapat mempengaruhi terjadinya alih kode. Situasi tersebut dapat berupa situasi formal ke informal ataupun sebaliknya.

e. Pokok Pembicaraan (Topik)

Pokok pembicaraan atau topik merupakan faktor yang dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan yang bersifat formal biasanya diungkapkan dengan ragam baku, dengan gaya netral dan serius.

Sedangkan pokok pembicaraan yang bersifat informal disampaikan dengan bahasa tak baku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya.

Selain itu, penyebab terjadinya alih kode berdasarkan komponen tutur Hymes (dalam Chaer dan Agustina, 2004:48) yaitu SPEAKING sebagai berikut.

S = Setting and Scene (Situas) (act situation), mencakup latar dan suasana

P = Partisipant, mencakup penutur, pengirim, pendengar, dan penerima. E = End (tujuan), mencakup bentuk pesan dan isi pesan.

A= Act Sequence (urutan tindak), mencakup bentuk pesan dan isi pesan K= Key (kunci)

I = Instrumentalities (peranti, perabotan), mencakup saluran dan bentuk tutur.

N = Norms (norma), mencakup norma interaksi dan norma interpretasi G = Genre (bentuk dan ragam bahasa) Macam-macam alih kode yang berwujud alih bahasa tidak hanya satu atau dua bahasa, namun ada banyak bahasa yang digunakan dalam bertutur, diantaranya;

1) Alih kode bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa. 2) Alih kode bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. 3) Alih kode bahasa Jawa ke bahasa Asing.

4) Alih kode bahasa Indonesia ke dalam bahasa Asing. 5) Alih kode bahasa Asing ke dalam bahasa Indonesia. 6) Alih kode bahasa Asing ke dalam bahasa Jawa.

Alih kode dilakukan seseorang dikarenakan ada beberapa macam tujuan yang ingin disampaikan dalam suatu tuturan. Penutur tidak asal bertutur dalam melakukan pengalihan bahasa yang digunakan. Tujuan yang ingin disampaikan oleh penutur, sebagai berikut:

a. Ingin membina keakraban.

b. Ingin memperjelas maksud pembicaraan. c. Ingin menyesuaikan pembicaraan.

d. Ingin menyembunyikan atau merahasiakan pembicaraan. e. Ingin menimbulkan rasa humor.

f. Ingin beralih kode karena marah atau emosi.

Hymes (dalam Chaer dan Agustina, 2004:107) menyatakan bahwa alih kode bukan hanya terjadi antar bahasa, tetapi juga terjadi antara ragam ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Fasold (dalam Chaer dan Agustina, 2004:115) mengatakan bahwa apabila satu klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatikal satu bahasa, dan klausa berikutnya disusun menurut struktur gramatikal bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode.

Dokumen terkait