BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.5 Campur Kode
Campur kode adalah suatu keadaan berbahasa di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran itu (Nababan, 1991:32). Maksudnya adalah keadaan yang tidak memaksa atau menuntut seseorang untuk mencampur suatu bahasa ke dalam bahasa lain saat peristiwa tutur sedang berlangsung. Fenomena campur kode berbeda dengan alih kode.
Sebagian besar peristiwa campur kode dilakukan seseorang secara tidak sengaja atau tidak sadar. Hal ini dikarenakan sikap kemultibahasaan orang tersebut mengandung beberapa frase bahasa asing ke bahasa asli. Walaupun begitu, peristiwa campur kode juga dapat dilakukan dengan sengaja, yakni karena alasan akademis, keterbatasan istilah dalam bahasa asli dan sebagainya. Misalnya dalam siaran radio, si penyiar dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan bahasa daerahnhya, maka penutur tersebut dapat dikatakan telah melakukan campur kode. Campur kode dan alih kode ini diakibatkan adanya penguasaan dua bahasa atau lebih dari satu bahasa ini dinamakan multilingual. Contoh campur kode dalam tayangan Republik Sentilan Sentilun yaitu:
Mucle : “Ah, ini rupanya ada gadis cantik lagi dirayu sama portal komplek. Oh oh oh Jarwo”.
Jarwo : “Oh oh oh Mucle”. Saya itu punya teman, jagoan”. Mucle : “Wah sombong”.
Jarwo : “Superhero siapa yang nggak teman saya”. Mucle : “Siapa”?
Jarwo : “Batman itu teman saya”. Mucle : “Terus?”
Jarwo : “Hebat orangnya”.
Mucle : “Batman, mana mau Batman berteman dengan bad mood”.
Pada kutipan “Batman, mana mau Batman berteman dengan bad mood”, jika diperhatikan pada tuturan tersebut mengandung campur kode. Campur kode yang terdapat pada tuturan tersebut termasuk dalam kategori campur kode ekstern atau campur kode keluar. Kata “bad mood” yang berarti “perasaan sedang buruk” disisipkan pada tuturan tokoh Mucle.
Campur kode sebagai salah satu fenomena yang terjadi pada penyiar radio juga tidak mungkin dihindarkan. Penelitian yang bisa dijadikan sebagai
pandangan yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi karya Ardian Pitra Satya Purnama, mahasiswa angkatan 2009 program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Skripsi karya Ardian yang berjudul “Alih Kode dan Campur Kode Iklan Obat di Siaran Radio Kedaulatan Rakyat Yogyakarta”. Pada penelitian relevan ini, penulis memaparkan penggunaan alih kode dan campur kode yang muncul berdasarkan fungsinya. Alih kode dan campur kode pada iklan obat di siaran radio digunakan untuk menawarkan produk, mempermudah pemahaman bagi pendengar yang memiliki dwibahasa.
Campur kode ini merupakan fenomena pemakaian dua bahasa atau lebih, dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa lain secara konsisten Kachru (1978). Campur kode di Indonesia sering terjadi dalam situasi orang sedang berbincang-bincang di mana orang sedang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Nababan, 1991:31).
Selain itu, campur kode dapat terjadi antarbahasa, antardialek, dan antarragam. Campur kode antarbahasa adalah percampuran yang dilakukan saat menggunakan bahasa pokok yang disisipi oleh bahasa asing. Campur kode antardialek adalah percampuran bahasa pokok yang disisipi oleh bahasa daerah dialek Jawa, Madura, Jakarta sehingga muncul bahasa Indonesia yang kejawa-jawaan, kemadura-maduraan, atau kejakarta-jakartaan. Lain halnya dengan campur kode antarragam yang ditentukan oleh bahasa di mana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan penutur di dalam hirarki status sosialmya.
Suwito (1983: 76) membedakan jenis campur kode menjadi dua golongan. Yaitu campur kode ke dalam (inner code mixing) dan campur kode keluar (outer
code mixing). Campur kode ke dalam adalah campur kode yang menggunakan
bahasa asli, dan campur kode keluar adalah campur kode yang menggunakan bahasa asing. Selain itu, menurut Tarigan (1985:19) kata dapat diartikan sebagai satuan bebas yang paling kecil. Kata adalah bentuk bebas yang paling kecil, yaitu kesatuan terkecil yang dapata diucapkan secara berdikari, Bloomfield (dalam Tarigan, 1985:6). Suwito (1985:79) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain:
1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata.
Menurut bentuknya, kata dapat dibagi menjadi 4 kategori. Empat kategori itu sebagai berikut.
1) Kata Dasar
Kata dasar adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks (Tarigan, 1985:9). Contohnya adalah
“malam” dalam kata “bermalam”, kata dasar “tidur” memperoleh
afiks –an menjadi “tiduran”. 2) Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan yaitu kata yang mengalami perubahan akibar melekannya afiks (imbuhan) baik di awal (prefiks), di tengah (infiks), di akhir (sufiks). Prefiks adalah suatu unsur yang diletakkan di depan kata dasar. Infiks adalah morfem yang
diselipkan di tengah kata dasar. Sufiks adalah morfem terikat yang diletakkan di belakang kata dasar.
3) Kata Ulang
Kata ulang adalah pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagian, baik fonem maupun tidak (Ramlan, 1981:83). Pengulangan kata dapat dibagi menjadi empat, yaitu (1) kata ulang seluruh, yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar, seperti buku-buku, malam-malam, rumah-rumah, dan sebagainya; (2) kata ulang sebagian, yaitu pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya, seperti melambai-lambai, membaca-baca, bernyanyi-nyanyi; (3) kata ulang berkombinasi dengan afiks yaitu kata ulang dasar yang dikombinasikan dengan afiks seperti, mobil-mobilan, kuda-kudaan; (4) kata ulang perubahan fonem, seperti bolak-balik, gerak-gerik, serba-serbi.
4) Kata Majemuk
Ramlan (2009: 76) mengatakan bahwa kata majemuk adalah gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Kata yang terjadi gabungan dua kata itu lazim dengan kata majemuk. Misalnya rumah sakit, meja makan, keras hati, panjang tangan, dapat disimpulkan bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya.
2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa
Penyisipan frasa adalah penyisipan unsur frasa yang berasan dari bahasa asing atau bahasa daerah yang masuk ke dalam tuturan yang menggunakan suatu bahasa pokok tertentu. (Ramlan, 1987: 151) Frasa ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa. Unsur klausa yang terdiri dari dua atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frasa.
3. Penyisipan unsur-unsur berwujud ungkapan atau idiom
Ungkapan adalah konstruksu dari unsur-unsur yang saling memilih, masing-masing anggota memiliki makna yang ada bersama yang lain (Kridalaksana, 2001: 81).Ungkapan dapat berfungsu untuk menghidupkan dan mendorong perkembangan bahasa dan akan menciptakan keindahan bahasa agar tidak membosankan.
Selain itu, ada pula faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode. Menurut Suwito (1983) ada beberapa faktor penyebab terjadinya campur kode yaitu sebagai berikut:
1) Identifikasi peranan adalah sosial, registral, dan edukasional. Campur kode yang terjadi ditunjukkan untuk mengidentifikasi peranan penutur, baik secara sosial, pendidikan, serta golongan dari peserta bicara atau penutur bahasa tersebut. Misalnya dalam pemakaian bahasa Jawa, pemilihan variasi bahasa dan cara mengekspresikan variasi bahasa itu dapat
memberikan kesan tertentu baik tentang status sosial ataupun tingkat pendidikan penuturnya.
2) Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa yang digunakan penutur pada waktu melakukan campur kode, yang akan menempatkan penutur dalam hierarki status sosial.
3) Identifikasi keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan tampak dalam sikap terhadap penutur. Yang termasuk dalam faktor ini adalah tampak pada peristiwa campur kode yang menandai sikap dan hubungan orang lain, dan hubungan orang lain terhadapnya.