• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

4.2 Analisis Data

4.2.6 Tujuan Campur Kode

A. Tujuan Campur Kode ke Dalam a. Membangkitkan Rasa Humor

Salah satu faktor penyebab terjadinya campur kode ke dalam adalah untuk membangkitkan rasa humor. Menurut ababan (1991: 32), campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu. Percampuran dua bahasa pada percakapan di bawah ini dilakukan oleh 3 tokoh, yaitu Leony, Mucle, dan Jarwo. Tuturan ketiga tokoh pada data di bawah ini mengarah pada suasana formal ke informal. Pada peristiwa tutur di bawah ini, peneliti menemukan salah satu faktor penyebab alih kode adalah untuk membangkitkan rasa humor. Berikut adalah contoh data percakapan campur kode dengan faktor penyebab untuk membangkitkan rasa humor.

25. Mucle : “Ah ini rupanya ada gadis cantik lagi dirayu sama portal komplek”.

Leony : “Ini ni mas, suka ganggu-ganggu nih”. (Ini)

Mucle : “Oh oh oh Jarwo”.

Jarwo : “Oh oh oh Mucle. Saya itu punya teman, jagoan”. Mucle : “Wah sombong”.

Jarwo : “Superhero siapa yang nggak teman saya, betman itu teman saya, hebat orangnya”.

Mucle:“Mana mau betman berteman sama bad mood”. (CK/RSS/01/280117)

Konteks: Peristiwa tutur terjadi dalam acara dialog interaktif

Republik Sentilan Sentilun Metro TV tanggal 28 Januari 2017 dengan tema keberagaman adalah kita. Mucle memuji Leony yang sedang di rayu oleh Jarwo dalam suasana santai di studio Metro TV.

Pada peristiwa tutur di atas, merupakan salah satu contoh campur kode ke dalam dengan faktor penyebab untuk membangkitkan rasa humor. Pada awal tuturannya, tokoh Leony sudah menggunakan campur kode penyisipan kata ragam tidak baku. Hal ini dapat dilihat pada tuturan “Ini ni mas, suka ganggu-ganggu nih”. Penyisipan kata ragam tidak baku “ni” dan “nih” yang dalam ragam baku “ini”, digunakan penutur untuk menunjukkan sesuatu. Kemudian Jarwo dan Mucle sebagai mitra tututur menjawab dengan menggunakan ragam informal dengan maksud untuk membangkitkan rasa humor. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1991: 32), yang mengatakan campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang membuat percampuran itu.

b. Tujuan untuk Menjelaskan Sesuatu

Pada data di bawah ini, faktor yang menyebabkan tejadinya campur kode adalah tujuan untuk menjelaskan sesuatu. Peristiwa tutur pada data ini dilakukan oleh 2 tokoh, yaitu Polo dan Mucle. Pada percakapan tersebut, tokoh Polo menjelaskan ssesuatu kepada mitra tutur. Dalam tuturannya, tanpa disadari bahasa yang dipakai mengalami campur kode penyisipan kata ragam tidak baku. Hal tersebut dapat dilihat dalam data percakapan di bawah ini.

26. Polo : “Tapi ono jenis narkoba baru, orang nggak pake aja, gue sentuh begini kayak di hipnotis”.

(Seperti)

Mucle : “Ada narkoba jenis begitu?”

Polo : “Ada ini bisa di lihat hasilnya”. (CK/RSS/04/140117)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 14 Januari 2017

dengan tokoh Polo dan Mucle. Polo menjelaskan kepada Mucle tentang adanya narkoba jenis baru, yang walaupun orang tidak memakainya orang itu bisa terhipnotis. Mucle menanyakan apa ada jenis narkoba seperti itu. Polo mengatakan ada dan bisa dlihat hasilnya.

Pada data di atas, peneliti menemukan faktor tujuan untuk menjelaskan sesuatu dala percakapan tersebut. Dalam suasana tuturan formal ke informal, tokoh Polo bercampur kode menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku “kayak” yang dalam bentuk ragam baku “seperti”. Maksud penutur menggunakan penyisipan tersebut karena penutur ingin menjelaskan topik pembicaraannya mengenai narkoba kepada mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Chaer (2010), yang mengatakan

bahwa campur kode dapat terjadi karena penutur ingin menafsirkan atau menjelaskan sesuatu kepada mitra tutur.

c. Sekedar Bergengsi

Pada data di bawah, percakapan yang ditemukan peneliti dalam acara dialog interaktif Republik Sentilan Sentilun menunjukkan sebagai faktor sekedar bergengsi yang menyebabkan munculnya campur kode. Campur kode dapat terjadi apabila penutur kesulitan menyampaikan kata yang ingin disampaikan pada mitra tutur (Nababan, 1984). Pada data di bawah ini, percakapan yang dilakukan oleh 2 tokoh, yaitu Polo dan Mucle. Tokoh Polo menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku untuk sekedar bergengsi. Hal tersebut dapat dilihat pada percakapan di bawah ini.

27. Polo : “Tapi ono jenis narkoba baru, orang nggak pake aja, gue

sentuh begini kayak di hipnotis”. (Saya)

Mucle : “Ada narkoba jenis begitu?”

Polo : “Ada ini bisa di lihat hasilnya”. (CK/RSS/03/140117)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 14 Januari 2017

dengan tokoh Polo dan Mucle. Polo menjelaskan kepada Mucle tentang adanya narkoba jenis baru, yang walaupun orang tidak memakainya orang itu bisa terhipnotis. Mucle menanyakan apa ada jenis narkoba seperti itu. Polo mengatakan ada dan bisa dlihat hasilnya.

Data di atas merupakan contoh peristiwa tutur campur kode ke dalam dengan faktor penyebab untuk sekedar bergengsi. Dalam suasana tuturan

informal, penutur menggunakan penyisipa kata ragam tidak baku. Maksud penutur menggunakan penyisipan kata tersebut adalah untuk sekedar bergengsi pada mitra tuturnya. penggunaan kata ragam tidak baku “gue” yang dituturkan tokoh Polo menunjukkan bahwa hal tersebut sejelan dengan teori yang dikemukakn oleh Nababan (1984), yang mengatakan campur kode dapat terjadi karena penutur ingin menunjukkan keterpelajarannya, tetapi tanpa disadari justru bahasa yang diucapkan merupakan kata yang tidak baku atau tidak tepat pengucapannya.

d. Menunjukkan Kedekatan Penutur dan Mitra Tutur

Peristiwa tutur yang terdapat dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun tidak luput dari campur kode ke dalam dengan faktor

penyebab untuk menunjukkan kedekatan penutur dan mitra tutur. Pada data di bawah ini, percakapan dilakukan oleh 2 orang yaitu Jarwo dan Mucle. Suasana yang terjadi dalam percakapan tersebut adalah suasana informal. Penutur menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku dalam tuturannya. Hal ini dapat dilihat pada percakapan di bawah ini.

28. Jarwo : “Lo Jarwo ya? Kok bisa ganteng begitu”. (Kamu)

Mucle : “Yang Jarwo lo!” (Kamu)

Jarwo : “Terus lo siapa?” (Kamu)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 14 Januari 2017.

Jarwo mememuji diri sendiri ganteng melalui Mucle.

Data di atas merupakan data campur kode ke dalam dengan menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku. Tokoh Jarwo menggunakan kata ragam tidak baku “lo” yang dalam bentuk baku “kamu”. Maksud dari penggunaan kata ragam tidak baku tersebut adalah untuk menunjukkan kedekatan penutur dengan mitra tuturnya. kemudian Mucle sebagai mitra tutur ikut menjawab menggunakan kata ragam tidak baku yang sama. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nababan (1984), yang mengatakan campur kode dapat terjadi karena penutur ingin menunjukkan keterpelajarannya, tetapi tanpa disadari justru bahasa yang diucapkan merupakan kata yang tidak baku atau tidak tepat pengucapannya.

e. Tujuan untuk Memberitahukan Sesuatu

Campur kode di Indonesia sering terjadi dalam situasi orang sedang berbincang-bincang di mana orang sedang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Nababan, 1991: 31). Pada data di bawah ini, percakapan dilakukan oleh 2 tokoh dalam acara dialog interaktif

Republik Sentilan Sentilun. Kedua tokoh itu adalah Mucle dan Asty,

percakapan tersebut terjadi dalam suasana tutur informal. Hal ini dapat dilihat pada percakapan di bawah ini.

29. Mucle : “Ini liat ada Jarwo”. (Lihat)

Asty : “Aduh maaf ini pada kenapa?” (CK/RSS/09/140117)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 14 Januari 2017.

Mucle menunjukkan keberadaan Jarwo kepada Asty, dan Asty menanyakan apa yang terjadi saat itu.

Pada data di atas, penutur menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku yang menyebabkan terjadinya campur kode ke dalam. Data di atas menunjukkan salah satu faktor penyebab terjadinya campur kode ke dalam adalah tujuan untuk memberitahukan sesuatu. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan tokoh Mucle yang mengatakan, “ini liat ada Jarwo”. Dalam tuturan tersebut, tokoh Mucle menyisipkan kata ragam tidak baku “liat” yang seharusnya “lihat”. Dalam suasana tuturan informal dan santai, percampuran kode yang terjadi dalam percakapan tersebut karena penutur bermaksud ingin menunjukkan sesuatu kepada mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1984), yang mengatakan campur kode dapat terjadi karena suasana kesantaian antara penutur dengan mitra tutur, sehingga apa yang dikatakan tanpa disadari telah mengalami interferensi atau kesalahan berbahasa dalam percakapannya.

f. Menunjukkan Keterpelajarannya

Pada data di bawah ini, percakapan dilakukan oleh 3 orang tokoh dalam acara dialog interaktif Republik Sentilan Sentilun Metro TV, yaitu Jarwo,

Mucle, dan Asty. Percakapan itu terjadi dalam suasana informal. Tokoh Asty bercampur kode dengan menggunakan penyisipan kata dalam bahas daerah Jawa. Hal itu dapat dilihat pada percakapan di bawah ini.

30. Jarwo : ‘Slamet!” Mucle : “Peace man!” Asty : “Aduh, itu ndoro!”

(Majikan)

Mucle : “Peace man, tempat pipis di mana man?” (CK/RSS/11/140117)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 14 Januari

2017. Jarwo dan Mucle memanggil ndoro Sentilun dengan suasana tutur informal. Kemudian Asty mengingatkan bahwa itu adalah majikan di dalam acara

Republik Sentilan Sentilun.

Data di atas penutur menggunakan penyisipan kata dalam bahasa Jawa. Pada percakapan di atas, penyisipan kata “ndoro” dalam tuturan tokoh Asty menunjukkan adanya campur kode ke dalam. Penyisipan kata tersebut terjadi dalam suasana tuturan informal. Kata “ndoro” yang berarti “majikan” digunakan tokoh Asty untuk menunjukkan sesuatu kepada mitra tuturnya. Peristiwa campur kode di atas sejalan dengan pendapat Nababan (1991: 32), yang mengatakan campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu.

g. Mempertegas Sesuatu

Peristiwa campur kode dalam data di bawah ini disebabkan karena faktor penutur ingin mepertegas sesuatu. Tuturan yang dilakukan dalam suasana informal ini dilakukan oleh 4 tokoh, yaitu Sentilun, Leony, Jarwo, dan Mucle. Campur kode yang terjadi pada percakapan di bawah adalah

campur kode penyisipan kata. Percampuran kode tersebut dapat terjadi karena penutur ingin mepertegas sesuatu kepada mitra tuturnya. hal itu dapat dilihat pada percakapan di bawah ini.

31. Sentilun : “Ada apa ini, ribut mulu”. (Terus)

Leony : “Tau nih berantem terus berdua”. (Ini)

Sentilun : “Berantem kenapa”?

Jarwo : “Ini ni mas, dia ini merebut kekasih saya”. (Ini)

Mucle : “Ini kekasih saya”. (CK/RSS/02/280117)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif

Republik Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 28

Januari 2017 dengan tema keberagaman adalah kita. Sentilun menanyakan suasana ribut yang terjadi antara Leony, Jarwo, dan Mucle. Leony mengatakan bahwa Jarwo dan Mucle sedang berantem. Jarwo mengatakan bahwa Mucle merebut kekasihnya.

Data di atas merupakan peristiwa campur kode ke dalam dengan faktor penyebab penutur ingin mempertegas sesuatu. Dalam data di atas, tokoh Sentilun menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku. Dalam tuturannya, tokoh Sentilun menggunakan kata “mulu” yang seharusnya “terus”. Penyisipan kata yang digunakan tokoh Sentilun bermaksud untuk mempertegas tuturannya. Kemudian tokoh Leony dan Jarwo tanpa disadari kut bercampur kode menggunakan penyisipan kata ragam tidak baku “ni” dan ”nih”. Peristiwa campur kode di atas tejadi karena suasana tuturan yang santai. Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1984), yang mengatakan bahwa campur kode dapat terjadi karena suasana

kesantaian antara penutur dengan mitra tutur, sehingga apa yang dikatakan tanpa disadari telah mengalami interferensi atau kesalahan berbahasa dalam percakapannya.

B. Tujuan Campur Kode Keluar

Campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suaty tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu (Nababan, 1991: 32). Peristiwa campur kode tidak luput dari beberapa faktor penyebab terjadinya campur kode itu. Terdapat tiga faktor yang ditemukan peneliti sebagai penyebab campur kode keluar pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut.

1. Membangkitkan Rasa Humor

Pada peristiwiwa campur kode, salah satu faktor penyebab yang ditemukan peneliti yaitu faktor untuk membangkitkan rasa humor. Menurut Nababan (1984), campur kode dapat terjadi karena suasana kesantaian antara penutur dengan mitra tutur, sehingga apa yang dikatakan tanpa disadari telah mengalami interferensi atau kesalahan berbahasa dalam percakapannya. Hal tersebut juga terjadi dalam percakapan yang dilakukan oleh dua tokoh yang ada dalam acara dialog interaktif Republik Sentilan

formal ke informal. Campur kode yang terjadi dalam percakapan di bawah ini adalah campur kode penyisipan frasa.

32. Mucle : “Pak Jarwo”. Jarwo : “Yes man”.

(Ya manusia; laki-laki)

Mucle : “Bagaimana soal perkara yang kemarin kita bicarakan itu? Apa bisa diatur?”

Jarwo : “Itu gampang Pak Mucle”. (CK/RSS/01/250217)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 25 Februari 2017

dengan tema godaan penegak hukum. Mucle menanyakan soal perkara yang akan diselesaikan oleh Jarwo.

Data di atas merupakan peristiwa campur kode keluar dengan faktor penyebab untuk membangkitkan rasa humor. Penggunaan bahasa asing dalam tuturan tokoh Jarwo menunjukkan bahwa ia ingin membangkitkan rasa humor kepada mitra tuturnya. Pada awal percakapan, tokoh Mucle menggunakan bahasa Indonesia, kemudian tokoh Jarwo sebagai mitra tutur menjawab menggunakan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa asing dalam tuturan tokoh tersebut bermaksud untuk membangkitkan rasa humor dalam suasana santai. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1984), campur kode dapat terjadi karena suasana kesantaian antara penutur dengan mitra tutur, sehingga apa yang dikatakan tanpa disadari telah mengalami interferensi atau kesalahan berbahasa dalam percakapannya. Selain data di atas, terdapat pula percakapan campur kode lain yang memiliki faktor penyebab ingin membangkitkan rasa humor, yaitu sebagai berikut.

33. Mucle : “Pak, yang saya curi itu anak kambing tetangga, masa saya tega mengawini anak kambing tetangga”.

Jarwo : “Why not?”

Mucle : “Saya tahu artinya why not apa”. Jarwo : “Apa?”

Mucle : “Kenapa kacang”. (CK/RSS/02/250217)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 25 Februari 2017

dengan tema godaan penegak hokum. Mucle mengatakan bahwa ia melakukan tindak kriminal pencurian, dan diminta untuk bertanggung jawab.

Pada data di atas, terdapat dua tokoh yang terlibat dalam percakapan. Kedua tokoh tersebut bercakap-cakap dalam suasana tutur formal. Tuturan campur kode di atas mengalami penyisipan frasa dalam bahasa asing “why not” yang artinya “kenapa tidak”. Penutur menggunakan penyisipan tersebut karena bermaksud untuk membangkitkan rasa humor dengan mitra tuturnya. Campur kode keluar seperti pada percakapan di atas sejalan dengan pendapat dari Nababan (1991: 32), yang mengatakan campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu.

2. Tujuan untuk Menjelaskan Sesuatu

Peristiwa campur kode biasanya muncul disebabkan oleh penutur dan lawan tutur yang menyisipkan bahasa asing atau ragam bahasa yang tidak baku. Seperti apa yang diutarakan oleh Nababan (1991: 32), yang

mengatakan campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu. Data di bawah ini, percakapan dilakukan oleh dua tokoh dalam acara dialog interaktif Republik Sentilan

Sentilun yaitu Butet dan Tompi. Topik pembicaraan yang dibicarakan

adalah Pilkada 2017. Pada percakapan di bawah ini, campur kode terjadi karena faktor penyebab penutur ingin menjelaskan sesuatu kepada mitra tutur.

34. Butet : “Kalau sikapnya Mas Tompi gimana? Sikap kepada pemenang nanti entah siapa”.

Tompi : “Kita boleh berdarah-darah pada saat menjelang pemilihan. Tapi siapapun yang akan menang, dan ini statement saya jelas jauh-jauh hari, siapapun yang akan tampil menjadi pemenangnya, ya kita harus support, mengawal ya itu tetap kritis, event juga dengan orang-orang yang kita pilih”. (CK/RSS/02/120217)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 12 Februari

2017. Butet menanyakan sikap Tompi jika calon kepala daerah yang ia dukung tidak menang. Tompi mengatakan bahwa harus menerima kekalahan dan mendukung siapapun yang akan menjadi pemimpin.

Pada data di atas, tuturan terjadi dalam suasana formal. Tuturan yang mengandung campur kode keluar adalah tuturan dari tokoh Tompi. Tompi menggunakan penyisipan kata dalam bahas Inggris yaitu kata “support” yang berarti “dukungan”. Penyisipan kata dalam bahasa asing tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan sesuatu yang ingin disampaikan oleh penutur. Penutur menggunakan kata tersebut karena penutur juga ingin

menunjukkan keterpelajarannya dalam berbahasa. Hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1984), yang mengatakan bahwa campur kode dapat terjadi karena penutur ingin menunjukkan keterpelajarannya, tetapi tanpa disadari justru bahasa yang diucapkan tidak baku atau tidak tepat penggunaannya.

3. Tujuan untuk Memberitahukan Sesuatu

Campur kode menurut Chaer (2010), campur kode dapat terjadi karena penutur ingin menafsirkan atau menjelaskan sesuatu kepada mitra tuturnya. Pada data ini, peneliti menemukan salah satu faktor penyebab terjadinya alih kode yaitu untuk memberitahukan sesuatu. Percakapan di bawah ini dilakukan oleh dua tokoh, yaitu Butet dan Philips. Penyisipan kata dalam bahasa asing dalam tuturan tokoh Philips yang menjadi penunjuk munculnya alih kode. Di bawah ini adalah percakapan campur kode dengan faktor penyebab untuk memberitahukan sesuatu.

35. Butet : “Cuma masalahnya jarang yang mau berkaca, melihat secara jujur apa yang ada dalam dirinya”.

Philips : “Kadang yang membuat rumit adalah media. Jadi media mungkin mengambil angle di survai itu, tapi tidak dilaporkan semua”. (CK/RSS/07/180217)

Konteks: Percakapan terjadi dalam acara dialog interaktif Republik

Sentilan Sentilun Metro TV tayang pada 18 Februari 2017

dengan tema demam lembaga survai. Butet mengatakan seseorang terkadang tidak mau melihat diri sendiri, kemudian Philips mengatakan terkadang media juga membuat suatu masalah semakin rumit karena melaporkan sebagian info yang didapatkan.

Peristiwa tutur di atas terjadi dalam suasana tuturan formal. Tuturan yang menunjukkan terjadinya campur kode adalah tuturan dari tokoh Philips. Tuturan yang mengandung penyisipan kata dalam bahasa Inggris “angle” atau dalam bahasa Indonesia berarti “sudut”. Penutur menggunakan kata dalam bahasa asing karena ingin memberi sesuatu kepada mitra tuturnya, serta ingin menunjukkan keterpelajarannya dalam menguasai bahasa. hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1991: 32), yang mengatakan bahwa campur kode adalah suatu keadaan di mana orang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran itu.

Dokumen terkait