• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 ANAK NOKEN DALAM BUDAYA LANI

4.7 Anak Rumput

Istilah Anak rumput digunakan untuk menyebut anak hasil dari hubungan di luar pernikahan atau anak hasil perselingkuhan atau anak hasil hubungan dengan beberapa laki-laki sehingga tidak jelas siapa bapak biologis dari anak tersebut. Arti dari kata rumput pada istilah anak rumput adalah menggambarkan bahwa anak tersebut dihasilkan dari hubungan suami istri yang tidak sah antara laki - laki dan perempuan. Kata rumput dalam istilah ini diartikan sebagai liar. Seorang anak rumput yang dihasilkan dari kawin rumput. Kondisi tersebut secara tidak langsung membawa kita pada sebuah kenyataan bahwa hubungan tersebut dilakukan di rerumputan atau semak-semak.

Kondisi di atas serupa dengan yang disampaikan oleh Bapak Yul B (umur 46 tahun) bahwa :

…..“itu kawin rumput, artinya tanpa seketahui orang tua, artinya baku lari dengan dia punya pacar, tapi tidak jelas, sempat dia sebut atau ada yang lain, saya tidak tahu”….“itu kan Cuma bicara saja itu, tidak mungkin juga di rumput, hanya istilah saja, kawin liar begitu, bahasa kasarnya saja”…, cerita Bapak Yul B

Realita secara tidak langsung akan berdampak pada hak-hak hidup anak rumput tersebut, seperti hak asuh, pendidikan, dan kesehatan. Kondisi ini tentunya secara tidak langsung akan merugikan anak rumput tersebut dalam kaitannya dengan tumbuh dan kembang anak.

139

4.7.2. Hak asuh anak rumput

Seperti yang sudah di jelaskan pada bab 2 bahwa etnis Lani memiliki garis keturunan patrilineal. Dalam konteks ini, anak rumput memiliki perbedaan fam. Mereka akan mengambil dari marga perempuan/ibu atau yang biasa disebut dengan matrilineal. Hal ini dikarenakan belum jelasnya bapak dari anak tersebut.

Biasanya seorang perempuan yang hamil tanpa suami akan melahirkan dan membesarkan anak tersebut dalam keluarga si perempuan. Anak tersebut dianggap sebagai anak rumput. Anak tersebut akan mendapatkan fam dari ibunya. Apabila kemudian perempuan tersebut menikah dan suaminya bersedia untuk menerima anak rumput itu sebagai anak kandungnya, maka anak tersebut bisa menggunakan fam ayah tirinya tersebut di belakang namanya. Biasanya calon suami berjanji akan menerima dan memperlakukan si anak rumput layaknya seperti anak kandungnya sendiri kelak. Hak asuh anak rumput tersebut ada pada ibu dan pasangan suaminya.

Pernyataan ini sama seperti yang telah disampaikan oleh Mama Men (umur 43 tahun) bahwa :

….”itu dia ikut fam mamanya to, baru misal mama su menikah, dia tanya dulu begitu, boleh tidak ini dia pu anak ikut fam bapak, soalnya laki-laki itu tahu, itu anak bukan dari dia to, wwuuhh”…., jelas Mama Men

Akan tetapi pada prakteknya ada beberapa yang informan yang mengatakan bahwa perlakuan orangtua terhadap anak rumput berbeda dengan perlakuan mereka terhadap anak kandungnya. Apabila calon suami tidak mau menerima anak rumput sebagai bagian dair keluarganya, maka hak asuh anak rumput akan ada pada orang tua si perempuan, yaitu kakek dan nenek si anak rumput.

4.7.3. Hak pendidikan dan kesehatan bagi anak rumput

Hak mendapatkan pendidikan dan perlindungan kesehatan bagi anak rumput sangat tergantung pada kondisi sosial ekonomi pemegang

140

hak asuhnya. Bila hak asuh anak rumput jatuh pada ibu dan pasangan suaminya, bisa jadi mereka akan memperoleh hak pendidikan dan pemenuhan kebutuhan kesehatan yang sama dengan anak-anak kandung yang lain. Walaupun pada beberapa informan ditemukan bahwa ada perbedaan perlakuan dimana anak rumput tidak mendapatkan hak yang sama dengan anak kandung terkait hak mengenyam pendidikan dan pemenuhan kebutuhan kesehatan. Terkadang si anak rumput sudah dibebani dengan tanggungjawab kebun, menjaga adik-adiknya dan aktivitas domestik lainnya sehingga tidak diberikan kesempatan padanya untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak.

Studi Kasus 4

Hak Pendidikan bagi Anak Rumput

Wepek Wan (37 tahun) adalah seorang istri dan ibu dari 4 orang anak, dengan segala keterbatasan dia selalu berusaha memberikan yang terbaik yang menjadi kebutuhan keempat buah hatinya, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan sanitasi, pemenuhan kebutuhan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan kesehatan. Ri, anak sulungnya(18 tahun) saat ini tengah menempuh pendidikan di SMA, Bac(10tahun) dan Ber(8 tahun) duduk di kelas 5 dan kelas 2 SD, sementara si bungsu Chel(2 tahun) lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama ibunya.

Suami Wepek mempunyai 3 anak dari perempuan lain, Perempuan tersebut meninggal saat melahirkan bayi kembarnya (anak ke 4 dan ke 5 yang akhirnya juga meninggal tak lama setelah dilahirkan). Ke 3 anak tiri Wepek ini tinggal bersama mertua Wepek yang berjarak 2 rumah dari rumahnya.

Sangat berbeda dengan kondisi anak kandung Wepek, ketiga anak tiri yang semuanya adalah perempuan ini tidak seberuntung keempat anak Wepek. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Setiap harinya kepada mereka diberikan kewajiban untuk membantu mengurus kebun dan mencari kayu bakar untuk kebutuhan domestik anggota keluarga. Bahkan mereka tidak pernah diajak untuk berkumpul bersama dalam acara ulangtahun Bac yang ke 10 Mei lalu.

141

Kondisi di atas senada dengan yang diutarakan oleh Nitnit (umur 14 tahun) bahwa :

….“sa tidak sekolah dari kecil, mama tidak kasih sekolah seperti kakak Ri dan adik-adik yang lain (mama tiri dan saudara tiri. pen) sama dengan 2 kakak perempuan, tidak sekolah, Mama We tidak kasih kami tinggal dirumah, kami tinggal di rumah tetek, kalo sore sa bantu urus makan babi, kakak-kakak bantu kebun”…., jelas Nitnit

Kondisi tersebut diketahui oleh peneiliti secara tidak sengaja. Waktu itu peneliti berjalan bersama dan saling berbincang dengan Nitnit. Peneliti meminta untuk menghapalkan beberapa nama, namun dengan sangat susah Nitnit selalu lupa nama-nama tersebut. Dari kejadian itulah peneliti tahu kondisi Nitnit mulai dari alasan dia tidak sekolah dan selalu membantu berkebun untuk dijual di pasar.

Studi kasus 4 dan kondisi Nitnit merupakan salah satu contoh kasus anak rumput yang tidak mendapatkan hak pendidikannya. Adanya perbedaan kasih sayang dan perhatian antara anak kandung dan bukan anak kandung menjadi salah satu penyebabnya. Tanpa adanya pendidikan yang pasti tentunya dapat berdampak pada pola pikir anak nantinya ketika dewasa. Dalam konteksnya dengan anak rumput, pendidikan juga dapat membantu mengurangi fenomena yang sedang terjadi. Setidaknya anak-anak akan mengerti bahwa perilaku tersebut tidak baik untuk dilakukan. Karena pada nantinya akan berdampak pada masyarakat, keluarga dan dirinya sendiri.

4.8. Edukasi Kesehatan Reproduksi : Hubungan Orangtua dan anak