• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KONTEKS MASALAH KESEHATAN

3.4. Penyakit Menular

Penyakit menular masih mendominasi 10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Bokondini. Malaria dan HIV/AIDS merupakan 2 penyakit menular yang terbesar. Data insiden TB tidak didapatkan. Hanya ISPA yang masih merebak seperti halnya pola 10 besar penyakit di propinsi propinsi lainnya di Indonesia.

3.4.1. Malaria

Data Puskesmas Bokondini tahun 2014 menunjukkan angka kesakitan yang cukup tinggi untuk kasus malaria. Tercatat 39 kasus malaria tropika, 40 kasus malaria tertiana dan 12 kasus malaria mix

73

infection. Malaria adalah istilah yang akrab digunakan masyarakat Lani untuk menyebut istilah kesakitan dengan gejala demam dan sakit kepala dalam waktu lama. Peneliti sempat menjumpai seorang perempuan yang sedang sakit di honai di Kampung Mairini dan menanyakan tentang sakitnya. Adik laki-lakinya menjelaskan bahwa Kakak perempuannya sedang sakit malaria. Peneliti menanyakantentang cara mereka tahu kalau si kakak tersebut sakit malaria. Hal ini diutarakan oleh Do bahwa, “belum dibawa ke puskesmas, tahu saja kalau badan panas lama itu sakit malaria”…., cerita Do

Berbeda cerita dengan yang dialami oleh Kak Lusi B (umur 26 tahun), dia menceritakan tentang ayahnya yang sudah 3 minggu terbaring sakit dan dia mencoba mendiagnosis sendiri bahwa ayahnya terkena malaria. Hal ini diucapkan sendiri oleh Kak Lusi B :

….“bapak itu ada demam tidak bisa bangun sampai 2 kali dokter ada periksa ke rumah, dokter su kasih obat tapi tidak sembuh juga, dokter tidak periksa darah juga, sa coba beli obat maaria ke suster, kasih minum,sekarang sudah agak baikan, itu ternyata malaria tapi dokter tidak tahu”…., cerita Kak Lusi B

Kedekatan masyarakat Lani di Bokondini terhadap istilah malaria secara tidak langusng menunjukkan bahwa malaria merupakan salah satu jenis penyakit yang sering diderita oleh masyarakat Bokondini.

3.4.2.Dermatitis dan Pioderma (Penyakit Kulit)

Dermatitis dan Pioderma adalah penyakit kulit yang paling sering diderita oleh masyarakat Lani di Bokondini. Jumlah kasus Dermatitis sepanjang tahun 2014 adalah sebesar 267 kasus sedangkan jumlah kasus Pioderma sepanjang 2014 adalah sebesar 542 kasus.

Pioderma adalah infeksi kulit yang disebabkan karena personal hygiene yang kurang, biasanya disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan tubuh. Sedangkan Dermatitis adalah jenis radang kulit yang ddiakibatkan karena alergi dan higiene sanitasi personal yang buruk.

74

Kebiasaan masyarakat mandi menggunakan deterjen pencuci pakaian juga dianggap sebagai salah satu penyebab penyakit pada kulit tersebut. Seperti yang sudah diceritakan pada bab sebelumnya oleh Kak Wep W (umur 36 tahun) bahwa :

…..“kalau pakai rinso, badan bisa bersih, kalo sabun mandi dia masih abu-abu, tidak tahu sudah dorang dapat pelajaran dari mana, biar begitu ada juga yang pakai lifeboy, senang di pu busa lembut, kulit rasa bagus, sering dipakai sudah”…, jelas Kakak Wep W

3.4.3. HIV /AIDS dan IMS

Program VCT dan IMS baru dibuka pada awal tahun 2014 Data HIV/AIDs menunjukkan upaya yang luar biasa dari puskesmas dalam deteksi dini HIV/AIDS dan IMS di Bokondini Tercatat sebanyak 667 PITC dengan inisiatif petugas dan 183 VCT. Dalam periode 2014 ditemukan 32 pasien positif HIV.

Pada Periode 2015, Data Januari-Mei menunjukkan adanya insiden 42 pasien positif HIV. Temuan yang fantastis untuk pelayanan kesehatan setingkat puskesmas.

Temuan kasus IMS meningkat seiring dengan peningkatan temuan HIV/AIDS. Data kasus pada periode Januari-Mei tahun 2015 menunjukan insiden sebesar 34 kasus. Kondisi tersebut berdampak pada pandangan masyarakat tentang keberadaan penyakit tersebut.

Dalam istilah Lani di khsususnya di Bokondini, masyarakat setempat menyebutnya sebagai penyakit “menunggu waktu”. Sebagian masyarakat menduga bahwa penyakit tersebut mulai ada karena banyak pendatang yang tinggal di Bokondini. Hal ini serupa dengan yang disampaikan oleh Po Ka (umur 28 tahun) bahwa :

….”jadi menurut mereka itu sebelum ada pelayanan, tidak ada HIV, baru setelah kita buka pelayanan itu, cukup banyak yang terkena virus itu, kita lah pendatang yang kena waktu

75

itu, mereka bilang, dulu sebelum dokter datang tidak ada penyakit ini, baru setelah datang kita kenal penyakit ini”.. cerita Po Ka

Penelitian yang dilakukan oleh Butt (2013) menemukan beberapa faktor yang berperan penting pada terjadinya fenomena tingginya angka kematian ODHA dalam beberapa minggu setelah deteksi HIV positif. Penelitian awal Butt menemukan banyaknya kasus kematian HIVAIDS yang cepat ini pada beberapa kasus yang tersebar di wilayah pegunungan Papua. Faktor pertama adalah adanya self-stigmatizing responses terhadap nilai budaya. Respon pertama dari seseorang ketika mengetahui bahwa dirinya menderita HIV adalah membentuk stigma pengucilan dari dalam dirinya sendiri. Dia akan cenderung menarik diri dari lingkungan, menjauhkan diri dari pergaulan sampai pada upaya mengasingkan diri karena menganggap dirinya kotor dan tidak pantas hidup dalam keluarga dan masyarakat lagi. Secara psikis hal ini menghambat segala upaya pengobatan yang seyogyanya dapat membeikan kesempatan hidup yang lebih berkualitas selama dia menderita HIV/AIDS. Faktor kedua adalah dampak konteks politik terhadap institusi pelayanan kesehatan. Adanya dukungan politik lokal terhadap institusi pelayanan kesehatan dalam peningkatan deteksi dini HIV/AIDS seharusnya diartikan sebagai peluang untuk mengenali resiko penularan untuk dapat mengeliminasi tingginya angka insiden HIV/AIDS. Hal ini sepertinya tidak didapati pada masyarakat Papua. Masyarakat Papua cenderung menganggap temuan HIV/AIDS di wilayahnya sebagai sebuah aib yang harus ditutupi kebenarannya. {adahal hal tersebut semakin memperparah kondisi penyebaran dan penularan HIV/AIDS di Papua. Faktor ketiga adalah beratnya perjuangan masyarakat Papua, terutama mereka yang tinggal di daerah pelosok dalam upaya mendapatkan pengobatan terbaik. Suplai obat ARV yang tidak adekuat dan keterbatasan infrastruktur akses jalan darat mempersulit masyarakat Papua untuk mendapatkan pengobatan terbaik untuk memperpanjang hidupnya dalam HIV/AIDS. Penelitian yang dilakukan di wilayah

76

pegunungan Papua New Guinea oleh Janet et al (2015) menemukan bahwa 51,6% penderita HIV/AIDS adalah berstatus menikah atau tinggal bersama. Sebanyak 52,6% adalah berusia 20-30 tahun. Mereka menemukan bahwa kendati obat telah terdistribusi dengan baik seringkali ODHA tidak meneruskan pengobatan karena lupa(42,6%) dan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan (27,7%).

Lebih jauh dijelaskan oleh Gregson(2011) bahwa persoalan stigma bukanlah hal yang utama dalam tingginya angka HIV/AIDS di Papua. Kompleksitas penyediaan pelayanan kesehatan dan konteks ragam budaya di Papua memberikan andil besar terhadap upaya penurunan angka HIV/AIDS.

3.4.4 Helminthiasis (Penyakit Kecacingan)

Penyakit cacingan ditemukan sebanyak 165 kasus sepanjang 2014. Keluhan cacingan dirasakan oleh masyarakat dengan kelompok umur 1-44 tahun. Pemeriksaan feses tidak dilakukan dalam penegakan diagnosis helminthiasis. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan alat dan tenaga. Saat ini penegakan diagnosis helminthiasis hanya berdasarkan pada keluhan yang dirasakan saja. Konsumsi daging babi dianggap memberikan andil terhadap tingginya insiden helminthiasis. Sebuah penelitian di wilayah Suku Genyem di wilayah utara Papua menemukan bahwa komposisi makanan dalam menu harian mereka sebesar 51,6% adalah babi sebagai asupan protein hewani, sayuran hanya lah sebesar 16%. Pemenuhan kebutuhan konsumsi protein hewani didapatkan dengan cara berburu (Pangau -Adam, 2012)