BAB 2 KONTEKS WILAYAH PENELITIAN
2.10 Teknologi dan Peralatan
Mobilitas penduduk di Bokondini terbilang cukup tinggi. Hal ini terlihat sudah ada sarana transportasi yang dapat digunakan. Kendaraan bermotor, bermobil, angkutan umum dan pesawat udara jenis ATR. Kehadiran MAF di beberapa titik wilayah di Papua dianggap memberikan andil terhadap penguatan peran politik dan sosial di daerah daerah terisolasi jalur darat (Zibel & Michael,2001). Pada umumnya, masyarakat menggunakan angkutan umum berbentuk kendaraan roda empat jenis
double gardan sebagai salah satu sarana transportasi. Hal tersebut
dikarenakan beroperasi setiap hari dan cukup ekonomis. Angkutan umum tersebut hanya memiliki tujuan ke Wamena. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) untuk sekali jalan menuju Wamena. Menurut salah satu informan yaitu Bapak Yev Ab menceritakan bahwa akses darat mulai ada di Bokondini sejak tahun 1997. Saat itu masih berbentuk tanah merah dan belum ada pengerasan. Sekitar tahun 1994-1996 para warga menggunakan transportasi udara untuk ke
46
Wamena. Akhir tahun 1996, akses darat sedikit demi sedikit sudah mulai dikerjakan oleh pemerintah Jayawijaya dan masyarakat. Pesawat udara jenis ATR menjadi alternatif lain bagi masyarakat Bokondini pada saat itu. Namun saat ini transportasi tersebut hanya dapat digunakan apabila disewa. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Bapak Yev Ab (umur 47 tahun) bahwa :
“dulu harga pesawat 1500, itu untuk utusan misionaris, kalau umum dia pu harga 2000, baru jalan dulu itu masih tanah merah, jadi macam lumpur begitu kalau hujan, sekarang su bagus, masih hard-top atau kijang begitu”, cerita Bapak Yev Ab
Kondisi tersebut tentunya dapat berdampak pada pelayanan kesehatan yang ada di Bokondini. Masih minimnya transportasi pada waktu menjadi salah satu kendala terhambatnya pelayanan Puskesmas. Seperti contoh apabila hendak melakukan rujukan ke rumah sakit Wamena.
Gambar 2.18. Bandar Udara di Bokondini
47
Saat ini kondisi tersebut telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Mulai dari aksesibiltas dan transportasi yang sudah cukup memadai sehingga memudahkan para nakes dan masyarakat untuk melakukan mobilisasi.
Komunikasi mulai masuk di Bokondini pada tahun 2012. Provider yang bernama Tier yang dikelola oleh misionaris. Provider tersebut saat ini telah bekerja sama dengan provider swasta, yaitu Indosat. Sebelum ada jaringan tersebut, masyarakat biasanya menggunakan kode-kode khusus untuk saling berkomunikasi. Seperti yang disampaikan oleh Kak Rus P (umur 27 tahun) :
…..“jadi kalo ada yang meninggal hanya dengan suara uuk-uuk dan sekali saja, tapi kalo ada perang kah atau sesuatu begitu suara terdengar rame-rame dengan nada beda secara bergantian”…., jelas Kak R
Selain itu, bila ada acara adat biasanya saling mendatangi dari rumah ke rumah untuk menyampaikan pesan. Cara tersebut hingga saat ini masih tetap dilakukan. Realita yang terjadi menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat memiliki alat komunikasi seperti handphone untuk digunakan.
Dalam hubungannya dengan sandang, mayoritas masyarakat sudah menggunakan pakaian pada umumnya. Pakaian adat seperti koteka dan sali biasanya hanya digunakan pada acara tertentu, seperti pesta adat di lembah Baliem dan lainnya. Terkait dengan hal tersebut, realita yang ada menunjukkan bahwa anak-anak di Bokondini sekitar umur 2-3 tahun masih ada beberapa yang terlihat belum menggunakan baju. Keadaan tersebut disebabkan karena kondisi ekonomi yang sedang menurun, sehingga hanya sedikit memiliki baju untuk anaknya. Ada juga beberapa informan yang menceritakan bahwa kondisi tersebut sudah ada sejak nenek moyang kita dahulu. Seperti yang sudah disampaikan oleh Mama On (umur 40 tahun) bahwa :
….“jadi memang begitu, orang dulu dia memang cuma pakai koteka dan sali, baru sekarang ekonomi sedang turun to, kadang dia hanya punya satu, misal cuci, tidak ada baju to,
48
telanjang sudah”,…..“baru nanti cacing nanti ada masuk pantat, ah, capek sudah cuci baju, ada juga yang bilang seperti itu”, cerita Mama On.
Kondisi di atas senda dengan yang diceritakan oleh Mama Men (umur 43 tahun) dalam kaitannya dengan sandang, bahwa :
“kalau itu biasa masalah ekonomi sudah, penghasilan tidak bagus begitu, baju satu to, waktu cuci kasih jemur, baru selama itu tidak ada pakai, bagaimana mau pakai, baju hanya satu begitu”…., jelas Mama Men
Sandang dalam hal ini juga meliputi alas kaki, seperti sandal atau sepatu. Secara faktual, kondisi yang terjadi di Bokondini belum semua anggota masyarakat menggunakan alas kaki. Menurut salah satu warga yang waktu itu tidak sengaja berjalan dengan kami mengatakan bahwa masyarakat di sini lebih merasa nyaman dan enak saat tidak beralas kaki. Menurutnya dengan kebiasaan tersebut kaki kita akan menjadi kuat dan dapat berjalan jauh. Hal ini senada dengan yang diutarakan oleh Kak Yul W (umur 34 tahun) bahwa :
….“budaya kami memang larang untuk kasih pakai alas kaki atau sepatu, karena mereka punya apa telapak kaki bisa jadi apa, tipis kah, tidak bisa jalan to, tidak bisa jalan jauh”….,”kalau mereka pakai alas kaki, kalau buka baru suruh jalan, mereka agak kaku, jadi memang itu sudah kebiasaan kami, jadi kami tidak pernah pakai supaya mereka punya telapak kaki ini, harus kuat”…, jelas Kak Yul W
Selain sandang, masyarakat Lani pada zaman dahulu dalam menggunakan sabun masih berupa gene-gene. Hal tersebut dikarenakan karena pada waktu itu mereka belum mengenal sabun. Gene-gene merupakan daun dari sebuah pohon yang jika digosok-gosok akan mengeluarkan busa seperti sabun. Deskripsi di atas serupa dengan yang disampaikan oleh Mama Sir Ko (umur 47 tahun) bahwa :
49
….“itu karena tidak ada sabun, jadi itu dia punya itunya kan seperti busa, dia punya apa, kalau kita ambil daunnya, gosok begini, di badan seperti busa begitu”…, ungkap Mama Sir Ko
Saat ini hampir seluruh masyarakat Lani di Bokondini sudah beralih menggunakan sabun. Sabun tersebut mereka peroleh dengan cara membeli dari kios yang ada di pasar. Sabun mandi seperti lifeboy,lux,
B29, rinso, dan merek lainnya. Hal tersebut senada dengan yang
diucapkan oleh Kakak Wep W (umur 36 tahun) bahwa :
…..“kalau pakai rinso, badan bisa bersih, kalo sabun mandi dia masih abu-abu, tidak tahu sudah dorang dapat pelajaran dari mana, biar begitu ada juga yang pakai lifeboy, senang di pu busa lembut, kulit rasa bagus, sering dipakai sudah”…, jelas Kakak Wep W
Tradisi bakar batu pada etnis Lani atau masyarakat Bokondini pada umumnya telah digunakan sebelum adanya peralatan masak memasak. Bahkan setelah masuk peralatan masak memasak, seperti belanga, kuali dan lainnya, tradisi bakar batu tetap digunakan hingga saat ini. Tradisi tersebut biasanya digunakan pada saat acara adat seperti pesta, hari besar agama, kematian dan lainnya.
Belanga, kuali dan lainnya mulai masuk di Bokondini pada tahun 1997, yaitu pada saat jalan darat sudah mulai dibangun untuk tujuan Wamena. Hingga saat ini masyarakat Bokondini telah menggunakan beberapa alat masak yang umumnya digunakan oleh masyarakat perkotaan.
50
Gambar 2.19.
Peralatan dapur (kiri), Kuali (kanan) Sumber : Dokumentasi peneliti, Mei 2015
Menurut kisah yang diceritakan oleh Men bahwa para ibu di sini sudah mulai mengenal atau belajar membuat kue. Keadaan tersebut mulai hilang ketika Kabupaten Tolikara telah mengalami pemekaran. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian penting bagi Mama Men (umur 43 tahun), yang menyatakan bahwa :
….“dulu itu mama-mama di sini sudah mulai tahu cara bikin kue, waktu itu belum pemekaran, kegiatan PKK begitu, baru setelah pemekaran, dia hilang, haduh, politik itu bisa hambat kita pu (punya) perkembangan desa”….., jelas Mama Men
Selain itu, peran LSM dalam permberdayaan ekonomi keluarga terlihat nyata ketika distrik sebagai perpanjangan pemerintah tidak lagi berfungsi. Beberapa kursus memasak pernah diberikan oleh LSM kepada ibu ibu di daerah Bokondini.