BAB 3 KONTEKS MASALAH KESEHATAN
3.3 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Berperilaku hidup bersih dan sehat adalah pedoman dalam perjalanan menuju masyarakat dengan derajat kesehatan yang lebih baik. Persalinan oleh tenaga kesehatan adalah salah satu komponen dalam indikator PHBS. Masyarakat Lani padaumumnya tidak melahirkan di fasilitas kesehatan (Puskesmas). Mereka lebih nyaman untuk bersalin di tempat tinggalnya sendiri dengan bantuan saudara, orangtua atau tetangga. Pertolongan oleh tenaga kesehatan hanya diberikan pada masyarakat yang tinggal dengan radius tidak jauh dari wilayah Kota Bokondini. Data KIA Puskesmas Bokondini menunjukkan bahwa jumlah persalinan di yang dilakukan di puskesmas hanya berkisar antara 1-2 persalinan dalam 1 bulan. Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh salah satu dokter PTT, yaitu Po Ka (umur 28 tahun) bahwa :
Jenis Konsumsi Makanan generasi tua Tidak ada budaya gosok
gigi
Ada kebiasaan cuci gigi
Jenis Konsumsi Makanan generasi muda
Tidak ada budaya gosok gigi
Meningkatnya kasus Caries Dentis dan Pulpitis
Belum ada Pelayanan BPG di Puskesmas
67
….“jarang mereka mau bersalin disini (Puskesmas), paling dalam 1 bulan ada 1-2 orang saja...pernah sampai 1 bulan ada 5 orang bersalin, pas bulan mei kalau tidak salah”…., tutur Po Ka
Kondisi tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa ketersediaan Puskesmas pada dasarnya belum menjadi sebuah jaminan bagi berkembangnya kondisi kesehatan di suatu daerah. contoh yang terdapat di Bokondini belum semua masyarakat menggunakan fasilitas Puskesmas secara maksimal. Hal ini senada dengan yang diutarakan oleh Mama Yev (umur 43 tahun) bahwa :
…..“di sini ada dukun terlatih, boleh dia bantu kasih lahir anak kalau susah, ada Wep, Makowa Pagawak”….“kalau lahir,
dong (mereka) biasa dirumah, dibantu keluarga, kalau susah,
dibantu dukun terlatih, kalau tidak bisa baru bawa ke suster, dokter, dokter ini bantu, susah lahir”, tambah Mama Yev
3.3.1. ASI Eksklusif
Pemberian ASI merupakan kewajiban orangtua Lani terhadap anak anaknya. Selama penelitian berlangsung peneliti tidak mendapati adanya pemberian susu formula dengan botol kepada anak anak Lani. Tidak hanya Ibu, bapak juga ikut diberi kewajiban secara adat untuk menjaga kelangsungan pemberian ASI kepada anak.
Tidak ada pemberian kolostrum dalam budaya Lani. Bahkan Kolosrum dianggap sebagai cairan yang kotor dan apat menyebabkan bayi sakit . Mereka membuang kolostrum dengan cara memeras kolostrum dan meneteskannya langsung pada batu panas. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Mama Sir Ko (umur 47 tahun) bahwa :
…..“mereka biasa buang kolostrum itu dengan kasih tetes ke batu panas diperapian sampai berbunyi dan berbercak di batu itu...kalau kasih minum bayi pakai kolostrum..mereka bilang bayinya jadi sakit”…., jelas Mama Sir Ko
68
Tidak ada budaya menyapih ASI seperti pada Etnis Jawa. Anak Lani akan mendapatkan ASI sampai dia besar dan memutuskan untuk tidak mau lagi menyusu pada ibunya. Sering ditemukan anak dengan usia 2 tahun yang masih menyusu. Adanya budaya pantang sanggama selama ibu menyusui wajib dipatuhi oleh orang tua di Lani. Kondisi tersebut sama seperti yang dijelaskan oleh Mama Men (umur 43 tahun) bahwa :
…”itu sudah, waktu kasih ASI memang tidak boleh buat sesuatu, baru kalau su begitu, lahir adik baru, ASI belum selesai, kasian anak yang pertama to, itu kalau begitu dong bisa kena denda”…, jelas Mama Men
Namun pemberian ASI pada masyarakat Lani masih disertai dengan pemberian makanan tambahan yang terlalu dini. Bayi yang masih berusia 2-3 bulan sudah diberikan pisang bakar atau erom bakar yang sudah dihaluskan terlebih dahulu. Mama Men juga menjelaskan ciri-ciri anak pada saat dia ingin makan, “kalau bayi su nangis, baru dia ada keluar ludah begitu, kasih makan sudah tandanya”, jelas Men.
Orangtua di Lani juga beranggapan bahwa pemberian makanan tambahan secara dini pada bayi pada zaman nenek moyang juga tidak memberikan efek bahaya terhadap kesehatan bayi, bahkan bayi menjadi lebih tenang tidur karena perutnya kenyang. Hal ini serupa dengan yang dijelaskan oleh Mama On (umur 40 tahun) bahwa :
….“bayi di sini biasa diberi pisang begitu, kalau memang rewel, dia langsung diam habis itu”….”kadang kalo dia pengen makan makanan orang dewasa, Mama kasih kunyah dulu, baru disuapkan ke bayi begitu”…., jelas Mama On
3.3.2. Kebiasaan Merokok dan Makan Pinang
Seperti masyarakat di Indonesia Timur pada umumnya, masyarakat Lani pun lekat dengan pinang. Mereka makan pinang disetiap kesempatan. Hanya saja ketika masuk ke wilayah Bokondini, tepatnya di
69
perbatasan Kampung Yawalani dengan Bokondini, kita akan melihat jalanan yang bersih, bebas dari kotoran babi, kotoran anjing dan sisa ludah dari orang yang makan pinang.
Gambar 3.4. Kondisi jalan di Bokondini
Sumber : Dokumentasi peneliti, Mei 2015
Klasis Bogoga dan LMA Distrik Bokondini membuat aturan yang disepakati oleh masyarakat, yaitu aturan tentang larangan makan pinang dan larangan membiarkan babi bebas berkeliaran di wilayah Kota Bokondini.
Fenomena merokok pada anak sudah mulai merebak di Bokondini. Ada orangtua yang membiarkannya saja dan ada pula orangtua yang mulai memproteksi anaknya untuk tidak bergaul dengan temannya yang sudah mulai merokok. Kebiasaan tersebut sudah terlihat pada keluarga Kak Wep W (umur 36 tahun) bahwa :
….”kalau An tidak boleh masuk kesini, karena dia sudah berani merokok, Bc tidak boleh dekat dekat...macam dia sudah punya kerja dan punya uang sendiri saja”…., jelas Kak Wep W
70
Pola asuh yang bersifat otoritas masih menjadi pilihan bagi beberapa informanyang kami temui. Pembatasan wilayah bermain dan pembatasan kelompok pergaulan mereka lakukan dengan memberikan batasan tentang aturan - aturan dalam keluarga.
3.3.3. Buang air besar di Jamban
Beberapa program dari pemerintah terkait peningkatan sanitasi personal dan sanitasi komunal telah dikucurkan. Baik program yang bersifat fisik dan non fisik. Pembangunan jamban atau WC umum kami dapati berdiri pada beberapa lokasi. Antara lain di pasar, kantor distrik dan gereja. Namun jamban-jamban tersebut selalu kami dapati dalam keadaan terkunci alias tidak pernah dipergunakan oleh masyarakat.
Perilaku Buang Air Besar (BAB) di jamban bervariasi pada beberapa informan. Pembangunan fisik jamban tidak disertai dengan promosi kesehatan tentang cara penggunaan jamban. Sehingga tidak semua masyarakat paham bagaimana menggunakan jamban yang ada. Pada masyarakat di luar kota Bokondini, BAB masih mereka lakukan di semak semak rerumputan, di sungai maupun dengan menggunakan jamban cemplung. Bahkan ada beberapa kampung yang menggunakanjamban jurang. Hal ini senada dengan yang diceritakan oleh Mama On (umur 40 tahun) bahwa :
…..“kalau di bokondini masih bagus....mereka sudah tahu dan bikin wc...di balik bukit ini masih di baliknya lagi saya pernah kesana tidak jadi BAB saya...jambannya itu di dahan pohon besar dekat jurang..mereka hanya kasih papan-papan saja..kotorannya langsung jatuh ke jurang”…., ungkap Mama On
Asian Pasific Christian Mission (APCM) merupakan salah satu
organisasi nirlaba bidang keagamaan di Bokondini. APCM mencoba untuk memberikan promosi terkait penggunaan jamban pada masyarakat. Pada setiap pelatihan yang digelar APCM terkait pemberdayaan masyarakat,
71
mereka selalu mengadakan pelatihan penggunaan toilet di awal kegiatan. Mereka menempatkan 1 orang kader di depan pintu kamar mandi atau WC sebagai pemandu ketika ada orang yang mau menggunakan WC. Hal ini sama seperti yang dijelaskan oleh Ibu Nao (umur 50 tahun) bahwa :
…..“pemerintah hanya kasih bangun saja wc umum...masyarakat perlu tahu bagaimana cara pakai, jadi setiap ada pelatihan kader kita kasih penjelasan letak toilet, wc ada dimana bagaimana cara pakai dan kalau mereka belum jelas mereka bisa tanya kepada teman yang sudah bisa, kita sebutkan siapa kader yang bertugas untuk kasih tahu teman yang lain”…., jelas Ibu Nao
3.3.4. Aktifitas fisik yang cukup
Data 10 besar penyakit di Puskesmas Bokondini menempatkan myalgia atau pegal-pegal dalam peringkat 2 besar. Tenaga kesehatan di puskesmas pun acapkali mendapati pasien yang datang berobat mengeluhkan pegal-pegal di pinggang, kaki dan tangan, atau bahkan di seluruh badan. Bahkan di musim tanam terkadang ada yang mendatangi puskesmas 2 kali dalam seminggu dengan keluhan yang sama. Bahkan beberapa menyampaikan keluhan terhadap rasa pegal yang tidak kunjung mereda walaupun telah berobat beberapa kali ke puskesmas. Mereka merasa obat yang diberikan kurang berpengaruh terhadap rasa pegal yang mereka rasa. Menurut salah satu dokter PTT, yaitu Po Ka menjelaskan bahwa kondisi geografis dan kebiasaan jalan jauh yang sehari-hari mereka lakukan menjadi salah satu penyebab rasa pegal tersebut. Sepeti yang telah disampaikan oleh Po Ka (umur 28 tahun) bahwa :
….“saya bilang to, bagaimana Mama tidak pegal-pegal, badan Mama pake jalan jauh, saya juga kalau jalan-jalan jauh begitu sudah pasti pegal-pegal juga badan”…., cerita Po Ka
72
Aktivitas fisik yang berat disinyalir merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka myalgia atau pegal-pegal di wilayah kerja Puskesmas Bokondini. Aktivitas fisik yang tergolong berat pada masyarakat antara lain adalah berjalan kaki untuk mobilitas utama di wilayah berkontur pegunungan dan kegiatan kebun sepanjang hari.
3.3.5. Imunisasi
Kegiatan imunisasi dilakukan setiapbulan sekali sebagai salah satu kegiatan dalam posyandu. Tenaga kesehatan di Puskesmas Bokondini selalu mengingatkan masyarakat agar membawa bayinya imunisasi di puskesmas. Mereka selalu mengingatkan ibu-ibu yang kebetulan dijumpai di pasar, Puskesmas maupun di perjalanan untuk membawa bayinya imunisasi pada saat posyandu tiba.
Lokasi Puskesmas yang dekat dengan pemukiman belum menjadi jaminan bagi seluruh warga untuk datang berobat. Hal ini terbukti pada saat kegiatan Posyandu, ada seorang Ibu yang datang untuk imunisasi anaknya. Setelah melihat rekam medis, anak tersebut tidak ada dalam daftar. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan Ibu tersebut terhadap kegiatan Puskesmas. Setelah ditanyakan, Ibu tersebut sudah 6 bulan mengimunisasikan anaknya di Puskesmas. Realita yang ada bahwa lokasi rumah dari Ibu tersebut adalah di sekitaran Kelurahan Bokondini. Ini artinya sangat dekat dengan Puskesmas berada.