BAB 3 KONTEKS MASALAH KESEHATAN
3.2 Kesehatan Anak
Secara umum data kesehatan anak tidak terekam dengan baik di Puskesmas. Hal tersebut karena data morbiditas dan mortalitas pada anak menjadi satu bagian dengan data besar. Data kesehatan anak dari bagian KIA hanya berupa data penimbangan saja tanpa interpretasi hasil. Sehingga secara umum data sekunder tentang kesehatan anak yang tersedia tidak dapat digunakan untuk menilai kondisi kesehatan anak di Bokondini.
Kondisi tersebut secara tidak langsung akan berdampak pada tidak maksimalnya implementasi program kesehatan. Hal tersebut nantinya juga berdampak kepada tidak semua anak dapat merasakan manfaat program tersebut.
3.2.1. ISPA dan Diare
Data menunjukkan bahwa ISPA merupakan peringkat 1 dari 10 besar penyakit di Bokondini. Walaupun menurut informan gambaran data 10 besar penyakit tersebut juga merupakan gambaran secara umum kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Tolikara. ISPA tidak hanya diderita oleh balita saja tetapi oleh semua kelompok umur di Bokondini. Sebaran penderita mayoritas ada pada umur produktif 15-44 tahun. Penderita yang mengeluhkan ISPA nya dan mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah penderita yang mengeluhkan pusing dan demam yang menyertai ingus yang selalu keluar setiap saat dari hidung mereka. Apabila keluarnya ingus tidak disertai dengan pusing atau demam dan tidak mengganggu aktivitas harian maka mereka tidak akan pergi berobat ke puskesmas. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Ibu Nao (umur 50 tahun) bahwa :
….“merek di sini begitu, ingus sudah bentuk angka 11, tapi belum kasih berobat di Puskesmas, mereka biasa akan ke Puskesmas kalau anak sudah mulai rasa demam, panas dingin begitu”…, jelas Ibu Nao
62
Selain ISPA juga didapatkan data kasus gangguan infeksi pada saluran telinga dalam yaitu otitis media. Yaitu kondisi dimana telinga mengeluarkan cairan berbau busuk. Otitis media adalah manifestasi lanjut dari ISPA menahun yang tidak segera mendapat pengobatan. Kondisi infeksi pada saluran hidung dan tenggorokan dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan mudahnya kuman penyakit untuk masuk dalam saluran telinga. Kondisi otitis media seringkali dirasakan berubah menjadi lebih parah pada penderita yang menjalani pengobatan malaria.
3.2.2. Stunting dan usia pernikahan dini
Secara umum penduduk di Bokondini mayoritas memiliki postur tubuh pendek pada setiap kelompok umur. Kegiatan Posyandu di Puskesmas tidak pernah melakukan pengukuran tinggi badan untuk mendeteksi kondisi gizi stunting pada masyarakat. Menurut bidan dan perawat disana memang tidak pernah ada prosedur yang ditetapkan untuk melakukanpengukuran tinggi badan. Mikrotois yang terpasang di ruangan KIA Puskesmas adalah pemberian dari sebuah LSM kesehatan pada periode lalu.
Peneliti mencoba untuk melakukan pengukuran pada 31 balita pada hari pasar dan kegiatan posyand. Balita yang hari itu berkunjung ke pasar diarahkan agar mau berkunjung sebentar ke puskesmas untuk diukur tinggi badannya. Kepala puskesmas pun dengan memberikan dukungan dengan memberikan arahan dokter agar pasien balita atau pasien yang membawa balita diberikan pengantar agar mereka masuk ke ruangan KIA sebelum mereka mengambil obat. Kepala puskesmas menyediakan biskuit MP ASI sebagai stimulan agar mereka mau berkunjung. Masyarakat pada waktu itu dapat dibilang cukup kooperatif. Sehingga pada saat pelaksanaan pengukuran tingga badan anak tidak mengalami masalah yang berarti.
63
Gambar 3.3.
Kegiatan pengukuran tinggi badan Sumber : Dokumentasi peneliti, Mei 2015
Dalam kegiatan tersebut kami mendapatkan data tinggi badan dari 31 balita dalam seminggu. Jumlah balita tersebut melampaui jumlah balita yang datang ke posyandu 2 minggu sebelumnya yang hanya sekitar 22 balita saja.Dari hasil olah data tersebut didapatkan bahwa 14 balita berstatus sangat pendek, 14 balita berstatus pendek dan hanya 3 balita yang berstatus tinggi badan normal. Data tersebut cukup mewakili fenomena stunting pada balita etnis Lani.
Salah satu faktor yang kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi stunting di Etnis Lani adalah usia pernikahan ideal pada perempuan. Usia ideal menikah di Lani berkisar antara 15- 16 tahun. Pada saat penelitian dilakukan bahkan kami menjumpai beberapa ibu muda berusia di bawah 15 tahun yang sedang memeriksakan kehamilannya di puskesmas.
3.2.3. Caries Dentis dan Pulpitis
Selain data 10 besar penyakit juga ditemukan data morbiditas lainnya yang diantaranya adalah adanya keluhan caries dentis dan pulpitis. Caries dentis adalah keluhan nyeri atau ngilu pada gigi akibat
64
gangguan pada email gigi. Sedangkan pulpitis adalah infeksi pada gigi yang ditandai dengan keadaan gigi yang berlubang, bahkan infeksi bisa menjangkau sampai ke pulpa dan ditandai dengan rasa nyeri dan bengkak pada gusi.
Ketidakberadaan dokter gigi dan layanan Balai Pengobatan Gigi (BPG) di Puskesmas Bokondini menyebabkan tidak adanya pelayanan khusus untuk menangani keluhan akibat gangguan kesehatan pada gigi. Keluhan pada gigi biasanya hanya diberikan pengobatan dengan analgesik dan antibiotik sesuai dengan stok persediaan obat puskesmas.
Keluhan pada gigi kemungkinan diakibatkan oleh perubahan konsumsi makanan pada Etnis Lani. Pola konsumsi masyarakat Etnis Lani pada zaman dahulu dengan zaman sekarang.
Pada era sebelumnya masyarakat Lani mengolah makanan mereka tanpa menggunakan bahan makanan tambahan. Mereka mengolah makanan dengan cara membakar ataupun dengan metode bakar batu. Mereka banyak mengkonsumsi epere, erom dan kasbi sebagai bahan sumber karbohidrat dan sayur serta buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Sumber protein mereka peroleh dari jamur hutan, telur ayam hutan dan ayam peliharaan. Babi bukanlah jenis ternak yang bisa diandalkan sebagai sumber protein. Ternak babi di Lani dan masyarakat Papua pada umumnya merupakan nilai ekonomis yang tinggi sebagai simbol pembayaran denda. Penjualan babi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekunder dan bahkan tersier. Hal tersebut serupa dengan yang diutarakan oleh Bapak Yul B (umur 46 tahun) bahwa :
….“kita jual babi itu kita baru bisa dapat jutaan, artinya puluhan juta, kalau lewat gaji kita siapkan untuk anak-anak tidak pas karena kebutuhan di rumah juga ada seperti beli vetsin, garam, sabun, apa seperti itu”…., jelas Bapa Yul B
Garam adalah salah satu bahan makanan tambahan yang dikenalkan misionaris pada tahun 1957 bersamaan dengan masuknya injil. Pada etnis Mee di Paniai, keberadaan supermi dan sarden
65
merupakan bahan makanan tambahan yangdianggap mewah dan mahal yang hanya bisa mereka jumpai pada saat Natal (Giyai 2012).
Seiring terbukanya jalur transportasi dan perkembangan pusat pemerintahan Kabupaten Tolikara, masyarakat Lani mulai mengenal aneka jajanan, bahan tambahan makanan dan aneka minuman. Mereka mulai mengenal gula dan kopi, minyak goreng, minuman softdrink, aneka biskuit, aneka gula-gula atau permen, mie instan, sarden dan aneka bumbu lainnya.
Pergeseran pola konsumsi tersebut tidak disertai dengan perubahan perilaku mereka untuk menjaga hygiene personal terkait kebersihan gigi. Masyarakat etnis Lani tidak mengenal budaya menggosok gigi. Dahulu mereka kerap mengunyah tebu untuk membersihkan gigi, mereka menyebutnya dengan istilah cuci gigi. Mereka merasakan sensasi gigi yang lebih bersih setelah mengunyah tebu dan menghisap sari tebu yang manis tersebut. Budaya cuci gigi tidak terjadwal rutin sebagai upaya membersihkan gigi dalam keseharian Lani kala itu. Biasanya potongan tebu yang tersaji dalam piring merupakan makanan yang disuguhkan tuan rumah kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Akan tetapi saat ini sudah jarang ditemui seiring dengan banyaknya ragam jajanan dari luar daerah. Lagipula saat ini tidak banyak lagi masyarakat Lani yang menanam tebu di kebun mereka.
Menggosok gigi mulai dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Kota Bokondini yang mempunyai kemampuan ekonomi lebih dan mereka yang telah terpapar oleh budaya pendatang. Hal ini senada dengan yang telah diceritakan oleh Kakak Yul W (umur 34 tahun) bahwa :
…..“kalau gosok gigi, aa di kampung sini jarang pakai sikat gigi, jadi mungkin mereka sudah mengerti kalau orang tua mampu kan biasa juga orang tua sikat gigi”….,”tapi sekarang sudah banyak, arti mereka sudah bisa beli sikat gigi, baru sikat gigi, cuma budaya kami yang dulu itu jarang orang begitu, jadi kami selesai makan, kalau siang itu bisa tebu itu, biasa orang bilang cuci gigi, tapi sekarang sudah ada gula ini, jarang tanam tebu juga”…., cerita Kakak Yul W
66
Masyarakat pendatang memang merupakan kelompok yang terkonsentrasi di Kota Bokondini. Rata-rata mereka adalah pedagang, pemilik usaha sewa mobil serta pegawai pada puskesmas dan sekolah.
Bagan 3.1. Pergeseran budaya konsumsi makanan dan perilaku gosok gigi Masyarakat Lani