• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.7 Analisa Data

Data yang diperoleh dari enam kelompok tersebut dianalisis secara statistik dengan dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) memakai uji statistik sebagai berikut :

1. Uji analisis kuantitatif ANOVA dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak etanol daun kelor terhadap kekuatan geser perlekatan resin komposit pada gigi yang telah di- bleaching.

69 2. Uji Least Significant Difference (LSD) dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) untuk melihat

perbedaan pengaruh kekuatan perlekatan antar kelompok.

70 4.8.Alur Penelitian

27 buah gigi insisivus RA

Pembuatan ekstrak etanol daun kelor

Kelompok I,II,III

27 gigi bleaching dengan H2O2 40%

Pengaplikasian resin komposit nanofilled

Analisis Hasil Penelitian

 9 sampel dari tiap kelompok diuji dengan Torsee Universal Testing Machine

 1 sampel dari tiap kelompok diuji dengan Scanning Electron Microscopy EDX Preparasi gigi

Kelompok I diaplikasikan antioksidan alpha tokoferol

10%

Kelompok III tanpa antioksidan (Kontrol)

Bleaching dengan hidrogen peroksida Penanaman sampel ke dalam cetakan

Kelompok II diaplikasikan antioksidan 10% ekstrak

etanol daun kelor

71 BAB 5

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini menguraikan mengenai efektivitas dari antioksidan alam yaitu ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) dalam meningkatkan kekuatan geser perlekatan terhadap restorasi resin komposit nanopartikel pada gigi setelah bleaching dengan 40 % hidrogen peroksida serta mengetahui perlekatan ikatan resin komposit nanopartikel terhadap permukaan enamel gigi setelah bleaching dengan 40 % hidrogen peroksida. Penelitian ini mendapatkan persetujuan komite etik tentang pelaksanaan penelitian kesehatan no. NO: 213/KEP/USU/2021.

Ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) dengan konsentrasi 10% dilakukan evaluasi terkait efektivitasnya terhadap kekuatan geser perlekatan restorasi baik dalam uji shear bond strength, dan profil interface permukaan enamel dengan resin komposit nanopartikel. Analisis statistik penelitian ini dilakukan untuk memperoleh nilai kemaknaan antara satu variabel dengan variabel lainnya dalam satu metode perlakuan sekaligus menilai hubungan antar variabel tersebut. Berikut dilaporkan hasil penelitian berdasarkan analisis metode kerja masing- masing kelompok penelitian.

5.1 Kekuatan Geser Perlekatan Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Olifiera L) dan Alpha Tokoferol terhadap Restorasi Komposit

Sampel pada masing- masing kelompok sebelumnya dilakukan bleaching 40%

hidorgen peroksida terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian antioksidan

72 pada kelompok I dan II. Pada kelompok III sebagai kelompok kontrol tidak diberikan antioksidan. Setelah itu dilakukan penumpatan dengan komposit nanopartikel. Sampel dari setiap kelompok kemudian diuji mengenai kekuatan geser perlekatan dengan alat uji Universal Testing Machine yang dilakukan di Universitas Sumatera Utara, Medan. Kemudian dilakukan pengambilan hasil dan analisa baik dari masing- masing kelompok.

Gambar 15. Alat uji Knife edge diletakkan diantara komposit dan permukaan enamel

Tabel 5.1.1 Parameter Kekuatan Geser (MPa)

No. Variabel n= 27 𝒙̅ Md SD

1. Kekuatan Geser (MPa) 6,879 6,597 3,026

Tabel 5.1.1 menunjukkan rerata dari kekuatan geser pada sampel percobaan

Tabel 5.1.2 Parameter Kekuatan Geser berdasarkan Jenis Perlakuan

No. Kekuatan Geser (MPa) 𝒙̅ Md SD

73

1. Kontrol 3,621 3,508 1,070

2. Alpha Tokoferol 10,358 10,854 0,673

3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 6,478 6,597 0,990

Tabel 5.1.2 menunjukkan rerata dari kekuatan geser pada tiap-tiap sampel percobaan

Pada tabel 5.1.2 didapatkan hasil bahwa kekuatan geser rata-rata dari kelompok kontrol adalah 3,621, untuk kelompok alpha tokoferol adalah 10,358, dan untuk kelompok ekstrak etanol daun kelor adalah 6,478.

Tabel.5.1.3 Uji Normalitas Distribusi Data Kekuatan Geser

No. Kekuatan Geser (MPa) p-value*

1. Kontrol 0,506

2. Alpha Tokoferol 0,476

3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 0,867

Tabel 5.1.3 menunjukkan nilai p-value dari tiap-tiap sampel percobaan dengan pengujian Shapiro-wick

Pada tabel 5.1.3 menunjukkan bahwa nilai p-value dari tiap sampel yang di uji dengan Shapiro-wick mendapatkan hasil p>0,05 (tidak signifikan) yang berarti data terdistribusi normal.

Tabel 5.1.4 Perbedaan Kekuatan Geser

No. Kekuatan Geser (MPa) 𝒙̅ SD p-value*

1. Kontrol 3,621 0,357

0,00001 2. Alpha Tokoferol 10,538 0,224

74 3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 6,478 0,330

Tabel 5.1.4 menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar tiap kelompok perlakuan dengan nilai p-value <0,05 menggunakan Analisa uji One-way ANOVA

Pada tabel 5.1.4 didapatkan hasil yang dilakukan pada kelompok kontrol, alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor memiliki hasil p-value <0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan kekuatan geser antar tiap perlakuan kelompok.

Tabel 5.1.5 Perbandingan Antar Kelompok

No. Perbandingan Kelompok Perlakuan 𝒙̅ p-value*

1. Alpha Tokoferol VS Kontrol 6,917 0,0001

2. Ekstrak Etanol Daun Kelor VS Kontrol 2,857 0,0001

3. Alpha Tokoferol VS Ekstrak Etanol Daun Kelor 4,060 0,0001 Tabel 5.1.5 menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar perlakuan dengan kelompok tokoferol yang terbaik dengan nilai p-value <0,05 menggunakan uji Least Significant Difference

Pada tabel 5.1.5 menunjukkan selisih nilai rerata antar kelompok yang diuji memilki nilai p-value <0,05 yang berarti ada hubungan signifikan antar kelompok uji.

75 Grafik 5.1.1. Nilai Kekuatan Geser Antar Kelompok

Grafik 5.1.1 menunjukkan tiap kelompok perlakuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kekuatan geser

Pada grafik 5.1.1 menunjukkan bahwa antar kelompok perlakuan memiliki hubungan yang signfikan, dimana kelompok alpha tokoferol memiliki nilai kekuatan geser yang paling tinggi di banding dengan kelompok uji lainnya. Kelompok kontrol menjadi kelompok yang memiliki nilai terendah dibandingkan dengan kelompok uji lainnya.

76 Grafik 5.1.2. Nilai Perbedaan Antar Kelompok

Grafik 5.1.2 menujukkan adanya nilai perbedaan antar kelompok perlakuan dimana kelompok kontrol -tokoferol memiliki nilai paling besar

Dari table uji normalitas terlihat bahwa data terdistribusi normal dengan nilai Nilai P-value yg tidak signifikan (>0,05) menunjukkan data terdistribusi normal, maka uji yg digunakan adalah uji Oneway ANOVA. Nilai P-value pada uji Oneway ANOVA signifikan (< 0,05 ) menunjukkan ada perbedaan kekuatan geser pada grup perlakuan. Nilai P-value pada tabel Uji Posthoc untuk menilai antar grup mana saja yg memiliki perbedaan. Setelah dilakukan Uji post hoc didapati perbedaan antara kelompok tokoferol terhadap kontrol dengan selisih nilai rerata 6,917 Mpa (signifikan), kelompok ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) terhadap Kontrol dengan selisih 2,857 Mpa (signifikan),dan kelompok tokoferol terhadap Ekstrak M.O. dengan selisih 4,060 Mpa (signifikan).

77 5.2 Profil Scanning Electron Microscopy Antara Interface Restorasi Resin Komposit Nanofilled Dengan Struktur Gigi Yang Sudah Dilakukan Bleaching Dan Pemberian Antioksidan

Dari pengamatan secara visual terlihat bahwa sampel pada kelompok alpha tokoferol semuanya merupakan mixed failure, pada kelompok ekstrak etanol daun kelor dijumpai 8 sampel dengan mixed failure dan 1 sampel adhesive failure, dan pada kelompok kontrol semua sampel merupakan adhesive failure.

Gambar 16. Gambaran gigi dari Kelompok I, tanda panah menunjukkan adanya sisa dari resin komposit

Gambar 17. Gambaran gigi dari Kelompok III, tidak terlihat adanya resin komposit yang tersisa

78 Pada gambar 16 terlihat adanya sisa resin komposit yang tertinggal setelah dilakukan uji dengan menggunakan UTM( tanda panah orange), sedangkan pada gambar 17 terlihat tidak adanya resin komposit yang tersisa setelah dilakukan uji dengan menggunakan UTM.

Gambar 18 (a). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, tanda panah menunjukkan adanya resin komposit yang berarti terjadi mixed failure

79

Gambar 18 (b). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, terlihat adanya patahan resin komposit pada enamel

Gambar 18 (c). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, menunjukkan adanya resin komposit yang berarti terjadi mixed failure

80 Gambar 19 (a). Gambaran SEM dengan perbesaran

1000x dari kelompok ekstrak etanol daun kelor tanda panah menunjukkan adanya resin komposit dengan keadaan enamel berporous.

Gambar 19 (b). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok ekstrak etanol daun kelor terlihat adanya resin komposit pada enamel

81 Gambar 19 (c). Gambaran SEM dengan perbesaran

1000x dari Kelompok ekstark etanol daun kelor tanda panah menunjukkan adanya resin komposit yang tersisa pada enamel

Gambar 20 (a) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, terlihat enamel irregular dan berporous

82

Gambar 20 (b) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, terlihat enamel yang mengalami porositas.

Gambar 20 (c) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, tanda panah menunjukkan enamel yang irregular

Gambaran dari spesimen pada gambar 20(a,b,c) menunjukkan bahwa sebagian besar kegagalan dari spesimen, yang dilakukan penambalan menggunakan resin komposit setelah

83 bleaching adalah adhesive failure dengan adanya gambaran enamel yang berporous dan tidak terlihat adanya resin komposit yang tertinggal. Sebaliknya sebagian besar spesimen pada gambar 18(a,b,c) dan 19(a,b,c), yang meggunakan antioksidan sebelum dilakukan restorasi adalah mixed failure, yang merupakan adhesive failure dan cohesive failure.

84 BAB 6

PEMBAHASAN

6.1 Kekuatan Geser Perlekatan Antioksidan Alpha Tokoferol dan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Olifiera L) terhadap Restorasi Komposit setelah Bleaching

Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa alpha tokoferol (kelompok I) memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Dimana penggunaan alpha tokoferol maupun esktrak daun kelor memiliki hasil yang signifikan terhadap kelompok control dengan nilai rata-rata 10,358 MPa. Dari tabel diatas juga terlihat bahwa percobaan dengan menggunakan alpha tokoferol memberikan hasil yang lebih baik di banding menggunakan ekstrak etanol daun kelor dengan rata-rata 6,478 MPa.

Hal ini dapat terjadi karena agen bleaching melepaskan radikal bebas berupa oksigen yang immature dan hidroksil atau peri-hidroksil ion pada struktur gigi. Radikal bebas merupakan molekul elektron yang tidak berpasangan Molekul-molekul ini mampu bereaksi dengan daerah pigmen yang kaya elektron di dalam struktur gigi, memecah pigmen besar molekul menjadi lebih kecil, yang kurang berpigmen. Pada di sisi lain, hal ini bisa merusak ikatan bahan resin. Salah satu teori untuk menjelaskan pengaruh bleaching agent terhadap bonding menunjukkan bahwa peroksida dan produk sampingannya ada di dalamnya struktur gigi dapat mengganggu proses polimerisasi bahan bonding.

Bleaching dapat mereduksi kekuatan geser ikatan (shear bond strength) akibat dari residu peroksida pada permukaan gigi yang menimbulkan gangguan pada perlekatan resin dan mencegah polimerisasi sempurna (Dishman dkk, 1994). Hidrogen peroksida sebagai

85 bahan bleaching, dapat menyebabkan denaturasi kolagen sehingga tidak ada hybrid layer yang efektif yang menghasilkan pembentukan ikatan yang lemah. Sifat mekanik resin komposit yang rendah dan denaturasi kolagen yang lebih besar akan menghasilkan shear bond strength yang lebih rendah. (Van Noort, 2007)

Penurunan shear bond strength (kekuatan ikatan geser) dapat juga disebabkan oleh hilangnya kalsium atau perubahan dalam struktur organik yang mempengaruhi struktur gigi dan mengarah pada penurunan kekuatan ikatan (Cavalli dkk, 2009). Besarnya perubahan yang terjadi pada struktur gigi terkait dengan jumlah radikal bebas yang dilepaskan oleh bahan bleaching (Nugraheni dkk, 2017). Perdigo dkk (1998) menyatakan dalam studinya bahwa hilangnya kalsium, reduksi dalam microhardness dan perubahan dalam komponen organik merupakan faktor yang penting menurunkan bond strength enamel setelah bleaching.

Hasil penelitian diatas terlihat bahwa kelompok dengan pemberian antioksidan memiliki kekuatan geser perlekatan yang lebih baik dikarenakan antioksidan dapat menangkap radikal bebas pada enamel. Antioksidan menurut Toripah dkk., (2014) digolongkan menjadi 4 kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu antioksidan sintetik, primer, sekunder, dan tersier. Sifat dari antioksidan terutama primer yang disebut juga antioksidan enzimatis dimana enzim ini dapat bekerja dengan cara melindungi jaringan dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas oksigen seperti radikal hidroksil (-OH) sehingga dapat digunakan dengan tujuan untuk menonaktifkan radikal bebas.

Garcia dkk., (2012) menyatakan bahwa proses netralisasi dari antioksidan dapat dikategorikan menjadi tiga tipe, pencegahan secara berkala, detoksifikasi aktif terhadap tekanan oksidatif dan detoksifikasi pasif. Alpha tokoferol merupakan detoksifikasi pasif yang

86 dapat menetralisir radikal bebas. Tetapi bahan antioksidan ini tidak dapat secara penuh menghilangkan efek dari bleaching terhadap kekuatan geser perlekatan.

Menurut Sharafeddin dkk, dentin dan cairan dentin dapat berfungsi sebagai reservoir oksigen dan peroksida, reservoir gas atau oksigen terlarut dapat bertahan sampai dihilangkan oleh sirkulasi mikro pulpa dan berdifusi ke permukaan eksternal. Difusi permukaan yang berlebihan dapat menyebabkan turunnya sirkulasi mikro pada pulpa sehingga tingkat peroksida atau oksigen lebih tinggi dari biasanya dan hal ini menghambat proses polimerisasi sehingga mengurangi kekuatan geser perlekatan.

Vitamin E merupakan kelompok tokoferol dan tocotrienol, dengan alpha tokoferol yang memiliki aktivitas biologi tertinggi. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan pemutus rantai dari reaksi radikal bebas. Selain itu penggunaan alkohol pada enamel yang di bleaching dapat meningkatkan kekuatan gser perlekatan. Keberadaan alkohol pada formula alpha tokoferol 10% mungkin berkontribusi dalam meningkatkan kekuatan geser perlekatan dikarenakan alpha tokoferol 10% tidak dapat bercampur dengan air.

Ekstrak etanol daun kelor yang di fitokimia dengan menggunakan etanol akan mengeluarkan etanol, dimana etanol 70% bersifat polar sehingga dapat menarik flavonoid.

Flavonoid sendiri memiliki sifat anti oksidatif serta kemampuan untuk memodulasi fungsi enzim seluler utama (Panche dkk., 2016). Flavonoid sebagai antioksidan mempunyai peran sebagai penangkap oksigen tunggal dan stabilisator membran selubung luar kloroplas.

Flavonoid juga bertindak sebagai sistem pertahanan antioksidan sekunder dan mencegah ROS

Kemungkinan alpha tokoferol pada penelitian ini memiliki hasil yang lebih baik

87 dibanding dengan ekstrak etanol daun kelor adalah alpha tokoferol merupakan antioksidan yang kuat, memiliki sifat hidrophobik dimana hal ini sejalan dengan sifat resin komposit dan didalamnya terdapat alkohol yang tidak dapat bercampur dengan air, selain itu ekstrak etanol daun kelor yang digunakan merupakan keseluruhan dari daun kelor sehingga masih ada kandungan lainnya selain dari antioksidan yang berperan sehingga didapati hasil yang lebih rendah dari alpha tokoferol.

Hasil penelitian ini sesuai dengan (Nari-Ratih dan Widyastuti 2019) yang menyatakan bahwa aplikasi antioksidan dapat meningkatkan kekuatan shearbond strength. Dimana antioksidan yang dipakai adalah 10% alpha tokoferol, 10% aloe vera, 10% sodium askorbat dan 10% teh hijau semuanya menghasilkan hasil yang hampir memiliki kesamaan dalam meningkatkan kekuatan shearbond terhadap resin komposit.

6.2 Scanning Electron Microscopy Restorasi Komposit Dengan Struktur Gigi

Pada pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy permukaan gigi kelompok dengan menggunakan antioksidan alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor menunjukkan mixed failure dimana terlihat adanya enamel aprismatik dan adhesive layer yang menutupi permukaan enamel, sedangkan pada kelompok kontrol terlihat gambaran adanya demineralisasi pada enamel dan tidak adanya resin komposit yang tertinggal yang menunjukkan terjadinya adhesive failure.

adhesive failure adalah keadaan dimana terjadi kegagalan ikatan antara resin komposit dengan permukaan enamel, sedangkan cohesive failure adalah keadaan dimana

88 patahnya resin komposit tanpa menyebabkan lepasnya resin komposit dari permukaan enamel.

Mekanisme adhesi bonding terbagi atas tiga yaitu, pertama adhesi mekanikal dimana terjadi interlocking adhesi pada permukaan irregular, kedua adhesi adsorpsi dimana terjadi ikatan kimia antara adhesi dengan adherent, ketiga adhesi difusi dimana interlocking antar molekul. Akibat yang dihasilkan dari penggunaan bleaching adalah semakin pendeknya resin tag, dimana resin tag berperan sangat penting dan merupakan mekansime fundamental adhesi resin-enamel, selain itu akibat adanya residu yang tersisa akan menghambat penetrasi dari resin pada permukaan enamel. 92% enamel merupakan hidroksiapatit inorganik dan tersusun secara teratur setelah dilakukan bleaching dapat menyebabkan terjadinya bentuk irregular pada permukaan enamel yang akan mengurangi kekuatan ikatan antara bonding dan enamel.

Pada dasarnya bonding agent pada enamel terdiri dari Bis-GMA atau UDMA dengan pengencer TEGDMA untuk menurunkan viskositas. Dengan menurunnya viskositas diharapkan dapat memasuki mikroporositi pada permukaan enamel dan ketika dilakukan polimerisasi dapat membentuk resin tag namun akibat dari penggunaan bleaching menyebabkan permukaan enamel menjadi bergranular serta memiliki gelembung sehingga resin tag menjadi lebih pendek dan akan menurunkan kekuatan geser perlekatan resin.

Selain itu mekanisme bonding dengan system selective adhesive telah diteliti untuk melihat interlocking mikro mekanikal dan ikatan kimianya. interlocking mikro mekanikal berfungsi untuk meningkatkan tekanan mekanikal sedangkan ikatan kimia untuk mengurangi degradasi hidrolitik, serta untuk menjaga marginal sealing bertahan untuk jangka waktu yang lama. Keduanya berinteraksi dengan hidroksiapatit pada enamel dan ketika kandungan

89 kalsium pada hidroksiapatit hilang akibat bleaching maka akan menurunkan kekuatan dari mekanisme bonding karena resin tag tidak terjadi akibat hilangnya kalsium (Gianni dkk, 2015).

Hal ini berhubungan erat dengan hasil penelitian dimana jumlah sampel yang diberikan antioksidan lebih banyak terjadi mixed failure karena fungsi dari antioksidan dalam menghilangkan radikal bebas dapat memperpanjang resin tag dan juga dapat menyempurnakan polimerisasi sehingga ketika sampel diberikan perlakuan masih terdapat resin yang sudah terikat didalam enamel, hal ini berbeda dengan kelompok kontrol dimana keseluruhan sampel mengalami adhesive failure yang mungkin disebabkan oleh adanya radikal bebas yang menghambat polimerisasi dan juga penetrasi resin tag kedalam enamel sehingga pada saat dilakukan pengujian resin komposit terlepas secara utuh dari enamel.

Besarnya perubahan yang terjadi pada struktur gigi berkaitan dengan jumlah radikal bebas yang dilepaskan oleh bahan bleaching yaitu hidrogen peroksida. Pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy pada gigi pasca bleaching menunjukkan bahwa resin tag menjadi pendek dan irregular, dan pada beberapa permukaan bahkan tidak ada sama sekali (Nugraheni , 2017). Adanya fitur granular dan berpori dengan gelembung pada permukaan antara resin dan enamel setelah perawatan bleaching. Gelembung-gelembung ini dapat menghalangi infiltrasi bahan bonding ke dalam struktur gigi ( Freire dkk, 2009). Perlekatan adhesive sangat ditentukan oleh resin tag yang akan membentuk micro-retension dari enamel yang sudah dietsa (Hamdy, 2018).

Whang dkk (2015) mengevaluasi gambar SEM antar permukaan resin dan enamel yang di bleaching dan mengobservasi adanya resin tag yang terpecah dan kurang baik yang

90 masuk ke kedalaman bila dibandingkan dengan kelompok yang tidak di- bleaching. Ion peroksida yang terjebak dalam enamel yang di- bleaching menghasilkan permukaan enamel yang granular dan berporus dengan penampilan yang menggelembung (bubble appearance).

Adanya perubahan dalam substansi organik, kehilangan kalsium, dan penurunan kekerasan mikro . Agen antioksidan telah dipelajari dalam penelitian sebelumnya dengan tujuan menonaktifkan radikal bebas (Turkmen dkk, 2016).

91 BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Pemberian aplikasi antioksidan alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor dapat meningkatkan kekuatan geser perlekatan restorasi pasca bleaching.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kelompok gigi dengan pemberian alpha tokoferol memiliki kekuatan geser perlekatan restorasi komposit nanofilled yang paling baik dibanding kelompok lainnya, selain itu kelompok gigi yang diberi perlakuan dengan ekstrak etanol daun kelor juga memiliki hasil yang baik dalam meningkatkan kekuatan geser perlekatan apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Pada pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy permukaan gigi kelompok dengan menggunakan antioksidan alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor mayoritas menunjukkan mixed failure dimana terlihat adanya enamel aprismatik dan adhesive layer yang menutupi permukaan enamel, sedangkan pada kelompok kontrol terlihat gambaran adanya demineralisasi pada enamel dan tidak adanya resin komposit yang tertinggal menunjukkan terjadinya adhesive failure.

7.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya sebagai berikut :

92 1. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi efektivitas ekstrak etanol daun kelor apabila dilakukan perlakuan dalam konsentrasi yang lebih tinggi dan waktu yang berbeda.

2. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan sampel pada kelompok penelitian dengan jumlah yang lebih banyak.

3. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan aktif dari daun kelor.

93

93 DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. H. A, 2016. Comparative Evaluation of Nanocomposite and Microhybrid. Journal of Al Rafidain University College. Issue No.37:358-72.

Adebayo, O. A. Burrow, M. F. Tyas, M. J. 2007. Effects of conditioners on microshear bond strength to enamel after CP bleaching and/or casein phosphopeptide-amorphous calcium phosphate (CPP- ACP) treatment. J Dent . Vol 35:862-70.

Alqahtani M. Tooth-bleaching procedures and their controversial effects: A literature review. The Saudi Dental Journal 2014; 26:35-41.

Alqahtani . M. Q ., 2014. Tooth-bleaching procedures and their controversial effects: A literature review. Saudi Dental Journal, 157 :14-8.

Al Awdah AS, Al Habdan AHA, Al Muhaisen N, Al halifah R. The effect of different forms of antioxidant surface treatment on the shear bond strength of composite restorations to bonded to office bleached enamel. RRJDS. 2016;4:5-11.

Ameer , A.A, Abdulla, M. W. Al-Shamma. 2018. Effect of Delayed Bonding and Different Antioxidants on Composite Restoration Microleakage of Internally Bleached Teeth. Adv Dent &

Oral Health 9(3): 1-6

Anusavice, K.J., 2003. Phillips : Science of Dental Materials. Ed.Ke-10. Elsevier Science, St Louis. Hal : 80-5,110- 15,125-27,245-49.

Anwar, S., Yulianti,W., Hakim, A., Fasya, G., Fauziyah, B., dan Muti’ah. R., 2014. Uji Toksisitas Ekstrak Akuades (Suhu Kamar) Dan Akuades Panas (70 oC) Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) Terhadap Larva Udang Artemia salina Leach. Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Maulana;2008:41-8.

Arumugam, M. T, Nesamani, R, Kittappa, K, Sanjeev, K, Sekar, M. 2014. Effect of various antioxidants on the shear bond strength of composite resin to bleached enamel: An in vitro study.

J Conserv Dent. Vol 17:22-6.

Barbosa, C. M, Sasaki, R. T, Florio, F. M, Sasting, R. T. 2008. Influence of time on bond strength after bleaching with 35% HP. J Contemp Dent Pract . Vol 9:81-8.

Basting, R. T, Freitas, P. M, Pimenta, L. A. F, Serra, M. C. 2004. Shear bond strength after dentin bleaching with 10% carbamide peroxide agents. Braz Oral Res. Vol 18(2):162-7.

Berger S. B, Pazenhagen, R, Martinelli, N. 2014. Effect of bleaching agents on the exural strength of bovine dentin. J Contemp Dent Pract. Vol 15:24-7.

94 Bose, C.K., 2007, Possible role of Moringa Oleifera L. root in epithelial ovarian cancer, MedGenMed, 9(1): 26.

Breschi L, Cadenaro M, Antoniolli F, Visintini E, Toledano M, Di Lenarda R. Extent of polymerization of dental bonding systems on bleached enamel. Am J Dent 2007;20:275-80.

Carlos , R. G, Kand, F. A, Alessandra, B. B. 2006. The effects of antioxidant agents as neutralizers of bleaching agents on enamel bond strength. Braz J Oral Sci. Vol 5(16):971-76 Chan. K. H.S , Mai. Y , Kim. H , Tong. K. C. T , Ng. D, Hsiao. J.C.M . 2010. Review: Resin Composite Filling. Materials. 3, 1228-43.

Costa. S.X.S , Becker.A B , Rastelli. A. N. S, Loffredo. L. C .M , Andrade. M. F, Bagnato. V. S.

2009. Effect of Four Bleaching Regimens on Color Changes and Microhardness of Dental Nanofilled Composite. International Journal of Dentistry:1-7.

Craig, R(Eds). Restorative Dental Materials. 13th ed. Missouri: Elsevier.2012.p:161- 98.

Craig, R(Eds). Restorative Dental Materials. 13th ed. Missouri: Elsevier.2012.p:161- 98.