BAB 2 TINJAU PUSTAKA
2.6 Bahan Antioksidan
2.6.2 Daun Kelor (Moringa Oleifera L)
2.6.2.1 Data Taksonomi
Klasifikasi tanaman daun kelor adalah sebagai berikut (Anwar dkk, 2007) :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Sub Divisi : Magnoliopsida
Kelas : Brasicaless
Suku : Moringaceae
Marga : Moringa
Jenis : Moringa Oleifera L
36 2.6.2.2 Sejarah Perkembangan Daun Kelor
Kelor atau Moringa oleifera adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae.
Tumbuhan ini dikenal dengan nama lain seperti: limaran, moringa, ben-oil (dari minyak yang bisa diekstrak dari bijinya), drumstick (dari bentuk rumah benihnya yang panjang dan ramping), horseradish tree (dari bentuk akarnya yang mirip tanaman horseradish), dan malunggay di Filipina.
Kelor adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat, berumur panjang, berbunga sepanjang tahun, dan tahan kondisi panas ekstrim. Tanaman ini berasal dari daerah tropis dan subtropis di Asia Selatan. Tanaman ini umum digunakan untuk menjadi pangan dan obat di Indonesia. Biji kelor juga digunakan sebagai penjernih air skala kecil.
Moringa oleifera L. dapat berupa semak atau dapat pula berupa pohon dengan tinggi 12 m dengan diameter 30 cm. Kayunya merupakan jenis kayu lunak dan memiliki kualitas rendah. Daun tanaman kelor memiliki karakteristik bersirip tak sempurna, kecil, berbentuk telur, sebesar ujung jari. Helaian anak daun memiliki warna hijau sampai hijau kecoklatan, bentuk bundar telur atau bundar telur terbalik, panjang 1-3 cm, lebar 4 mm sampai 1 cm, ujung daun tumpul, pangkal daun membulat, tepi daun rata. Kulit akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut, bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah.
37 2.6.2.3 Kandungan Kimia
Kebanyakan sumber antioksidan alami ialah tumbuhan dan umumnya merupakan senyawa fenolik yang tersebar di seluruh bagian tumbuhan, terutama pada golongan flavonoid. Kemampuan flavonoid sebagai antioksidan telah banyak diteliti belakangan tahun ini, flavonoid memiliki kemampuan untuk merubah atau mereduksi radikal bebas dan juga sebagai anti radikal bebas (Rizkayanti, 2017).
Moringa oleifera terutama daunnya, mengandung antioksidan yang tinggi. Beberapa senyawa bioaktif utama fenoliknya merupakan kelompok flavonoid seperti kuersetin dan kaempferol. Kuersetin merupakan antioksidan kuat yang kekuatannya 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin C dan E yang dikenal sebagai vitamin alami komersial (Sutrisno, 2011). Antioksidan di dalam daun kelor mempunyai aktivitas menetralkan radikal bebas sehingga mencegah kerusakan oksidatif pada sebagian besar biomolekul dan menghasilkan proteksi terhadap kerusakan oksidatif secara signifikan.
Daun kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak diteliti kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi, diantaranya kalsium, zat besi, fosfor, kalium, protein, vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, asam folat, dan biotin (Syarifah et al., 2015) Tumbuhan yang mengandung flavonoid adalah daun kelor. Zat aktif yang terkandung dalam daun kelor yang berpotensi sebagai antioksidan adalah berbagai jenis vitamin (A, C, E, K, B1, B2, B3, B6), flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan terpenoid. Daun kelor mengandung mineral, asam amino
38 essensial, antioksidan seperti vitamin C dan E, flavonoid dan masih banyak yang lainnya (Nyoman et al,. 2013).
Ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera L.) yang memiliki aktivitas antioksidan terbesar yaitu etanol dengan nilai IC50 sebesar 103,98 μg/mL yang mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan saponin. (Tutik, 2018).
Flavonoid adalah komponen yang mempunyai berat molekul rendah, dan pada dasarnya merupakan phenylbenzopyrones (phenylchromones) dengan berbagai variasi pada struktur dasarnya, yaitu tiga cincin utama yang saling melekat. Struktur dasar flavonoid adalah rangkaian cincin karbon C (Febriansah, 2015). Komponen kimiawi ini dapat dibagi menjadi berbagai kelas seperti flavon (misalnya, flavon, apigenin, dan luteolin), flavonol (misalnya, quercetin, kaempferol, myricetin, dan fisetin), flavanon (misalnya, flavanone, hesperetin, dan naringenin), dan lainnya. (Kumar & Pandey, 2013).
Flavonoid adalah sekelompok senyawa polifenol yang memiliki banyak gugus hidroksil (OH). Atom hidrogen dari hidroksil dapat disumbangkan pada radikal bebas sehingga suatu senyawa tersebut dapat stabil. Stres oksidatif adalah fenomena yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan akumulasi oksigen spesies reaktif (ROS) dalam sel dan jaringan dan kemampuan sistem biologis untuk mendetoksifikasi produk reaktif. Tingkat stres oksidatif oleh sel akan mengaktifkan fungsi dari aktivitas spesies oksigen reaktif (ROS) sehingga menghasilkan reaksi dan aktivitas ROS.
Flavonoid sebagai antioksidan dapat ditemukan di kloroplas, yang menunjukkan
39 peran sebagai penangkap oksigen tunggal dan stabilisator membran selubung luar kloroplas.
Flavonoid juga bertindak sebagai sistem pertahanan antioksidan sekunder dalam jaringan tanaman yang terpapar tekanan abiotik dan biotik yang berbeda. Flavonoid terletak di dalam inti sel mesofil dan mencegah terjadinya ROS.
Tabel 1. Hasil penapisan fitokimia daun kelor (Moringa oleifera L.).
2.6.2.4 Manfaat Ekstrak etanol daun kelor
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mekanisme aksi isotiosianat adalah melalui induksi enzim pemetabolisme fase 1 dan enzim pemetabolisme fase 2. (Hetch, 1999).
Efektifitas tanaman ini sebagai agen antikanker juga terbukti dari beberapa publikasi penelitian yang menyatakan bahwa benzyl isothiosianat (BITC) secara in vitro mampu menginduksi apoptosis terhadap sel kanker ovarium (Bose, 2007). BITC juga dapat menginhibisi pertumbuhan sel kanker pankreas BxPC-3 secara signifikan dengan IC50 8 μM melalui fase G2/M cell cycle arrest serta induksi apoptosis (Srivastava, 2004). Bharali dkk melaporkan bahwa ekstrak etanolik dari Moringa oleifera L. berpotensi sebagai agen
40 kemoprefentif terhadap karsinogenesis yang disebabkan oleh bahan kimia. PEITC mampu menginhibisi induksi kanker paru-paru oleh NNK melalui mekanisme pengurangan pembentukan DNA adduct dan juga dapat menginduksi apoptosis (Sticha dkk., 2002)
Antioksidan dapat melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk sebagai hasil dari metabolisme oksidatif yaitu hasil dari reaksireaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi dalam tubuh. Antioksidan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu antioksidan sintetik dan antioksidan alami.
Antioksidan sintetik diperoleh dari hasil sintesa reaksi kimia, sedangkan antioksidan alami diperoleh dari hasil ekstraksi bahan-bahan alami diantaranya yaitu tokoferol, lesitin, fosfatida, sesamol, gosipol, karoten, asam tanat, gallic acid (senyawa phenolic), ferulic acid (senyawa phenolic), quercetin (flavonoid) dan sebagainya (Ketaren, 2008).