BAB 4 METODE PENELITIAN
4.5 Alat dan Bahan Penelitian
4.5.2 Bahan Penelitian
Ekstrak etanol daun kelor (Moringa Oleifera)
Alpha tokoferol 10%
Hidrogen Peroksida 40 % (Opalescence Boost, Ultradent, USA)
60
Aquades 10 liter
Resin komposit Nanopartikel A2 (G-aenial, Gc, Japan)
Asam fosfat 37%
Bahan adhesif (G-aenial bond, Gc, Japan)
Kertas saring 4.6 Prosedur Penelitian
4.6.1 Persiapan Ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera) 4.6.1.1 Preparasi Sampel
Daun kelor sebanyak 500 gram dicuci hingga bersih (Gambar 6). Keringkan daun kelor dalam lemari pemanas. Simplisia kemudian diblender hingga menjadi serbuk halus (Gambar 7).
Gambar 6. Daun kelor
61 Gambar 7. Daun kelor yang sudah dikeringkan
4.6.1.2 Ekstraksi Daun Kelor
Sebanyak 100 gram serbuk halus daun kelor kering dimasukkan ke maserator, lalu ditambah etanol 70% 1 L. Kemudian direndam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Ulangi proses sekurang-kurangnya satu kali dengan jenis pelarut yang sama dan volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyaringan pertama.
Kumpulkan semua maserat, kemudian uapkan dengan rotavapor pada suhu 40℃
hingga diperoleh ekstrak kental dan dipindahkan ke dalam botol kaca yang langsung disimpan pada tempat gelap (Farmakope herbal Indonesia, 2017).
62 Gambar 8. Maserasi ekstrak etanol daun kelor
4.6.2 Pembuatan Hidrogel
Pembuatan formula hidrogel yaitu dengan formulasi dasar gel sebagai berikut:
ekstrak etanol daun kelor, carbopolymer 940, TEA (trietanolamin), etanol 70%, gliserol, PG (propilen glikol), PEG (polietilen glikol), aquades, dan nutrient agar.
Sebanyak 1 gr carbopolymer 940 dilarutkan dalam 20 ml aquades sambil diaduk di magnetic stirrer dengan suhu 40℃. TEA sebanyak 1,25 gr ditambahkan hingga terbentuk gel. PG dan PEG ditambahkan masing-masing 8% serta gliserol 5% kemudian diaduk hingga homogen. (Gambar 9) (Brian, 2019)
63 Gambar 9. Ekstrak etanol daun kelor dalam bentuk gel
4.6.3 Persiapan Sampel
Sampel yang akan digunakan adalah 27 gigi insisivus sentralis maksila yang akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok perlakuan secara acak, masing- masing berjumlah 9 sampel dan ditanam di dalam balok akrilik untuk memudahkan preparasi.
4.6.4 Penyimpanan dalam saline
Pada semua sampel kelompok yang akan diuji dilakukan perendaman selama 2 minggu dalam larutan saline.
64 4.6.5 Penanaman sampel dalam cetakan akrilik
Akar gigi dipotong 2 mm di bawah CEJ dengan menggunakan bur disc. Sampel ditanam pada silinder akrilik ukuran 3 cm x 3 cm self curing dengan arah bukal gigi menghadap ke arah atas (Gambar 10).
Gambar 10. Model preparat untuk meletakkan sampel
4.6.6 Preparasi sampel
Permukaan enamel gigi diratakan dengan trimer 600 grit silicon carbide paper untuk mendapatkan permukaan yang rata dan kasar.
4.6.7 Prosedur Bleaching
Sampel dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok I dan II diberi perlakuan bleaching dengan gel hidrogen peroksida 40% kemudian diulangi lagi aplikasinya sehingga total
65 aplikasi 30 menit. Setelah gigi dibersihkan kemudian aplikasi bahan antioksidan selama 10 menit. Sedangkan kelompok III diberi perlakuan bleaching dengan gel hidrogen peroksida 40 % kemudian diulangi lagi aplikasinya sehingga total aplikasi 30 menit, kemudian gigi dibersihkan tanpa diberi aplikasi bahan antioksidan (Gambar 11).
Gambar 11. Bleaching menggunakan OpalescenceBoost
4.6.8 Aplikasi Antioksidan
Pada penelitian ini aplikasi antioksidan mengikuti penelitian Nari-Ratih dan Widyastuti 2019. Pada kelompok I diberikan antioksidan alpha tokoferol 10% sebanyak 0,02 ml (Gambar 13) dengan menggunakan syringe pada permukaan enamel gigi selama 10 menit. Sedangkan pada kelompok II diberikan antioksidan ekstrak etanol daun kelor 10% sebanyak 0,02 ml (Gambar 12) dengan menggunakan syringe selama 10 menit. Kemudian enamel gigi dibersihkan dengan air selama 30 detik.
66 Gambar 12. Aplikasi ekstrak etanol daun kelor
Gambar 13. Aplikasi alpha tokoferol
4.6.9 Aplikasi Resin Komposit Nanopartikel
Dilakukan pengetsaan dengan asam fosfat 37% selama 10-15 detik, kemudian bilas dengan aquadest. Dilakukan bonding dengan bahan adhesive (Gc aenial bond) sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Resin komposit diaplikasikan pada bagian labial dengan ukuran 3 mm
67
× 2 mmkemudian light cure sesuai pabrikan (Gambar 14). Kemudian sampel direndam dalam saline sampai akan dilakukan pengujian.
Gambar 14. Gigi setelah dilakukan aplikasi resin komposit
4.6.10 Uji Kekuatan Geser Perlekatan
Uji kekuatan geser perlekatan akan dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian FMIPA USU
a. Dari masing- masing kelompok ditentukan 4 buah sampel untuk dilakukan uji kekuatan geser perlekatan.
b. Sampel dimasukkan dalam tabung baja kemudian dipasangkan pada grip alat uji kekuatan geser perlekatan.
c. Alat uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Torsee’s Electronic System Universal Testing Machine.
d. Beban maksimal yang digunakan adalah 100 kg dengan kecepatan geser 1 mm/ menit.
68 e. Data yang digunakan berupa load atau gaya dengan satuan kgf yang kemudian dikonversikan
ke salam satuan MPa
4.6.11 Uji Scanning Electron Microscopy (SEM)
Prosedur pengujian sampel dengan SEM adalah sebagai berikut:
a. Dari masing- masing kelompok ditentukan 1 buah sampel untuk dilakukan pengambilan gambar mikrostruktur.
b. Sampel dilapisi dengan cairan emas dengan ketebalan (5- 20 nm)
c. Sampel diletakkan pada chamber yang divakum dan berada di tengah – tengah chamber.
d. Kemudian alat dihidupkan dengan daya 20 kV.
e. Sampel digeser secara perlahan untuk mendapatkan daerah yang akan difoto pada layar SEM.
f. Brigthness, contrast, resolution dan focus disesuaikan sampai didapatkan gambar yang baik.
g. Pengambilan foto dilakukan dengan pembesaran 1000 kali.
4.7 Analisa Data
Data yang diperoleh dari enam kelompok tersebut dianalisis secara statistik dengan dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) memakai uji statistik sebagai berikut :
1. Uji analisis kuantitatif ANOVA dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak etanol daun kelor terhadap kekuatan geser perlekatan resin komposit pada gigi yang telah di- bleaching.
69 2. Uji Least Significant Difference (LSD) dengan tingkat kemaknaan (= 0,5) untuk melihat
perbedaan pengaruh kekuatan perlekatan antar kelompok.
70 4.8.Alur Penelitian
27 buah gigi insisivus RA
Pembuatan ekstrak etanol daun kelor
Kelompok I,II,III
27 gigi bleaching dengan H2O2 40%
Pengaplikasian resin komposit nanofilled
Analisis Hasil Penelitian
9 sampel dari tiap kelompok diuji dengan Torsee Universal Testing Machine
1 sampel dari tiap kelompok diuji dengan Scanning Electron Microscopy EDX Preparasi gigi
Kelompok I diaplikasikan antioksidan alpha tokoferol
10%
Kelompok III tanpa antioksidan (Kontrol)
Bleaching dengan hidrogen peroksida Penanaman sampel ke dalam cetakan
Kelompok II diaplikasikan antioksidan 10% ekstrak
etanol daun kelor
71 BAB 5
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini menguraikan mengenai efektivitas dari antioksidan alam yaitu ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) dalam meningkatkan kekuatan geser perlekatan terhadap restorasi resin komposit nanopartikel pada gigi setelah bleaching dengan 40 % hidrogen peroksida serta mengetahui perlekatan ikatan resin komposit nanopartikel terhadap permukaan enamel gigi setelah bleaching dengan 40 % hidrogen peroksida. Penelitian ini mendapatkan persetujuan komite etik tentang pelaksanaan penelitian kesehatan no. NO: 213/KEP/USU/2021.
Ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) dengan konsentrasi 10% dilakukan evaluasi terkait efektivitasnya terhadap kekuatan geser perlekatan restorasi baik dalam uji shear bond strength, dan profil interface permukaan enamel dengan resin komposit nanopartikel. Analisis statistik penelitian ini dilakukan untuk memperoleh nilai kemaknaan antara satu variabel dengan variabel lainnya dalam satu metode perlakuan sekaligus menilai hubungan antar variabel tersebut. Berikut dilaporkan hasil penelitian berdasarkan analisis metode kerja masing- masing kelompok penelitian.
5.1 Kekuatan Geser Perlekatan Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Olifiera L) dan Alpha Tokoferol terhadap Restorasi Komposit
Sampel pada masing- masing kelompok sebelumnya dilakukan bleaching 40%
hidorgen peroksida terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian antioksidan
72 pada kelompok I dan II. Pada kelompok III sebagai kelompok kontrol tidak diberikan antioksidan. Setelah itu dilakukan penumpatan dengan komposit nanopartikel. Sampel dari setiap kelompok kemudian diuji mengenai kekuatan geser perlekatan dengan alat uji Universal Testing Machine yang dilakukan di Universitas Sumatera Utara, Medan. Kemudian dilakukan pengambilan hasil dan analisa baik dari masing- masing kelompok.
Gambar 15. Alat uji Knife edge diletakkan diantara komposit dan permukaan enamel
Tabel 5.1.1 Parameter Kekuatan Geser (MPa)
No. Variabel n= 27 𝒙̅ Md SD
1. Kekuatan Geser (MPa) 6,879 6,597 3,026
Tabel 5.1.1 menunjukkan rerata dari kekuatan geser pada sampel percobaan
Tabel 5.1.2 Parameter Kekuatan Geser berdasarkan Jenis Perlakuan
No. Kekuatan Geser (MPa) 𝒙̅ Md SD
73
1. Kontrol 3,621 3,508 1,070
2. Alpha Tokoferol 10,358 10,854 0,673
3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 6,478 6,597 0,990
Tabel 5.1.2 menunjukkan rerata dari kekuatan geser pada tiap-tiap sampel percobaan
Pada tabel 5.1.2 didapatkan hasil bahwa kekuatan geser rata-rata dari kelompok kontrol adalah 3,621, untuk kelompok alpha tokoferol adalah 10,358, dan untuk kelompok ekstrak etanol daun kelor adalah 6,478.
Tabel.5.1.3 Uji Normalitas Distribusi Data Kekuatan Geser
No. Kekuatan Geser (MPa) p-value*
1. Kontrol 0,506
2. Alpha Tokoferol 0,476
3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 0,867
Tabel 5.1.3 menunjukkan nilai p-value dari tiap-tiap sampel percobaan dengan pengujian Shapiro-wick
Pada tabel 5.1.3 menunjukkan bahwa nilai p-value dari tiap sampel yang di uji dengan Shapiro-wick mendapatkan hasil p>0,05 (tidak signifikan) yang berarti data terdistribusi normal.
Tabel 5.1.4 Perbedaan Kekuatan Geser
No. Kekuatan Geser (MPa) 𝒙̅ SD p-value*
1. Kontrol 3,621 0,357
0,00001 2. Alpha Tokoferol 10,538 0,224
74 3. Ekstrak Etanol Daun Kelor 6,478 0,330
Tabel 5.1.4 menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar tiap kelompok perlakuan dengan nilai p-value <0,05 menggunakan Analisa uji One-way ANOVA
Pada tabel 5.1.4 didapatkan hasil yang dilakukan pada kelompok kontrol, alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor memiliki hasil p-value <0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan kekuatan geser antar tiap perlakuan kelompok.
Tabel 5.1.5 Perbandingan Antar Kelompok
No. Perbandingan Kelompok Perlakuan 𝒙̅ p-value*
1. Alpha Tokoferol VS Kontrol 6,917 0,0001
2. Ekstrak Etanol Daun Kelor VS Kontrol 2,857 0,0001
3. Alpha Tokoferol VS Ekstrak Etanol Daun Kelor 4,060 0,0001 Tabel 5.1.5 menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar perlakuan dengan kelompok tokoferol yang terbaik dengan nilai p-value <0,05 menggunakan uji Least Significant Difference
Pada tabel 5.1.5 menunjukkan selisih nilai rerata antar kelompok yang diuji memilki nilai p-value <0,05 yang berarti ada hubungan signifikan antar kelompok uji.
75 Grafik 5.1.1. Nilai Kekuatan Geser Antar Kelompok
Grafik 5.1.1 menunjukkan tiap kelompok perlakuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kekuatan geser
Pada grafik 5.1.1 menunjukkan bahwa antar kelompok perlakuan memiliki hubungan yang signfikan, dimana kelompok alpha tokoferol memiliki nilai kekuatan geser yang paling tinggi di banding dengan kelompok uji lainnya. Kelompok kontrol menjadi kelompok yang memiliki nilai terendah dibandingkan dengan kelompok uji lainnya.
76 Grafik 5.1.2. Nilai Perbedaan Antar Kelompok
Grafik 5.1.2 menujukkan adanya nilai perbedaan antar kelompok perlakuan dimana kelompok kontrol -tokoferol memiliki nilai paling besar
Dari table uji normalitas terlihat bahwa data terdistribusi normal dengan nilai Nilai P-value yg tidak signifikan (>0,05) menunjukkan data terdistribusi normal, maka uji yg digunakan adalah uji Oneway ANOVA. Nilai P-value pada uji Oneway ANOVA signifikan (< 0,05 ) menunjukkan ada perbedaan kekuatan geser pada grup perlakuan. Nilai P-value pada tabel Uji Posthoc untuk menilai antar grup mana saja yg memiliki perbedaan. Setelah dilakukan Uji post hoc didapati perbedaan antara kelompok tokoferol terhadap kontrol dengan selisih nilai rerata 6,917 Mpa (signifikan), kelompok ekstrak etanol daun kelor (Moringa Olifiera L) terhadap Kontrol dengan selisih 2,857 Mpa (signifikan),dan kelompok tokoferol terhadap Ekstrak M.O. dengan selisih 4,060 Mpa (signifikan).
77 5.2 Profil Scanning Electron Microscopy Antara Interface Restorasi Resin Komposit Nanofilled Dengan Struktur Gigi Yang Sudah Dilakukan Bleaching Dan Pemberian Antioksidan
Dari pengamatan secara visual terlihat bahwa sampel pada kelompok alpha tokoferol semuanya merupakan mixed failure, pada kelompok ekstrak etanol daun kelor dijumpai 8 sampel dengan mixed failure dan 1 sampel adhesive failure, dan pada kelompok kontrol semua sampel merupakan adhesive failure.
Gambar 16. Gambaran gigi dari Kelompok I, tanda panah menunjukkan adanya sisa dari resin komposit
Gambar 17. Gambaran gigi dari Kelompok III, tidak terlihat adanya resin komposit yang tersisa
78 Pada gambar 16 terlihat adanya sisa resin komposit yang tertinggal setelah dilakukan uji dengan menggunakan UTM( tanda panah orange), sedangkan pada gambar 17 terlihat tidak adanya resin komposit yang tersisa setelah dilakukan uji dengan menggunakan UTM.
Gambar 18 (a). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, tanda panah menunjukkan adanya resin komposit yang berarti terjadi mixed failure
79
Gambar 18 (b). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, terlihat adanya patahan resin komposit pada enamel
Gambar 18 (c). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok alpha tokoferol, menunjukkan adanya resin komposit yang berarti terjadi mixed failure
80 Gambar 19 (a). Gambaran SEM dengan perbesaran
1000x dari kelompok ekstrak etanol daun kelor tanda panah menunjukkan adanya resin komposit dengan keadaan enamel berporous.
Gambar 19 (b). Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok ekstrak etanol daun kelor terlihat adanya resin komposit pada enamel
81 Gambar 19 (c). Gambaran SEM dengan perbesaran
1000x dari Kelompok ekstark etanol daun kelor tanda panah menunjukkan adanya resin komposit yang tersisa pada enamel
Gambar 20 (a) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, terlihat enamel irregular dan berporous
82
Gambar 20 (b) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, terlihat enamel yang mengalami porositas.
Gambar 20 (c) Gambaran SEM dengan perbesaran 1000x dari kelompok kontrol tanpa bahan antioksidan, tanda panah menunjukkan enamel yang irregular
Gambaran dari spesimen pada gambar 20(a,b,c) menunjukkan bahwa sebagian besar kegagalan dari spesimen, yang dilakukan penambalan menggunakan resin komposit setelah
83 bleaching adalah adhesive failure dengan adanya gambaran enamel yang berporous dan tidak terlihat adanya resin komposit yang tertinggal. Sebaliknya sebagian besar spesimen pada gambar 18(a,b,c) dan 19(a,b,c), yang meggunakan antioksidan sebelum dilakukan restorasi adalah mixed failure, yang merupakan adhesive failure dan cohesive failure.
84 BAB 6
PEMBAHASAN
6.1 Kekuatan Geser Perlekatan Antioksidan Alpha Tokoferol dan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Olifiera L) terhadap Restorasi Komposit setelah Bleaching
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa alpha tokoferol (kelompok I) memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Dimana penggunaan alpha tokoferol maupun esktrak daun kelor memiliki hasil yang signifikan terhadap kelompok control dengan nilai rata-rata 10,358 MPa. Dari tabel diatas juga terlihat bahwa percobaan dengan menggunakan alpha tokoferol memberikan hasil yang lebih baik di banding menggunakan ekstrak etanol daun kelor dengan rata-rata 6,478 MPa.
Hal ini dapat terjadi karena agen bleaching melepaskan radikal bebas berupa oksigen yang immature dan hidroksil atau peri-hidroksil ion pada struktur gigi. Radikal bebas merupakan molekul elektron yang tidak berpasangan Molekul-molekul ini mampu bereaksi dengan daerah pigmen yang kaya elektron di dalam struktur gigi, memecah pigmen besar molekul menjadi lebih kecil, yang kurang berpigmen. Pada di sisi lain, hal ini bisa merusak ikatan bahan resin. Salah satu teori untuk menjelaskan pengaruh bleaching agent terhadap bonding menunjukkan bahwa peroksida dan produk sampingannya ada di dalamnya struktur gigi dapat mengganggu proses polimerisasi bahan bonding.
Bleaching dapat mereduksi kekuatan geser ikatan (shear bond strength) akibat dari residu peroksida pada permukaan gigi yang menimbulkan gangguan pada perlekatan resin dan mencegah polimerisasi sempurna (Dishman dkk, 1994). Hidrogen peroksida sebagai
85 bahan bleaching, dapat menyebabkan denaturasi kolagen sehingga tidak ada hybrid layer yang efektif yang menghasilkan pembentukan ikatan yang lemah. Sifat mekanik resin komposit yang rendah dan denaturasi kolagen yang lebih besar akan menghasilkan shear bond strength yang lebih rendah. (Van Noort, 2007)
Penurunan shear bond strength (kekuatan ikatan geser) dapat juga disebabkan oleh hilangnya kalsium atau perubahan dalam struktur organik yang mempengaruhi struktur gigi dan mengarah pada penurunan kekuatan ikatan (Cavalli dkk, 2009). Besarnya perubahan yang terjadi pada struktur gigi terkait dengan jumlah radikal bebas yang dilepaskan oleh bahan bleaching (Nugraheni dkk, 2017). Perdigo dkk (1998) menyatakan dalam studinya bahwa hilangnya kalsium, reduksi dalam microhardness dan perubahan dalam komponen organik merupakan faktor yang penting menurunkan bond strength enamel setelah bleaching.
Hasil penelitian diatas terlihat bahwa kelompok dengan pemberian antioksidan memiliki kekuatan geser perlekatan yang lebih baik dikarenakan antioksidan dapat menangkap radikal bebas pada enamel. Antioksidan menurut Toripah dkk., (2014) digolongkan menjadi 4 kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu antioksidan sintetik, primer, sekunder, dan tersier. Sifat dari antioksidan terutama primer yang disebut juga antioksidan enzimatis dimana enzim ini dapat bekerja dengan cara melindungi jaringan dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas oksigen seperti radikal hidroksil (-OH) sehingga dapat digunakan dengan tujuan untuk menonaktifkan radikal bebas.
Garcia dkk., (2012) menyatakan bahwa proses netralisasi dari antioksidan dapat dikategorikan menjadi tiga tipe, pencegahan secara berkala, detoksifikasi aktif terhadap tekanan oksidatif dan detoksifikasi pasif. Alpha tokoferol merupakan detoksifikasi pasif yang
86 dapat menetralisir radikal bebas. Tetapi bahan antioksidan ini tidak dapat secara penuh menghilangkan efek dari bleaching terhadap kekuatan geser perlekatan.
Menurut Sharafeddin dkk, dentin dan cairan dentin dapat berfungsi sebagai reservoir oksigen dan peroksida, reservoir gas atau oksigen terlarut dapat bertahan sampai dihilangkan oleh sirkulasi mikro pulpa dan berdifusi ke permukaan eksternal. Difusi permukaan yang berlebihan dapat menyebabkan turunnya sirkulasi mikro pada pulpa sehingga tingkat peroksida atau oksigen lebih tinggi dari biasanya dan hal ini menghambat proses polimerisasi sehingga mengurangi kekuatan geser perlekatan.
Vitamin E merupakan kelompok tokoferol dan tocotrienol, dengan alpha tokoferol yang memiliki aktivitas biologi tertinggi. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan pemutus rantai dari reaksi radikal bebas. Selain itu penggunaan alkohol pada enamel yang di bleaching dapat meningkatkan kekuatan gser perlekatan. Keberadaan alkohol pada formula alpha tokoferol 10% mungkin berkontribusi dalam meningkatkan kekuatan geser perlekatan dikarenakan alpha tokoferol 10% tidak dapat bercampur dengan air.
Ekstrak etanol daun kelor yang di fitokimia dengan menggunakan etanol akan mengeluarkan etanol, dimana etanol 70% bersifat polar sehingga dapat menarik flavonoid.
Flavonoid sendiri memiliki sifat anti oksidatif serta kemampuan untuk memodulasi fungsi enzim seluler utama (Panche dkk., 2016). Flavonoid sebagai antioksidan mempunyai peran sebagai penangkap oksigen tunggal dan stabilisator membran selubung luar kloroplas.
Flavonoid juga bertindak sebagai sistem pertahanan antioksidan sekunder dan mencegah ROS
Kemungkinan alpha tokoferol pada penelitian ini memiliki hasil yang lebih baik
87 dibanding dengan ekstrak etanol daun kelor adalah alpha tokoferol merupakan antioksidan yang kuat, memiliki sifat hidrophobik dimana hal ini sejalan dengan sifat resin komposit dan didalamnya terdapat alkohol yang tidak dapat bercampur dengan air, selain itu ekstrak etanol daun kelor yang digunakan merupakan keseluruhan dari daun kelor sehingga masih ada kandungan lainnya selain dari antioksidan yang berperan sehingga didapati hasil yang lebih rendah dari alpha tokoferol.
Hasil penelitian ini sesuai dengan (Nari-Ratih dan Widyastuti 2019) yang menyatakan bahwa aplikasi antioksidan dapat meningkatkan kekuatan shearbond strength. Dimana antioksidan yang dipakai adalah 10% alpha tokoferol, 10% aloe vera, 10% sodium askorbat dan 10% teh hijau semuanya menghasilkan hasil yang hampir memiliki kesamaan dalam meningkatkan kekuatan shearbond terhadap resin komposit.
6.2 Scanning Electron Microscopy Restorasi Komposit Dengan Struktur Gigi
Pada pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy permukaan gigi kelompok dengan menggunakan antioksidan alpha tokoferol dan ekstrak etanol daun kelor menunjukkan mixed failure dimana terlihat adanya enamel aprismatik dan adhesive layer yang menutupi permukaan enamel, sedangkan pada kelompok kontrol terlihat gambaran adanya demineralisasi pada enamel dan tidak adanya resin komposit yang tertinggal yang menunjukkan terjadinya adhesive failure.
adhesive failure adalah keadaan dimana terjadi kegagalan ikatan antara resin komposit dengan permukaan enamel, sedangkan cohesive failure adalah keadaan dimana
88 patahnya resin komposit tanpa menyebabkan lepasnya resin komposit dari permukaan enamel.
Mekanisme adhesi bonding terbagi atas tiga yaitu, pertama adhesi mekanikal dimana terjadi interlocking adhesi pada permukaan irregular, kedua adhesi adsorpsi dimana terjadi ikatan kimia antara adhesi dengan adherent, ketiga adhesi difusi dimana interlocking antar molekul. Akibat yang dihasilkan dari penggunaan bleaching adalah semakin pendeknya resin tag, dimana resin tag berperan sangat penting dan merupakan mekansime fundamental adhesi resin-enamel, selain itu akibat adanya residu yang tersisa akan menghambat penetrasi dari resin pada permukaan enamel. 92% enamel merupakan hidroksiapatit inorganik dan tersusun secara teratur setelah dilakukan bleaching dapat menyebabkan terjadinya bentuk irregular pada permukaan enamel yang akan mengurangi kekuatan ikatan antara bonding dan enamel.
Pada dasarnya bonding agent pada enamel terdiri dari Bis-GMA atau UDMA dengan pengencer TEGDMA untuk menurunkan viskositas. Dengan menurunnya viskositas diharapkan dapat memasuki mikroporositi pada permukaan enamel dan ketika dilakukan polimerisasi dapat membentuk resin tag namun akibat dari penggunaan bleaching menyebabkan permukaan enamel menjadi bergranular serta memiliki gelembung sehingga resin tag menjadi lebih pendek dan akan menurunkan kekuatan geser perlekatan resin.
Selain itu mekanisme bonding dengan system selective adhesive telah diteliti untuk melihat interlocking mikro mekanikal dan ikatan kimianya. interlocking mikro mekanikal berfungsi untuk meningkatkan tekanan mekanikal sedangkan ikatan kimia untuk mengurangi degradasi hidrolitik, serta untuk menjaga marginal sealing bertahan untuk jangka waktu yang lama. Keduanya berinteraksi dengan hidroksiapatit pada enamel dan ketika kandungan
89 kalsium pada hidroksiapatit hilang akibat bleaching maka akan menurunkan kekuatan dari mekanisme bonding karena resin tag tidak terjadi akibat hilangnya kalsium (Gianni dkk, 2015).
Hal ini berhubungan erat dengan hasil penelitian dimana jumlah sampel yang diberikan antioksidan lebih banyak terjadi mixed failure karena fungsi dari antioksidan dalam menghilangkan radikal bebas dapat memperpanjang resin tag dan juga dapat menyempurnakan polimerisasi sehingga ketika sampel diberikan perlakuan masih terdapat resin yang sudah terikat didalam enamel, hal ini berbeda dengan kelompok kontrol dimana keseluruhan sampel mengalami adhesive failure yang mungkin disebabkan oleh adanya radikal bebas yang menghambat polimerisasi dan juga penetrasi resin tag kedalam enamel sehingga pada saat dilakukan pengujian resin komposit terlepas secara utuh dari enamel.
Besarnya perubahan yang terjadi pada struktur gigi berkaitan dengan jumlah radikal bebas yang dilepaskan oleh bahan bleaching yaitu hidrogen peroksida. Pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy pada gigi pasca bleaching menunjukkan bahwa resin tag menjadi pendek dan irregular, dan pada beberapa permukaan bahkan tidak
Besarnya perubahan yang terjadi pada struktur gigi berkaitan dengan jumlah radikal bebas yang dilepaskan oleh bahan bleaching yaitu hidrogen peroksida. Pemeriksaan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy pada gigi pasca bleaching menunjukkan bahwa resin tag menjadi pendek dan irregular, dan pada beberapa permukaan bahkan tidak