• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

2. Analisa Kasus II

1. Nama : RAS

2. Jenis kelamin : Perempuan

3. Usia : 88 tahun

4. Pendidikan : - 5. Pekerjaan : Petani

6. Agama : Kristen Protestan 7. Tempat tinggal : Lamunan

8. Tingkatan sosial : Tana’ Bassi (bangsawan menengah)

Riwayat Kematian Almarhumah

Almarhumah meninggal tanggal 9 Januari 2006. Terdapat selang waktu enam bulan sebelum almarhumah diupacarakan pada bulan Juli 2006. Kondisi kesehatan almarhumah memang sudah sakit-sakitan, namun penyakit itu muncul karena usianya yang sudah tua. Almarhumah diletakkan di rumahnya di daerah Tombang. Selama almarhumah disimpan, orang-orang hampir tiap malam mengadakan ibadah dan acara ma’badong di rumahnya. Selama enam bulan almarhumah disimpan di rumahnya, berada di tengah-tengah keluarganya. Setelah diupacarakan, almarhumah kemudian disemayamkan di patane (kuburan yang menyerupai rumah kecil) keluarga.

Di bawah ini adalah data subjek yang merupakan keluarga dan kerabat dari RAS. Tabel 4 Data Subjek Subjek 4 5 6 Nama SL MB A Hubungan

Kekerabatan Teman Saudara Anak

Usia 58 tahun 60 tahun 38 tahun

Pendidikan SMU S1 S1

Pekerjaan Pensiunan PNS Guru -

Agama Kristen Protestan Kristen Protestan Kristen Protestan

Tingkatan sosial Tana’ Karurung (rakyat biasa) Tana’ Bassi (bangsawan menengah) Tana’ Bassi (bangsawan menengah) Hasil Analisa

a. Reaksi saat pertama mendengar tentang kematian

Reaksi yang hampir sama ditunjukkan oleh ketiga subjek saat mengetahui kabar kematian almarhumah. Perbedaan reaksi ini timbul karena kondisi almarhumah yang memang sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga kematiannya. Meskipun sudah tahu kondisi ibunya, A sebagai anaknya tetap merasa tidak rela.

Saat SL mendengar kabar kematian almarhumah, ia tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Almarhumah adalah teman SL Menurutnya, tidak terlalu mengejutkan lagi saat mendengar kabar tersebut karena almarhumah sudah tua dan sakit-sakitan.

“Saya sudah tidak terlalu ingat lagi buat apa waktu itu kabar datang, tapi waktu itu saya sudah dak terlalu kagetmi karena dia memang sudah tua dan sakit-sakitan………” (W4.15.86)

Hal berbeda ditunjukkan oleh saudara almarhumah, MB. Meskipun sudah bisa memperkirakan kematian almarhumah, MB tetap saja merasa kaget dan sedih. Namun perasaan tersebut tidak lama dirasakannya karena ia yang harus menjadi penghibur bagi orang lain.

“Saya memang sudah memperkirakan kalo tidak lama lagi beliau akan meninggal, soalnya memang sudah tua skali dan sering sakit-sakitan. Tapi ya tetap saja kaget waktu ditelpon sama anaknya. Saya langsung hari itu ke Tombang dan mempersiapkan ibadah malam harinya. Ya waktu tau ya langsung direlakan, sepertinya memang lebih baik meninggal daripada stengah mati tahan sakitnya.” (W5.14.88)

“Yang pasti sedihlah, saudara meninggal masa ndak sedih ? Tapi karna kita sudah tuami, ya…jangan sampai kita yang harus dihibur, harusnya kita yang menghibur yang lebih muda.” (W5.21.89)

Sedangkan anaknya, A, menunjukkan reaksi yang lebih mendalam. Hal ini ditunjukkan dengan ekspresi kaget, menangis terus-menerus, dan pingsan. Ia menuturkan bahwa ia belum rela melepas kepergian almarhumah meskipun ia juga tahu kalau almarhumah sudah tua dan sakit-sakitan.

“Saya kaget skali, langsung saya ke rumahnya itu sendirian. Sampai disana saya langsung nangis-nangis, sampe sempat pingsan juga. Memang saya sudah tau kalo mama itu sudah sakit-sakit, tapi bagaimana ya, tetap saja rasanya ndak rela kalo mama meninggal. Padahal kalo dipikir-pikir, daripada mama sakit-sakit stengah mati, kan lebih baik kalo Tuhan panggil, tapi ya…tetap saja, prasaan seorang anak kalo orangtuanya meninggal itu bagaimana. Sedih sekali, rasanya mo menangis terus saja. Untung ada saudara yang nasehati kalo dak baik sedih terus sementara masih banyak hal yang mo diurus lagi. Ya sudahmi, saya berusaha untuk tegar. Tapi ya tetap saja susah skali untuk tidak nangis..” (W6.13.91)

b. Lama bersedih

Lamanya tiap subjek bersedih bervariasi. Perbedaan ini ditimbulkan karena kedekatan tiap subjek dengan almarhumah. Meskipun ada yang secara hubungan keluarga dekat, intensitas

pertemuan dan komunikasi yang jarang membuat hubungan mereka jadi tidak akrab. Hal yang berbeda diperlihatkan oleh anak almarhumah yang selama 1 minggu berada dalam masa berkabung.

SL tidak pernah lagi berhubungan dengan almarhumah. Meskipun sempat bertemu, diantara merekapun tidak terjalin komunikasi yang baik. Oleh karena itu, ia tidak merasa kehilangan. Sedangkan MB, meskipun juga jarang bertemu, tetap merasa kehilangan dan mengatakan bahwa dalam beberapa hari baru ia bisa lepas dari kesedihan yang dirasakan sebelumnya.

“Oh tidak lama, hanya beberapa hari saja setelah kematiannya.” (W5.15.89)

“Terkadang iya, apalagi kalo berada dekat petinya, tapi itupun bisa dibilang sangat jarang sekali.” (W5.17.89)

Sementara bagi A, selama 1 minggu selanjutnya ia mengalami masa berkabung. Pada masa ini, ia merasa kesepian, muncul memori-memori atas diri almarhumah, susah tidur, dan mempertanyakan alasan Tuhan memanggil almarhumah. Jika demikian, ia hanya duduk di kursi atau di tempat tidur, baru setelah tenang ia akan kembali tidur. Subjek juga menuturkan bahwa ia mungkin akan merasa stres jika tidak ada yang menghibur dirinya.

“Ada mungkin 1 minggu (berduka), Kadang-kadang itu malam-malam saya menangis sendiri kalo ingat lagi sama mama.” (W6.14.91)

“Ya sedih, kadang-kadang juga saya pikir terus itu, kenapa mama dipanggil sama Tuhan sekarang. Makarorrong (kesepian)……apa….sepi skali begitu, kayaknya ada yang hilang saja.” (W6.15.91)

“Sedih sekali, menangis terus saya. Tapi betul-betul, kalo tidak ada yang terus menghibur pasti saya sudah stress-stress mungkin. Sepertinya

mama itu terlalu cepat perginya, padahal kan memang sudah tua toh.” (W6.22.92)

c. Pengaruh kematian terhadap diri subjek

Subjek yang terpengaruh atas kematian almarhum hanya anaknya, sehingga ia seringkali kurang konsentrasi dalam bekerja sehari hari. Sedangkan dua subjek lainnya, teman dan saudaranya, tidak terpengaruh karena ada keluarga dan kerabat lain yang bisa menghibur atau mereka hibur.

SL tidak terpengaruh atas kematian almarhumah. Sejak mulanya mendengar kabar kematian almarhumah hingga pelaksanaan upacara, subjek tidak banyak mengalami perubahan emosi.

“………..tapi inikan boleh dikata tidak pernah berhubungan lagi, ya biasa-biasa saja.” (W4.17.86)

Sementara menurut penuturan MB, kesedihan yang ia rasakan tidak mempengaruhi kegiatannya sehari-hari. Untuk mengurangi kesedihan, subjek beraktivitas seperti biasa, seperti ke sekolah, ke gereja, ke sawah, disamping ada penghiburan dari sanak keluarga lainnya.

“Tidak terlalu berpengaruh saya rasa, saya tetap ngajar, tetap bekerja seperti biasa, disamping mengurus persiapan upacaranya. Sekarang juga tidak terpengaruh kok.” (W5.16.89)

Sedangkan bagi A, kematian almarhumah cukup berpengaruh bagi dirinya. Pekerjaan rumah memang tetap dilaksanakannya, tapi kurang bersemangat dalam pengerjaannya. Subjek juga terkadang

melamun sendiri, hingga harus ada orang lain yang menyadarkannya untuk berhenti melamun.

“Waktu itu memang sedikit berpengaruh, tapi dak sampai lupa pekerjaan rumah, saya tetapji kerja tapi rasanya kurang semangat begitu. Kadang-kadang juga tiba-tiba melamun sendiri, biasanya kalo tidak ada yang kasi sadar itu bisa lama skali saya melamun………” (W6.17.91)

d. Perasaan selama persiapan upacara

Selama persiapan upacara ini dilaksanakan, perasaan rindu akan diri almarhumah kembali dirasakan oleh para subjek. Perasaan ini timbul karena almarhumah yang selama beberapa bulan ini berada bersama keluarga, akan segera diupacarakan, untuk selanjutnya dikuburkan.

Sementara SL tidak merasakan kesedihan, hal berbeda dirasakan oleh MB. Ketika MB mempersiapkan upacara kematian, ia masih mengingat-ingat almarhumah, terlebih jika berada dekat peti almarhumah. Rasa rindu juga terkadang muncul pada diri subjek karena mereka sudah lama tidak saling bertemu. Selama persiapan upacara ini subjek merasakan bahwa almarhumah benar-benar sudah mau pergi. Perasaan yang dirasakan subjek campur aduk. Ia merasa sedih karena waktu bersama almarhumah semakin sedikit, rasa puas bisa mengatur acara dengan baik, dan senang bertemu kerabat dan tamu dari luar daerah.

“Terkadang iya, apalagi kalo berada dekat petinya, ………..” (W5.17.89)

“……… Waktu persiapan upacara baru terasa kalo memang sudah mau dikubur ini almarhumah, benar-benar sudah mau pergilah.” (W5.22.89)

“Campur aduk, sedih karna waktu bersama almarhumah semakin sedikit, ada juga rasa puas bisa mengatur acara dengan baik hingga sekarang, senang ketemu keluarga yang jauh-jauh datang dari luar daerah, ketemu pejabat-pejabat juga, ya….banyaklah yang dirasakan sekarang ini.” (W5.23.89)

Hal yang sama juga dirasakan oleh anak almarhumah, A. Selama mempersiapkan upacara ini, A benar-benar merasakan bahwa almarhumah akan pergi untuk selama-lamanya.

“Seringkali ingat lagi sama mama, kayaknya benar-benar itu mama sudah mo pergi untuk selama-lamanya. Untungnya memang lagi banyak-banyaknya pekerjaan itu jadi saya betul-betul usahakan supaya kerja terus, jangan sampai ingat-ingat mama terus, nanti tidak ada apa jadi kalo mo sedih saja kerjanya.” (W6.23.92)

e. Perasaan selama upacara Rambu Solo’ berlangsung

Pelaksanaan upacara ini membantu para subjek untuk mengalihkan perhatian dari kesedihan mereka untuk melayani para keluarga dan kerabat yang datang. Kesibukan yang mereka alami serta kemeriahan upacara menjadi alasan mengapa pihak keluarga terlihat tidak bersedih melainkan larut dalam suasana kemeriahan.

Melihat orang-orang yang tertawa dalam upacara ini, SL merasa seperti bukan di upacara kematian. Sepertinya, kata “pesta” memang cocok digunakan untuk situasi seperti ini karena tidak ada orang yang terlihat bersedih. Pihak keluargapun terhibur dengan kemeriahan acara ini.

“………Tapi ya… pasti juga keluarganya yang sedih, selama upacara ini akan terhibur sekali, soalnya memang ini acara meriah sekali, kayak bukan upacara kematian saja. Liatmi itu orang

dimana-mana, mana ada yang menangis, ketawa-ketawa saja toh ? Jadi ya, tidak ada itu orang yang sedih kalo pesta begini.” (W4.25.87)

Sedangkan bagi MB, Pelaksanaan upacara ini menolongnya untuk mengurangi rasa sedihnya karena begitu banyak hal yang harus dikerjakan. Ia tidak memiliki waktu untuk tidak melakukan apa-apa sehingga kesedihannya semakin terkikis.

“Sangat membantu dalam mengurangi rasa sedih, ya karna itu dia, banyak sekali kesibukan disini, jadinya yang kita pikirkan cuma pekerjaan saja. Dak ada waktu untuk merenung, bersedih, duduk-duduk saja, pasti ada yang harus diselesaikan. Jadi ya…sangat menolonglah dalam mengurangi kesedihan saya.” (W5.24.89)

Sementara itu, A merasa tertolong karena kesibukan yang begitu banyaknya. Ia juga berpendapat bahwa sudah bukan waktunya bagi keluarga untuk diperhatikan orang, melainkan bagaimana supaya mereka bisa memperhatikan dan melayani semua tamu dan kerabat yang datang.

“Sekarang ? Sudah bisa tenang, sudah bisa terima kenyataan. Yah…walaupun kadang masih ingat mama kalo liat fotonya dipajang atau liat makanan kesukaannya, tapi tidak buat nangismi. Senang sekali juga akhirnya bisa ketemu lagi sama sepupu-sepupu, om dan tante, yang sudah lama skali dak pernah ketemu lagi. Ada rasa cape kerja juga tapi ya..puaslah bisa selesaikan semua. Memang belum selesai pekerjaan, masih beberapa hari lagi, tapi ya sampe sekarang lancar-lancarlah saja semuanya.” (W6.24.92)

“Jadi tertolong rasanya, tidak sedih lagi, karna banyak yang dipikir toh. Soalnya bukanmi saatnya kita yang mo diperhatikan lagi sama orang, tapi kita sekarang yang harus perhatikan orang, bagaimana supaya mereka smua terlayani dengan baik.” (W6.25.92)

Dokumen terkait