• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

3. Analisa Kasus III

Data Almarhum

1. Nama : PBL

2. Jenis kelamin : Laki-laki

3. Usia : 90 tahun

4. Pendidikan : - 5. Pekerjaan : Petani

6. Agama : Kristen Katolik 7. Tempat tinggal : Saluallo

8. Tingkatan sosial : Tana’ Karurung (rakyat biasa)

Riwayat Kematian Almarhum

Almarhum meninggal tahun 2005. Almarhum disimpan di rumahnya selama kurang lebih satu tahun sebelum diupacarakan pada bulan Juli 2006. Kondisi kesehatannya memang sudah menurun. Seperti mayat-mayat yang disimpan lainnya, almarhum juga diberi suntikan formalin serta ramuan-ramuan tradisional agar mayatnya tidak mengeluarkan bau atau menjadi rusak. Selama disimpan, almarhum sering dikunjungi oleh keluarganya yang lain sambil membawa seserahan, biasanya berupa makanan atau rokok.

Di bawah ini adalah data subjek yang merupakan keluarga dan kerabat dari PBL. Tabel 5 Data Subjek Subjek 7 8 9 Nama MK IA YR Hubungan

Kekerabatan Kemenakan Anak Tetangga

Usia 45 tahun 38 tahun 72 tahun

Pendidikan SMU SMU Sekolah Belanda

Pekerjaan - Wiraswasta Pensiunan PNS

Agama Kristen Katolik Kristen Katolik Kristen Katolik

Tingkatan sosial Tana’ Karurung (rakyat biasa) Tana’ Karurung (rakyat biasa) Tana’ Bassi (bangsawan menengah) Hasil Analisa

a. Reaksi saat pertama mendengar tentang kematian

Reaksi ketiga subjek hampir sama ketika mendengar kabar kematian almarhum. Mereka telah mengetahui kondisi almarhum sehingga tidak lagi merasa kaget mendengar kabar tersebut, apalagi almarhum usianya sudah sangat lanjut.

Ketiga subjek (MK, IA dan YR) merasakan hal yang serupa saat mendengar kematian almarhum. Ketiganya tidak terlalu terkejut lagi karena kondisi almarhum yang memang sudah tua dan sakit-sakitan.

MK : “Dak terlalu kagetmi, karna saya kebetulan ada di rumah sama-sama waktu itu. Jadi saya ada waktu om mau meninggalmi. Dari cara bicaranya waktu itu, kayaknya memang begitu…sudah ada tanda-tanda

kalo sudah mau pergi. Ya kita relakan saja, sudah waktunyami

IA : “………Pertamanya memang kaget skali, tapi kemudian saya sadar, kalo mo sedih, sapa nanti yang akan berpikir untuk penguburannya? Jadi saya langsung hubungi keluarga-keluarga lain, utamanya yang di luar Toraja. Keluarga-keluarga juga kaget tapi langsungji dapat diterima, ya…karna memang sudah waktunyami to?” (W8.16.97)

YR : “Saya dak terlalu kagetmi, karna memang sudah tua dan sakit-sakit, bayangkan…sudah 90 tahun umurnya. Ya wajarlah kalo dipanggil Tuhan. Jadi, ya…tidak kaget, biasa-biasa saja.” (W9.14.100)

b. Lama bersedih

Rentang waktu para subjek tenggelam dalam kesedihan cukup bervariasi. Semakin dekat hubungan kekerabatan dengan almarhum, maka semakin lama pula mereka tenggelam dalam kesedihan atau berduka.

Sementara YR mengatakan bahwa ia tidak lama merasakan kesedihan, MK menuturkan bahwa ia mengalami kesedihan selama dua minggu.

Ahh…dak terlalu lama juga, mungkin, mungkin 2 mingguanlah.”

(W7.17.94)

Sedangkan anak almarhum, IA, tenggelam dalam kesedihan selama tiga bulan. Namun ia tidak pernah menampakkan kesedihannya di depan orang lain.

“Kira-kira ee…yang paling berkesan itu kira-kira 3 bulan. Ya, 3 bulanlah. Tapi dak pernahji juga saya tampakkan kalau saya sedih, nanti kodong keluarga yang lain bertambah lagi bebannya kalau begitu. Paling juga kalau saya ingat bapak saya langsung pergi dari rumah, apakah itu ke sawah, kebun, atau putar-putar di sekitar sini. Yang penting jangan sampai diliatlah kalo saya sedih.” (W8.17.97)

c. Pengaruh kematian terhadap diri subjek

Para subjek tidak merasa kaget lagi ketika almarhum meninggal karena mereka telah tahu kondisi almarhum, karena itu, kematian almarhum tidak terlalu berpengaruh pada ketiga subjek.

YR yang memang sudah berusia lanjut menyadari bahwa ia pun mungkin tak lama lagi meninggal sehingga keseluruhan peristiwa kematian ini tidak terlalu berpengaruh pada kehidupan YR.

“Tidak sedihji, ya mungkin sedikit, tapi dak sampai lama-lama. Kami memang saling baku dekat rumahnya, tapi sejak almarhum sakit-sakit saya juga sudah jarang ketemu, apalagi saya sering dibawa anak saya tinggal di rumahnya di Rantepao, jadi sudah jarang sekali juga ketemu sama almarhum.” (W9.15.100)

“Tidak terlalu berpengaruh, ya….biasa-biasa saja.” (W9.16.100)

Hal yang serupa dialami oleh MK. Meskipun bersedih, namun aktivitasnya sama sekali tidak terganggu dengan kesedihan yang ia rasakan. Ia tetap mengerjakan tugasnya sehari-hari dengan biasa, selain juga mengurus mayat almarhum di rumahnya.

“Dak terlalu berpengaruh. Saya masih tetap kerja di rumah kok seperti biasa, yang dirasa lain ya karna om ini sudah tidak ada. Biasanya pagi-pagi sudah duduk minum kopi depan rumah, sekarang ya sudah tidak ada lagi.” (W7.18.94)

d. Perasaan selama persiapan upacara

Persiapan yang dikerjakan oleh pihak keluarga serta kedatangan keluarga lain membuat pemikiran mereka bisa teralihkan.

MK tidak lagi berduka karena almarhum sendiri sudah lama meninggal, sementara ia harus memikirkan banyak hal sehubungan dengan persiapan upacara kematian ini.

“Sudah biasa-biasa, kan sudah lama meninggalnya. Sudah banyak sekali apa dipikirkan juga.” (W7.25.95)

Selama persiapan upacara ini, kesedihan yang dirasakan IA juga sudah banyak berkurang. Ia senang atas pertemuannya dengan keluarga-keluarga yang datang dari jauh, selain karena menjadi sumber penghiburan tersendiri, belum tentu mereka bisa bertemu lagi dalam waktu dekat.

“Masih sering ingat bapak, tapi sudah tidak sedihmi lagi, kan sudah agak lamami berlalu. Ada rasa terbeban juga kalo mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan lagi untuk pesta ini. Senang juga ada, karna ada keluarga yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ketemu akhirnya ketemu di acara ini. Jadi ya…campur-campurlah…” (W8.25.98)

e. Perasaan selama upacara Rambu Solo’ berlangsung

Upacara ini dianggap sebagai kesempatan terakhir bagi pihak keluarga dan kerabat untuk memberikan penghormatan kepada almarhum, sehingga sebisa mungkin mereka tidak menampakkan kesedihan mereka di muka umum.

Selama upacara, kesibukan yang dialami MK membuatnya terkadang lupa bahwa ia sedang berada dalam suasana dukacita, yang dipikirannya hanya apakah segala yang dibutuhkan oleh para tamu telah tersedia dengan baik, sehingga rasa sedih itu sama sekali tidak dirasakannya.

“Sangat menolong mengurangi kesedihan, karna kesibukan mengurus mungkin, sampai-sampai kadang-kadang kita itu dak ingat kalo kita dalam upacara duka, yang ada di pikiran itu apakah sudah dikasi makan ini orang-orang, sudahmi kah minum, ya semua itu.” (W7.27.95)

Hal serupa juga dialami IA yang hampir selalu terlihat gembira selama upacara ini. Ia juga bersikap demikian untuk menghormati orang-orang yang datang untuk melihat almarhum dan memberikan penghormatan terakhir mereka. Namun ada hal yang sedikit mengganggu subjek, yakni masalah hutang keluarga yang harus dilunasi setelah upacara ini dilaksanakan.

“Kalo skarang, perasaan ya masih ada kesedihan, jelas itu masih, masih ada. Tapi kalo umpamanya kita ketemu keluarga yang jauh datang, kayak keluarga-keluarga kita itu, kayaknya kesedihan itu agak terhibur kita. Tapi ada lagi yang mengganggu, pusing juga dipikir lagi ini hutang-hutang yang harus dilunasi nantinya.” (W8.26.98)

“Membantu dalam mengurangi kesedihan, karna kita masih apa ya…masih ‘dikasi’ kesempatan untuk penghormatan terakhir buat bapak, tidak langsung dikubur begitu saja. Ada waktu beberapa hari bagi orang lain yang kenal sama bapak untuk liat bapak, perhatikan mayatnya, ya begitulah..” (W8.27.98)

Dokumen terkait