BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.5. Analisa Pengaruh Langsung Antar Variabel
Setelah melakukan uji model fit dan kriteria yang didapat telah fit, langkah selanjutnya yang dilakukan penulis adalah melihat nilai dari masing-masing koefisien yang memberikan dampak langsung antar variabel penelitian yang sebelumnya telah di uji oleh penulis. Penjelasan terkait nilai koefisien antar variabel tersebut dijelaskan pada tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 4.6. Koefisien Dampak Langsung Antar Variabel
Dampak Koefisien S.E T-value P-value
Keterangan:
(*) = Signifikan (P-Value <0.05) WFA : Workforce Agility
IWB : Innovative Work Behavior
INCSTR : Increasing Structural Job Resources DECHJD : Decreasing Hindering Job Demands INCSOC : Increasing Social Job Resources INCCJD : Increasing Challenging Job Demands USIA : Usia
GENDER : Jenis Kelamin MASA : Lama Bekerja
Dari tabel 4.6 dapat dipahami bahwa hasil pengaruh langsung antar variabel penelitian adalah sebagai berikut:
1. Enterprise social media sebagai variabel moderator memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.030 dan P-valuenya sebesar 0.454 (p<0.05).
Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa enterprise social media tidak signifikan terhadap workforce agility, hal ini juga dapat dilihat dari T-value ESM yaitu sebesar 0.749 (p>1.96).
2. Innovative work behavior sebagai variabel independen dalam penelitian ini memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.520 dan P-valuenya sebesar 0.000 (p<0.05). Nilai koefisien sebesar 52% menunjukkan bahwa IWB berpengaruh terhadap workforce agility dan signifikan, hal ini dapat dilihat melalui besaran T-value yaitu 11.866 (p>1.96). Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa IWB sebagai IV memberikan pengaruh secara langsung terhadap workforce agility tanpa melalui variabel moderator.
3. Increasing structural job resources yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan
ESM →MASA -0.065 0.076 -0.855 0.393
yang positif yaitu sebesar 0.200 dan P-value sebesar 0.000 (p<0.05).
Berdasarkan hasil koefisien tersebut dapat diketahui bahwa INCSTR berpengaruh terhadap workforce agility sebesar 20% dan nilai tersebut dapat dikatakan signifikan. Hal ini dapat dilihat juga dari besaran T-value sebesar 4.422 (p>1.96), nilai ini menunjukkan bahwa INCSTR sebagai IV memberikan pengaruh secara langsung terhadap workforce agility tanpa melalui variabel moderator.
4. Decreasing hindering job demands yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.100 dan P-value sebesar 0.022 (p<0.05).
Berdasarkan hasil koefisien tersebut dapat diketahui bahwa INCSTR berpengaruh terhadap workforce agility sebesar 10% dan nilai tersebut dapat dikatakan signifikan. Hal ini dapat dilihat juga dari besaran T-value sebesar 2.290 (p>1.96), nilai ini menunjukkan bahwa DECHJD sebagai IV memberikan pengaruh secara langsung terhadap workforce agility tanpa melalui variabel moderator.
5. Increasing social job resources yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.107 dan P-value sebesar 0.026 (p<0.05).
Berdasarkan hasil koefisien tersebut dapat diketahui bahwa INCSTR berpengaruh terhadap workforce agility sebesar 10,7% dan nilai tersebut dapat dikatakan signifikan. Hal ini dapat dilihat juga dari besaran T-value sebesar 2.231 (p>1.96), nilai ini menunjukkan bahwa INCSOC sebagai IV
memberikan pengaruh secara langsung terhadap workforce agility tanpa melalui variabel moderator.
6. Increasing challenging job demands yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.010 dan P-value sebesar 0.834 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa INCCJD tidak signifikan terhadap workforce agility, hal ini juga dapat dilihat dari T-value INCCJD yaitu sebesar 0.209 (p>1.96).
7. Usia yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan negatif sebesar -0.069 dan P-value sebesar 0.213 (p<0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa usia Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa usia tidak signifikan terhadap workforce agility, hal ini juga dapat dilihat dari T-value usia yaitu sebesar -1.244 (p>1.96).
8. Jenis Kelamin/gender yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan negatif sebesar -0.038 dan P-value sebesar 0.311 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa gender tidak signifikan terhadap workforce agility, hal ini juga dapat dilihat dari T-value gender yaitu sebesar -1.012 (p>1.96).
9. Lama bekerja/masa yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan positif sebesar 0.111 dan P-value sebesar 0.041 (p<0.05). Berdasarkan hasil tersebut
dapat diketahui bahwa masa berpengaruh secara positif terhadap workforce agility sebesar 11,1% dan signifikan, hal ini dapat dilihat dari besaran T-value masa yaitu sebesar 2.045 (p>1.96). Maka dari itu, dapat diketahui bahwa masa secara langsung mempengaruhi workforce agility secara negatif tanpa melalui variabel moderator.
10. Innovative work behavior sebagai variabel independen dalam penelitian ini memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.194 dan P-valuenya sebesar 0.002 (p<0.05). Nilai koefisien sebesar 19,4% menunjukkan bahwa IWB berpengaruh terhadap enterprise social media dan signifikan, hal ini dapat dilihat melalui besaran T-value yaitu 3.044 (p>1.96). Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa IWB sebagai IV memberikan pengaruh secara langsung terhadap enterprise social media.
11. Increasing structural job resources yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.097 dan P-value sebesar 0.121 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa INCSTR tidak signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari T-value INCSTR yaitu sebesar 1.549 (p>1.96).
12. Decreasing hindering job demands yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.056 dan P-value sebesar 0.356 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa DECHJD tidak
signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari T-value DECHJD yaitu sebesar 0.923 (p>1.96).
13. Increasing social job resources yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan positif, yaitu sebesar 0.169 dan P-valuenya sebesar 0.010 (p<0.05). Nilai koefisien sebesar 16,9% menunjukkan bahwa INCSOC berpengaruh terhadap enterprise social media dan signifikan, hal ini dapat dilihat melalui besaran T-value yaitu 2.574 (p>1.96). Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa INCSOC sebagai IV memberikan pengaruh secara langsung terhadap enterprise social media.
14. Increasing challenging job demands yang merupakan dimensi dari variabel independen, job crafting, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.038 dan P-value sebesar 0.553 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa INCCJD tidak signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari T-value INCCJD yaitu sebesar 0.593 (p>1.96).
15. Usia yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan positif, yaitu sebesar 0.137 dan P-value sebesar 0.073 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa usia tidak signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari T-value usia yaitu sebesar 1.793 (p>1.96).
16. Jenis Kelamin/gender yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi dengan muatan yang positif yaitu sebesar 0.058 dan P-value sebesar 0.266 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa gender tidak signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari T-value gender yaitu sebesar 1.113 (p>1.96).
17. Lama bekerja/masa yang merupakan bagian dari variabel independen, demografi, memiliki nilai koefisien regresi yang bermuatan negatif sebesar -0.065 dan P-value sebesar 0.393 (p<0.05). Dari nilai p-value yang >0.05 hal ini dapat disimpulkan bahwa masa tidak signifikan terhadap enterprise social media, hal ini juga dapat dilihat dari Tvalue masa yaitu sebesar -0.855 (p>1.96).
4.6.Analisa Pengaruh Moderasi Pada IWB terhadap WFA dimoderasi oleh ESM
Kemudian, pada subbab ini penulis akan menjelaskan terkait pengaruh secara moderasi dari variabel innovative work behavior terhadap workforce agility melalui variabel moderator penelitian ini yaitu, enterprise social media. Berdasarkan pengujian model yang telah dilakukan didapatkan hasil koefisien RMSEA = 0.000, CI = 0.000 – 0.000 (<0.05), dan probabilitas RMSEA <0.05 = 0.000 dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa model teoritis yang telah diuji fit dengan data kriteria yang ada, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan nilai-nilai dari ketiga koefisien telah terpenuhi. Hasil dari
pengaruh moderasi tersebut dijelaskan pada tabel 4.7, gambar 4.2 dan tabel 4.8 di bawah ini.
Tabel 4.7 Indeks Fit Moderasi Antara IWB dan WFA melalui ESM Indeks Indeks Kesesuaian Indeks Model Evaluasi Model Koefisien RMSEA
Gambar 4.2. Hasil Model Fit IWB Terhadap WFA Dimoderasi ESM Keterangan:
ESM :Enterprise Social Media WFA : Workforce Agility
IWB : Innovative Work Behavior
EIWB : Enterprise Social Media X Innovative Work Behavior
Tabel 4.8 Koefisien Pengaruh Moderasi IWB Dan WFA Dimoderasi ESM
Dampak Koefisien S.E T-Value P-Value
EIWB : Enterprise Social Media X Innovative Work Behavior
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa jalur antara IWB dengan WFA yang adalah sebagai berikut:
1. Jika melihat nilai koefisien dari IWB sebagai variabel independen dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur IWB → ESM → WFA memiliki nilai yang positif, akan tetapi tidak signifikan yaitu (T-Value = 0.950 dan P-Value = 0.342).
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari IWB terhadap WFA yang berarti bahwa Ha3 di tolak.
4.7.Analisa Pengaruh Moderasi Pada JC terhadap WFA dimoderasi oleh ESM
Kemudian, pada subbab ini penulis akan menjelaskan terkait pengaruh secara moderasi dari variabel job crafting terhadap workforce agility melalui variabel moderator penelitian ini yaitu, enterprise social media. Berdasarkan pengujian model yang telah dilakukan didapatkan hasil koefisien RMSEA = 0.000, CI = 0.000 – 0.000 (<0.05), dan probabilitas RMSEA <0.05 = 0.000 dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa model teoritis yang telah diuji fit dengan data kriteria yang ada, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan nilai-nilai dari ketiga koefisien telah terpenuhi. Hasil dari pengaruh moderasi tersebut dijelaskan pada tabel 4.9, gambar 4.3 dan tabel 4.10 di bawah ini.
Tabel 4.9 Indeks Fit Moderasi Antara IWB dan WFA melalui ESM
Indeks Indeks Kesesuaian Indeks Model Evaluasi Model Koefisien RMSEA
Gambar 4.3. Hasil Model Fit JC Terhadap WFA Dimoderasi ESM Keterangan:
ESM :Enterprise Social Media WFA : Workforce Agility
INCSTR : Increasing Structural Job Resources DECHJD : Decreasing Hindering Job Demands INCSOC : Increasing Social Job Resources INCCJD : Increasing Challenging Job Demands
EINC : Enterprise Social Media X Increasing Structural Job Resources EDEC : Enterprise Social Media X Decreasing Hindering Job Demands EINS : Enterprise Social Media X Increasing Social Job Resources EINJ : Enterprise Social Media X Increasing Challenging Job Demands Tabel 4.10 Koefisien Pengaruh Moderasi JC Dan WFA Dimoderasi ESM
Dampak Koefisien S.E T-Value P-Value
incstr→esm→wfa -0.074 0.050 -1.468 0.142
dechjd→esm→wfa 0.031 0.044 0.692 0.489
incsoc→esm→wfa 0.063 0.051 1.241 0.214
inccjd→esm→wfa 0.019 0.044 0.442 0.659
*) = Signifikan (P-Value<0.05) Keterangan:
ESM :Enterprise Social Media WFA : Workforce Agility
INCSTR : Increasing Structural Job Resources DECHJD : Decreasing Hindering Job Demands INCSOC : Increasing Social Job Resources INCCJD : Increasing Challenging Job Demands
Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa jalur antara JC (increasing structural job resources, decreasing hindering job demands, increasing social job resources dan increasing challenging job demands) dengan WFA yang adalah sebagai berikut:
1. Jika melihat nilai koefisien dari increasing structural job resources sebagai dimensi dari job crafting yang merupakan variabel independen lain dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur INCSTR → ESM → WFA memiliki nilai yang negative dan tidak signifikan yaitu T-Value = -1.468 dan P-Value = 0.142.
2. Kemudian, untuk nilai koefisien dari decreasing hindering job demands sebagai dimensi dari job crafting yang merupakan variabel independen lain dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur DECHJD → ESM → WFA memiliki nilai yang positif, akan tetapi tidak signifikan yaitu T-Value = 0.692 dan P-Value = 0.489.
3. Selanjutnya, nilai koefisien dari increasing social job resources sebagai dimensi dari job crafting yang merupakan variabel independen lain dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur INCSOC → ESM → WFA memiliki nilai yang positif, akan tetapi tidak signifikan yaitu T-Value = 1.241 dan P-Value = 0.214.
4. Dan yang terakhir adalah nilai koefisien dari increasing challenging job demands sebagai dimensi dari job crafting yang merupakan variabel independen lain dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur INCCJD → ESM → WFA memiliki nilai yang positif, akan tetapi tidak signifikan yaitu T-Value = 0.442 dan P-T-Value = 0.659.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari JC terhadap WFA yang berarti bahwa Ha4 di tolak.
4.8.Analisa Pengaruh Moderasi Pada Variabel Demografi terhadap WFA dimoderasi oleh ESM
Kemudian, pada subbab ini penulis akan menjelaskan terkait pengaruh secara moderasi dari variabel demografi terhadap workforce agility melalui variabel moderator penelitian ini yaitu, enterprise social media. Berdasarkan pengujian model yang telah dilakukan didapatkan hasil koefisien RMSEA = 0.000, CI = 0.000 – 0.000 (<0.05), dan probabilitas RMSEA <0.05 = 0.000
dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa model teoritis yang telah diuji fit dengan data kriteria yang ada, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan nilai-nilai dari ketiga koefisien telah terpenuhi. Hasil dari pengaruh moderasi tersebut dijelaskan pada tabel 4.11, gambar 4.4 dan tabel 4.12 di bawah ini.
Tabel 4.11 Indeks Fit Moderasi Antara Variabel Demografi dan WFA melalui ESM
Indeks Indeks Kesesuaian Indeks Model Evaluasi Model Koefisien RMSEA
Gambar 4.4. Hasil Model Fit Variabel Demografi Terhadap WFA Dimoderasi ESM
Keterangan:
ESM :Enterprise Social Media WFA : Workforce Agility USIA : Usia
GENDER : Jenis Kelamin MASA : Lama Bekerja
EUSI : Enterprise Social Media X Usia EGEN : Enterprise Social Media X Gender EMAS : Enterprise Social Media X Masa
Tabel 4.12 Koefisien Pengaruh Moderasi Variabel Demografi Dan WFA Dimoderasi ESM
Berdasarkan tabel 4.12 dapat diketahui bahwa terdapat jalur antara variabel demografi (usia, jenis kelamin dan lama bekerja) dengan WFA yang adalah sebagai berikut:
1. Jika melihat nilai koefisien dari usia sebagai salah satu bagian dari variabel demografi dalam penelitian ini ternyata memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM.
Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur USIA → ESM
→ WFA memiliki nilai yang positif dan signifikan yaitu 0.008 (T-Value = 2.636 dan P-Value = 0.008).
2. Selanjutnya, untuk nilai koefisien dari jenis kelamin/gender sebagai salah satu bagian dari variabel demografi dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur
GENDER → ESM → WFA memiliki nilai yang positif, akan tetapi, tidak signifikan yaitu T-Value = 0.024 dan P-Value = 0.981.
3. Kemudian yang terakhir adalah nilai koefisien dari lama bekerja/masa sebagai salah satu bagian dari variabel demografi dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap WFA secara moderasi melalui variabel moderator yaitu ESM. Karena setelah dilakukan uji signifikansi, didapatkan jalur MASA → ESM → WFA memiliki nilai yang negatif dan tidak signifikan yaitu T-Value = -1.305 dan P-Value = 0.192.
Meskipun terdapat usia sebagai salah satu bagian dari variabel demografi yang memberikan pengaruh secara signifikan terhadap WFA, akan tetapi, kedua bagian lain dari variabel demografi tidaklah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap WFA. Maka dari itu, dapat diketahui dan disimpulkan tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel demografi terhadap WFA yang berarti bahwa Ha5 di tolak.
106 BAB 5
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Pada subbab ini akan dijelaskan terkait kesimpulan dari penelitian yang telah di dapat berdasarkan hasil uji hipotesis penelitian. Hasil uji hipotesis menjukkan bahwa terdapat pengaruh dari innovative work behavior, job crafting dan variabel demografi terhadap workforce agility yang dimoderatori oleh enterprise social media dapat di dterima karena berdasarkan uji model path analysis di dapatkan gambar yang fit. Hal ini didapatkan berdasarkan hasil analisis Structural Equation Modeling (SEM) sebagai bagian dari analisis jalur. Berdasarkan penjelasan dari bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan terkait penelitian ini selain penjelasan di awal subbab ini adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan pengujian jalur didapatkan hasil bahwa variabel innovative work behavior tidak memiliki pengaruh terhadap workforce agility yang dimoderatori penggunaan enterprise social media.
2. Selanjutnya, hasil terkait variabel job crafting didapatkan hasil bahwa job crafting tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap workforce agility yang dimoderatori penggunaan enterprise social media.
3. Kemudian, hasil terkait variabel demografi menunjukkan bahwa usia sebagai salah satu bagian dari variabel demografi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap workforce agility melalui moderasi penggunaan enterprise social media dengan nilai T-Value = 2.636 dan
P-Value sebesar 0.008. Akan tetapi, kedua bagian lain daro variabel demografi, yaitu gender dan masa tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap workforce agility melalui moderasi enterprise social media. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa variabel demografi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap workforce agility yang dimoderatori enterprise social media.
4. Hasil penelitian terkait penggunaan enterprise social media sebagai variabel moderator terhadap workforce agility diketahui bahwa ESM tidak memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap WFA.
5. Hasil penelitian variabel penggunaan enterprise social media memiliki dampak langsung terhadap variabel innovative work behavior dan salah satu dimensi dari job crafting yaitu INCSOC. Pada variabel innovative work behavior memiliki pengaruh positif dan signifikan (T-Value = 3.044dan P-Value = 0.002) dan untuk dimensi dari job crafting, INCSOC memiliki pengaruh yang positif dan signifikan (T-Value = 2.574 dan P-Value = 0,010).
5.2. Diskusi
Penulis melakukan penelitian ini karena bertujuan untuk melihat apakah model workforce agility yang diteorikan telah sesuai dengan hasil data penelitian dan berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa model tersebut telah sesuai dengan data yang ada. Dalam hal ini, penulis menggunakan beberapa variabel yang diprediksi akan memberikan pengaruh terhadap workforce agility atau biasa disebut independent variable, dalam penelitian ini penulis juga menggunakan
variabel moderator guna melihat pengaruh yang diberikan IV terhadap DV dalam penelitian ini. Adapun variabel-variabel tersebut yaitu innovative work behavior, job crafting (increasing structural job resources, decreasing hindering job demands, increasing social job resources dan increasing challenging job demands) dan variabel demografi melalui moderasi enterprise social media.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa tidak ada variabel yang memberikan pengaruh signifikan terhadap workforce agility melalui moderasi enterprise social media.
Tahapan selanjutnya yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melihat besaran pengaruh langsung dari masing-masing variabel terhadap workforce agility yang didapatkan hasil bahwa innovative work behavior, increasing structural job resources, decreasing hindering job demands, increasing social job resources dan masa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap workforce agility. Penulis juga melihat pengaruh langsung dari variabel moderator enterprise social media terhadap IV yang didapatkan hasil bahwa innovative work behavior dan increasing structural job resources sebagai IV memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan enterprise social media.
Studi ini berfokus dari beberapa teori dari masing-masing variabel dalam penelitian. Pertama-tama penulis menggabungkan studi independen tentang workforce agility, innovative work behavior, job crafting, penggunaan enterprise social media dan variabel demografi. Kedua, penelitian ini menerapkan teori dari ESM untuk menjelaskan efek yang diberikan IWB, JC dan variabel demografi terhadap WFA. Kemudian yang ketiga, penelitian ini menggunakan hasil dari
studi lapangan terkait penerapan IWB, JC dan variabel demografi yang dimoderasi ESM terhadap WFA. Dalam hal ini penulis meyakini bahwa penggunaan ESM dinilai dapat menjadi alat penting guna memfasilitasi WFA melalui peningkatan komunikasi dan juga kolaborasi. Karena ESM dinilai dapat mengembangkan manajemen pengetahuan, berbagi informasi dan pemecahan masalah dari diri karyawan yang dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dalam konteks penggunaan ESM terhadap diri karyawan guna membangun WFA menyebutkan bahwa ESM memberikan hasil yang baik terhadap WFA. Salah satu hasil penelitian yang menjelaskan hal tersebut adalah hasil penelitian Wei et al., 2020, mereka menyebutkan bahwa setiap individu dengan kefasihan digital dapat secara efisien menggunakan beberapa fungsi teknologi ESM dan merumuskan kembali meta-pengetahuan. Akan tetapi, berdasarkan hasil di lapangan terkait penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ESM tidak memberikan pengaruh yang signifikan dari IWB, JC dan juga variabel demografi terhadap WFA.
Hasil penelitian ini senada dengan yang dijelaskan oleh Chen & Wei, 2019, mereka menjelaskan bahwa penggunaan ESM akan membuat kelebihan beban yang menghasilkan ketegangan dari ESM pada pelaksanaan kerja karyawan. Mereka menjelaskan bahwa fokus pada penggunaan ESM dalam penelitian terlalu membatasi para peneliti dalam menilai kinerja dari karyawan di suatu perusahaan. Karena menurut mereka penilaian terhadap penggunaan media sosial eksternal juga perlu untuk ditinjau kembali, karena dalam bertukar
informasi para karyawan juga menggunakan media sosial eksternal seperti instagram, we-chat dan juga facebook.
informasi para karyawan juga menggunakan media sosial eksternal seperti instagram, we-chat dan juga facebook.