• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.2. Innovative Work Behavior

2.2.1. Definisi Innovative Work Behavior

Revolusi industri 4.0 membuat lingkungan dunia bisnis saat ini menjadi sangat dinamis karena pada era ini setiap perusahaan dituntut untuk bergerak cepat. Dalam menanggapi perubahan lingkungan ini perusahaan dituntut untuk terus melakukan inovasi bagi perusahaannya agar dapat tetap bertahan di dunia bisnis ini. Perusahaan juga dinilai tidak bisa hanya mengandalkan culture yang sudah lama terdapat di perusahaan, mereka harus melakukan inovasi terhadap culture tersebut akan tetapi, tidak menghilangkan apa yang menjadi value dari perusahaan. Kemudian, sebagai penggerak inovasi di perusahaan karyawan juga

dituntut untuk memiliki innovative work behavior yang dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuan dan juga membantu perusahaan untuk dapat bertahan di dunia bisnis. Hal tersebut dilakukan para karyawan juga guna mempertahankan eksistensinya di perusahaan tersebut.

Scott dan Bruce, (1994) menyebutkan bahwa innovative work behavior berangkat dari pemahaman terkait inovasi individu itu sendiri terhadap pekerjaan dan organisasinya. Pemahaman terkait inovasi individu dimulai dengan pengenalan masalah dan generasi ide atau solusi, baik yang baru maupun yang diadopsi. Maka dari itu, inovasi dipandang sebagai proses dengan berbagai tahapan yang didalamnya terdapat aktivitas yang berbeda serta perilaku individu yang berbeda di setiap tahapnya. Inovasi ini sebenarnya terjadi karena aktivitas yang tidak berkesinambungan dengan tahapan berurutan, dalam hal ini individu dapat terlibat dalam pembentukan kombinasi apapun dari perilaku pada satu waktu. (Scott & Bruce, 1994).

Menurut West dan Farr dalam De Spiegelaere et al., (2014) innovative work behavior didefinisikan sebagai semua perilaku karyawan yang diarahkan pada pembuatan, pengenalan ataupun penerapan terkait peran, kelompok atau organisasi, yang meliputi ide, proses, produk atau prosedur, baru untuk unit adopsi yang relevan. Definisi ini membatasi perilaku inovatif pada upaya yang disengaja untuk memberikan hasil baru yang memberikan manfaat bagi organisasi (Janssen, 2000). Kemudian, definisi innovative work behavior juga disebutkan oleh Kleysen, (2001) sebagai tindakan yang dilakukan oleh individu karena terjadinya kemunculan, pengenalan serta penerapan ide-ide baru yang dinilai

menguntungkan organisasi di berbagai tingkatan (Kleysen & Street, 2001). Maka dari itu, innovative work behavior dianggap sebagai sebuah perilaku yang memberikan manfaat bagi sebuah organisasi (De Spiegelaere et al., 2014).

Yuan & Woodman, (2010) menyebutkan bahwa innovative work behavior merupakan niat dari karyawan untuk membuat, memperkenalkan serta menerapkan ide-ide baru yang mereka miliki dalam kelompok atau organisasi tempat mereka bekerja, yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan kinerja dari kelompok ataupun organisasinya. Innovative work behavior juga didefinisikan sebagai suatu perilaku kompleks yang terdiri dari tiga tugas berbeda, yaitu:

pembentukan ide, promosi ide serta realisasi ide. Innovative work behavior dimulai dengan pembuatan ide, atau produksi ide atau solusi baru, yang dapat berupa orisinal atau diadaptasi dari produk atau proses yang ada (Fang et al., 2015).

Innovative work behavior adalah semua perilaku karyawan yang diarahkan pada pembuatan, pengenalan atau penerapan ide, proses, produk atau prosedur, baru untuk unit adopsi yang relevan yang seharusnya secara signifikan menguntungkan unit yang relevan (De Spiegelaere et al., 2012). Janssen, (2000), menyebutkan bahwa innovative work behavior merupakan hasil dari kreatifitas yang sengaja dilakukan oleh karyawan, pengenalan dan penerapan ide-ide baru dalam peran kerja, pada kelompok ataupun organisasi tempat mereka bekerja dengan tujuan memberikan manfaat pada kinerja peran, kelompok atau organisasi.

Selanjutnya, Yuan dan Woodman, (2010), mengkonseptualisasikan innovative work behavior sebagai perilaku kompleks yang terdiri dari kegiatan yang

berkaitan dengan pengenalan ide-ide baru (baik itu yang didapat dari diri sendiri ataupun diadopsi dari pemahaman orang lain) serta merealisasikan atau mengimplementasikan ide-ide baru tersebut. Dalam hal ini, pelaksanaan innovative work behavior dinilai akan memberikan keuntungan bagi kelompok ataupun perusahaaan.

De Jong & Den Hartog, (2010), mendefinisikan innovative work behavior sebagai suatu perilaku individu yang mengarah pada peran kerja, proses, produk, atau prosedur baru yang bermanfaat. Lebih lanjut lagi, De Jong & Den Hartog, (2010), memandang innovative work behavior sebagai suatu 'kesediaan' dari seorang karyawan untuk mengembangkan inovasi. Istilah kesediaan disini merujuk pada sikap atau niat karyawan lebih dari perilaku karyawan yang efektif.

Selanjutnya Carmeli dkk, dalam De Spiegelaere et al., (2014) mendeskripsikan innovative work behavior mengacu pada berbagai aktivitas yang dapat dimasukkan sebagai perilaku yang inovatif dari diri karyawan. Definisi ini membicarakan tentang bagaimana menghasilkan dan mengembangkan ide, menemukan dukungan dan implementasi inovasi yang efektif di tempat kerja.

Carmeli dkk, juga menyebutkan secara jelas terkait maksud dari adanya inovasi untuk berkontribusi pada kinerja organisasi. Sebaliknya, definisi ini sangat menyarankan bahwa satu karyawan harus bertanggung jawab atas semua fase inovasi (De Spiegelaere et al., 2014).

Definisi innovative work behavior disebutkan oleh Tuominen dan Toivonen adalah seluruh kegiatan yang bertujuan untuk berkontribusi pada penciptaan dan pemanfaatan hal-hal baru yang bermanfaat bagi kelompok ataupun

perusahaan. Pengertian ini menghilangkan ketergantungan akan hasil dari definisi innovative work behavior dengan menyatakan bahwa dalam penerapannya innovative work behavior perlu fokus pada hal-hal baru yang positif. Akan tetapi, definisi ini memiliki satu kelemahan kecil yaitu definisi ini tidak secara jelas menunjukkan bahwa inovasi yang dilakukan oleh karyawan harus selalu baru untuk konteks tertentu (Spiegelaere, n.d.).

Innovative work behavior berkaitan dengan bagaimana karyawan menemukan, menyarankan dan menerapkan ide-ide baru yang bermanfaat dengan pekerjaan mereka (De Spiegelaere et al., 2014). Kemudian, innovative work behavior dinilai sebagai niat dari suatu individu untuk menciptakan, memperkenalkan serta menerapkan ide-ide baru yang dimilikinya dengan tujuan untuk mengoptimalkan kinerja dari kelompok dan juga organisasi. Singkatnya innovative work behavior merupakan niat dari suatu individu yang diekspresikan dalam pekerjaan terhadap kelompok dan juga organisasi mereka. Dalam penerapannya innovative work behavior merupakan suatu kondisi yang dapat diciptakan oleh setiap individu yang ada, karena setiap individu memiliki potensi untuk berinovasi terkait pekerjaannya yang dibantu dengan iklim dan lingkungan organisasi yang memadai.

Innovative work behavior dapat dibedakan dari konsep seperti kreativitas karyawan karena dua alasan utama, yaitu kreativitas berfokus secara eksklusif pada fase 'idea generation’, karena innovative work behavior mencakup semua perilaku karyawan yang berkaitan dengan proses inovasi itu. Selanjutnya, kreativitas secara umum mengacu pada penciptaan sesuatu yang 'benar-benar

baru', dalam hal ini innovative work behavior berfokus pada sesuatu yang baru, untuk unit adopsi yang relevan (Spiegelaere et al., 2015).

Singkatnya innovative work behavior berkaitan dengan bagaimana suatu perusahaan dalam menemukan, menyarankan dan menerapkan ide-ide baru yang mereka miliki dan memberikan manfaat bagi pekerjaan mereka. Penelitian ini menggunakan pemahaman innovative work behavior yang di teliti dan dikembangkan oleh De Jong & Den Hartog karena dinilai lebih sesuai dengan keadaan tenaga kerja saat ini. Dalam menemukan ide-ide baru yang berkaitan dengan pekerjaan mereka para tenaga kerja harus melalui beberapa tahapan untuk dapat mengimplementasi suatu ide yang mereka miliki.