BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL
2. Analisi Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Secara umum, studi komunikasi yang ada di Indonesia, mengambil tiga paradigma, yaitu paradigma positivis, konstruktivis, dan kritis. Paradigma positivis beranggapan bahwa media itu netral. Tidak ada kepentingan apapun dari sebuah media dalam menyampaikan berita, karena media massa adalah sebagai penyambung antara peristiwa kepada masyarakat.
Berbeda dengan pandangan positivis, penganut paham konstruktivis menentang kaum positivis. Paradigma konstruktivis menganggap media tidak netral. Alasannya, tidak semua realitas sosial dapat disampaikan media. Dari realitas itu, media memiliki sudut pandang sendiri atas apa yang dilihatnya, sehingga muncul kepada khalayak.
6 Mosco,
The Political of Communication, h. 215-216.
7
Merasa kurang sempurna, paradigma kritis memperbaiki pandangan konstruktivis. Paradigma kritis juga mengakui bahwa media itu tidak netral. Menurut paham kritis, selain media punya sudut pandangnya sendiri mengenai sebuah peristiwa, media juga memiliki kepentingan terhadap apa yang disampaikan. Kepentingan itu dapat berupa ekonomi maupun politik.
Konstruksionisme menjelaskan bahwa konstruksionis merupakan proses kerja kognitif individu di mana terjadi hubungan sosial antara individu dengan orang lain atau lingkungannya. Proses inilah yang menafsirkan realitas. Realitas tersebut kemudian dibentuk sendiri oleh pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya oleh masing-masing individu. Piaget menyebut kemampuan ini sebagai skema atau skemata dalam yang berarti suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya.8
Berdasarkan pernyataan tersebut, setiap orang memiliki pandangannya sendiri mengenai peristiwa yang dilihatnya. Jika orang pertama melihat banjir sebagai bencana alam dan sudah diatur oleh Tuhan dan orang kedua memandang bahwa banjir bisa dicegah karena itu merupakan ulah manusia, pendapat keduanya benar.
Mungkin saja orang yang menganggap bencana alam itu merupakan orang yang agamis sudah terpengaruh oleh ajaran agama kemudian menyerahkan segalanya pada Tuhan dan orang kedua memiliki pemikiran yang lebih terbuka sehingga memiliki pola pikir lebih jauh mengenai peristiwa banjir.
8 Paul Suparno,
Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Pustaka Filsafat, 2007), h.
Realitas ada karena hasil interpretasi dari masing-masing individu melihat suatu peristiwa. Schutz mengatakan tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti.9
Margaret M. Poloma mengutip pendapat Berger dan Luckmann memiliki gagasan yang bertumpu pada makna realitas dan pengetahuan. Kenyataan merupakan suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan). Pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik.10
Konstruksi realitas yang dihasilkan individu tersebut menjadi sebuah realitas sosial. Proses ini terjadi atas pengaruh eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Realitas sosial berawal dari pengaruh kuat dari satu individu kepada orang lain. Orang yang terpengaruh oleh kenyataan ini, lalu meyakininya menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran oleh banyak orang ini kemudian menjadi realitas sosial yang diyakini masyarakat pada daerah tersebut.
Burhan Bungin mengambil pendapat Berger dan Luckman dengan mendefinisikan eksternalisasi sebagai proses penyesuaian diri individu terhadap dunia sosiokulturalnya.11 Eksternalisasi masuk ke dalam kognisi setiap individu
9
George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 59.
10
Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 1.
11
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklak Televisi, dan Keputusan Konsimen serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas
secara aktif maupun pasif. Proses yang terjadi secara terus-menerus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pengetahuan bersama.
Pengetahuan bersama ini bersifat subyektif yang kemudian terjadi berulang-ulang lalu mengendap sehingga menjadi akumulasi terhabitualisasi. Habitualisasi membentuk produk sosial yang nantinya akan diwariskan. Dengan kata lain, manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi.12
Proses objektivasi pada tahap pertama disebut sebagai institusionalisasi dan kedua merupakan legitimasi.13 Institusi merupakan buah pikiran manusia kepada kehidupannya yang mengalir secara absurd. Ketidakjelasan ini diartikan sebagai kekacauan karena terbatasnya makna yang dimiliki masing-masing individu.
Institusi yang diwariskan ke setiap individu tidak bersifat statis atau tanpa perubahan. Hal ini karena sifat manusia yang ingin tahu yang kemudian mempertanyakan warisan itu. Pertanyaan itu membutuhkan legitimasi yang merupakan tahap objektivasi tahap kedua. Legitimasi meletakkan penjelasan berdasarkan pembuktian logis atas relevansi dari sebuah institusi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.14
Internalisasi ada atas ciptaan individu itu sendiri yang manafsirkan realitas objektif secara subjektif. Penafsiran tersebut disebar dalam bentuk sosialisasi kepada orang sekitar. Tahap sosialisasi dapat berlangsung secara primer ataupun sekunder.
12
Poloma, Sosiologi Kontemporer, h. 302.
13
Geger Riyanto, Peter L. Berger: Perspektif Metateori Pemikiran (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2009), h. 117.
14
Sosialisasi primer berlangsung pada masa anak-anak dengan hubungan emosional sangat tinggi yang tidak hanya menimbulkan proses belajar mengenal lingkungan secara kognitif saja. Sedangkan sosialisasi sekunder memurut Berger dan Luckmann dikatakan bahwa tanpa mempertimbangkan dimensi lainnya. Sosialisasi sekunder dapat dikatakan sebagai proses memperoleh pengetahuan khusus sesuai dengan perannya di mana peran-peran secara langsung atau tidak langsung berakar dalam pembagian kerja.15
Pada proses konstruksi dalam sebuah media, ada penelitian yang disebut analisis framing. Analisis framing merupakan penonjolan sebuah peristiwa yang dilihat oleh seorang wartawan yang berkerja pada media massa. Salah satu orang yang mendalami analisis framming adalah Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Eriyanto mengutip pernyataan Pan dan Kosicki bahwa ada dua konsepsi framming yang saling berkaitan, yaitu konsepsi psikologi dan sosiologis. Konsep psikologi lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Sedangkan konsep sosiologi lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas.16
15
Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, h. 21.
16 Eriyanto,
Analisis Framming; Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta:
Tabel 1 Analisis framing metode Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki 17
Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan. Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa,
17
klausa, dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Klausa adalah satuan gramatika yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat dan berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat.18
Pada konteks berita, sistaksis dapat dilihat dari kerangka penulisan berita yang dinamakan piramida terbalik. Dalam konsep itu sesuatu hal yang paling penting diletakkan pada bagian awal paragraf. Semakin berlanjut ke paragraf selanjutnya, semakin tidak penting. Proses ini akan terlihat peristiwa apa yang lebih ingin ditonjolkan oleh wartawan.
Skrip merupakan kelengkapan dalam menulis berita. Kelengkapan di sini adalah pada penulisan 5W+1H karena berita yang baik adalah yang tidak membuat pembaca bertanya-tanya. Agar tak terjadi hal tersebut, maka penulisan 5W+1H sangat penting dalam penulisan berita.
Penulisan salah satu 5W+1H yang didahulukan, akan terlihat peristiwa apa yang lebih ditonjolkan wartawan. Apakah itu kronologisnya, ataukah kenapa peristiwa itu bisa terjadi, atau siapa orang yang terlibat pada peristiwa itu dapat dilihat poin manakah yang lebih awal diceritakan oleh wartawan.
Tematik dapat dikatakan seperti sebuah tema dalam sebuah peristiwa. Perangkat yang diamati dalam sebuah tematik ini adalah koherensi atau pertalian antarkata.19 Koherensi merujuk pada sebuah kejadian yang diceritakan secara runtut. Oleh karena itu, tidak boleh ada penulisan peristiwa yang penting dalam koherensi sebuah berita.
18 Zaenal Arifin dan Junaiyah,
Sintaksis (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 1-2.
19
Prinsip koherensi merupakan standar penting dalam menilai rasionalitas naratif yang akhirnya akan menentukan apakah seseorang menerima naratif itu atau menolaknya. Koherensi merujuk pada konsistensi internal dari sebuah naratif.20
Retoris dalam sebuah pemberitaan lebih bagaimana cara wartawan menekankan fakta. Penggunaan bahasa yang digunakan salah satu upaya dalam retoris. Pembantantaian dan pembunuhkan memiiki arti yang sama, tapi memiliki makna dengan konteks yang berbeda.
Selain menggunakan kata, retoris juga muncul dalam sebuah grafik atau gambar. Grafis dibuat sebagai pendukung dari tulisan yang ingin ditonjolkan. Saat wartawan ingin memberitakan peristiwa yang mencekam, foto berita yang tampilkan dapat membantu pembaca menggambarkan sejauh mana peristiwa itu begitu mencekam.
Selain gambar, pengunaan huruf dengan cetak tebal dan pemberian warna juga mempengaruhi penekanan berita. Hal mempengaruhi kognitif seorang pembaca saat melihat sebuah tulisan yang berbeda dengan tulisan lain. Elemen seperti itu mengontrol ketertarikan dan perhatian secara intensif dan menunjukkan kepada pembaca suatu hal yang dipusatkan.21