• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA

2. Analisis praktik wacana

Sebelum menjadi sebuah berita, terjadi sebuah proses yang menghasilkan berita itu sendiri. Proses membuat sebuah isu menjadi layak berita yang dilakukan

Koran Tempo hampir sama dengan media kebanyakan, yaitu melalui rapat redaksi yang dilakukan oleh seluruh awak redaksi.

Pada berita judul Ungkap Pemalak BUMN; Dahlan Percaya Diri ke DPR,

ada tiga penulis, yaitu Martha Thertina, Ananda Putri, Sundatari, dan Sukma. Di berita ini Koran Tempo juga mengambil berita dari Antara.

Berita kedua yang berjudul Dahlan Hendak Disingkirkan, wartawannya adalah Ananda Putri, Aryani Kristanti, Indira Wijaya, Ayu Prima, dan Sukma. Berita ketiga, Pemborosan di PLN; Pemerintah Menilai Keputusan Dahlan Tepat

ada empat penulis. Mereka Bernadette Christina, Wayan Agus Purnomo, Rosalina, dan Dewi Rina.

Berita Dahlan Beberkan Peminta Upeti BUMN penulisnya adalah Rafika

Aulia, Wayan Agus Purnomo, dan Wuragil. Ananda Putri, Budiartie, Satwika, Rofiudin, dan Sukma menulis berita dengan judul Polititus Isyaratkan Tuntut Menteri BUMN. Berita terakhir yang berjudul DPR Serang Balik Dahlan Iskan

ditulis oleh Ira Guslina Sufa dan Ananda Putri.

Koran Tempo juga memperhatikan faktor masyarakat dalam memilih sebuah isu. Hal itu karena bukan hanya anggota DPR atau pengusaha saja yang menjadi pembaca setia Koran Tempo, tapi masyarakat juga. Ketika sebuah isu menarik, tapi tidak terlalu penting dan disukai masyarakat, maka Koran Tempo

tidak menaikkan kasus tersebut. Salah satu informasi yang memudahkan publik untuk memahami sebuah kasus, Koran Tempo memberikan info grafis di halaman utama.

Informasi yang didapat Koran Tempo berasal dari manapun. Wartawan

Koran Tempo menerima kabar sebuah kasus baik dari email, pesan singkat, omongan tokoh, dan lainnya. Dari informasi itu, dicari data lengkapnya, kebenarannya, lalu diajukan dalam rapat redaksi

Saat mengangkat kasus Dahlan Iskan melawa anggota DPR, Koran Tempo

tidak terlalu mengekspos dari sisi kerugian PLN yang dikatakan oleh anggota DPR. Elik Susanto sebagai Redaktur Pelaksana Koran Tempo mengatakan bahwa

Koran Tempo mengangkat kasus kerugian PLN, tapi karena kasus tersebut berasal dari perkataan DPR RI, dia masih ragu dengan kabar tersebut.

“Kita tetap menulis (kerugian PLN), tapi tidak dibesar-besarkan. Menurut saya media itu harus memilih angle yang kira-kira berita yang benar-benar berita, mana berita yang cuma lontaran. Mana berita yang palsu, yang tidak palsu. Kita seletif apalagi dengan DPR. Terus terang banyak publik yang tidak percaya dengan DPR. Kalau liat survei, banyak anggota DPR yang korup, kerjanya melorot, tugas mereka menyusun Undang-Undang juga tidak beres.”46

Alasan Koran Tempo gencar memberitakan anggota DPR suka memeras BUMN adalah Dahlan Iskan yang melontarkan isu tersebut. Itu karena salah satu yang menjadi kriteria layak berita Koran Tempo, yaitu tokoh. Dahlan Iskan merupakan tokoh dalam pemerintahan. Meski anggota DPR juga tokoh pemerintah, Koran Tempo sudah kurang apresiatif dengan mereka, melihat kinerjanya yang kurang baik.

Selain tokoh yang mengangkat kasus itu, ada bukti bahwa anggota DPR melakukan perbuatan curang tersebut. Saat Koran Tempo melakukan wawancara dengan beberapa narasumber, diketahui bahwa BUMN selalu rugi dan tidak pernah untung karena selalu direcoki oleh beberapa anggota DPR. Gangguan tersebut salah satunya dengan meminta jatah kepada perusahaan pelat merah jika perusahaan tersebut ingin berjalan dengan baik.

Meski kasus itu layak menjadi sebuah berita, dalam sidang redaksi terjadi beda pendapat antara yang setuju dengan tidak untuk menaikan kasus tersebut menjadi sebuah berita. Setelah terjadi perselisihan argumen, akhirnya Koran Tempo sepakat menaikkan isu ini menjadi sebuah berita.

“Mereka (yang ada pada rapat redaksi) tentu saja berbeda pendapat. Tidak semuanya sama. ‘Ah Dahlan cuma pencitraan saja. Tidak

46

penting.’ Ada yang bilang seperti itu. Ada yang bilang, ‘Ini serius. Ada dokumennya.’ Ada juga yang bilang, ‘Ah ini data udah lama.’ Setelah kita

kumpulin, kita putusin, ternyata data ini memang ada, peristiwanya juga ada. Kita kroscek dengan direkturnya dan ternyata iya (DPR melakukan pemerasan).”47

Rapat redaksi hanya boleh dilakukan oleh keredaksian. Jika ada bagian lain yang bukan redaksi ingin mengajukan tema bisa saja, tapi tetap masuk pada sidang redaksi. Pengajuan tema dari non redaksi tetap bisa dinaikkan menjadi sebuah berita kalau memang memiliki data yang lengkap. Hasil keputusan tetap pada rapat itu.

Hal tersebut juga terjadi pada direksi. Redaksi tetap memiliki keputusan tersediri dalam memutuskan rapat. Andai direksi ingin mengajukan tema, tetap harus masuk dalam rapat tersebut. Data yang lengkap dan menarik dapat naik menjadi berita.

“Direksi dalam istilah pengelola perusahaan ada istilahnya firewall

atau garis api. Jadi direksi tidak bisa intervensi ke redaksi. Redaksi itu berdiri sendiri yang keputusannya ada di dalam rapat. Direksi ini sebatas hanya memberi usulan. Misalnya ikut rapat dan mengajukan tema. Jika memang tidak menarik, ya kita tolak. Kalau menarik, didalemin. Kita lanjutkan. Semua usulan itu ya satu, harus diajukan ke rapat.”48

Saat sudah menentukan apa yang akan menjadi berita, para wartawan mengejar narasumber sesuai dengan tugasnya. Hasil wawancara tersebut kemudian ditranskrip dan ditulis. Setelah selesai, tulisan tersebut dikirim ke redaktur. Hasil semua tulisan yang sudah diterima redaktur, diolah kembali menjadi berita utuh yang siap terbit. Berita yang harus segera terbit, masuk ke

tempo.co. berita yang agak mendalam disimpan untuk Koran Tempo dan yang lebih dalam diberikan pada majalah Tempo.

47

Wawancara pribadi dengan Elik Susanto.

48

Hasil transkrip harus diberikan pada redaktur karena tulisan tersebut masih belum berimbang. Elik mengatakan, tidak mungkin pada Koran Tempo

menaikkan berita yang hanya satu narasumber. Jadi, harus ada perkataan lain agar seimbang. Tapi, mungkin juga wartawan tersebut menulis berita yang utuh kalau narasumbernya komplit. Biasanya hal itu terjadi pada wartawan senior karena sudah berpengalaman dalam mencari berita.

Elik Susanto memandang Dahlan Iskan sebagai orang yang baik, salah satunya adalah karena Dahlan merupakan mantan wartawan Tempo. Dahlan merupakan orang yang pintar dan tekun. Hasil kerja kerasnya itu berbuah hasil saat Dahlan sukses mendirikan Jawa Pos.

“Orangnya pinter, tekun. Saya pernah ketemu dan wawancara dengan dia. Orangnya rajin, juga punya obsesi. Sebagai pemimpin, dia membuktikan keberhasilannya. Membuat media, dia berhasil. Jadi Dirut PLN juga berhasil. Menjadi Menteri BUMN juga banyak gebrakan. ketika menjadi pejabat BUMN saat dia mengelola perusahaan-perusahaannya menjadi sehat. Kalau tidak salah terobosan Dahlan adalah dia mengklasifikasi perusahaan-perusahaan BUMN menjadi sehat, kurang sehat, dan mati atau tidak berkembang sehingga harus dilikuidasi.”49

Semua kinerja baik Dahlan Iskan seakan terkotori dengan majunya dia sebagai konvensi calon presiden dari Partai Demokrat. Elik mengakui hal tersebut dan menduga kinerja baiknya ini hanya karena pencitraan dia sebagai calon presiden itu.

Akan tetapi Elik menghargai keputusan Dahlan Iskan karena itu adalah hak dia karena mungkin Dahlan memiliki kompetensi dan mampu jika memang menjadi seorang presiden. Dahlan juga merasa dipilih oleh publik dan memiliki jaringan serta komunikasi yang baik dengan rekan bisnis maupun organisasi yang dia tekuni.

49

3. Analisis sosial budaya

Setelah era reformasi, perkembangan pers berkembang dengan pesat. Mereka selalu dikekang oleh pemerintah karena tidak boleh memberitakan kebobrokannya. Kali ini mereka bebas memberitakan apa saja. Sejak itu, pers Indonesia selalu menuliskan berita yang membuat rakyat kesal dengan pemerintah karena tindakannya yang menyimpang.

Banyak sekali penyimpangan yang dituliskan media di Indonesia. Mulai dari kinerja yang tidak maksimal, hingga merampok uang rakyat bernilai triliunan rupiah. Hingga saat ini pun warga Indonesia selalu menyantap pemberitaan buruk itu.

Selalu saja media massa memberitakan berita yang kurang baik bagi pemerintah. Karena minim pemimpin hebat, pers pun terkadang menikmati keindahan masa lalu melalui perbandingan antara pemerintahan saat ini dengan pemerintahan Soekarno yang menjadi presiden pertama Indonesia atau Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta di era 70’an.

Saat SBY mencalonkan diri sebagai calon presiden untuk kedua kalinya, dia mengampanyekan untuk mengatakan tidak pada korupsi. Salah satu di iklannya muncul Angelina Sondakh dan Andi Malarangeng. Akan tetapi kader Partai Demokrat tersebut tersandung korupsi.

Bahkan korupsi pada pemerintahan SBY lebih parah dari era Soeharto. Jika jaman Soeharto tercatat korupsi sebesar Rp 90 triliun. Saat SBY menjadi presiden, korupsi mencapai Rp 720 triliun.50

50

Ali Akbar Soleman Batubara, Korupsi Era Pemerintahan SBY Lebih-Lebih dari Zaman

Soeharto,artikel diakses pada 13 Desember 2013

Berdasarkan penelitian yang dilakukan The Political Literacy Institute yang dilakukan pertengahan tahun 2011, pemerintahan SBY memiliki 10 rapor merah. Selain korupsi yang dilakukan sejumlah kementerian, SBY juga tebang pilih dalam menyelesaikan kasus. SBY pun gagal dalam menyelesaikan masalah TKI. Selain itu ditemukan pula kelambatan SBY dalam menangani kasus pelanggaran HAM, seperti menyelesaikan kasus pembunuhan Munir.51

Di periode kedua pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), penantian warga Indonesia akan pemimpin idaman pun muncul. Sosok itu adalah Dahlan Iskan. Saat dia menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara, namanya mulai meroket.

Namanya menjadi perbincangan masyarakat Indonesia bukan karena dia koruptor atau memiliki kinerja buruk, tapi karena prestasinya. Memang prestasinya belum bisa dikatakan cemerlang, tapi kehausan masyarakat yang ingin memiliki pemimpin yang merakyat, Dahlan Iskan adalah orang yang tepat.

Dalam survei, ketokohan Dahlan Iskan bisa dikatakan menjadi calon alternatif presiden jika dibandingkan dengan para calon lain yang sudah diusung oleh masing-masing partai. Ketokohan tersebut atas hasil upaya saat bekerja dengan baik di pemerintahan. Pengaruh dia ke publik pun terlihat dengan hasil laporannya yang bagus.

“Kalau menurut saya pengaruh dia ke publik itu ya saat dia memberikan laporan saat menjadi wartawan. Publik pun tahu, ‘oh ini loh

peristiwa yang dilaporkan oleh Dahlan’. Kalau sekarang ya sesuai dengan jabatan dia ketika menjadi pejabat BUMN saat dia mengelola perusahaan-perusahaannya menjadi sehat. Ketika perusahaan itu sehat dan untung, publik pun senang. Karena saat untung, menjadi pendapatan bagi negara

51

Samrut Lellolsima, Inilah Sepuluh Raport Merah SBY-Boediono, artikel diakses pada 13 Desember 2013 dari http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=41757.

dan pendapatan negara itulah yang akan dijadikan untuk mengelola negara termaksud dengan rakyatnya.”52

Dahlan Iskan sering kali memantau langsung tempat yang bermasalah dan tidak mau mendengar permasalahan tersebut dari anak buahnya. Hal itu dia lakukan agar benar-benar merasakan masalah tersebut. Dahlan pun tak sungkan-sungkan mengobrol dengan masyarakat biasa tanpa takut mengurangi kehormatannya. Tindakannya seperti itu menjadi sosok yang diimpikan warga Indonesia.

Dahlan juga tidak ragu menaiki ojek saat sedang mengadakan pertemuan penting jika macet di jalan. Bahkan Dahlan sering menyantap makanan pedagang kaki lima. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan wakil rakyat yang selalu hidup mewah dan kurang merasakan apa yang dirasakan warga biasa.

Banyak sekali pemberitaan tentang Dahlan Iskan di media massa. Pada tahun 2013, www.tempo.co memberitakan Dahlan Iskan lebih dari 250 pemberitaan. Berarti setiap hari, minimal satu kali www.tempo.co memberitakan tentang Dahlan Iskan. Lebih dari 75% pemberitaan tersebut memberitakan yang baik tentangnya. Sisanya karena masalah yang dia hadapi seperti kecelakaan mobil Tuxuci saat peluncuran mobil listrik.

Dahlan Iskan selalu memiliki pandangan yang berbeda dengan anggota DPR. Media massa pun sering memberitakan masalah ini. Tapi kebanyakan dari berita itu lebih condong ke Dahlan. Anggota legislatif itu pun selalu menjadi tokoh antagonis dan Dahlan tokoh protagonis.

Tidak hanya dengan DPR saja pemberitaan tentang Dahlan Iskan, tapi juga dengan Jasa Marga. Pemberi jasa melalui jalan tol ini tak luput dari serangan

52

Dahlan saat dia melihat jalan tol yang macet panjang. Dahlan sempat turun ke jalan dengan menggratiskan pengguna mobil agar kemacetan cepat terurai. Setelah itu Dahlan berjanji akan mengevaluasi Jasa Marga.

Pemberitaan Dahlan Iskan terus melonjak naik saat dia berbincang dengan rakyat kecil dan ikut hidup bersama mereka. Dahlan bahkan sempat menginap di rumah seorang petani di daerah Sragen dan membantu sang pemilih rumah untuk berkebun dan melihat apa yang dia punya. Pada kesempatan terakhir Dahlan berkata bahwa dia belajar banyak dengan pemilik rumah tersebut dan merasa seperti sedang sekolah tentang hidup.

Di daerah yang sama, pada 29 Maret 2012 Antara News memberitakan Dahlan Iskan yang menginap dengan beralaskan tikar. Meski pemilik rumah sudah menyediakan kasur untuk Dahlan tidur, Dahlan menolak untuk tidur dengan alas yang empuk.53

Berita itu sangat jelas menggambarkan sosok Dahlan Iskan yang merakyat. Dia bahkan tidak sungkan makan makanan seadanya yang disediakan pemilik rumah. Beberapa media yang memberitakan Dahlan Iskan selalu menggambarkan rupanya yang selalu memakai kemeja putih panjang yang lengannya digulung dengan memakai sepatu kets.

Selain penampilannya yang sederhana, pakaian dan aksesorisnya buatan Indonesia dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, Dahlan kadang disebut sebagai orang yang cocok jika menjadi presiden selanjutnya.

Selain Dahlan Iskan, sebenarnya masih banyak tokoh lain yang memiliki kinerja yang lebih baik darinya. majalah Tempo pada edisi khusus tahun 2012

53

Royke Sinaga, Tatkala Dahlan Iskan Beralaskan Tikar di Rumah Petani, artikel diakses pada 29 September 2013 dari http://www.antaranews.com/berita/303792/tatkala-dahlan-iskan-beralaskan-tikar-di-rumah-petani.

pernah mengangkat tentang bupati yang memiliki kinerja baik. Mereka dijadikan tokoh tahun itu oleh majalah Tempo.

Meski begitu, Dahlan Iskan tidak dijadikan tokoh pada terbitan itu. Masuk nominasi saat rapat redaksi pun tidak. Pemilihan tokoh tersebut didapat berdasarkan survei yang ada, kinerja mereka, program yang mereka lakukan, dan masih banyak lagi kriteria lainnya.

Dalam pemberitaan sehari-hari, tokoh versi majalah Tempo tersebut tetap masih kalah saing pemberitaannya dengan Dahlan Iskan. Bukan hanya Tempo saja yang sering memberitakan tentang Dahlan Iskan, media massa lain pun ikut menghujani pemberitaan yang berhubungan dengan Dahlan.

“Salah satu kekurangannya (Dahlan Iskan) adalah saat dia maju menjadi capres melalui konvensi demokrat. Ya hak dia lah. Kita tidak bisa menghalang-menghalangi. Tapi akhirnya publik menilai, ‘Oh ternyata ia seperti itu karena ingin menjadi calon presiden.’ Itu kan penilaian ya. Tapi kan hak sepenuhnya ada di Dahlan dan itu boleh-boleh saja. Nanti tinggal lihat saja di pemilu.”54

B. Analisis relasi bahasa, kuasa, dan ideologi media isu kasus korupsi Dahlan Iskan melawan anggota DPR

1. Komodifikasi

Kasus Dahlan Iskan melawan anggota DPR menjadi perbincangan karena secara berani Dahlan Iskan akan membongkar dan memberi tahu kepada publik siapa saja anggota DPR yang suka memeras BUMN. Alasan pemerasan yang dilakukan pun beragam. Mereka memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaannya sendiri.

54

Komodifikasi menurut Vincent Mosco adalah perubahan bentuk nilai guna menjadi nilai tukar.55 Pada konteks ini, Koran Tempo menjadikan kasus Dahlan Iskan melawan DPR sebagai berita lalu diberikan kepada masyarakat yang menjadi nilai tukar. Masyarakat merupakan objek utama Koran Tempo untuk komodifikasi ini.

Publik yang menjadi tujuan utama diberikan konten yang menarik sehingga mereka penasaran untuk menikmat produk tersebut. Pemberitaan yang menarik untuk pembaca seperti ini adalah produk utama media massa.56 Ketokohan Dahlan Iskan yang menarik di mata masyarakat dijadikan Koran Tempo untuk menarik pembaca

Walaupun kasus ini belum tuntas hingga sekarang, Koran Tempo

mengganggap peristiwa ini sangat penting bagi publik. Masyarakat harus tahu kronologi ceritanya hingga siapa saja pelakunya. Oleh sebab itu Koran Tempo

selama sebulan gencar memberitakan kasus ini.

Kan belum terbukti. Itu kan baru omongan Dahlan yang direspon oleh DPR. Sebenarnya hanya perang mulut saja. Pertama nilai berita itu kurang karena belum ditetapkannya tersangka, terpidana dan yang lainnya. Jadi cuma perang mulut saja. Jangan-jangan cuma pencitraan Dahlan yang ingin menjadi presiden itu. Ini menjadi rumit saat dia punya gebrakan di BUMN lalu maju sebagai calon presiden.”57

Meski hanya perang mulut dan menduga bahwa apa yang dilakukan Dahlan Iskan hanya pencitraan saja, Koran Tempo tetap menganggap berita ini penting dan harus diberitakan agar masyarakat terbuka pikirannya mengenai pemalakan yang dilakukan oleh anggota DPR.

55

Vincent Mosco, The Political of Communication (London: SAGE Publication Ltd, 1996), h. 141.

56

Vincent Mosco, The Political of Communication, h. 148.

57

Dari segi tulisan, kasus ini menjadi sumber utama Tempo dalam mengubah peristiwa menjadi penghasilannya. Kerja utama sebuah media adalah mencari berita. Jika berita menarik dan unik, banyak masyarakat yang akan penasaran untuk membacanya. Semakin banyak yang menikmati, semakin besar pula keuntungan yang dimiliki sebuah media, salah satunya Koran Tempo.

Semakin banyak publik yang membaca berita Koran Tempo, maka semakin banyak perusahaan tertarik mengiklankan barangnya ke media itu. Koran Tempo melihat kasus ini layak untuk dijadikan sebagai berita karena masyarakat ingin mengetahui kelanjutan dari perang antara badan eksekutif dengan legislatif.

Saat ruang redaksi juga terjadi perdebatan antara orang yang setuju dengan yang tidak mengenai kasus ini. Bagi yang setuju, mereka memiliki data dan sumber yang terpercaya. Orang yang tidak setuju mengatakan bahwa data yang dimiliki sudah lama dan menduga lontaran yang diucapkan Dahlan Iskan hanya pencitraan saja. “Pertama karena yang bicara ini adalah tokoh dan menteri BUMN tentang perusahaan dia yang diduga, karena dia ngomongnya diduga oleh sejumlah anggota DPR. Saat Dahlan ngomong seperti itu, banyak anggota DPR yang dijerat KPK, seperti kasus hambalang, cek pelawat,” jelas Elik.58

Setelah perundingan yang panjang, akhirnya Koran Tempo sepakat untuk menelusuri lebih jauh mengenai kasus ini dan diterbitkan selama sebulan. Selain dari kasus yang menarik, pembaca juga perlu tahu seperti apa kelanjutan dari masalah ini. Bagaimanapun juga publik adalah pembaca setia dan konsumen dari

Koran Tempo.

58

Sosok Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN dan memiliki pandangan baik untuk masyarakat juga menjadi kelayakan berita Koran Tempo. Publik selama ini menganggap Dahlan Iskan orang yang dapat dipercaya melihat dengan kinerjanya selama ini. Dia juga sering terjun langsung ke masyarakat melihat kondisi sebenarnya. Bahkan dia tak sungkan-sungkan tidur beralaskan tikar dengan nyenyak tanpa disuguhi fasilitas mewah.

Masyarakat juga senang dengan apa yang sudah dilakukan Dahlah Iskan. Beberapa survei yang ada, menyebutkan bahwa Dahlan layak menjadi presiden alternatif dari calon presiden yang sudah diusung beberapa partai selanjutnya menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Dahlan Iskan pun dimanfaatkan sebagai nilai jual dalam berita Koran Tempo. Publik percaya bahwa Dahlan adalah orang baik dilihat dengan kinerjanya sebagai Menteri BUMN yang bagus.

2. Spasialisasi

Proses teknologi dan komunikasi adalah keutamaan dari spasialisasi. Spasialisasi merupakan bagian dari industri komunikasi.59 Maksudnya adalah pemanfaatan ruang yang ada seperti dalam media massa adalah fokus utama dari spasialisasi. Koran Tempo menggunakan keuntungannya dalam penyebaran informasi untuk memengaruhi publik dan menyebarkan ideologinya lewat tulisan yang disebar kepada masyarakat.

Koran Tempo memanfaatkan fungsi media massa sebagai penyebar informasi untuk membela Dahlan Iskan dan membuat DPR semakin buruk di mata masyarakat. Salah satu judul Dahlan Mengaku Hendak Disingkirkan

59

menegaskan bahwa pertikaian Dahlan Iskan dengan anggota DPR semakin meruncing. Perseteruan ini hingga melibatkan jabatan yang dimiliki Dahlan meski

Koran Tempo tidak menyebutkan siapa orang yang menginginkan Dahlan turun jabatan, walaupun wewenang pemberhentian menteri ada pada hak presiden.

Terlihat bahwa anggota DPR yang disebut Dahlan pemalak tidak suka dengan perbuatan Dahlan Iskan. Koran Tempo seakan memberi kesan kepada masyarakat bahwa tindakan anggota DPR semakin kotor dan Dahlan digambarkan orang baik yang memiliki banyak musuh. “Namun Dahlan menolak menguraikan

dan menjelaskan lebih jauh lontaran ini. Dia pun enggan menanggapi pertanyaan mengapa pejabat itu hendak menyingkirkannya. Bekas Direktur Utama PLN itu

hanya berujar, ‘Saya tahulah.’”60

Meski anggota DPR ada yang geram dengan tindakan yang kata mereka mencemarkan nama baik, tapi ada pula yang mendukung perbuatan Dahlan Iskan. Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR, Harry Azhar Aziz menginginkan agar

Dokumen terkait