• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data

Dalam dokumen SEKOLAH PASCASARJANA (Halaman 50-0)

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Analisis Data

Analisis data yaitu proses yang berkaitan dengan pengujian data dengan menggunakan teknis statistik tertentu, dimana hasil dari pengujian tersebut digunakan sebagai bukti yng memadai untuk menarik kesimpulan (Erlina: 2011).

Dalam suatu penelitian diperlukan analisis data yang dapat mempermudah tujuan penelitian. Analisis data merupakan suatu proses pencarian sesuatu secara sistematis dalam waktu tertentu.

3.5.1.Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan instrumen penelitian sebagai alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya. Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur, mengukur apa yang ingin di ukur.

Dengan perkataan lain, instrumen tersebut dapat mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan peneliti.

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai Correlated Item-Total Correlation pada setiap butir pertanyaan dengan nilai r tabel. Jika nilai Corelated Item-Total Corelation (r hitung) > nilai r tabel dan nilainya positif, maka butir pertanyaan pada setiap variabel penelitian dinyatakan valid (Ghozali, 2005 : 45). Untuk melakukan pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan Software Statistical Package for Social Science (SPSS).

Sedangkan reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengkuran relatif konsisten apabila pengukuran terhadap aspek yang sama atau disebut juga internal consistency reliability. Suatu kuisioner dikatakan reliabel atau handal

jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel (handal) jika memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005 : 42).

Pada uji ini dinilai reliabel jika lebih besar dari 0,6 dimana kriteria sebagai berikut :

α > 0,6 artinya instrumen reliabel α < 0,6 artinya instrumen tidak reliabel.

3.5.2. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan analisis dan evaluasi selanjutnya, masih perlu dilakukan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, multikolinieritas dan heteroskedastisitas.

1. Pengujian Normalitas data

Pengujian ini digunakan untuk melihat dalam model regresi, variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika terdapat normalitas, maka residual akan terdistribusi secara normal dan independen.

Model yang paling baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.

Pengujian normalitas data dilakukan dengan melihat grafik penyebaran data dan uji Kolmorov Smirnov (Uji K-S). Jika tingkat signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka data tersebut terdistribusi normal.

2. Multikolinearitas

Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen dan variabel dependen.

Model regresi yang baik, tidak ditemukan masalah multikolinearitas antara variabel-variabel independen. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dengan cara melihat angka collinerity statistics yang ditunjukkan oleh nilai Varians Inflation Factor (VIF) di model regresi adalah sebagai berikut :

1. Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 1 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas.

2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antara variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas (Ghozali, 2005 : 91).

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari suatu residual pengamatan ke pengamatan yang lain.

Apabila varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut heterokedasitas.

Salah satu cara untuk mendekati heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika ada titik-titik membentuk pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar, kemudian menyempit maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada

sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2005: 105).

3.5.3. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data yang diperoleh metode yang digunakan adalah : 1. Metode Deskriptif

Melalui metode ini, data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, diinterprestasikan, dan dianalisis sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi permasalahan yang dihadapi.

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam menjawab rumusan masalah dilakukan secara uji signifikansi dengan cara analisis regresi linier berganda. Metode regresi linier digunakan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Adapun regresi linier berganda ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh Peranan Pemerintah Desa dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Adapun rumusan masalah dengan menggunakan analisis statistik regresi berganda dengan bentuk fungsi model regresi:

Y=bo+b1x1+b2x2+b3x3+ b4x4 + ɛ Dimana

Y = Peningkatan ekonomi masyarakat bo = Konstanta (intercept)

b1,b2,b3,b4= koefisien regresi variabel bebas x1 = Perencanaan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa x2 = Mekanisme Pencairan dan Penyaluran

x3 = Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

x4= Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban

3. Pengujian Hipotesis

Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis berdasarkan uji statistik sebagai berikut :

1. Uji Signifikan Simultan (Uji-F)

Uji-F pada dasarnya menunjukkan semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat atau tidak.

Ho : b1 = b2 = 0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel bebas terhadap variabel terikat.

Ha : b1 ≠ b2 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel bebas terhadap variabel terikat.

Kriteria pengambilan keputusan:

F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%

F hitung > F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%

2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Uji-t bertujuan untuk melihat secara parsial apakah ada pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Bentuk pengujiannya adalah :

Ho : bi = 0, Artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel terikat.

Ha : bi ≠ 0, Artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel terikat.

Nilai t hitung akan dibandingkan dengan t tabel dengan kriteria pengambilan keputusan yaitu::

t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%

t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha ditterima pada α = 5%

3. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model menerangkan variasi variabel independen (Ghozali, 2005 : 83). Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada R Square. Jika nilai R Square dikatakan baik jika di atas 0,5 karena nilai R Square berkisar antara 0 dan 1. Jika koefisien determinasi (R2) semakin besar atau mendekati satu menunjukkan semakin baik kemampuan variabel X menerangkan variabel Y dan 0 < R2 < 1. Sebaliknya, jika R2 semakin kecil atau mendekati nol, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas adalah kecil terhadap variabel terikat. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1. Sejarah Singkat

Perkataan Tiganderket adalah nama salah satu desa yang dulunya dikenal dengan nama Luhak, Desa tersebut terbentuk ketika Marga Bangun dari wilayah Raja Urung batu Karang pindah kesuatu tempat karena tidak harmonisnya hubungan kekeluargaan. Di tempat yang baru Marga Bangun tersebut membuka perladangan baru (erabarung-barung). Akibat perpindahan Marga Bangun yang menyendiri di perladangan, maka menimbulkan tanda tanya bagi penduduk setempat dan mereka menyelidiki kena Marga Bangun itu jadi menyendiri.

Setelah jelas mengetahui apa penyebabnya maka penduduk mengatakan “Payonge ia miser” (Pantaslah ia pindah).

Tiganderket berasal dari kat “Tiga” dan “Nderket”, tiga berarti pekan/pasar dan Nderket adalah sejenis pohon kayu besar. Pada waktu itu disebelah barat desa Tiganderket (sekarang lokasi pasar) terdapat sebuah pohon kayu Nderket yang besar dan dibawah kayu itu selalu dilakukan transaksi hasil pertanian rakyat sehingga lokasi tersebut lebih dikenal dengan “Tiganderket”

(Pasar dibawah pohon Nderket). Pada Tahun 2005 Bupati Karo menerbitkan Perda Nomor 4 tahun 2005 tentang pembentukan kecamatan baru dimana salah satu kecamatan yang mengalami pemekaran ialah Kecamatan Payung menjadi 2 Kecamatan. Kecamatan Payung, sedangkan Kecamatan Tiganderket (kecamatan pemekaran) ibukotanya di Tiganderket. Secara resmi Kecamatan Tiganderket disahkan oleh Bupati Karo pada Tanggal 29 Desember 2006.

4.2 Kondisi Geografis

Kecamatan Tiganderket merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Karo. Kecamatan Tiganderket memliki luas wilayah sebesar 86,76 Km² yang terletak antara Lintang Utara : 03° 08" dan Bujur Timur 98°37".

Kecamatan Tiganderket terletak di ketinggian berkisar dari 724-1.138 diatas permukaan laut (dpl) yang merupakan daerah perbukitan dan pegunungan.

Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Tiganderket adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Munte dan Payung Sebelah Barat berbatatasan dengan Kecamatan Kutabuluh

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Naman Teran dan Payung Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta dibawah ini

Kecamatan Tiganderket terdiri dari 17 (Tujuh belas) desa. Adapun Ibukota Kecamatan Tiganderket adalah Tiganderket, Jarak dari ibukota kecamatan ke ibukota Kabupaten sekitar 23 Km . Untuk lebih jelasnya luas tanah dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Luas Wilayah Menurut Desa di Kecamatan Tiganderket Tahun 2013

No. Desa/Kelurahan Luas (Km2)

Sumber: Kepala Desa Kecamatan Tiganderket

Mayoritas penduduk KecamatanTiganderket bekerja pada bidang pertanian. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis yang merupakan daerah perbukitan serta iklim yang mendukung pertanian.

Tabel 4.2 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah

Sumber : Ka. UPT Pertanian Kecamatan Tiganderket

4.3 Kondisi Demografi

Untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional, dalam masalah kependudukan, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk. Pemerintah juga harus menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika jumlah penduduk yang besar dapat diberdayakan sesuai kodrat, keahlian dan bidang kerjanya masing-masing maka pembangunan akan dapat terlaksana dengan baik. Sebaliknya apabila jumlah penduduk yang besar tidak dapat diberdayakan dan dikendalikan secara bijak dan

terencana, maka akan menjadi beban pembangunan. Aspek kependudukan yang perlu mendapat perhatian mencakup jumlah, komposisi, dan distribusi penduduk.

Jumlah penduduk Kecamatan Tiganderket menurut data statistik Tahun 2013 berjumlah 4.010 Kepala Keluarga atau 13.659 jiwa yang terdiri dari 6.660 laki-laki serta 6.999 perempuan.

Adapun klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan luas wilayah,jumlah penduduk dapat kita lihat pada tabel 4. 3 sebagai berikut:

No

Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013

Tabel 4.4 Banyaknya Penduduk Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan

Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa komposisi penduduk di Kecamatan Tiganderket didominasi penduduk usia muda. Dimana usia 0-4 sebesar 11,64 %, usia 5-9 sebesar 10,7 % sedangkan usia 10-14 sebesar 9,5%. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit ada di usia 70-74 yaitu sebesar 1,37 %.

Tabel 4.5 Banyaknya Penduduk Menurut Desa dan Agama yang Dianut

Sumber: Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013

Keadaan masyarakat Kecamatan Tiganderket berdasarkan agama yang dianut dapat kita lihat pada tabel diatas. Dari tabel tersebut menunjkkan adanya keanekaragaman agama yang dianut. Dimana Agama Islam sebnayak 4.672 orang (34,20%), sedangkan agama Agama Krsten Protestan sebanyak 7.742 atau sekitar 56,68% selanjutnya yang beragama Kristen Khatolik ada sebanyak 1.223 atau sekitar 8,84% dan yang beragama Hindu yaitu sebanyak 21 orang atau sekitar 0.15%.

4.4 Keadaan Ekonomi

Masyarakat Kecamatan Tiganderket pada umumnya kebanyakan sudah bekerja, hal ini dapat kita lihat pada tabel dibawah ini. Dari usia 15 Tahun keatas kita lihat bahwa yang bekerja sekitar 78,58 % sedangkan yang tidak bekerja sebesar 21,42

%. Antusiasnya masyarakat yang bekerja dikarenakan daerah yang subur serta merupakan daerah tujuan wisata.

Tabel 4.6 Banyaknya Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut Pekerjaan dan Desa Tahun 2013

Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013

Sedangkan keadaan penduduk berdasarkan lapangan pekerjaan dapat kita lihat dari tabel dibawah ini

Tabel 4.7 Banyaknya Tenaga Kerja Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan dan Desa Tahun 2013

Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013

Dari tabel diatas, dapat kita lihat bahwa masyarakat Kecamatan Tiganderket pada umumnya bekerja sebagai petani. Banyaknya masyarakat yang sebagai petani ada sebanyak 6.915 atau sekitar 94,63%. Masyarakat yang berkerja di bidang industri ada sejumlah 47 atau sekitar 0,64%. Sedangkan penduduk yang bermata pencaharian di bidang PNS/TNI/POLRI ada sebanyak 324 atau sekitar 4,43%. Sektor pertanian masih menjadi sebagai primadona bagi usia kerja di Kecamatan Tiganderket, meskipun situasi alam yang kurang bersahabat sejak erupsi Gunung Sinabung.

4.5 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Tiganderket

Untuk menunjang keberhasilan pembangunan maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.

4.5.1 Sarana Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu untuk menunjang keberhasilan pembangunan di suatu daerah. Keberhasilan di bidang pembangunan dari sektor pendidikan dapat dilihat dari output pendidikan, juga adapat dilihat dari jumlah sarana pendidikan yang ada. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada Tabel 4.8 Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Dasar (SD) Menurut

Desa/Kelurahan, Tahun 2013

No. Desa/Kelurahan

Sekolah Murid Guru

Negeri Swasta Negeri Swast

a Negeri Swasta

Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket

Dari tabel diatas, dapat kita lihat bahwa ada desa yang belum mempunyai Fasilitas Sekolah Dasar yaitu Desa Tanjung Pulo, Desa Gunung Merlawan dan Desa Nari

Gunung Satu. Sedangkan Jumlah Murid pada Sekolah Menegah Pertama (SMP) dapat kita lihat pada tabel dibawah ini

Tabel 4.9

Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013

No. Desa/Kelurahan Sekolah Murid Guru

Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket

Dari Tabel diatas dapat kita lihat bahwa terdapat 2 SMP di Kecamatan Tiganderket. 1 Negeri yang berkedudukan di Desa Tiganderket, dimana jumlah siswa SMP sebanyak 621 yang dibimbing 51 guru sedangkan 1 SMP Swasta berada di Desa Kuta Galuh yang mempunyai siswa sebanyak 30 orang, sedangkan tenaga pengajar di sekolah ini sebanyak 8 orang.

Sedangkan jumlah murid dan sarana pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat kita lihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.10

Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013

No. Desa/Kelurahan Sekolah Murid Guru

Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket

Dari Tabel diatas dapat kita lihat bahwa terdapat 2 SMA di Kecamatan Tiganderket. 1 Negeri yang berkedudukan di Desa Tiganderket, dimana jumlah siswa SMP sebanyak 421 yang dibimbing 52 guru sedangkan 1 SMP Swasta berada di Desa Kuta Galuh yang mempunyai siswa sebanyak 51 orang, sedangkan tenaga pengajar di sekolah ini sebanyak 8 orang.

Untuk lebih jelasnya persentase indikator pendidikan dapat kita lihat kita lihat pada tabel 4.11 dibawah ini

Uraian SD SMP SMA

Jumlah Sekolah 17 2 1

Jumlah Guru 177 59 60

Jumlah Murid 2.052 651 463

Ratio Murid-Sekolah 120,70 325,5 463

Ratio Murid-Guru 11,59 11,03 7,71

Sumber: data yang diolah 4.5.2 Sarana Kesehatan

Tingkat perekonomian masyarakat dapat dilihat dari aspek sarana kesehatan. Secara umum fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Tiganderket masih belum memadai serta belum menyebar ke setiap desa. Dengan adanya Alokasi Dana Desa yang diberikan setiap tiap tahun, tentu kita berharap agar sarana kesehatan dapat menyebar ke seluruh desa, dimana honor-honor tim petugas posyandu sudah ditampung dalam Alokasi Dana Desa. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Banyaknya Sarana Kesehatan di Kecamatan Tiganderket dapat kita lihat pada tabel dibawah ini

Tabel 4.12 Banyaknya Sarana Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013 No

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa hanya ada 1 (satu) Puskesmas yang terdapat di Kecamatan Tiganderket yang berkedudukan di Ibukota Kecamatan yaitu di Desa Tiganderket. Sedangkan Puskemas Paembantu juga masih belum tersebar secara merata namun Posyandu sudah dapat menjangkau seluruh desa di Kecamatan Tiganderket. Sedangkan tenaga kesehatan yang ada di Kecamatan Tiganderket dapat kita lihat pada tabel dibawah ini

Tabel 4.13 Banyaknya Tenaga Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013

Sumber: Puskesmas Kecamatan Tiganderket

Untuk lebih jelasnya persentase indikator kesehatan dapat kita lihat kita lihat pada tabel 4.14 dibawah ini

Uraian Jumlah

Fasilitas kesehatan 42

Tenaga kesehatan 40

Jumlah penduduk 13.659

Ratio Penduduk –fasilitas kesehatan 325

Ratio penduduk-tenaga kesehatan 341

Sumber; data yang diolah

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa masih tingginya rasio penduduk dengan fasilitas kesehatan. 1 (satu) fasilitas kesehatan menampung sebanyak 325 orang sedangkan 1 (satu) tenaga kesehatan melayani 341 penduduk.

4.5.3 Sarana Transportasi dan Komunikasi

Jalan sebagai sarana penunjang transportasi serta untuk menunjang perekonomian masyarakat memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan di suattu daerah. Dari Data Statistik bahwa pada Tahun 2013 Jalan Kabupaten di Kecamatan Tiganderket sepanjang 34,85 Km. Dari total panjang jalan yang ada, maka 26,25 Km (75,32%) sudah diaspal, sementara sisanya masih belum diaspal. Dari Tahun 2010 sampai pada saat ini (pertengahan tahun 2015) transportasi di Kecamatan Tiganderket terganggu akibat erupsi Gunung Sinabung.

Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel 4.15 dibawah ini

Uraian 2011 2012 2013

Sumber: Karo Dalam Angka 2012-2014

Jika dilihat dari kondisi jalan yang ada, maka jalan dengan kondisi baik hanya 18,52 Km atau sebesar 53,14%. Tentu kita berharap agar pemerintah daerah segera memperbaiki jalan-jalan ini sehingga nantinya transportasi di Kecamatan Tiganderket dapat berjalan dengan lancar.

Sementara perkembangan sektor komunikasi di Kecamatan Tiganderket sangat berkembang secara pesat. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan warung internet (Warnet) yang hampir ada di seluruh desa. Disamping itu jaringan telepon seluler juga telah sampai ke seluruh desa.

4.16 Jumlah Warnet di setiap Desa yang ada di Kecamatan Tiganderket

No. Nama Desa Jumlah Warnet

1 Tanjung Pulo -

2 Tanjung Mbelang 1

3 Nari Gunung Dua 1

4 Jandi Meriah 2

5 Suka Tendel 2

6 Tanjung Merawa 1

7 Tiga Nderket 3

8 Perbaji -

9 Temburun -

10 Mardingding -

11 Kuta Mbaru 1

12 Susuk 3

13 Gunung Merlawan -

14 Nari Gunung Satu -

15 Kuta Galuh 1

16 Penampen 1

17 Kuta Kepar -

JUMLAH 16

Sumber: Kepala Desa Se-Kecamatan Tiganderket

Tabel 4.2.7 REKAPITULASI ALOKAS DANA DESA KEC. TIGANDERKET TAHUN 2011-2014

NO NAMA DESA ADD 2011

TOTAL ADD ADD 2012

TOTAL ADD ADD 2013

TOTAL ADD ADD 2014

FISIK NON FISIK FISIK NON FISIK FISIK NON FISIK FISIK NON FISIK

1 PENAMPEN 35.000.000 43.500.000 78.500.000 35.233.800 47.700.000 82.933.800 55.054.798 47.700.000 102.754.798 42.420.000 2 PERBAJI 35.000.000 43.500.000 78.500.000 31.973.700 47.700.000 79.673.700 48.455.594 47.700.000 96.155.594 42.420.000 3 MARDINGDING 35.000.000 45.300.000 80.300.000 38.504.600 49.500.000 88.004.600 60.748.862 49.500.000 110.248.862 35.820.000 4 TANJUNG MBELANG 35.000.000 43.500.000 78.500.000 38.755.500 47.700.000 86.455.500 55.112.689 47.700.000 102.812.689 42.420.000 5 KUTA GALUH 35.000.000 45.300.000 80.300.000 35.637.400 49.500.000 85.137.400 59.149.400 49.500.000 108.649.400 42.420.000 6 TIGANDERKET 35.000.000 48.900.000 83.900.000 43.521.800 49.500.000 93.021.800 66.313.405 49.500.000 115.813.405 49.620.000 7 TANJUNG MERAWA 35.000.000 45.300.000 80.300.000 38.201.900 49.500.000 87.701.900 55.582.365 49.500.000 105.082.365 46.020.000 8 NARI GUNUNG II 35.000.000 43.500.000 78.500.000 33.673.200 47.700.000 81.373.200 51.251.217 47.700.000 98.951.217 42.420.000 9 KUTAMBARU 35.000.000 45.300.000 80.300.000 33.344.400 49.500.000 82.844.400 54.809.265 49.500.000 104.309.265 42.420.000 10 TEMBURUN 35.000.000 43.500.000 78.500.000 29.662.000 47.700.000 77.362.000 47.749.457 47.700.000 95.449.457 42.420.000 11

GUNUNG

MERLAWAN 35.000.000 43.500.000 78.500.000 32.540.500 47.700.000 80.240.500 49.466.538 47.700.000 97.166.538 42.420.000 12 JANDI MERIAH 35.000.000 45.300.000 80.300.000 40.267.500 49.500.000 89.767.500 60.551.704 49.500.000 110.051.704 42.420.000 13 SUKATENDEL 35.000.000 45.300.000 80.300.000 42.568.700 49.500.000 92.068.700 57.372.382 49.500.000 106.872.382 32.820.000 14 KUTA KEPAR 35.000.000 43.500.000 78.500.000 30.024.000 47.700.000 77.724.000 46.214.264 47.700.000 93.914.264 42.420.000 15 NARI GUNUNG I 35.000.000 43.500.000 78.500.000 33.585.200 47.700.000 81.285.200 55.079.078 47.700.000 102.779.078 42.420.000 16 TANJUNG PULO 35.000.000 45.300.000 80.300.000 31.170.800 49.500.000 80.670.800 47.167.461 49.500.000 96.667.461 42.420.000 17 SUSUK 35.000.000 55.500.000 90.500.000 41.266.700 57.900.000 99.166.700 59.233.623 57.900.000 117.133.623 51.420.000 JUMLAH 595.000.000 769.500.000 1.364.500.000 609.931.700 835.500.000 1.445.431.700 929.312.102 835.500.000 1.764.812.102 724.740.000

Sumber: Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kab.Karo

Dari tabel 4.2.7 diatas dapat kita lihat jumlah besaran Alokasi Dana Desa yang diterima setiap desa mulai Tahun 2011 s.d Tahun 2014. Total Alokasi Dana Desa (ADD) pada Tahun 2011 ada sebesar Rp. 1.364.500.000 (Satu milyar tiga ratus enam puluh empat juta lima ratus ribu rupiah), sedangkan pada Tahun 2012 sebesar Rp. 1.445.431.700,- (satu milyar empat ratus empat puluh lima juta empat ratus tiga puluh satu ribu tujuh ratus rupiah), berarti ADD 2012 ada kenaikan 5,59% dari ADD tahun 2011 dan pada Tahun 2013 Alokasi Dana Desa (ADD) Kecamatan Tiganderket sebesar Rp. 1.764.812.102,- (Satu milyar tujuh ratus enam puluh empat juta delapan ratus dua belas ribu seratus dua rupiah). Berarti ADD 2013 mengalami kenaikan sebesar 18,09% dari ADD Tahun 2012. Pada Tahun 2014 berjumlah Rp. 724.740.000,- (tujuh ratus dua puluh empat juta tujuh ratus empat puluh ribu rupiah). Berarti ADD Tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 143% Penurunan ini jauh berkurang karena pada Tahun 2014 Alokasi Dana Desa di Kabupaten Karo hanya dikhususkan kepada Honor Pemerintah Desa, hal ini disebabkan karena APBD 2014 Tanah Karo mengalami keterlambatan serta adanya pemakzulan Bupati Karo.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo yang berjumlah 98 orang. Karakteristik pengambilan data responden diantaranya : usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan perbulan.

5.1.1. Karakteristik responden berdasarkan Umur

Berdasarkan identifikasi menurut umur akan dilihat umur para responden.

Dalam melakukan identifikasi menurut umur, dapat dibuat klasifikasi seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 5.1.

Umur Responden

No Kategori Jumlah Persentase

1 < 25 Tahun - -

2 26 – 35 Tahun 15 15.3

3 36 – 45 Tahun 22 22.4

4 46 – 55 Tahun 43 43.9

5 > 56 Tahun 18 18.4

Jumlah 98 100

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah)

Tabel 5.1. memperlihatkan umur responden yang menjadi sampel cukup bervariasi, jumlah responden yang dominan adalah usia 46 – 55 tahun sebanyak 43 orang (43.9 %), responden yang berusia 36 – 45 tahun sebanyak 22 orang (22,4 %), responden yang berusia > 56 tahun sebanyak 18 orang (18.4 %) dan responden yang berusia 26 – 35 tahun sebanyak 15 orang (15,3 %). Hal ini

menunjukkan bahwa usia responden merupakan masyarakat yang didominasi berada pada usia produktif.

5.1.2. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan identifikasi menurut jenis kelamin akan diketahui jumlah distribusi pegawai laki-laki dan perempuan, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.2.

Jenis Kelamin Responden No Kategori Jumlah Persentase

1 Laki-laki 78 79.6

2 Perempuan 20 20,4

Jumlah 98 100

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah)

Jumlah responden laki-laki terlihat lebih banyak berjumlah 78 orang (79.6

%) dibandingkan jumlah responden perempuan yang sebanyak 20 orang (20,4 %).

Berdasarkan data tersebut diketahui perbandingan jumlah responden laki-laki yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita.

5.1.3. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Berdasarkan identifikasi menurut pekerjaan, akan dilihat jenis pekerjaan responden. Dalam melakukan identifikasi menurut lama bekerja dapat dibuat klasfikasi seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 5.3.

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah)

Tabel 5.3. memperlihatkan bahwa responden yang dominan memiliki pekerjaan sebagai petani sebanyak 70 orang (71,4 %), respon, responden yang memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 20 orang (20,4 %) dan responden yang memiliki pekerjaan sebagai PNS sebanyak 8 orang (8.2).

5.1.4. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Berdasarkan identifikasi menurut pendidikan akan dilihat jumlah distribusi responden menurut jenjang pendidikannya, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Sumber : Hasil Penelitian 2014 (data diolah)

Tabel 5.4. memperlihatkan bahwa pendidikan responden didominasi berpendidikan SMA/sederajat sebanyak 85 orang (86,7 %), responden dengan pendidikan SMP/sederajat sebanyak 8 orang (8,2%), responden dengan

pendidikan diploma – sarjana S-1 sebanyak 3 orang (3,1 %) dan responden

pendidikan diploma – sarjana S-1 sebanyak 3 orang (3,1 %) dan responden

Dalam dokumen SEKOLAH PASCASARJANA (Halaman 50-0)

Dokumen terkait